/

Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!
Tampilkan postingan dengan label zakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zakat. Tampilkan semua postingan

13 April 2021

Pesantren Tahfizh Al Qur'an Yatim Dhuafa Ashabul Kahfi di Bulan Suci Ramadhan Menerima Zakat Infak Sodaqoh

 


Pesantren Tahfizh Al Qur'an Yatim Dhuafa Ashabul Kahfi di Bulan Suci Ramadhan Menerima Zakat Infak Sodaqoh


Dibulan Ramadhan yang suci ini, tentunya menjadi keberkahan bagi kita semua terkhusus bagi adik-adik santri. Dibulan Ramadhan ini Pesantren Tahfizh Al Qur'an Yatim Dhuafa Ashabul Kahfi menerima Zakat, Infak, dan Sodaqoh bapak/ibu para dermawan dan muhsinin, besar harapan kiranya mereka juga turut merasakan kebaikan dan keberkahan di bulan Ramadhan ini.


Banyak program2 amaliyah bulan Ramadhan tahun ini, sebagai berikut :

1. Ta’jil (buka puasa Bersama)

2. Buka Bersama & Santunan Anak Yatim Dhuafa

3. Sahur Santri Yatim Dhuafa

4. Dauroh Al Qur’an 

5. I’tikaf

6. Paket Lebaran Santri

7. Paket Lebaran Guru


Adapun Pesantren Tahfizh Al Qur'an Yatim Dhuafa Ashabul juga membutuhkan asrama baru untuk lebih nyaman, aman dan tentram dengan rinciannya bisa hubungi nomoe kontak dibawah ini


Rasulullah SAW. bersabda:

“Zakat Fitri merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji (yang dikerjakan waktu puasa), dan bantuan makanan untuk para fakir miskin”.(HR. Abu Daud)


Jika bapak/ibu ingin menginfak kan sebagian harta nya untuk santri penghafal Al-Quran yatim dhuafa pesantren tahfizh ashabul kahfi bisa dikirimkan donasi lewat berbagai cara :


1. Kontak = 082122008420(Ust. Nanda) 

     

2. No Rekening :


- Bank Syariah Mandiri (BSM)

No Rek : 7137406173

A/N : Ashabul Kahfi Bekasi Yayasan


- BNI Capem. Mutiara Gading No. Rek : 0431912428

A/N : Bpk Hidayatullah


- Bank Syariah Mandiri (BSM)

No Rek : 7137406173

A/N : Ashabul Kahfi Bekasi Yayasan 


Alamat Pesantren


- Jl. Desa Satria Jaya , Kp. Gebang Rt 02 Rw 03, desa Satria Jaya, Kec. Tambun Utara, Kab. Bekasi - JABAR 17510


Kunjungi : 

Faacebook : Pessantren Tahfizh Al Qur’an Ashabul Kahfi

Instagram   : @pptq_ashabul_kahfi

Website      : www.hidayatullahicb.com

Email    : pesantrentahfizhalqur’anashabulkahfi@gmail.com

Gmaps : https://goo.gl/maps/xk9NW2ff8dy


       Atas prthatiannya, Jazakumullah Khoiron Jaza’. Semoga apa yang diberikan bpk/ibu/sdr menjadi shadaqah jariyah dan pemberat amal kebaikan. Aamiin Ya Allah Ya Robbal ‘Aalamiin

24 Mei 2016

Transformasi Mustahiq ke Muzakki di Zaman Umar bin Abdul Aziz

Transformasi mustahiq menjadi muzakki di zaman Umar bin Abdul Aziz erat kaitannya dengan peningkatan kesejahteraan rakyat melalui jalur ekonomi strategis
Ilustrasi film tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Oleh: Mahmud Budi Setiawan

POTENSI zakat menurut penelitian BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), Institut Pertanian Bogor(IPB) dan Islamic Development Bank (IDB) di Indonesia sungguh fenomenal. Bila dana zakat ini digalang secara maksimal, maka setiap tahunnya bisa mencapai 217 triliun, yakni rata-rata sekitar 3.4% gross domestic product (GDP).
Sayangnya,  yang tergali masih kurang dari 10% (Tim Dewan Syari`ah LAZNAS AQL, Sukses Berzakat Bersama Laznas AQL, 7). Lantas bagaimana agar zakat bisa tergali secara maksimal sehingga mustahiq bisa naik kelas menjadi muzakki?
Sebagai pijakan -sebelum menjawab pertanyaan tersebut- perlu diingatkan bahwa zakat –sesuai dengan arti bahasa- memiliki arti suci dan berkembang. Zakat bisa mensucikan hati muzakki dan hartanya (QS. At-Taubah[9]: 103). Di sisi lain, kalau direnungkan melalui pengalaman sejarah umat Islam, dia seharusnya berefek pada “perkembangan” dari mustahiq ke muzakki. Mindset (cara berpikir) demikian sangat penting agar peran zakat lebih bisa dioptimalkan. Hal ini tentu sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari, Muslim). Orang yang “memberi” itu lebih baik dari yang “diberi”. Karena itu, selama ada kemampuan untuk meningkatkan diri jadi muzakki kenapa mesti bertahan menjadi mustahiq?
Umar bin Abdul ‘Aziz
Bila bercermin pada sejarah keemasan Daulah Umawiyah, di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul `Aziz. Pada masa pemerintahan beliau –meski hanya sekitar dua tahun setengah- tapi mampu membuat hidup rakyatnya aman dan sejahtera.
Mengenai hal ini, Zaid bin Khathab misalnya menceritakan kemakmuran di masa Khalifah yang dikenal dengan keadilannya itu. Sedemikan makmurnya hingga menjelang kematian Khalifah Agung ini, ada orang yang kesusahan mencarai mustahiq zakat. Ia pun berkomentar, “(Berkat Allah melalui tangan)Umar bin Abdul Aziz banyak penduduk yang hidup berkecukupan.”(Abdullah bin Abdul Hakam,  Sîrah `Umar bin `Abdil `Azîz, 110).
Kita mungkin akan bertanya-tanya bagaimana Umar bin Abdul Aziz mampu mensejahterakan rakyatnya sehingga muzakki menjadi dominan mengungguli mustahiq  di seantero negeri?
Kondisi demikian sangat berkaitan erat dengan kebijakan strategisnya di sektor ekonomi yang  poin-poinnya sebagai berikut.
Pertama, memiliki tujuan ekonomi jelas. Di antara tujuan pengembangan sektor ekonomi yang dicangankan beliau adalah: mengembalikan kembali sistem pembagian pemasukan(incom) dan kekayaan negara secara adil; mewujudkan perkembangan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
Kedua, untuk merealisasikan tujuan tersebut, di antara langkah-langkah yang dibuat oleh beliau ialah: menciptakan iklim perokonomian yang kondusif, mengikuti pola perekonomian baru serta konsen dalam mengembangkan petani dan dunia pertanian.
Ketiga, membuat kebijakan strategis untuk mengoptimalkan pendapatan negera melalui zakat, jizyah, kharaj (pajak), usyur (bagian sepersepuluh), khumus (bagian seperlima), dan fai(harta yang diperoleh tanpa melalui jalur peperangan).
Cara Umar Mengelola Zakat
Secara khusus, pada bidang zakat ada beberapa hal menarik yang bisa diungkap di sini mengenai pengelolaam zakat di masa beliau.
Pertama, bila para khalifah sebelumnya tidak begitu memperhatikan –bahkan terkesan lalai- terhadap urusan zakat, maka kondisi itu diubah oleh beliau. Zakat mendapatkan perhatian lebih, dan disalurkan kepada mustahiq-nya sesuai dengan teladan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Uniknya, jika mustahiq tidak ditemukan, maka beliau mengalokasikan dana zakat -di antaranya- untuk membebaskan budak.
Kedua, terciptanya trust (kepercayaan) rakyat terhadap pemimpinnyanya juga menjadi faktor penting peningkatan zakat di masa itu.
Dengan keteladanan Umar sebagai pemimpin yang Zuhud dan dermawan, mereka tidak eman dalam menunaikan zakat dengan suka cita.
Ketiga, dengan kebijakan ekonomi strategris yang diterapkan Umar bin Abdul Aziz berdampak kepada meningkatnya produktivitas pekerja sehingga berpengaruh langsung terhadap peningkatan muzakki dan penurunan mustahiq (Ali Muhammad al-Shallabi, `Umar bin Abdul Aziz, Ma`âlim al-Tajdîd wa al-Ishlâh, 99-112).
Karena itulah Abdurrahman bin Zaid meriwayatkan dari Umar bin Asid mengenai fenomena ini ia berkata, “Demi Allah, tidaklah Umar bin Abdul Aziz wafat, melainkan ada orang yang datang kepada kami membawa harta yang banyak seraya berkata, ‘Gunakanlah ini sesuai dengan pendapat kalian.’ Akhirnya dia tidak berhasil mencari mustahiq zakat sehingga kembali membawa hartanya, karena Umar telah mensejahterakan rakyatnya (Muhammad ad-Dzahabi,  Siyaru A`lâm an-Nubalâ, 5/131).
Intinya, transformasi mustahiq menjadi muzakki di zaman Umar bin Abdul Aziz erat kaitannya dengan peningkatan kesejahteraan rakyat melalui jalur ekonomi strategis (ini berarti peran negara sangat urgen dalam mensukseskan agenda ini). Kemudian optimalisasi zakat dengan –minimal- tiga poin penting: perhatian serius, di-followup dengan langkah-langkah strategis yang menimbulkan trust (kepercayaan) dan terakhir meningkatkan produktivitas rakyat.
Insyaallah dengan begitu, apa yang dialami oleh rakyat pada zaman Umar bin Abdul Aziz, tak menutup kemungkinan akan terulang kembali di masa sekarang. Wallahu a`lam bi al-Shawab.*
Penulis alumni Al Azhar, Kairo
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

16 Juni 2015

RAMADHAN TERGANTUNG ZAKAT FITRAH ?

Di sebuah masjid kota kabupaten, pada hari-hari akhir bulan Ramadhan, seorang khatib Jumat dengan semangat menyampaikan khutbah. Dalam khutbahnya, ia menggalakkan para jamaah untuk membayar zakat fitrah. Untuk menguatkan ajakannya itu, ia pun mengeluarkan jurus-jurus jitu yang membuat jamaah terkecoh.
Salah satunya adalah ia menyebut Hadits yang menegaskan bahwa amal ibadah pada bulan Ramadhan itu tidak akan diterima oleh Allah, sehingga yang bersangkutan itu membayar zakat fitrah.

Tentu saja para jamaah, yang tidak pernah mempersoalkan Hadits yang disampaikan khatib itu, merasa rugi apabila ibadah mereka pada bulan Ramadhan tidak akan diterima oleh Allah. Karenanya, Hadits tadi mereka anggap cambukan untuk membayar zakat.

a. Menggalakkan Zakat Fitrah 

Sebenarnya, tentang menggalakkan jamaah untuk membayar zakat fitrah adalah sah-sah saja, bahkan hal itu merupakan sesuatu yang baik dan dianjurkan. Yang menjadi masalah adalah menggunakan Hadits yang belum jelas juntrungannya. Sementara itu khatib tadi tidak pernah meralat atau merevisi apa yang pernah ia ucapkan pada khutbah itu. Karenanya, tampaknya kita perlu mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya tentang masalah tersebut di atas.

b. Teks dan Rawi Hadits

Hadits yang disebut-sebut dalam khutbah di atas itu teks lengkapnya adalah sebagai berikut:

“Ibadah Ramadhan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat kepada Allah kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah.”

Imam al-Suyuti dalam kitabnya al-Jami al-Shaghir menuturkan bahwa Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Syahin dalam kitabnya al-Targhib, dan Imam al-Dhiya, keduanya berasal dari Jabir. Imam al-Suyuti juga mengatakan bahwa Hadits ini dha’if, tanpa menyebutkan alasannya.

Sementara Imam al-Minawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir yang merupakan kitab syarah atas kitab al-Jami al-Shaghir menyatakan bahwa seperti dituturkan Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya al-Wahiyat, di dalam sanad Hadits itu terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ubaid al-Bashri, seorang yang tidak dikenal identitasnya. Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya, al-I’lal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah, menuturkan dua buah Hadits lengkap dengan sanadnya. Hadits pertama adalah berasal dari Jarir seperti tersebut di depan itu, dan Hadits kedua berasal dari anas bin Malik, yang ada sedikit perbedaan redaksi. Ibnu al-Jauzi kemudian berkomentar, dua buah Hadits itu tidak shahih (palsu). Hadits pertama yang bersumber dari Jarir, di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ubaid, seorang yang tidak dikenal identitasnya. Sedangkan Hadits kedua yang berasal dari Anas bin Malik, di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama ‘Abd al-Rahman bin Utsman. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, para ulama melemparkan Hadits ‘Abd al-Rahman bin Utsman. Dan menurut Imam Ibnu Hibban, ‘Abd al-Rahman bin Utsman tidak boleh dijadikan hujjah (pegangan).

Dalam kitab Lisan al-Mizan karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, sebagaimana dikutip oleh Syeikh Muhammad Nashir al-Din al-Albani dalam kitabnya Silsilah al-Hadits al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, Ibnu.
Dikutip dari Suara Islam.

28 Maret 2015

Mengapa Harus Berzakat?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kewajiban manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT adalah beribadah kepada-Nya. (QS. Al-Dzariyat: 56). Menurut kebanyakan ulama cara beribadah kepada Allah dikategorikan menjadi dua.
Pertama adalah ibadah mahdloh yang dalam kaidah yurispudensi Islam (ilmu ushulul al-fiqh) bahwa pada dasarnya ibadah (formal) adalah terlarang, kecuali ada petunjuk sebaliknya” (Al-ashlu fil al-ibadah al-tahrim illa ma dalla al-dalil  ala khilafihi) dalam hal ini sangat berkaitan dengan semangat Ketuhanan (habl min Allah).
Dan kedua adalah ibadah ghoiru mahdloh yang pada dasarnya semua perkara (selain ibadah murni) di perbolehkan, kecuali ada petunjuk sebaliknya” (Al-ashl fil asy ‘ya’ (ghayr al-ibadah) al-ibahah illa idza ma dalla al-dalil ala khilafihi) maka ini ada kaitanya dengan semangat kemanusiaan (habl min al-nas).

Shalat, zakat, puasa dan haji adalah bagian dari ibadah mahdloh, karena ibadah tersebut merupakan ibadah formal,  maka dalam banyak dalil ibadah mahdloh sudah ada prinsip ketentuannya. Meski demikian prinsip tersebut dapat menyesuikan dengan kebutuhan zamannya. Dalam permasalah ini akan dititikberatkan tentang salah satu bentuk ibadah dengan harta benda (maliyah) yakni zakat.

Secara etimologis menurut Ahmad Warson Munawir dalam Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, kata zakat berasal dari kata zakaa, yang berarti suci, baik, berkah, terpuji, bersih, tumbuh, berkembang. Sedangkan menurut Didin Hafidhuddin dalam buku Mutiara Dakwah Mengupas Konsep Islam Tentang Ilmu, Harta, Zakat & Ekonomi Syariah, zakat secara itimologi adalah penuh keberkahan dan beres.

Sedangkan secara terminologis, menurut Yusuf Qaradawi dalam buku Hukum Zakat. Zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak. Menurut UU No. 38 Tahun 1998 tentang Pengelolaan Zakat, pengertian zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.

Direktur pelaksana BAZNAS Pusat Teten Kustiawan menjelaskan ada delapan asnaf mustahiq zakat, antara lain  faqir, miskin, amil, muallaf, budak, orang yang berhutang, fi sabilillah, dan ibnu sabil. Ini sesuai dengan dalil Alquran At-Taubah: 60).
"Zakat tersebut tidak diberikan kecuali kepada mereka yang menggunakannya di jalan ketaatan," kata dia.

22 Maret 2015

BAZNAS Bangun Rumah Sehat Gratis di Pangkalpinang

JAKARTA (voa-islam.com) - Sebagai satu-satunya lembaga amil zakat yang dibentuk melalui undang-undang, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) terus berkembang dalam melayani kebutuhan umat Islam dari golongan dhuafa. Salah satunya adalah membangun rumah sehat gratis yang bekerjasama dengan PT Tambang Timah di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung.
Kepada voa-islam.com, Selasa (17/3), Ketua Umum BAZNAS KH Didin Hafidhuddin menjelaskan, pihaknya sudah menandatanggani perjanjian kerjasama dengan PT Tambang Timah untuk membangun Rumah Sehat BAZNAS (RSB) di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung. Sedangkan penandatanggannya telah dilakukan di Kantor Pusat  PT Timah di Jakarta, antara dirinya dengan Dirut PT Timah, Sukrisno, Senin (16/3) lalu.     
“Kerjasama ini sangat istimewa karena PT Timah memberikan fasilitas istimewa dalam kompleks RSB ini. Bangunan RSB dilengkapi dengan masjid, rumah dokter dan asrama untuk perawat yang belum pernah ada di kota lain. Ini merupakan tipe yang perlu dikembangkan," ujar Didin.
Menurutnya, zakat diambil dari orang kaya setempat dan disalurkan kepada masyarakat miskin di tempat tersebut. Seperti halnya PT Timah yang beroperasi di wilayah Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung dan memberikan manfaat bagi warga di kota itu. 
Sebagai permulaan, PT Timah menyalurkan dana untuk pembelian alat kesehatan dan furnitur RSB yang secara simbolis diserahkan oleh Direktur Utama PT Timah, Sukrisno kepada Ketua Umum BAZNAS,  Didin Hafidhuddin. Sedangkan gedung RSB saat ini sedang dalam proses pembangunan dan diperkirakan selesai pada Juli 2015. Program ini merupakan bentuk pelayanan kesehatan gratis bagi warga kurang mampu di wilayah Pangkalpinang dan sekitarnya.
Sementara itu Dirut PT Timah, Sukrisno mengatakan, penyaluran dana CSR ini merupakan bentuk partisipasi PT Timah kepada pemerintah dalam pelayanan kesehatan. Dengan membangun RSB ini diharapkan juga menambah keberkahan penghasilan seluruh karyawan yang saat ini telah dipotong zakat 2,5%.
“PT Timah menambang timah dalam suatu saat akan habis, maka kami harus memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi jangka panjang seperti pembangunan RSB ini,” katanya. 
Kompleks RSB Pangkalpinang memiliki luas bangunan 2.300 meter persegi yang dilengkapi dengan masjid, rumah dinas dokter dan perawat. Lokasinya berada di Jl. RE Martadinata yang strategis karena relatif dekat dengan pelabuhan. [AbdulHalim/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2015/03/18/35954/baznas-bangun-rumah-sehat-gratis-di-pangkalpinang/#sthash.5ZD5YqWr.dpuf

23 Februari 2015

Baznas Mentargetkan Himpun Zakat Nasional Rp 4,2 Triliun

Tahun lalu Baznas menghimpun sekitar Rp3,2 triliun. Berdasarkan riset, potensi bisa mencapai Rp 217 Triliun setiap tahun.
Hidayatullah.com–Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menargetkan pada 2015 dapat menghimpun zakat nasional sebanyak Rp 4,2triliun.
Tahun lalu Baznas menghimpun sekitar Rp3,2 triliun. Angka itu masih kecil dibanding potensi zakat Indonesia berdasarkan riset Baznas bersama IPB dan Islamic Development Bank (IDB) yang bisa mencapai Rp217 triliun tiap tahun.
“Untuk menggali potensi zakat di Indonesia, kita akan bergandeng tangan dengan berbagai pihak,” kata Ketua Umum Baznas Prof. Dr.Didin Hafidhuddin pada Tasyakur Milad ke-14 Baznas di Jakarta akhir pekan lalu.
Pada miladnya ini, kata Didin, Baznas ingin mengusung “Baznas baru” untuk lebih mendekatkan diri kepada muzaki, mustahik, dan masyarakat. Pada saat ini, lanjut Didin, Baznas juga menunggu hasil dari proses pemilihan pengurus periode 2015-2019.
Pada Desember tahun lalu, Tim Seleksi yang dipimpin Dirjen Bimas Islam telah menetapkan 16 nama calon anggota dari unsur masyarakat. Selanjutnya Presiden RI akan memilih 8 nama dari 16 nama itu untuk dimintakan pertimbangan kepada DPR RI dan ditetapkan bersama 3 orang dari unsur pemerintah.
“Dengan ditetapkan 11 anggota Baznas yang baru berarti mengganti pengurus sebelumnya,” kata Didin yang sudah dua periode menjadi ketua umum.*
Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan