Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

25 Mei 2017

Program Ramadhan Bersama Santri Yatim Dhuafa Penghafal Al-Quran Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi


Program Ramadhan Bersama Santri Yatim Dhuafa Penghafal Al-Quran Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi

Alhamdulillah... Kita bisa dipertemukan dgn bulan Ramadhan, bulan yang penuh dgn kemuliaan & keberkahan, sehingga inilah kesempatan kita untuk berlomba-lomba dalam ibadah & kebaikan...
InsyaAllah setiap amalan kebaikan akan dilipatgandakan terlebih lagi ketika di bulan Ramadhan...

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :

 مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al Baqarah : 261)

Dalam bulan Ramadhan tahun 1438 H ini kami mengajak bpk/ibu/sdr terkhusus para dermawan/muhsinin untuk ikut menyukseskan program Ramadhan Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi, yaitu:

1. Paket Ramadhan:
    - Takjil
    - Sahur
    - Paket Lebaran Santri

2. Infak Pembangunan:
    - Finishing asrama santri= 20 Jt
    - Saung Tahfizh, 4 unit @5 jt= 20 jt
    - Ruang Kelas, 6 lokal @50 jt= 300 jt

Pesantren Tahfizh Yatim Dhuafa Ashabul Kahfi juga menerima ZISWAF anda

Bagi anda yang mau mendukung dan turut berpartisipasi dalam membantu pengembangan program ini, bisa dgn cara:

1. 🏍Di ambil/jemput oleh petugas kami ke rumah Anda.
- Syukur: 089638134013
- Nanda: 081383050338

2. Transfer via Rekening :
- Bank Muamalat Cab. Tambun
No. Rekening: 4960000701
A.n. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi.

- Bank BNI Capem Mutiara Gading
No. Rekening: 0431912428
A.n. Hidayatullah .

- Bank BRI Cab. Karang Satria
No. Rekening: 788801003356536
A.n. Hidayatullah

📞Konfirmasi transfer: Ust. Nanda Ramadhan (0813-8305-0388 / 0896-0880-5540)

3. Datang langsung ke Kantor Sekretariat Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi yang beralamat di:

- Ruko Villa Mutiara Gading II Blok R 03/ No 18 , Desa Karang Satria, Kec. Tambun Utara, Bekasi - JABAR.

Semoga apa yang diberikan bpk/ibu/sdr menjadi shadaqah jariyah dan pemberat amal kebaikan.

 Aaamiin ya Robbal 'aalamiin.
InsyaAllah kami akan menyalurkannya sesuai  dengan amanah Anda.
Jazaakumullah khoiron jaza'.                        

22 Mei 2017

Dalam Naungan Islam Semua Orang Bersaudara

Dalam masyarakat Islam tidak terdapat kasta-kasta, sebagaimana dikenal dalam masyarakat Barat pada abad pertengahan.
UKHWA dalam Islam meliputi seluruh golongan masyarakat. Oleh karenanya, tidak ada golongan manusia yang lebih tinggi daripada golongan yang lain. Harta, kedudukan, keturunan, status sosial, atau apa pun, tidak boleh menjadi penyebab sombongnya manusia atas manusia yang lain.

Pemerintah adalah saudara rakyat, sebagaimana termaktub dalam hadist Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam,
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian sukai dan mereka menyukai kalian, kalian selalu mendoakan mereka dan mereka pun selalu mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan mereka juga membenci kalian, kalian mencela mereka dan mereka pun mencela kalian.” (HR. Muslim)
“Tuan” adalah saudara bagi hamba sahaya, meskipun kondisi khusus kadang-kadang memaksa sahayanya untuk berada di bawah kekuasaannya.
Dalam hadist sahih, Nabi bersabda,
“Saudara-saudara kalian adalah para pembantu kalian, Allah telah menjadikan mereka berada di bawah kekuasaan kalian. Jika Allah berkehendak, maka Ia akan menjadikan kalian di bawah kekuasaan mereka. Barangsiapa saudaranya berada di bawah kekuasaannya, maka hendaklah memberi makan kepadanya sebagaimana ia makan, memberi pakaian kepadannya sebagaimana ia berpakaian, dan janganlah kalian memaksa mereka mengerjakan suatu pekerjaan yang mereka tidak mampu. Jika kalian memaksa mereka juga, maka bantulah mereka itu.” (HR. Mutafaq alaih)
Orang-orang kaya, orang-orang miskin, para buruh, karyawan, dan orang-orang yang disewa adalah bersaudara. Oleh karena itu, tidak ada peluang bagi mereka dalam naungan ajaran Islam untuk terjadinya konflik sosial atau dendam golongan.
Dalam masyarakat Islam tidak terdapat kasta-kasta, sebagaimana dikenal dalam masyarakat Barat pada abad pertengahan. Di sana golongan cendekiawan, para penunggang kuda, para uskup, dan orang-orang tertentu lainnya, adalah yang berhak menentukan nilai, tradisi, dan hukum yang berlaku.
Sampai hari ini masih ada sebagian bangsa yang memiliki sekolompok tertentu berhak menentukan dan mengendalikan garis ideologi bangsa tersebut, hukum-hukumnya, serta sistem sosial dalam kehidupan masyarakatnya, misalnya negara India.
Memang, dalam masyarakat Islam terdapat orang-orang kaya. Akan tetapi, mereka tidak membentuk kolompok tersendiri yang mewariskan kekayaannnya. Mereka adalah individu-individu biasa seperti lainnya. Si kaya pun, suatu saat bisa saja menjadi miskin, dan si miskin bisa juga tiba-tiba menjadi kaya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan.” (QS. Al- Insyirah: 5)
Dalam Islam memang ada ulama. Namun mereka tidak membentuk golongan yang mewarisi tugas tersebut. Tugas itu terbuka bagi siapa saja yang berhasil memperoleh keahlian di bidang keilmuan dan studi. Dia bukan merupakan tugas kependetaan, seperti yang dilakukan para pendeta dan uskup dalam agama lain, tetapi merupakan tugas mengajar, dakwah, dan memberi fatwa. Mereka adalah ulama, bukan pendeta.
Allah berfirman kepada Rasul-nya SAW, sebagaimana berikut,
Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 21-22)
Bagaimana dengan pewarisnya para ulama ? Sesungguhnya mereka itu bukanlah yang menguasai atau memaksa manusia, tetapi mereka adalah mengajar dan pemberi peringatan.*/Sudirman STAIL (sumber buku Masyarakat Berbasis Syariat Islam, penulis Dr. Yusuf Qardhawi)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !
Topik: 

4 Mei 2017

Arif dalam Perbedaan

Buya sudah mengedepankan tasamuh (toleransi). Waktu itu, Hamka ikut hadir dan duduk bersebelahan dengan tokoh NU KH Idham Chalid. Hamka tak segan untuk ikut berdiri dan membacakan asrakai pada Maulud Diba
PERBEDAAN adalah keniscayaan. Namun, ada dua perbedaan yang harus dipahami dalam fikih Islam agar tidak salah dalam menyikapinya. Pertama, tadhâdh [perbedaan kontradiktif mengenai sesuatu yang sudah final dalam Islam seperti akidah dan ibadah mahdhah]. Kedua, tanawwu’ [perbedaan cabang, multi tafsir misalnya dalam hukum fikih yang teknis] (Yasir Husain Barhami, Fiqhu al-Khilâf, 12).
Dari kedua perbedaan tersebut, memang perbedaan tadhâdh (kontradiktif), tidak ada kompromi sedikit pun. Namun, pada wilayah perbedaan tanawwu’ (cabang, multi tafsir), umat Islam diharuskan berlapang dada dan toleransi. Ironisnya, masih banyak dari kalangan umat Islam yang belum arif dalam menyikapi perbedaan furu’iyah ini. Pada tingkat yang lebih ekstrim, di antara mereka ada yang saling membid’ahkan, merasa pihaknya sendiri yang paling benar, bahkan mengkafirkan orang yang berseberangan. Hal ini tentu bisa menyulut permusuhan dan mengoyak persatuan.
Konflik semacam ini tidak akan terjadi jika perbedaan furu’iyah ini disikapi dengan kearifan. Ada banyak contoh sejak zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang bisa dijadikan teladan untuk menyikapi perbedaan demikian secara arif.
Semasa nabi hidup misalnya –tanpa bermaksud membatasi- ada 3 peristiwa yang bisa diangkat dalam menyikapi perbedaan furu’iyah secara arif.
Pertama, pasca Perang Khandak (5H), Rasulullah menginstruksikan sahabatnya, “Jangan shalat Ashar, melainkan di Bani Quraidzah!” (HR. Bukhari, Muslim).
Para sahabat tebelah dua dalam memahami instruksi nabi tersebut. Ada yang memahaminya secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar kecuali sudah sampai lokasi. Ada juga yang memahaminya secara kontekstual, sehingga memahaminya segera melaksanakan shalat tepat waktu. Menariknya, saat kedua kelompok ini mengadu kepada nabi, beliau sikapi dengan arif dengan tidak mencela keduanya.
Kedua, Abu Qatadah menceritakan, suatu saat Nabi bertanya kepada Abu Bakar, “Kapan kamu menunaikan witir?” Abu Bakar menjawab bahwa ia menunaikan witir di awal malam. Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada Umar. Beliau pun menjawab, “Aku menunaikan witir di akhir malam.” (HR. Abu Daud).
Sikap nabi ketika melihat perbedaan antara keduanya bukan dengan menyalahkan, tapi justru menyebutkan sisi positif masing-masing. Abu Bakar, dipuji nabi sebagai seorang yang teguh. Sedangkan Umar bin Khathab, disanjung sebagai orang yang kuat.
Ketiga, ‘Amr bin ‘Âsh bercerita, saat dirinya diutus dalam peperangan Dzâtus Salâsil, pada suatu malam yang sangat dingin, ia bermimpi hingga junub. Saat bangun pagi-pagi, beliau mengganti perintah mandi junub dengan tayamum. Pada saat itu juga, ia menjadi imam shalat Shubuh. Kejadian ini diadukan langsung kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam oleh sahabat yang tak sependapat. Ketika diklarifikasi nabi, Amru bin Ash berargumen dengan Surah An-Nisa [4]: 29, yang intinya tak boleh membunuh diri karena Allah Maha Penyayang (HR. Abu Daud, Ahmad). Setelah mendengar argumentasinya, Rasulullah pun tertawa tanpa mengatakan sesuatu apapun –sebagai taqrir (pengakuan)- bahwa apa yang dilakukan Amru ini bukan perbuatan yang salah.
Jamaluddin al-Qasimi dalam buku Qawâ’idu al-Tahdîts min Funûni Mushthalah al-Hadîts (371) menuturkan bahwa perbedaan di kalangan sahabat dan tabi’in dalam masalah furu’iyah sudah biasa. Di antara mereka ada yang membaca basmalah dalam shalat, ada pula yang tidak; ada yang mengeraskan basmalah, ada juga yang tidak’; ada yang qunut pada waktu shalat Shubuh, ada pula yang tidak melakukannya; ada yang berwudhu setelah berbekam, ada pula yang tidak berwudu. Uniknya, meski terjadi perbedaan, mereka tetap tidak menghalangi mereka shalat secara berjama’ah.
Dikisahkan, Abu Hanifah dan penganut madzhab Syafi’i serta yang lainnya shalat di belakang imam-imam Madinah yang bermadzhab Maliki (meskipun mereka tidak membaca basmallah baik secara lirih maupun keras). Harun Ar-Rasyid pernah menjadi Imam shalat –padahal ia telah berbekam- waktu itu Abu Yusuf menjadi makmumnya dan tak mengulangi shalatnya.
Dalam kisah lain disebutkan bahwa pernah Abu Yusuf dan Muhammad ketika bertakbir dalam Idul Fithri keduanya bertakbir seperti pendapat Ibnu Abbas, ini karena Harun Ar-Rasyid suka terhadap takbir kakeknya (Ibnu Abbas). Lebih dari itu, pernah Imam Syafi’i shalat Shubuh tanpa qunut dekat kuburan Abu Hanifah sebagai wujud adab beliau terhadap Abu Hanifah.
Ada kisah lain yang cukup menarik. Seusai melaksanakan shalat Jum’at, Imam Abu Yusuf diingatkan jama’ah bahwa di sumur dekat kamar mandi (yang beliau pakai mandi sebelum Jum’at), terdapat bangkai tikus. Mendengar ini beliau berkomentar, “Kalau begitu, kita mengambil pendapat saudara kita Ahli Madinah, “Jika air mencapai dua qulla, maka kotor [najis].” (HR. Ahmad).
Lihat bagaimana mereka menyikapi perbedaan furu’iyah, tidak ada yang saling mencela bahkan sinis terhadap pendapat yang berseberangan.
Di Indonesia sendiri, sejak sebelum kemerdekaan perbedaan furu’iyah memang menimbulkan selalu ketegangan. Terbelahlah umat Islam pada waktu itu dengan istilah kaum tradisionalis dan kaum modernis. Perbedaan tersebut dampaknya masih berpengaruh hingga saat ini. Padahal, kalau diamati secara cermat, perbedaan mereka kebanyakan pada masalah furu’iyah bukan prinsipil.
Melihat fenomena demikian, Tjokroaminoto dan Agus Salim  menginisiasi Kongres Islam pertama di Cirebon 1922 untuk merajut Ukhuwah Islamiah dan tidak disibukkan dengan Urusan Khilafiyah (Aji Dedi Mulawarman, Jang Oetama Jejak dan Perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto, 187).
Contoh lain dari Pahlawan Muslim Indonesia dalam menyikapi perbedaan furu’iyah ialah seperti yang dipraktikkan Buya Hamka. Dalam buku Mengenang 100 tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), disebutkan bahwa Hamka adalah sosok yang mengutamakan silaturahim ketimbang meributkan perbedaan tak prinsip. Ada beberapa contoh yang menunjukkan toleransi hamka dalam menyikapi perbedaan furu’iyah.
Pertama, ketika KH Abdullah Syafi’i menunaikan shalat Jum’at di Masjid Al-Azhar. Waktu itu, Buya Hamka sudah terjadwal sebagai khatib. Melihat kedatangan KH Abdullah Syafi’i, seketika Buya “memaksa” beliau menggantikan dirinya. Buya juga meminta adzan dikumandangkan dua kalisebagaimana tradisi Nahdhiyin yang dipegang Syafi’i.
Kedua, sejak dibukanya Masjid Al-Azhar, Buya sudah mengedepankan tasamuh (toleransi). Waktu itu, Hamka ikut hadir dan duduk bersebelahan dengan tokoh NU KH Idham Chalid. Hamka tak segan untuk ikut berdiri dan membacakan asrakai pada Maulud Diba. (Shobahussurur, 2008).
Ketiga, pada saat Hamka dan Idham Chalid berada dalam satu pesawat menuju Mekah. Masing-masing bergantian menjadi imam shalat Shubuh.  Saat Idham menjadi imam, beliau tidak membaca qunut karena ada Hamka di belakangnya. Demikian juga Hamka, saat menjadi imam, beliau membaca qunut karena ada Idham Chalid di belakangnya. (Abdillah Mubarak Nurin, Islam Agama Kasih Sayang, 86).
Ada pula contoh dari tokoh nasional yang masih hidup, yaitu: Amin Rais. Tokoh yang pernah menjabat menjadi Ketua Umum Muhammadiyah ke-12 (1995-2000) ini sangat arif dalam menyikapi perbedaan furû’iyyah
Zaim Uchrowi  dalam buku Mohammad Amien Rais: Memimpin dengan Nurani menceritakan bahwa meski lahir dari kultur Muhammadiyah, Amin dikatakan sebagai sosok yang fasih dalam membaca qunut. Ia selalu membaca doa qunut saat menjadi umam penganut Islam ‘kultural’ saat shalat Subuh (2004: 146). Bahkan, masih menurut buku yang sama, beberapa kali saat berkunjung ke pesantren tradisional, beliau diminta menjadi imam shalat Shubuh. Jika kebiasaan di tempat itu memakai doa qunut, maka belia pun juga membaca doa qunut (2004: 85).
Dari beberapa contoh di atas, perbedaan furû’iyah memang harus disikapi secara arif. Perbedaan demikian seyogianya tidak merusak persatuan. Justru umat Islam saling berlapang dada, toleran dan menyikapinya dengan kearifan. Hal ini persis yang dicontohkan nabi, para sahabat, tabiin, ulama hingga tokoh Islam negeri ini.
Sebagai penutup, pernyataan Ibnu Najim (ulama bermadzab Hanafi) berikut bisa dicamkan baik-baik dalam menyikapi perbedaan furû’iyah secara arif,  “Jika kita ditanya tentang madzhab kita oleh orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah furu’ (cabang fikih), kita wajib menjawab bahwa madzhab kita shawab (benar) tapi ada kemungkinan salah, sedangkan madzhab yang menyelisihi kita bisa jadi khatha` (salah) tapi bisa jadi benar.” (al-Asybâh wa al-Nadhâir, Ibnu Najim 330). Wallâhu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

27 April 2017

Sikap Tercela Merendahkan Orang Berilmu

Orang yang menyakiti kehormatan ulama telah melakukan kesalahan berat, karena kehormatan ulama melebihi muslim biasa.
SYEIKH HABIB Muhammad Ismail mengatakan bahwa medan dakwah dewasa ini menghadapi tantangan semakin berat. Hal ini karena akhlak buruk tumbuh dengan sangat pesat, terutama mereka yang menganut paham at-tarbiyah an-nau’iyyah (pendidikan beragam).
Hal ini memunculkan fenomena berbahaya, seperti anak muda yang tidak menghormati orang yang lebih tua, orang-orang pandir yang berani melangkahi ulama, dan para pelajar berkelahi. Mereka saling bermusuhan, melupakan persaudaraan, tidak santun, tidak mau saling memaafkan, dan tidak mau bersabar. Mereka lebih bersikap pandir, seperti orang yang tidak berpendidikan sama sekali.
Kini para pelajar banyak tenggelam ke dalam lumpur celaan, pertikaian, dan perkelahian. Bahkan, di antara mereka ada yang berani menantang para ulama ternama. Hal ini karena mereka tidak sadar bahwa setan sedang meniupkan api permusuhan. Mereka mengira bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang dibenarkan agama.
Sungguh, seseorang yang menjadikan lidah sebagai pengontrol tingkah laku sangat disayang Tuhan. Karena itu, amal-amal berikut ia jadikan bahan evaluasi atas semua ucapannya.
Evaluasi tersebut mencakup dua pikiran utama sebagai berikut.
1. Akhlak mulia kepada sesama muslim. Hal ini dilakukan dengan menjaga kehormatan dan menjauhkan orang lain dari hal-hal yang dapat menyakitinya, seperti pembicaraan aib yang kini kian santer terdengar.
2. Akhlak mulia kepada ulama. Hal ini dilakukan dengan menjaga nama baik, serta mengenal dan mengakui kemampuan dan kelebihan mereka. Juga menghindar dari fitnah dan pencemaran nama baik.
Poin kedua patut diperhatikan lebih mendalam. Poin pertama merupakan pendahuluan karena para ulama memiliki dua hak, yaitu sebagai seorang muslim dan sebagai seorang yang memiliki kelebihan. Dalam hal ini kelebihan ilmu. Pola ini senada dengan sikap Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang lebih mengutamakan kaum muslimin dibandingakan dengan umat lain, kemudian Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu di antara kaum muslimin.
Allah swt berfirman, “…Niscaya Allah mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Di sisi lain, jika Allah mengharamkan sesuatu, bisa jadi pengharamannya berbeda dengan sesuatu yang lain. Suatu kesalahan, misalnya, bisa menarik dosa yang lebih besar dibandingkan dengan kesalahan yang lain. Hal ini dihitung berdasarkan banyaknya pelanggaran. Dengan begitu, azab dan hukuman satu dosa bisa berlipat ganda.
Menzalimi diri sendiri dengan berbuat maksiat dilarang oleh agama di mana pun dan lebih tegas pada bulan-bulan haram (Syawwal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram). Mengenai pengharaman ini, Allah swt. berfirman,
“…Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu…” (QS. At-Taubah: 36).
Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam memberikan contoh lain dalam sabda beliau, “Berzina dengan sepuluh orang wanita lebih ringan bagi seseorang daripada berzina dengan seorang wanita tetangganya. Mencuri sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada mencuri sebuah rumah milik tetangganya.” (HR. Ahmad, hadits sahih).
Allah juga berfirman,
“…Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji…” (Al-Baqarah: 197).
Hukum diat membunuh dan menyiksa pada bulan-bulan suci tentu lebih berat. Hukuman diat karena membunuh kerabat yang masih ada hubungan darah juga lebih berat. Hal ini sejalan dengan ketentuan dalam mazhab Syafi’i.
Sungguh, orang yang menyakiti dan merendahkan kehormatan ulama telah melakukan kesalahan berat. Hal ini karena kehormatan ulama melebihi seorang muslim biasa. Selain memiliki hak yang sama dengan seorang muslim, ulama memiliki hak sebagai orang tua dan para pembesar.
Di samping itu, mereka memiliki hak sebagai orang yang membawa risalah Al-Qur’an, hak keilmuan, dan hak para wali saleh. Dengan begitu, kita akan mudah memahami perkataan Imam Syafi’i, “Membicarakan aib ulama dan orang-orang yang menyampaikan risalah Al-Qur’an termasuk dosa besar.”*/Sudirman (sumber buku Ensiklopedia Akhlak Muhammad Saw, penulis Mahmud al-Mishri)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !
Topik: 

25 April 2017

Memberi yang Terbaik

Cinta Allah sudah dibuktikan dengan memberikan berbagai fasilitas hidup dan sarana lainnya. Kini Allah menuntut mana bukti kecintaanmu?

WAJAR bila seseorang yang hendak menikah, karena begitu bahagianya, membelikan sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk calon isterinya. Demikian halnya Julaibib, sahabat Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam ini. Ia kebetulan lama melajang, berkat bantuan Rasulullah akan mempersunting seorang gadis cantik lagi terhormat.
Julaibib pergi ke pasar dengan harapan dapat membeli sekian barang yang dapat menyenangkan hati si calon istri. Tapi belum sampai membeli barang, genderang jihad telah ditabuh bertalu-talu. Segera Julaibib mengurungkan niatnya. Kini ia tidak membeli kenang-kenangan untuk calon istrinya, justru membeli tombak, panah, tameng, dan peralatan perang lainnya.
Seruan jihad fi sabilillah ternyata lebih punya daya panggil daripada menikah. Tombak, panah, dan tameng lebih berharga dari emas dan permata. Ia lebih mencintai Allah dari yang lainnya. Karenanya ia mau berkorban apa saja untuk-Nya.
Calon istri dicintainya, akan tetapi ia lebih mencintai Allah, Tuhannya. Ia tidak enggan untuk membelikan kenangan untuk calon istrinya. Tapi bila Allah juga meminta pengorbanannya, maka ia lebih mendahulukan-Nya.
Ada pun orang-orang yang beriman amat sangat mencintainya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
Pembaca tentunya mengaku diri sebagai orang yang beriman. Sekarang ukur kecintaan Anda dengan standar sahabat Nabi ini. Cinta Allah kepada kita sudah dibuktikan-Nya dengan memberikan berbagai fasilitas hidup dan sarana lainnya. Kini Allah menuntut mana bukti kecintaanmu?
Suatu ketika kas Baitul Mal kosong, padahal peperangan harus diteruskan. Musuh sudah mengepung, lawan sudah di depan hidung. Menyerah berarti kalah, sementara melawan perlu dana banyak. Akhirnya Rasulullah mengumandangkan imbauan kepada kaum muslimin agar mau menyisihkan sebagian hartanya untuk jihad fi sabilillah.
Saat itu datanglah Abu Bakar dengan segala perlengkapan rumahnya. Abu Bakar yang sudah jatuh pailit, tentu saja tidak mampu membawa apa-apa kecuali barang-barang sisa pakai. Melihat Abu Bakar melakukan itu, Rasulullah mencegahnya, “Jangan kamu bawa semua, kamu tidak lagi punya apa-apa di rumah,“seru Rasulullah.
Tetapi apa jawaban Abu Bakar? “Allah dan Rasul-Nya lebih berharga dari seluruh isi jagad raya ini. Apakah tidak pantas bila sisa-sisa hartaku ini kupersembahkan untuk-Nya?”
Dulu ketika masih kaya, Abu Bakar, begitu melihat Bilal bin Rabah, saudara sesama muslimnya hendak dimerdekakan oleh tuannya yang jahat, dialah yang menebusnya. Kini setelah hartanya ludes untuk perjuangan, ia masih hendak berinfaq fi sabilillah.
(yaitu) Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik pada saat lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imran: 134)
Di saat lapang, ketika jabatan masih dipegang, ia gunakan kekuasaannya untuk berbakti kepada Tuhan. Ia memanfaatkan jabatannya untuk memajukan Islam. Tak menunggu pensiun untuk berjuang. Mumpung ada kesempatan untuk berbuat ma’ruf, kapan lagi?
Ketika kekayaan masih di tangan, ia gunakan untuk membiayai proyek-proyek perjuangan. Tak segan ia keluarkan uangnya untuk membantu sesama muslim yang membutuhkan. Tak berat mengeluarkan hartanya untuk proyek-proyek kemanusiaan.
Ketika sudah pensiun, ia tetap berjuang. Tiada kata sisa, sebab ia tetap punya wibawa. Meskipun tak seperti saat menjabat, tapi itu cukup bekalnya. Ia telah memberikan yang terbaik saat pensiun.
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali-Imran: 92)
Karenanya disunnahkan bila menghadap kepada-Nya, pergi ke masjid guna melakukan ibadah shalat, hendaknya memakai pakaian yang baik, ditambah aroma wangi. Janganlah sebaliknya, bila pergi ke kantor selalu berpakaian rapi and style, tapi kalau shalat seenaknya saja. Sarungnya lusuh, bajunya kumal, ditambah kopiah yang sudah tak berbentuk.
Demikianlah halnya dalam bersedekah dan berinfak. Pilihlah yang terbaik untuk Allah. Jangan hanya uang recehan yang dimasukkan di dalam kotak amal. Sungguh ironis, bila ke rumah makan siap mengeluarkan lembaran puluhan ribuan, sementara bila ke rumah ibadah hanya mengeluarkan ribuan.
Lihatlah ketika shalat Jumat para jamaah kebanyakan hanya mengeluarkan uang recehan. Belum tentu amalannya diterima, tapi suara recehannya sudah mengganggu konsentrasi dan kekhusyuan yang mendengarkan khotbah.*/Sudirman STAIL (dari buku Cara Baru Memandang Dunia, penulis Hamim Thohari)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !