Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

29 November 2019

Hidup yang Menghidupkan Hati

Hati ini berkarat seperti berkaratnya besi jika terkena air. Pembersihnya banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran
Dsebuah masjid perumahan di bilangan Bogor Jawa Barat, pada saat khutbah Jum’at (21/12) sang khotib menyebutkan kondisi memperihatinkan yang terjadi pada sebagian besar umat Islam, dimana yang tidak penting menjadi prioritas, sedangkan yang prioritas justru diabaikan.
“Banyak di antara kita yang membaca Al-Qur’an, lima menit pun tidak sanggup. Tetapi betah berjam-jam lamanya membaca Whatsapp, sehingga kita tidak merasa penting memperhatikan iman dan hati kita,” tegasnya.
Dalam era dimana informasi bak gelombang yang datang tiada henti, manusia kerapkali larut pada apa yang menarik perhatian banyak orang (viral), sehingga tanpa sadar, jari-jemari kita, mata dan konsentrasi kita tertarik untuk menyimaknya, pada saat yang sama kita perlahan, tanpa sadar, semakin jauh dari Al-Qur’an.
Kondisi ini, tentu penting kita pahami agar diri tak hidup sekedar bisa melihat, tetapi juga berarti dalam kehidupan ini. Dan, untuk sampai pada kondisi tersebut, tidak mungkin bisa diupayakan, jika kau Muslimi justru jauh dari Al-Qur’an.
Jadi, Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber penting yang dapat menjadikan hati manusia hidup dan menghidupkan kebaikan-kebaikan. Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan hati yang hidup adalah hati yang bisa mengambil manfaat dari setiap ajaran dan peringatan dari Al-Qur’an.
Dengan kata lain, agar hidup ini juga menghidupkan hati, kemudian menghidupkan kebaikan-kebaikan Islam di dalam kehidupan, tidak ada cara terbaik dan sangat penting dan mendesak untuk terus dilakukan, selain daripada berupaya senantiasa membaca kitab suci Al-Qur’an.
Seperti apa hati yang hidup itu? Qatadah berkata, orang itu punya pandangan yang tajam. Ia tak mudah silau oleh godaan gemerlap kehidupan dunia.
Kemudian, Ad-Dhahhak menyimpulkan, pemilik hati yang hidup adalah manusia yang bisa memaksimalkan potensi akalnya untuk memahami dengan benar tujuan kehidupan ini.
Jika sedemikian kebutuhan hati terhadap Al-Qur’an, lantas sudahkah kita membacanya dengan sungguh-sungguh. Atau setidaknya, adakah daftar membaca Al-Qur’an dalam agenda aktivitas selama 24 jam. Paling minimal, adakah lantunan ayat suci Al-Qur’an kita dengar dalam sehari-semalam aktivitas kehidupan kita?
Pertanyaan di atas penting kita ajukan bagi diri sendiri, agar tidak semakin jauh diri berjarak dengan Al-Qur’an, yang menjadikan ruhani kita gersang, lapar, haus, dan tidak mendapatkan nutrisi bergizi, sehingga pikiran dan tindakan tidak lagi sehat alias sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
Tidakkah kita perhatikan, bagaimana baju, celana, kaos kaki dan sepatu kita perlu dicuci setiapkali dipakai? Seperti apa yang melekat pada badan, hati pun penting kita perhatikan, agar senantiasa bersih.
Dari Ibn Umar ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Hati ini berkarat seperti berkaratnya besi jika terkena air. Lalu beliau ditanya: Apa pembersihnya? Sabda beliau: banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran.” (HR. Al-Baihaqi).
Mari perhatikan bagaimana sejarah masuk Islam-nya sebagian kafir Quraisy. Sebagian karena melihat keagungan akhlak Rasulullah, tetapi tidak sedikit yang masuk Islam karena mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Umar bin Khathab, termasuk sahabat Nabi dari kalangan kafir Quraisy yang memeluk Islam karena mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Jadi, hati yang keras, beku, dan membatu, bisa lunak dan kembali hidup dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an.
Pantas jika kemudian Malik bin Dinar memberikan suatu penjelasan dengan berseru, “Wahai ahlu Al-Qur’an? Apa yang telah Al-Qur’an tanam pada hati-hati kalian? Sesungguhnya Al Quran itu mampu menghidupkan hati layaknya hujan yang menyuburkan tanah yang tandus sekalipun.”
Semakin hati seseorang hidup, maka akan lebih mudah dirinya mengenal dan mengikuti kebenaran yang telah diteladankan oleh Rasulullah, lebih mudah mengendalikan emosi, lebih paham tentang arti kemuliaan, tujuan hidup yang hakiki, sehingga ia bisa selamat dari segala macam cara berpikir materialis yang nampak bagi kebanyakan orang sebagai keberhasilan. Andai pun kemudahan hidup berupa materi berada dalam genggamannya, maka semua itu semakin memuluskan jalannya menebar kebaikan dan meraih ridho Allah Ta’ala.
Terakhir, tanpa harus mengutip hadits pahala membaca Al-Qur’an, patut kita renungkan bersama, bahwa Al-Qur’an oleh Rasulullah disebut sebagai warisan (pusaka) yang menjamin kebaikan hidup setiap Muslim.
“Aku tinggalkan dua pusaka yang kamu sekali-kali tidak akan pernah sesat selagi kalian berpegang teguh pada keduanya; yakni Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasul-Nya.” (HR. Imam Malik).
Dengan demikian, jika ada yang harus dipegang, dibaca, dicintai, kapan dan dimanapun, itu adalah Al-Qur’an dan Hadits.
Tentu, kita semua berharap dapat menjalani hidup yang dalam 24 jam senantiasa ada bacaan Al-Qur’an membasahi bibir kita, menenangkan jiwa kita, dan menghidupkan hati kita. Sebab, hanya dengan cara itulah hidup ini akan menghidupkan hati, yang berarti, kehadiran kita di muka bumi memberikan manfaat, memberikan arti, dan menebarkan kebaikan-kebaikan ajaran Islam.
Apabila suatu hari, lisan ini berujar keji, maka kita segera sadar, telah jauh diri dari Al-Qur’an, baik dari membacanya, lebih-lebih memahami dan mengamalkannya. Jika suatu saat, pikiran ini begitu menginginkan dunia, sadarlah diri bahwa boleh jadi bacaan Al-Qur’an baru sampai di lisan, belum menembus kedalam kesadaran hati. Al-Qur’an adalah parameter hidup kita, dan jauh dekatnya Al-Qur’an dalam hidup ini, bisa kita lihat dari pikiran, ucapan, dan tindakan kita sendiri.*

25 November 2019

Iman-Taqwa Kunci Utama Keberkahan Suatu Negeri

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi
SALAH satu tanda kemukjizatan Al-Qur’an sebagai wahyu yang suci adalah “narasinya” yang menggugah dan menginspirasi akal manusia yang mau berpikir.
Soal alam dimana kita berada misalnya, pernahkah terpikir bagaimana lingkungan di sekitar kita itu tercipta.
Sebut saja, masyarakat yang berada di pegunungan, dimana ia melihat kebun teh terhampar luas, kemudian sebagian daerah lainnya yang sayur-mayur tumbuh dengan subur dan menggembirakan siapapun yang melihatnya. Adakah semua itu terjadi dengan rekayasa manusia. Atau memang ada yang menyediakan, sehingga manusia bisa membuat kebun-kebun itu.
Kerapkali kita berpikir hanya sebatas keindahan alam, pegunungan, lengkap dengan segala macam tanaman di kebun-kebun dan lain sebagainya. Lupa berpikir lebih dalam perihal, siapa yang menjadikan itu semua.
Orang yang beriman dan mau berpikir akan bertanya lebih jauh. Dan, ketika pertanyaan itu hadir, Al-Qur’an ternyata telah memberikan jawaban jelas dan tegas.
وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّا عَلَى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ
“Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 18).
Mari perhatikan kata ‘ukuran’ dan ‘Kami jadikan air itu menetap di bumi.’ Keduanya secara logis memberikan penegasan bahwa telah didesain alam ini untuk bisa memenuhi kebutuhan umat manusia akan kebutuhan berupa ketersediaan pangan.
Dengan kata lain, ada ketergantungan tinggi kita kepada Allah Ta’ala akan kebaikan dan ketepatan ukuran yang terus diberikan bagi alam kita, sehingga hujan senantiasa mendatangkan berkah, bukan malapetaka.
Kemudian, hujan tidak otomatis menjadikan tanah subur, kecuali Allah menahan air itu tetap berada di dalam bumi.
Ketika Allah berkehendak lain, bisa saja hujan yang turun dibiarkan mengalir tanpa terserap. Lebih jauh, sangat mungkin air hujan menyebabkan tanah erosi, sehingga menghanyutkan kandungan humus di dalam tanah, sehingga tingkat kesuburan tanah pun terdegradasi.
Semua ini menunjukkan kepada kita bahwa mekanisme alam pun, bisa saja tidak membawa kebaikan, jika tidak ada kehendak Allah yang menyertai. Sekalipun, dalam hal ini tetap ada mekanisme alam, dimana manusia berperan signifikan di dalam menentukan kebaikan lingkungan.
Dalam bahasa yang lain, manusia tidak bisa serampangan memperlakukan alam. Pada saat yang sama, manusia dilarang menganggap semua yang ada di alam ini adalah kebetulan, terjadi begitu saja, tanpa ada yang mendesain dan menetapkannya sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia itu sendiri.
Hal ini semakin mudah kita pahami jika merujuk penjelasan Ibn Katsir kala menafsirkan ayat tersebut. Bahwa yang dimaksud ‘menurut suatu ukuran’ adalah sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan yang hanya akan merusak bumi dan pembangunan, dan tidak juga terlalu sedikit sehingga tidak cukup untuk mengairi tanaman dan buahbuahan, tetapi sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Kemudian, ‘Lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi,” berarti Allah yang menempatkan air itu tetap di bumi jika turun dari awan, dan Kami jadikan apa yang di bumi tersebut mau menerimana, memium dan memakannya, baik itu berupa biji-bijian maupun benih.
كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ
فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَى طَعَامِهِ
Tidak heran jika kemudian pada ayat Al-Qur’an yang lain, Allah memerintahkan manusia untuk memperhatikan makanannya. “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. An-Nazi’at [80]: 24).
Jika hal ini benar-benar direnungkan, maka pantaslah jika di dalam dasar bernegara kita di Indonesia ada sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena memang alam, segala jenis tanaman, dan kesuburan tanah serta kandungan alam yang melimpah tidak mungkin hadir dengan sendirinya, ada Allah yang telah menyediakannya untuk penduduk bumi pertiwi ini.
Oleh karena itu, sikap mengedepankan iman dan taqwa merupakan keniscayaan bagi seluruh kaum Muslimin, karena hanya dengan iman dan taqwa itulah, alam yang begitu luar biasa, yang telah Allah anugerahkan untuk kita ini akan menjadi ‘sahabat’ dan terus mendatangkan manfaat serta keberkahan Allah Ta’ala.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf [7]: 96).
Imam Nawawi menyebut bahwa yang dimaksud dengan berkah adalah tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan kebaikan yang berkesinambungan.
Al-Asfahani dan Ibnu Faris, menyebutkan, barokah arti asalnya adalah “dada atau punggung unta yang menonjol”. Ini ada kaitannya dengan arti “tumbuh dan bertambah”. Sebab, salah satu dari anggota tubuh unta itu menonjol dari tubuhnya yang lain, sehingga berkah juga bisa dimaknai, “Tetapnya kebaikan yang bersifat ilahiyah”.
Dengan demikian, kunci utama membangun kehidupan masyarakat Indonesia yang maju, sejahtera, bahagia dan penuh keberkahan adalah dengan senantiasa ingat kepada Allah, serta terus meningkatkan iman dan taqwa, sehingga cara berpikir kita, perilaku kita, benar-benar membawa kebaikan.
Bagaimana taqwa itu, Ibnu Mas’ud menjelaskan, “taqwa adalah menaati Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Senantiasa mengingat Allah serta bersyukur kepada-Nya tanpa ada pengingkaran (kufr) di dalamnya.” (Tafsir Ibnu Katsir: Dar at-Thayyibah, 1999).
Dalam hal ini kaum Muslimin, terutama yang berada di tampuk kekuasaan, jajaran pemerintahan, dan para pengusaha, serta para petani, yang mengambil keuntungan dari mengelola sumber daya alam, penting memahami bahwa sumber keberkahan hidup ini ada pada keimanan dan ketaqwaan yang diimplementasikan dengan menata diri sebaik mungkin, berorientasi maslahat, kemudian menyadari bahwa setiap perilaku serakah dan destruktif hanya akan mengundang bencana demi bencana.
Jauhilah sifat koruptif, manipulatif, dan menghalalkan segala cara dalam kehidupan ini. Bersihkan diri, keluarga dan semua kolega dalam usaha dari riba. Kemudian teruslah berjuang menjalani hidup ini dengan yakin sepenuhnya kepada janji Allah Ta’ala. Inilah sumber keberkahan hidup kita bahkan negeri yang kita cintai. Allahu a’lam.*

18 November 2019

Berhati Lembut Bertutur Manis

Dengan demikian, hal yang sangat penting diupayakan setelah ibadah yang utama adalah berakhlak baik kepada sesama dengan berwajah ceria, bertutur kata yang baik dan memberikan pertolongan kepada sesama yang membutuhkan.
SEBAGIAN besar umat Islam mampu menjalankan ibadah dengan baik, namun belumlah begitu banyak yang benar-benar mampu bertutur kata yang manis (baik), terlebih terhadap orang yang pernah melukai perasaan, atau bahkan dianggap negatif.
Terkadang ada rasa enggan menyapa sesama hanya karena diri merasa lebih layak dihormati, merasa lebih berhak dihargai, sehingga saat berpapasan dengan sesama Muslim, pura-pura tidak melihat kerapkali dilakukan.
Sikap demikian tidak diperkenankan di dalam ajaran Islam. Bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan oleh insan beriman, sedangkan Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk berendah hati kepada insan beriman.
“Dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr [15]: 88).
Ibn Katsir menjelaskan yang dimaksud adalah, Allah ﷻ ingin Nabi Muhammad ﷺ mengutamakan sikap lemah lembut kepada orang beriman, seperti yang difirmankan dalam Surah At-Taubah ayat ke 128.
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang beriman.”
Lemah lembut, berwajah manis, dan bertutur kata yang baik kepada sesama Muslim akan menjadikan kebaikan-kebaikan melimpah di dalam kehidupan kita. Bahkan kelak, akan disediakan kamar khusus di dalam Surga.
Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengutip hadits Nabi ﷺ mengenai hal ini. “Sesungguhnya di Surga nanti terdapat kamar-kamar, dimana sisi-sisi bagian dalamnya dapat dilihat dari arah luarnya.”
Orang Baduwi bertanya, “Untuk siapakah kamar-kamar itu, ya Rasulllah?”
Beliau menjawab, “Untuk orang yang suka bertutur kata manis kepada saudaranya, memberi makan kepada fakir miskin, dan menyibukkan diri dengan beribadah pada saat orang lain sedang tertidur lelap.” (HR. Tirmidzi).
Dari Abu Syuraih, ia berkata pada Rasulullah ﷺ
يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ
“Wahai Rasulullah ﷺ, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam Surga.”
Beliau bersabda,
إِنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلامِ، وَحُسْنُ الْكَلامِ
“Di antara sebab mendapatkan ampunan Allah adalah menyebarkan salam dan bertutur kata yang baik.” (HR. Thabrani).
Demikianlah kebaikan atau balasan yang akan diterima oleh siapapun yang dapat bertutur kata lembut dan manis kepada sesama insan beriman.
Dan, di dalam kehidupan dunia, tutur kata yang baik, yang manis, yang meneguhkan iman akan menjadikan seseorang jauh dari musuh.
“Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran [3]: 159).
Masih dalam Ihya’ Ulumuddin, disebutkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Pada suatu hari, datanglah seorang wanita kepada Rasulullah ﷺ sambil mengatakan, ‘Aku mempunyai suatu keperluan dengan Anda.’
Sejumlah Sahabat saat itu tengah bersama Rasulullah ﷺ. Beliau mengatakan, ‘Duduklah di atas tanah (tikar) ini, dimana pun posisi yang engkau kehendaki, maka aku akan duduk bersamamu untuk memenuhi apa yang menjadi keperluanmu.’
Lalu wanita itu duduk, dan beliau pun duduk. Ia mengatakan keperluannya kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau pun memperhatkan keperluan itu sampai selesai.” (HR. Muslim).
Artinya, Rasulullah ﷺ bersikap baik, bertutur kata manis, dan memberikan penghormatan tidak saja kepada para Sahabat yang mulia dan setia kepada Islam, tetapi orang lain pun, yang belum dikenal, sikap Rasulullah ﷺ sangat ramah dan memuliakan.
Demikianlah keteladanan Nabi ﷺ kepada kita. Betapa pentingnya bertutur kata yang baik, yang manis kepada sesama insan beriman, andai tidak ada harta yang bisa disedekahkan, maka berkata baik sangat diutamakan.
“Jagalah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Namun siapa yang tidak mendapatkan sesuatu yang bisa disedekahkannya maka dengan (berucap) kata-kata yang baik.” (HR. Al-Bukhari).
Terhadap hadits tersebut, Imam Nawawi menjelaskan bahwa semestinya kita memberikan ucapan yang baik, yaitu yang menyenangkan hati seseorang, jika ucapan itu mubah atau mengandung ketaatan.
Sekiranya bertutur kata tidak sempat dilakukan, maka tersenyum dan berwajah ceria, itu sudah sangat baik.
“Jangan sekali-kali engkau meremehkan perkara kebaikan walaupun hanya berwajah cerah ketika engkau bertemu dengan saudaramu.” (HR. Muslim).
Dengan demikian, hal yang sangat penting diupayakan setelah ibadah yang utama adalah berakhlak baik kepada sesama dengan berwajah ceria, bertutur kata yang baik dan memberikan pertolongan kepada sesama yang membutuhkan.
Jika ada hal penting yang mesti masuk dalam daftar muhasabah harian setiap kita, bahasan ini adalah yang penting untuk dilakukan. Sebab kadang kala, dalam canda, tanpa sadar ada teman terluka karena ucapan kita yang berlebihan. Dalam interaksi secara kolektif, tak jarang kita mengungkap satu hal yang kadang membuat teman atau sesama tidak nyaman.
Semoga Allah ﷻ membimbing kita untuk senantiasa mampu berutur kata yang baik, yang manis kepada sesama setelah rajin dan sungguh-sungguh di dalam beribadah. Karena di antara tanda ibadah baik dan diterima adalah kesanggupan diri melakukan kebaikan, meski hanya dengan kata-kata kepada sesama Muslim. Allahu a’lam.*

17 November 2019

Sehatnya Akal dan Terangnya Hati

Tanpa akal, hati tidak bisa mencukupi hidup. Tanpa hati, akal sering membuat kerusakan
AKAL di dalam Islam menurut M. Natsir dalam bukunya Capita Selecta, memiliki kedudukan yang mulia dan dimuliakan. Karena itu, Islam adalah agama yang senantiasa membimbing akal manusia tetap di dalam keseimbangan dan kebenaran.
Terhadap orang-orang kafir, Al-Qur’an berulang kali menentang argumentasi pikiran mereka memilih jalan kejahilan. Apakah hujjah (argumentasi) mereka yang lebih logis dan komprehensif atau justru sebaliknya, logika mereka invalid dan sesat.
Tidak heran jika jamak di kalangan ulama disebutkan bahwa akal ibarat lampu yang menerangi hati. Jika akal tidak fungsional, maka hati akan gelap, gersang dan keras. Dengan kata lain, akal dan hati di dalam Islam mesti terintegrasi, yang karena itu Al-Qur’an menyebut manusia yang sedemikian itu dengan istilah Ulul Albab.
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 179).
Secara gamblang ayat di atas menunjukkan bahwa hikmah, manfaat, dan maslahat segala ketetapan Allah, termasuk di dalamnya perihal qishas, tidak mungkin dipahami dengan baik, benar, dan utuh, melainkan oleh manusia yang mau berpikir dan merenung.
Maka tidak heran jika belakangan banyak orang tidak mengerti Islam sangat membenci syariat di dalam Islam. Sebab mereka hanya mampu berpikir dengan akal, namun tak pernah mampu memahami dengan hati, sehingga yang dilihat dari sebuah ketetapan bukan alasan dan tujuan, melainkan praktik yang dinilainya tanpa dasar berpikir yang memadai.
Ibn Aun berkata, “Berpikir akan menghilangkan kelengahan dan menghidupkan kekhusyukan hati seperti air yang menyuburkan bumi dan menumbuhkan tanaman.”
Dengan demikian, Islam dengan akal dan budaya berpikir tidaklah bertentangan. Perihal ini dapat ditelusuri dalam salah satu riwayat yang terjadi di masa Nabi.
“Sewaktu kami dalam perjalanan, seorang dari kami terluka kepalanya karena batu, sementara ia sedang dalam keadaan junub sehabis mimpi basah. Ia bertanya kepada sahabat-sahabatnya, ‘Apakah menurut kalian aku mendapat rukhsah (keringanan) untuk melakukan tayamum karena lukaku?’
Mereka menjawab, ‘Menurut kami, kamu tidak boleh melakukan tayamum, kamu mampu mandi dan bersuci dengan air. Kemudian laki-laki tersebut mandi, akan tetapi ia lantas mati karenanya.
Tatkala Rasulullah diberitahu akan hal ini. Rasulullah bersabda, “Mereka (sahabatnya yang memberi jawaban) telah membunuhnya dan Allah juga akan ‘membunuh’ (melaknat) mereka.
Mengapa mereka tidak bertanya jika mereka tidak mengetahui jawabannya? Sesungguhnya obat penyakit bodoh adalah bertanya. Sebenarnya ia hanya cukup bersuci dengan tayamum, membalut lukanya dan mengusap bagian atasnya, kemudian mencuci seluruh bagian badan lainnya.” (HR. Abu Dawud).
Dari sini sangat terang, bahwa Islam adalah agama yang memberi ruang luas kepada akal untuk bekerja dan mengambil prioritas yang selaras dengan tujuan diturunkannya syariat, yang di antaranya adalah menyelamatkan jiwa manusia.
Hari ini banyak kaum Muslimin yang ibadahnya bagus tapi enggan berpikir sungguh-sungguh. Saat diirnya menginginkan sesuatu, beragam kemudahan pinjaman uang cukup membuatnya tergiur, sehingga ia berhutang dengan cara kredit, tanpa pernah lagi memperdulikan kandungan riba di dalamnya. Akibatnya, sekalipun ibadahnya luar biasa, tanpa sadar ia telah terlibat dalam pengembangan sistem riba yang menjerat kaum Muslimin.
Demikian pula dalam pergaulan sosial, orang yang ibadahnya bagus, kepribadiannya baik, seringkali gagal menjalankan amanah dengan benar. Kerap tidak disiplin, inkonsisten dengan ucapan yang dilontarkan, bahkan kerap memandang orang lain berdasarkan standar suka atau tidak suka. Orang demikian tentu tidak memperhatikan kondisi akal dan hatinya, sehingga segala sesuatu diukur hanya dengan kepentingan dan kenyamanan dirinya sendiri.
Yang tidak kalah menarik untuk diperhatikan adalah ada orang yang luar biasa tahajjud, tapi pagi dan sepanjang hari tidak ada produktivitas yang dibuat secara sungguh-sungguh karena alasan lelah qiyamul lail. Bahkan dalam banyak kegiatan, ia kerap terlambat dan cenderung memandang yang tak qiyamul lail lebih rendah dari dirinya.
Sikap demikian tentu tidak bernilai dan karena itu tidak dibenarkan di dalam Islam. Seorang Muslim mestinya mampu berpikir secara integratif di dalam segala sisinya, sehingga ia tidak mengalami split personality, dimana ibadah rajin tapi riba dihantam. Atau berpikirnya bagus tapi ibadahnya amburadul.
Benar ungkapan yang mentagakan bahwa akal dan hati ibarat dua sisi mata uang, yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa akal, hati tidak bisa mencukupi hidup. Tanpa hati, akal sering membuat kerusakan. Dan, hanya dengan akal dan hati iman bisa melahirkan akhlakul karimah dan kemaslahatan di dalam kehidupan. Mari sehatkan akal dengan berpikir, dan terangi hati dengan berdzikir. Wallahu a’lam.*

15 November 2019

Tenangnya Hati Karena Ingat Akhirat

Gundahlah jika tak punya amal, sehingga harta di tangan tak sempat membuat hati sombong.
SIFAT dunia adalah fana, gemerlapnya bukan sumber ketenangan, banyaknya bukan pondasi kebahagiaan. Dunia, segala sisinya adalah kekeruhan, kecuali digunakan untuk ketaatan dan pengabdian kepada Allah Ta’ala.
Hanya agama (baca Islam) yang mampu memberikan uraian perihal hakikat dunia secara rasional dan empiris. Manusia yang kafir kepada ajaran Islam, tidak ada tujuan tertinggi dalam hidupnya, kecuali sumber dari kegelisahan itu sendiri, yakni segala macam capaian keduniaan, mulai dari harta hingga tahta.
Meski demikian, tidak berarti orang beriman lepas dari kegelisahan semacam itu. Kerapkali manusia enggan berpikir, sehingga dalam hidupnya, bahkan ada yang sepanjang hidup, hatinya selalu menjadi tempat kegelisahan demi kegelisahan. Di sini kita perlu terus membaca perihal apa itu dunia secara hakiki.
Jabir ibn ‘Awn al-Asadi berkata, “Dalam sambutan pertamanya sebagai khalifah pada masa Bani Umayyah (715-717)  Sulaiman ibn Abdul Malik mengatakan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan, menghilangkan, dan merendahkan sesuatu yang dikehendaki-Nya; memberi dan menghalangi siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya dunia adalah negeri tipu daya, tempat kebathilan, dan perhiasan yang tidak stabil; sebentar tertawa kemudian menangis; sebentar menangis kemudian tertawa; sebentar menakutkan kemudian mengamankan; sebentar mengamankan kemudian menakutkan; mengubah orang yang kaya jadi fakir; dan mengubah orang fakir menjadi kaya.
Wahai hamba Allah jadikanlah kitab Allah Ta’ala sebagai imam, ridhailah, dan jadikanlah ia sebagai panutan. Ia menghapus (nasakh) kitab sebelumnya dan tidak akan ada kitab setelahnya yang menghapusnya.
Ketahuilah, wahai hamba Allah, Al-Qur’an ini dapat menyingsingkan tipu daya dan kedengkian setan laksana cahaya subuh ketika fajar menyingsing selepas malam yang meninggalkan gelapnya.”
Oleh karena itu, jangan pernah gelisah karena keadaan hidup kita di dunia. Sejauh yang kita miliki halal, walau pun sedikit, atau bahkan mungkin mengundang orang lain memandang kita dengan pandangan yang merendahkan, itu jauh lebih baik jika benar-benar halal dan tidak mengandung unsur yang mengundang murka Allah Ta’ala.
Sebaliknya, tidak perlu berbangga dengan apa yang berhasil dicapai dalam urusan duniawi. Sebab, belum tentu semua aset yang kita miliki benar-benar bersih dari unsur yang dapat memberatkan hisab kita di dunia dan akhirat.Oleh karena itu, menarik kita simak nasihat Ali bin Abi Thalib kepada Salman Al-Farisi.
“Dunia laksana ular. Siapapun yang memegangnya bakal dibinasakan dengan bisanya.
Berpalinglah dari barang-barang dunia yang menakjubkanmu karena bagian dunia yang bisa kamu dapatkan hanya sedikit. Jangan gelisah karena dunia lantaran jelas-jelas kamu bakal meninggalkannya.
Jadikanlah sesuatu yang membuatmu bahagia di dunia adalah hal yang paling ditakuti olehnya. Setiap kali budak dunia merasa damai dan mendapatkan kebahagiaan, setiap kali itu pula ada ketidaknyamanan yang mengganggunya.”
Demikianlah dunia yang dibanggakan oleh sebagian manusia dan digelisahkan oleh sebagian yang lain. Mereka benar-benar lupa bahwa dunia bukanlah tempat yang layak dibanggakan atau pun digelisahkan. Sebab dunia tidak diciptakan melainkan untuk menguji keimanan.
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan engkau semua sebagai khalifah di bumi itu. Maka Allah akan melihat bagaimana yang engkau lakukan. Oleh sebab itu, waspadalah terhadap dunia dan waspadalah terhadap wanita. Karena awal fitnah bagi Bani Israil adalah wanita.” (HR. Muslim).
Selanjutnya kita dapat melihat hakikat dunia ini dari firman Allah Ta’ala.
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 7).
Dengan demikian janganlah bersusah payah dalam kehidupan dunia ini kecuali pada apa yang dapat terus menemani kita hingga ke akhirat, yakni ilmu dan amal.
Gelisahlah jika tak memiliki ilmu sehingga merasa diri terus butuh terhadap ilmu. Gundahlah jika tak punya amal, sehingga harta di tangan tak sempat membuat hati sombong, karena harta itu akan binasa dan membinasakan, kecuali diinfakkan di jalan Allah Ta’ala.
Jika seseorang kegelisahan dan kegundahannya sudah pada tahap esensial seperti itu, perihal ilmu dan amal, insya Allah kebahagiaan dan ketenangan batin akan bersarang di dalam dadanya, bagaimanapun keadaannya. Sebab ia sadar, semua baik, jika menguatkan iman, menambah ilmu dan mendorong diri beramal.*/Imam Nawawi