Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!
Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan

4 Juni 2017

Tafakkur Ramadhan 05

Tafakkur Ramadhan 05

KEBIASAAN BARU,CALON PENGHUNI SURGA

Siapa yg hidup dlm sebuah kebiasaan , dia akan mati dlm keadaan itu dan bangkit dari kubur dlm keadaan seperti itu.

Sungguh dahsyat sebuah kebiasaan. Ia menentukan keselamatan dunia-akhirat. krn kebiasaan itu membentuk karakter seseorang. Bila sudah menjadi karakter , maka sangat sulit utk berubah.

Allah sangat paham kebiasaan kita selama ini blm layak utk menjadi calon penghuni surga. Krn itu Allah pertemukan kita dg bln Ramadhan ini supaya memiliki kebiasaan baru,  sbg ahli ibadah agar maksimal menjalankan tugas kekhalifahan di bumi ini.

Tentunya kebiasaan baru tidak terbentuk menjadi karakter diri tanpa ada kesadaran dan kesengajaan.  Kesadaran dan kesengajaan adalah kemauan kuat utk berubah. Inilah yg sering terlupa saat kita menjalani ibadah ramadhan. Akhirnya selesai Ramadhan kembali ke kebiasaan lama. Mengapa? Karena tidak ada niat untuk membangun kebiasaan baru pd dirinya.

Kebiasaan baru ini bukan sembarang  kebiasaan. bukan kebiasaan mengikuti adat atau lingkungan, kebiasaan mengikuti apa yg Rasulullah bawa. Beliau bersabda : Tidak sempurna iman salah seorang kalian hingga keinginannya mengikuti apa yg aku bawa (Qur'an dan Sunnah). hadist arbain annawawi no 41

Allah berfirman :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ٤٠

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ٤١

maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (An Nazi'at :40-41). والله اعلم . dilis Karyadi,

24 April 2017

Allah Mengembalikan Senyum Keluargaku saat Ramadhan

Laksana kata pepatah; Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah yang terjadi selanjutnya dalam keluargaku. Musibah yang menimpa bapak, justru menjadi awal retaknya keakraban hubungan keluarga.
SIANG itu tiba-tiba dering telepon berbunyi dari talam tasku. Oh, dari ibu. Sempat kaget mengetahuinya. Maklum, tak biasanya ibu meneleponku di saat-saat baru jam pulang sekolah. Karena ibu tahu kebiasaanku, sebelum pulang, aku biasanya shalat dulu di mushalla sekolah, kemudian istirahat sejenak.
“Assalamu’alaikum… Nak, kalau sudah selesai sekolah, langsung pulang, yah. Jangan mampir ke mana-mana!” ucap ibu dengan nada bergetar, dan langsung menutup sambungan telepon.
Terang saja, aku langsung diselimuti kekalutan. Pikiran-pikiran buruk terjadi di keluarga tiba-tiba berseliweran di benak. Ingin menelepon balik, mustahil. HP tidak ada pulsa. Akhirnya, dalam kekalutan itu, saya putuskan untuk mengerjakan shalat zuhur terlebih dahulu.
Selesai, aku langsung menuju parkiran sekolah untuk mencari tumpangan. Namun apa lacur, semua kawan sudah pada buyar. Tempat parkir sepi. Ingin naik angkutan desa, uang tak puya. Di lain sisi, suara ibu di telepon terngiang-ngiang. Semakin kalutlah pikiran.
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya aku memutuskan pulang dengan berjalan kaki di tengah teriknya matahari. Jarak sekolah-rumahku kurang lebih 3,5 km.
Ketika langkahku telah mendekati halaman rumah, tanda-tanda firasat burukku terjadi mulai bermunculan. Nampak beberapa tetangga berjubel di rumah. Semua mata tertuju padaku. Kudapati sorot mereka penuh duka. Bekas aliran air mata masih melekat di pipi. Terutama kaum perempuan.
Ketika aku masuk ruangan utama keluarga; Innaalillah…. Sepontas terasa persendianku remuk. Jantungku seakan berhenti berdegup, ketika kusaksikan sosok di hadapanku. Ayahku yang merantau di negeri jiran, berbaring tak berdaya dengan balutan perban.
“Bapak kecelakaan kerja. Jari jemarinya terpotong, terkena mesin penggiling rumput,” ucap ibu lirih.
Duug!
Aku tersentak kaget mendengarnya. Pelopak mataku tak lagi kuasa menahan bendungan air mata. Kudekati ayah. Ia berusaha menegarkan diri dengan berupaya memberi tersenyum kepadaku. Sementara itu, air matanya pun meleleh. Kupeluk erat ayah. Suasana semakin haru. Suara tangisan membahana dari sanak keluarga.
‘Badai’ Lanjutan
Laksana kata pepatah; Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah yang terjadi selanjutnya dalam keluargaku. Musibah yang menimpa bapak, justru menjadi awal retaknya keakraban hubungan keluarga.
Kakek dan nenek dari pihak ayah, tidak terima dengan kejadian menimpa ayah. Celakanya, mereka justru menyudutkan ibu sebagai biang kerok kecelakaan itu. Logika yang dipakai, musibah itu tidak akan pernah terjadi, kiranya, ayahku tidak menikah dengan ibu.
Karena pernikahan itulah, ayah harus merantau jauh ke Malaysia, demi memenuhi kehidupan keluarga, yang akhirnya menerima kenyataan, ia mengalami lumpuh permanen karena kecelakaan kerja.
Ayah sudah beberapa kali berusaha memberikan pemahaman kakek dan nenek. Namun tak jua mengerti. Mereka masih saja memusuhi ibu. Puncaknya, merasa tidak kuat terus dipojokkan, ibu menggugat cerai.
Ayah berusaha meredam keinginan ibu, tapi gagal. Beberapa alasan dikedepankan, termasuk keberlangsungan nasib kami, sebagai anaknya, bila harus bercerai, tidak mempan mendinginkan suasana.
Akhirnya, peristiwa yang paling kutakutkan itu pun terjadi. Ibu dan ayah resmi bercerai. Kejadian itu terjadi menjelang Ramadhan. Ayah menjatuhkan talak satu pada ibu. Jadilah Ramadhan tahun itu, kami lalui sekeluarga tanpa kehadiran ibu.
Saya yang masih usia remaja (lulusan SMP) semakin kalut pikiran. Semua menjadi sasaran amarahku. Tak kecuali Tuhan (Allah). Kutuntut keadilan-Nya, yang kurasakan tak menghinggapi keluargaku.
Berkah Bulan Suci
Syukur Alhamdulillah, kekeliruanku ini tak berjalan lama. Pasalnya, ustadz tempatku belajar al-Qur’an terus memberiku pencerahan. Yang paling menghentakku, ketika beliau menyitir ayat al-Qur’an yang berbunyi;
“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya maka ia berkata. Tuhan telah menghinaku.” (QS Al-Fajr : 16)
Aku benar-benar terasa tersindir dengan ayat ini. bergegas kuberistighfar, mengakui kesalahan. Aku pun mulai menata hati untuk ridha atas apa yang Allah tetapkan untuk kami sekeluarga.
Di lain pihak, ayah sendiri menuntun kami sekeluarga, untuk mengoptimalkan keberkahan bulan suci Ramadhan, guna bermunajat kepada-Nya, memohon, agar keberkahan senantiasa menaungi keluarga kami.
Kami pun mengamini ayah. Terlihat ayah sangat tekun beribadah. Begitupun dengan diriku. Setiap kali selesai melakukan ibadah, khususnya shalat, selalu kuselipkan doa untuk keutuhan rumah tangga kami.
“Ya Allah, persatukanlah kembali ibu dan ayah kami, dan berkahilah keluarga kami,” demikianlah di antara untaian doa yang kupanjatkan kepada-Nya.
Laa haulaa wa laa quwwata illa billahil azhim. Allah ternyata mendengarkan rintihan kami sekeluarga. Di penghujung Ramadhan, ibu bertandang ke rumah, dan menyatakan permintaan maaf kepada ayah, dan meminta untuk rujuk kembali.
Ayah pun dengan lapang dada memaafkan ibu. Idul Fitri itu pun akhirnya kami lalui dengan hati nan riang gembira. Tak sampai di situ kebahagiaan kami. Tak lama berselang, bapak mendapat panggilan dari tempat kerjanya semula, dari Malaysia.
Dijanjikan ia akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kondisinya, sekaligus mendapat gaji yang berlipat. Berangkatlah ayah. Dari hasil keringat ayah itu pulalah, akhirnya, keluarga kami bisa menyambung hidup. Termasuk aku, bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Terimakasih, ya Allah, atas karunia yang kau limpahkan atas keluarga kami.Dikisahkan oleh Hasbi kepada Muhammad Syahroni (Anggota komunitas menulis PENA Gresik)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

30 Juni 2016

Menjaga Sensitifitas Ibadah dengan Beri’tikaf

Seorang Muslim di bulan Ramadhan berkumpul dua jihad; jihad di waktu siang dalam rangka berpuasa, serta jihad di waktu malam dalam rangka shalat dan membaca Al-Qur'an
Ramadhan di Istiqlal
DALAM Islam, seseorang bisa beri’tikaf di masjid kapan saja, namun dalam konteks bulan Ramadhan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam senantiasa beri’tikaf di 10 hari terakhir. Aisyah ra. meriwayatkan, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam selalu beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
I’tikaf dilaksanakan dengan niat beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Kesepakatan (ijma’) menyebutkan, ia adalah ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan.
Imam Ahmad berkata, “Sepengetahuanku, tidak ada seorang pun dari ulama yang mengatakan i’tikaf bukan sunnah.”
Sementara Ibnu Qayyim berkata, “i’tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beri’tikaf dan bersimpuh dihadapan Allah, berkhalwat dengan-Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala
Hal inilah yang kemudian dilakoni oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, istri-istri, para sahabat dan para ulama dalam menghidupkan dan semakin meningkatkan ibadah di penghujung Ramadhan.
Ironisnya, perlakuan tersebut sangat jauh berbeda dengan perlakuan mayoritas umat Islam dalam menghidupkan ibadah di penghujung Ramadhan saat ini. Kualitas ibadah terpelihara hanya di 10 hari pertamasaja. Mesjid-mesjid ramai dipenuhi oleh Jama’ah. Tilawah Al-Qur’an masih terjaga. Infak-infak mudah terderma. Namun, ketika memasuki 10 hari kedua, amalan-amalan tersebut mulai mengendur, hingga kemudian makin menyusut ketika memasuki 10 terakhir bulan Ramadhan.
Hal tersebut mengindikasikan bahwasanya ibadah-ibadah di penghujung Ramadhan kehilangan sensitifitasnya. perhatian tidak terfokus kepada peningkatan ibadah melainkan teralihkan kepada persiapan menyambut hari raya Iedul Fitri, berbelanja,membuat kue, mudik, dan lain sebagainya.
Tentunya hal ini patut kita prihatinkan, sebab begitu jauhnya kita dari tuntunan RasulullahShalallahu ‘Alaihi Wassallam Oleh karena itu, untuk menghindarinya maka hendaklah kita beri’tikaf sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Sebagi sarana untuk menjaga sensitifitas ibadah yang sudah terbentuk sejak awal Ramadhan.
Terlebih lagi dengan turunnya lailatul qadardi 10 malam terakhir, yaitu malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Hal ini jugalah yang kemudian menjadi penyebab Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, para sahabatnya, dan orang-orang shalih yang mengikutinya justru semakin meningkatkan ibadahnya di 10 hari terakhir Ramadhan yang dijalaninya dengan beri’tikaf.
Sebab mereka meyakini begitu banyak kemuliaan-kemuliaan yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala di penghujung Ramadhan termasuk kemuliaan mendapatkan lailatu qadar. Mereka memusatkan perhatian dan menghidupkan malam dalam rangka bertaqarrub kepada Allah Swt dengan melaksanakan shalat wajib dan shalat-shalat sunnah, berdzikir, mambaca dan tadabbur Al-Qur’an, serta berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Disebutkan dalam beberapa riwayat, bahwasanya para salafusshalih tidak tidur di malam hari sebab menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an. Kebanyakan dari mereka mengkhatamkan Al-Qur’an di malam hari.
Utsman bin ‘Affan, misalnya, mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an setiap hari di bulan Ramadhan. Imam Syafi’i bahkan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali selama bulan Ramadhan, di luar yang ia baca dalam shalat Tarawih. Sementara Aisyah, istri Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, biasa membacaAl-Qur’an pada waktu subuh, dan apabila matahari telah terbit ia pun tidur.
Sebenarnya, tradisi tersebut juga telah diteladani oleh kaum muslimin saat ini. Akan tetapi belum merata di berbagai daerah. Hanya daerah tertentu saja. Di Yaman misalnya. Dari seorang syaikhoh yang pernah menjalani i’tikah di Yaman, menuturkan bahwasanya peserta i’tikah di Yaman tidak tidur sejak habis tarawih. Mereka menghidupkan malam dengan berdzikir, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an serta mendirikan shalat malam. Nanti ketika masuk waktu syuruq, barulah mereka tidur sejenak. Masya Allah . . .
Ketahuilah, bagi seorang Muslim pada bulan Ramadhan berkumpul dua jihad atas dirinya; jihad di waktu siang dalam rangka berpuasa, serta jihad di waktu malam dalam rangka shalat dan membaca Al-Qur’an. Barangsiapa yang mengumpulkan jihad ini, serta menunaikan keduanya seraya bersabar, maka pahalanya akan dipenuhi tanpa batas.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan orang-orang shalih tersebut sebagi teladan, dalam upaya menjaga sensitifitas ibadah di penghujung Ramadhan dengan ganjaran pahala tanpa batas. Semoga kita bisa belajar dari semangat orang-orang shalih dalam menjadikan Ramadhan puncak penghambaan dan pengokohan takwa. Wallahu a’lam bishawwab.*/Mustabsyirah,pegiat komunitas menulis PENA Malika
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

4 Juni 2016

Ramadhan Fokus Membangun Akhlaq dan Tauhid Anak

Membangun akhlaq anak ibarat menanam sebatang pohon. Pada awalnya kecil lalu tumbuh makin tinggi.
Semoga bulan Ramadhan ini kita membangun akhlak positif pada anak
USAI mengisi sebuah acara, seorang penulis buku mendapat pesan singkat (SMS) dari salah seorang peserta. “Bu, seharusnya buku ibu terbit 18 tahun lalu ketika kami baru menikah. Sekarang kami kebingungan mendidik ketiga anak kami sudah berangkat remaja.”
Masih terbayang di pelupuk matanya, seorang ibu mengejarnya dan dengan mata berkaca-kaca berkata, “Ibu saya perlu bicara. Berapa saya harus bayar ibu perjam untuk konsultasi. Sepertinya saya sudah terlambat mendidik anak-anak.”
Banyak orangtua terlambat menyadari bahwa membangun akhlaq positif anak perlu dilakukan sejak dini. Tiba-tiba mereka baru menyadari anaknya sering berkata dan bersikap kasar, sulit diajak ibadah shalat, sering konflik dan lainnya. Hal lain yang juga terus meningkat adalah berbagai adiksi nonton TV, game, konten pornografi, juga narkotika.
Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Cetaklah tanah selama ia masih basah dan tanamlah kayu selama ia masih lunak.”
Ini menyiratkan bahwa proses pembentukan akhlaq perlu dilakukan sedini mungkin.
Usia dini merupakan masa yang sangat menentukan bagi keberhasilan seseorang sepanjang hayatnya karena masa membuat pola-pola pikir dan perilaku yang akan digunakan saat dewasa. Pola-pola positif tidak bisa didapatkan secara instan namun perlu proses panjang sejak usia dini. Lalu bagaimana jika anak-anak sudah berangkat remaja atau dewasa, apakah sudah terlambat mendidik mereka?
Membangun akhlaq anak ibarat menanam sebatang pohon. Pada awalnya kecil lalu tumbuh makin tinggi. Setelah pohon itu besar  akan terlihat apakah pohon ini subur atau tidak. Apakah berbatang dan berakar kuat, berdaun rimbun, dan berbunga serta berbuah lebat atau tidak.
Kita tidak bisa menebang pohon yang terlanjur tidak subur lalu seketika menumbuhkan pohon baru yang subur dan berbuah. Yang harus kita lakukan adalah terus menyirami pohon yang sudah tumbuh tersebut, memberi pupuk, dan membersihkan hama-hama penyakitnya. Dengan demikian akan tumbuh batang dan cabang baru yang subur dan lebat daunnya sehingga dapat menghasilkan bunga dan buah.  Artinya tetap optimis dan terus membangun hal-hal positif pada anak di usia berapa pun, akhlaq negatif jika tidak diperkuat akan berkurang dan hilang. Sedangkan akhlaq positif jika terus dibangun dan dipupuk akan terus tumbuh.
Tak pernah ada kata terlambat dalam mendidik anak. Orangtua tidak perlu berputus asa ketika melihat ada hal-hal atau kebiasaan negatif pada diri anak. Yang diperlukan adalah kerjakeras dan konsistensi.
Bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk membangun akhlaq anak-anak juga diri kita sebagai teladan bagi anak. Jauh sebelum Ramadhan kita persiapkan segala sesuatunya, sosialisasikan bahwa kita akan menyambut bulan yang agung bulan perbaikan diri ke arah positif. Tahap pertama orangtua membuat pemetaan problem pada masing-masing anak.  Lalu membuatkan program kegiatan baik yang bersifat pribadi maupun bersama.
Untuk menggairahkan kegiatan ibadah, orangtua bisa mengajak anak bersafari ke masjid-masjid indah yang sudah dan yang belum pernah dikunjungi. Di tempat yang nyaman dan indah, shalat, tadarus, dan berbuka akan terasa berbeda. Bertadarus dan membaca buku berkonten positif juga bisa dilakukan dengan menggelar tikar di taman berumput di samping kolam.
Banyak orangtua yang saat bulan puasa mengutamakan pada melatih anak menahan nafsu makan dan minum. Agar anak tidak terfokus pada rasa lapar dan haus justru diberikan perangkat game sehingga waktu berpuasa menjadi tidak terasa. Justru sebaiknya jauhkan anak dari hal-hal yang membuat akan makin adiksi, seperti perangkat game.
Jika selama sebulan kita mengkondisikan dan memfokuskan diri serta keluarga mengendalikan berbagai nafsu dan menggantinya dengan serangkaian amaliah Ramadhan dengan rutin secara massal. Jika kita khusyuk dan konsisten selama sebulan penuh menjalani ibadah-ibadah wajib juga sunnah maka niscaya Allah akan mengampuni hal buruk di masa lalu.
Sebagaimana dalam hadits dikatakan dari Abu Hurairah;
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari).
Semoga bulan Ramadhan ini kita membangun akhlaq positif pada anak, tentunya pendidikan akhlaq yang melahirkan manusia bertahuid dengan adab islami.*/Ida S. Widayanti, penulis Buku Serial Parenting “Mendidik Karakter dengan Karakter”
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

14 Mei 2016

5 Bekal Pra Ramadhan

Mungkin sekarang kita bukan dalam kondisi perang, namun persiapan fisik juga tak bisa diabaikan sebelum Ramadhan tiba
RAMADHAN sebentar lagi hadir di tengah-tengah kita, bekal apa kiranya yang mampu membuat setiap Muslim berhasil dalam menjalani Ramadhan. Tulisan ini akan menjelaskan lima bekal yang harus dipersiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan agar meraih kesuksesan di dalamnya.
Sebelum mengurai 5 bekal menyambut Ramadhan, terlebih dahulu dijelaskan bahwa ide ini terinspirasi dari Sirah Nabawiahmengenai empat syari`at yang diwajibkan kepada Rasulullahshallallahu `alaihi wasallam dan sahabatnya pada tahun kedua hijriah yang bertepatan dengan bulan Sya`ban.
Pada tanggal 2 Sya`ban, Rasulullah mendapatkan empat syari`at dari Allah. Pertama, pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka`bah, Makkah. Kedua, kewajiban puasa Ramadhan. Ketiga, kewajiban zakat. Keempat, kewajiban jihad dalam arti perang secara fisik(Muhammad al-Khudhari, Nûr al-Yaqîn fî Sîrati Sayyidi al-Mursalîn, 96).
Dari keempat hal tersebut, paling tidak ada 5 bekal yang harus dipersiapkan oleh setiap Muslim sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Pertama, bekaliman dan ikhlas
Peristiwa perubahan arah kiblat di bulan Sya`ban ini sebenarnya ujian berat bagi keimanan dan keikhlasan kaum Muslimin kala itu. Pasalnya, tanpa keduanya dalam menjalankan syari`at Allah, maka mereka tidak akan kuat menghadapi gunjingan Yahudi yang menganggap Nabi Muhammad tak punya pendirian akibat perubahan kiblat ini. Pada akhirnya mereka lulus menghadapi  ujian keimanan dan keikhlasan ini, dan tentunya berdampak positif bagi Ramadhan yang akan mereka lalui.
Bagaimana pun juga Ramadhan memang membutuhkan keimanan dan keikhlasan ekstra. Orang yang menjalankan ibadah Ramadhan hanya karena pamrih kepada manusia, maka tidak mendapatkan apa-apa selain apa yang dipamrihinya. Karena itu, tidak mengherankan jika Rasulullah ketika Ramadhan sangat mewanti-wanti pentingnya keimanan dan keikhlasan. Sebagai contoh misalnya dalam ibadah qiyamul lail  di bulan Ramadhan beliau mengingatkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu `alahi wasallam bersabda:“Barangsiapa yang menunaikan qiyamul lail pada bulan Ramdhan dengan penuh keimana dan hanya mengharap(ikhlas) padaNya, maka dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”(HR. Bukhari, Muslim).
Kedua, bekal loyalitas
Di sisi lain, sejatinya, perintah perubahan kiblat pada bulan Sya`ban itu mengajarkan pelajaran berharga pada sahabat akan pentingnya loyalitas kepada Allah. Ketika Allah sudah memerintahkan sesuatu, maka tidak ada reserve di dalamnya. Persis seperti gambaran firman Allah:
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”(QS. Al-Ahzab[33]: 36).
Orang yang memasuki Ramadhan tanpa bekal loyalitas yang tinggi, maka akan sangat berat dalam menjalaninya.
Ketiga, bekal spiritual
Sebulan sebelum kedatangan syari`at di bulan Ramadhan, para sahabat sudah diberi tahu terlebih dahulu kewajiban puasa Ramadhan. Pemberitahuan ini tentunya akan memberi waktu bagi mereka untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, terutama dalam hal spiritualitas.
Puasa pada prinsipnya adalah mengandung subtansi pengendalian diri, dan ini erat kaitannya dengan spiritualitas seseorang. Orang yang memiliki spiritualitas bagus sebelum menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, maka ketika memasukinya akan dengan mudah melaksanakan ibadah di dalamnya.
Nabi Muhammad sendiri dalam salah satu riwayat dikatakan, pada bulan Sya`ban beliau sangat rajin berpuasa. Aisyah bercerita:
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ  وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim).
Dengan membiasakan diri berpuasa di bulan Sya`ban, spiritual belia terjaga dengan baik, sehingga ketika Ramadhan datang, tidak akan mengalami kesulitan.
Keempat, bekal finansial
Bekal finansial ini terinspirasi dari peristiwa kewajiban zakat yang disampaikan Allah pertama kali di bulan Sya`ban. Kita tentu sudah maklum, zakat membutuhkan finansial. Lebih dari itu, amalan-amalan lain di bulan Ramdhan seperti sedekah, sahur, buka, dan memberi buka puasa kepada orang-orang berpuasa tentu membutuhkan persiapan finansial yang memadai. Bekal finansial yang cukup tentu saja akan menunjang kesuksesan amal di bulan Ramadhan.
Rasulullah sendiri adalah orang yang sangat dermawan. Kedermawanan kebanyakan membutuhkan finansial. Maka tidak mengherankan jika, kedermawanan beliau sangat bertambah ketika di bulan Ramdhan. Ibnu Abbas menceritakan:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ»
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, Muslim).
Kelima, bekal fisik optimal
Di bulan Sya`ban tahun 2 Hijriah itu, jihad dalam pengertian perang sudah diwajibkan. Jihad perang tentu saja membutuhkan kekuatan fisik yang optimal. Setelah ada kewajiban jihad ini, pada tanggal 17 Ramadhan mereka mendapat kemenangan di perang Badar Kubra dengan sangat gemilang. Bisa dibayangkan –tentunya setelah bantuan Allah- bagaiamana persiapan fisik mereka sebelum Ramadhan, sehingga dalam Ramadhan pun mereka tetap kuat melakukan jihad.
Mungkin sekarang kita bukan dalam kondisi perang, namun persiapan fisik juga tak bisa diabaikan sebelum Ramadhan tiba. Masalahnya, amalan di bulan Ramadhan seperti puasa,qiyamul lail dan lain sebagainya, membutuhkan semangat jihad dan fisik prima. Jika tidak, mana mungkin bisa menunaikannya secara maksimal, padahal Ramdhan hanya datang satu tahun sekali.
Sebagai kesimpulan akhir, dari peristiwa  Sirah Nabawiah pada 2 Sya`ban, tahun 2 Hijriah, ada 5 bekal yang harus disiapkan bagi orang yang ingin sukses menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Pertama, iman dan ikhlas. Kedua, loyalitas. Ketiga, spiritual. Keempat, finansial. Kelima, fisik yang optimal. Semoga kesuksesan bisa kita raih, di bulan suci. Wallahu a`lam.*/Mahmud Budi Setiawan
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

16 Juni 2015

RAMADHAN TERGANTUNG ZAKAT FITRAH ?

Di sebuah masjid kota kabupaten, pada hari-hari akhir bulan Ramadhan, seorang khatib Jumat dengan semangat menyampaikan khutbah. Dalam khutbahnya, ia menggalakkan para jamaah untuk membayar zakat fitrah. Untuk menguatkan ajakannya itu, ia pun mengeluarkan jurus-jurus jitu yang membuat jamaah terkecoh.
Salah satunya adalah ia menyebut Hadits yang menegaskan bahwa amal ibadah pada bulan Ramadhan itu tidak akan diterima oleh Allah, sehingga yang bersangkutan itu membayar zakat fitrah.

Tentu saja para jamaah, yang tidak pernah mempersoalkan Hadits yang disampaikan khatib itu, merasa rugi apabila ibadah mereka pada bulan Ramadhan tidak akan diterima oleh Allah. Karenanya, Hadits tadi mereka anggap cambukan untuk membayar zakat.

a. Menggalakkan Zakat Fitrah 

Sebenarnya, tentang menggalakkan jamaah untuk membayar zakat fitrah adalah sah-sah saja, bahkan hal itu merupakan sesuatu yang baik dan dianjurkan. Yang menjadi masalah adalah menggunakan Hadits yang belum jelas juntrungannya. Sementara itu khatib tadi tidak pernah meralat atau merevisi apa yang pernah ia ucapkan pada khutbah itu. Karenanya, tampaknya kita perlu mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya tentang masalah tersebut di atas.

b. Teks dan Rawi Hadits

Hadits yang disebut-sebut dalam khutbah di atas itu teks lengkapnya adalah sebagai berikut:

“Ibadah Ramadhan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat kepada Allah kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah.”

Imam al-Suyuti dalam kitabnya al-Jami al-Shaghir menuturkan bahwa Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Syahin dalam kitabnya al-Targhib, dan Imam al-Dhiya, keduanya berasal dari Jabir. Imam al-Suyuti juga mengatakan bahwa Hadits ini dha’if, tanpa menyebutkan alasannya.

Sementara Imam al-Minawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir yang merupakan kitab syarah atas kitab al-Jami al-Shaghir menyatakan bahwa seperti dituturkan Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya al-Wahiyat, di dalam sanad Hadits itu terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ubaid al-Bashri, seorang yang tidak dikenal identitasnya. Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya, al-I’lal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah, menuturkan dua buah Hadits lengkap dengan sanadnya. Hadits pertama adalah berasal dari Jarir seperti tersebut di depan itu, dan Hadits kedua berasal dari anas bin Malik, yang ada sedikit perbedaan redaksi. Ibnu al-Jauzi kemudian berkomentar, dua buah Hadits itu tidak shahih (palsu). Hadits pertama yang bersumber dari Jarir, di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ubaid, seorang yang tidak dikenal identitasnya. Sedangkan Hadits kedua yang berasal dari Anas bin Malik, di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama ‘Abd al-Rahman bin Utsman. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, para ulama melemparkan Hadits ‘Abd al-Rahman bin Utsman. Dan menurut Imam Ibnu Hibban, ‘Abd al-Rahman bin Utsman tidak boleh dijadikan hujjah (pegangan).

Dalam kitab Lisan al-Mizan karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, sebagaimana dikutip oleh Syeikh Muhammad Nashir al-Din al-Albani dalam kitabnya Silsilah al-Hadits al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, Ibnu.
Dikutip dari Suara Islam.

15 Juni 2015

Ramadhan Bulan Diturunkan Al Quran

Allah SWT berfirman: 

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al Baqarah 185).

Tafsir ayat

Dalam Tafsir Jalalain diterangkan bahwa hari-hari yang dimaksud dalam ayat 184 adalah bulan Ramadhan dimana di dalamnya diturunkan Al Quran dari Lauhul mahfuzh ke langit dunia pada malam lailatul Qadar.Al Quran diturunkan sebagai hudan, petunjuk dari kesesatan, bagi manusia dan penjelasan ayat-ayat secara jelas dari al Huda. Yakni dengan apa yang ditunjukkan kepada kebenaran (al haqq) berupa hukum-hukum. Dan juga sebagai pembeda (al furqan).