Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!
Tampilkan postingan dengan label akhlak islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhlak islami. Tampilkan semua postingan

21 Januari 2016

Akhlak Bagian dari Implementasi Syariat Islam

Akhlak refleksi pemahaman seseorang agama terhadap agama Islam yang terpantul dalam kehidupan sehari-hari
Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Aceh, Dr. H. Aslam Nur

Hidayatullah.com–Akhlak merupakan bagian dari implementasi syariat Islam, yaitu sifat dan perilaku yang harus dimiliki setiap muslim guna menyempurnakan pengamalannya terhadap Islam yang menjadi bagian dari perintah dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala.
Akhlak islami tidak mungkin dipisahkan dari hukum-hukum syariat lainnya, semisal ibadah dan muamalah. Karenanya, keterkaitan antara ibadah dan akhlak sangat erat.
Demikian disampaikan Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Aceh, Dr. H. Aslam Nur LML, MA saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (13/01/2016) malam.
“Salah satu dimensi ibadah yang banyak dilupakan oleh kaum muslimin adalah berakhlak baik. Ibadah sangat erat kaitannya dengan akhlak. Bahkan, ibadah-ibadah ritual yang kita kenal dan rutin kita jalani, mengandung nilai-nilai akhlak yang mulia di dalamnya. Jika shalatnya, puasanya, zakatnya dan hajinya benar maka akhlaknya pasti baik,” ujar Aslam Nur.
Menurutnya, ibadah yang baik benar membentuk akhlak yang baik. Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala juga sering mengaitkan ibadah dengan akhlak. Allah berfirman dalam surat Al Ankabut ayat 45 yang artinya, “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar”.
“Akhlak refleksi pemahaman seseorang agama terhadap agama Islam yang terpantul dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa menilai sesuatu itu dari perilaku,” sebutnya.
Disebutkannya, selama ini ajaran Islam normatif adalah yang ideal berdasarkan tuntunan Al-quran dan Hadits. Namun, dalam implementasi sehari-hari justru Islam praktis jauh berbeda dengan Islam normatif dan historis.
Ustaz Aslam Nur juga menyebutkan, kenapa selama ini kalangan orientalis Barat kerap menulis yang tidak baik terhadap Islam karena mereka melihat prilaku umat Islam.
“Orientalis biasa menulis Islam praktisý di tengah masyarakat muslim.ý Mereka tidak bicara ayat dan hadits seperti kejujuran, keadilan, serta kebersihan sebagian dariý iman. Kita kadang marah orientalis menulis yang jelek-jelek tentang Islam.ý Karena mereka tidak belajar Al-quran, yang mereka lihat perilaku muslim sehari-hari. Antara ideal dan praktek itu beda sekali,” ungkapnya.
Diakuinya, selama ini memang ada yang salah dengan umat Islam, kita tidak mempraktekkan Islam secara normatif. Kita anggap sudah shalat, puasa, zakat dan haji selesailah Islam kita.
“Refeksi akhlak Islam dalam kehidupan sehari-hari, seolah-olah tak ada hubungan antara akidah, ibadah dan akhlak. Akhlak tidak bisa dipelajari karena yang dipelajari itu ilmu. Akhlak itu dipraktekkan, sehingga Rasullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam itu diutus ke dunia ini khusus untuk menyempurnakan akhlak,” jelas Dosen UIN Ar-Raniry ini.
Pada pengajian KWPSI itu seorang jamaah juga bertanya, kalau memang Rasul diutus untuk menyempurnakan akhlak, lalu kenapa disuruh shalat, puasa, zakat dan ibadah lainnya.
“Tidak mungkin orang akhlak mulia jika dia tidak shalat lima waktu dan ibadah lainya. Untuk bisa muncul akhlak mulia itu memang harus melalui proses ibadah, dan terkait juga dengan iman. Akhlak tidak bisa berdiri sendiri tapi ada proses. Akhlak bukan ilmu tapi praktek,” terangnya.
Ustadz Aslam Nur juga menyampaikan beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk meraih akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, berdoa. Kunci paling utama minta kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar diberikan kita akhlak mulia. Karena di dalam diri setiap manusia itu ada dua kekuatan yang saling tarik menarik, yaitu sifat Abrar (taqwa) dan fujur.
“Misalnya ketika kita ingin berbuat baik seperti shalat berjamaah, tiba-tiba muncul bisikan dalam hati nanti saja, itu sifat fujur. Ketika mau ke masjid kita tunda juga fujur. Rasul saja selalu minta sama Allah untuk akhlak baik. Seperti yang diajarkan kepada Muaz bin Jabal dengan doanya, “Allahumma Inni A’uzubika Husni Ibadatik. Kalau ingin kebaikan, minta dipermudah oleh Allah, karena Allah yang punya kuasa untuk membolak-balik hati manusia.
Kiat kedua, bersahabat dengan orang-orang baik yang satu visi dengan kita memperbaiki akhlak. Bergaul akrab dengan orang yang baik, bukan pula berarti kita menjauhi orang tidak baik.
“Persahabatan bukan urusan dunia saja. Nanti di hari kiamat ada 7 golongan yang dinaungi oleh Allah, diantaranya adalah orang bertemu karena Allah dan berpisah juga karena Allah,” sebutnya.
Ketiga, agar konsisten akhlak yang mulia, kita perlu membaca buku biografi kisah-kisah hidup orang saleh dan tokoh Islam yang hidup dengan akhlakul karimah seperti imam mazhab yang empat.
“Lalu kita azamkan dan bertekad dalam hati ingin kita praktekkan. Jika kita suka melihat dan membaca yang baik, maka itu yang akan terus kita ingat. Tapi jika sering nonton sinetron dan suka gosip, maka itu juga yang sering terekam dalam kehidupan sehari,” katanya.*
Rep: Ahmad
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

16 Juni 2015

RAMADHAN TERGANTUNG ZAKAT FITRAH ?

Di sebuah masjid kota kabupaten, pada hari-hari akhir bulan Ramadhan, seorang khatib Jumat dengan semangat menyampaikan khutbah. Dalam khutbahnya, ia menggalakkan para jamaah untuk membayar zakat fitrah. Untuk menguatkan ajakannya itu, ia pun mengeluarkan jurus-jurus jitu yang membuat jamaah terkecoh.
Salah satunya adalah ia menyebut Hadits yang menegaskan bahwa amal ibadah pada bulan Ramadhan itu tidak akan diterima oleh Allah, sehingga yang bersangkutan itu membayar zakat fitrah.

Tentu saja para jamaah, yang tidak pernah mempersoalkan Hadits yang disampaikan khatib itu, merasa rugi apabila ibadah mereka pada bulan Ramadhan tidak akan diterima oleh Allah. Karenanya, Hadits tadi mereka anggap cambukan untuk membayar zakat.

a. Menggalakkan Zakat Fitrah 

Sebenarnya, tentang menggalakkan jamaah untuk membayar zakat fitrah adalah sah-sah saja, bahkan hal itu merupakan sesuatu yang baik dan dianjurkan. Yang menjadi masalah adalah menggunakan Hadits yang belum jelas juntrungannya. Sementara itu khatib tadi tidak pernah meralat atau merevisi apa yang pernah ia ucapkan pada khutbah itu. Karenanya, tampaknya kita perlu mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya tentang masalah tersebut di atas.

b. Teks dan Rawi Hadits

Hadits yang disebut-sebut dalam khutbah di atas itu teks lengkapnya adalah sebagai berikut:

“Ibadah Ramadhan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat kepada Allah kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah.”

Imam al-Suyuti dalam kitabnya al-Jami al-Shaghir menuturkan bahwa Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Syahin dalam kitabnya al-Targhib, dan Imam al-Dhiya, keduanya berasal dari Jabir. Imam al-Suyuti juga mengatakan bahwa Hadits ini dha’if, tanpa menyebutkan alasannya.

Sementara Imam al-Minawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir yang merupakan kitab syarah atas kitab al-Jami al-Shaghir menyatakan bahwa seperti dituturkan Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya al-Wahiyat, di dalam sanad Hadits itu terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ubaid al-Bashri, seorang yang tidak dikenal identitasnya. Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya, al-I’lal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah, menuturkan dua buah Hadits lengkap dengan sanadnya. Hadits pertama adalah berasal dari Jarir seperti tersebut di depan itu, dan Hadits kedua berasal dari anas bin Malik, yang ada sedikit perbedaan redaksi. Ibnu al-Jauzi kemudian berkomentar, dua buah Hadits itu tidak shahih (palsu). Hadits pertama yang bersumber dari Jarir, di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ubaid, seorang yang tidak dikenal identitasnya. Sedangkan Hadits kedua yang berasal dari Anas bin Malik, di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama ‘Abd al-Rahman bin Utsman. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, para ulama melemparkan Hadits ‘Abd al-Rahman bin Utsman. Dan menurut Imam Ibnu Hibban, ‘Abd al-Rahman bin Utsman tidak boleh dijadikan hujjah (pegangan).

Dalam kitab Lisan al-Mizan karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, sebagaimana dikutip oleh Syeikh Muhammad Nashir al-Din al-Albani dalam kitabnya Silsilah al-Hadits al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, Ibnu.
Dikutip dari Suara Islam.

16 Mei 2015

Jemput ‘Hidayah’ dan Hijrah Dengan Berhijab

Kampanye jilbab di Sidney
Oleh: Sholih Hasyim
ALLAH Subhanahu Wata’ala pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada satu cahaya (iman).” (QS. Al Baqarah (2) : 257).

DATANGNYA hidayah terkadang unik, di luar nalar kita. Ia tidak berproses secara logis, bahkan terkesan instan. Ia bagaikan lailatul qadar yang menurut Buya Hamka, waktunya sebentar tetapi mampu mengubah jalan hidup.
Namun, jika dirunut datangnya hidayah sesungguhnyadiawali proses spiritual (mujahadah) yang panjang. Hidayah ibarat seorang siswa yang memperoleh penghargaan akademik karena kepintarannya. Upacara penghargaan memang berjalan hanya 10 menit. Namun, proses mencapai puncak prestasi tersebut butuh kerja keras untuk waktu yang lama.
Begitu juga hidayah. Untuk mendapatkannya, orang perlu berproses terlebih dahulu. Proses itulah yang akan mendatangkan pahala buatnya, sesuai dengan tingkat kepayahannya (al ujratu ‘alaa qodri al masyaqqah).
Adalah kisa yang terjadi dengan seorang Muslimah di Kudus, Jawa Timur. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama sekitar tahun 1991, ukhti yang kini menjadi pengasuh santriwati SMPII Luqman Al Hakim, Hidayatullah ini masuk sekolah kebidanan dan memilih tinggal di asrama. Saat itulah hidayah datang. Ia memutuskan untuk mengenakan busana Muslimah.
Ini keputusan hijrah yang luar biasa buat dirinya. Sebab, latar belakang pendidikannya bukan sekolah agama. Ia tak pernah diajarkan tentang kewajiban berhijab selama duduk di bangku sekolah. Yang ia pahami, menutup aurat hanya wajib ketika sedang shalat.
Keadaan ini diperparah oleh kurang simpatinya penampilan figur Muslimah berjilbab di kampungya. Jilbab diposisikan hanya sekadar tradisi. Pakaian luar itu tidak identik dengan kesucian batin dan keluhuran akhlak pemakainya.
Alhamdulillah, hidayah itu datang laksana fajar subuh(mitslu falaqish shubh), membuka belenggu hatinya, melapangkan dadanya untuk menerima cahaya kebenaran.
Ada harapan baru, motivasi baru, dan cara pandang baru.
Usai berhijrah, ia terus berupaya meningkatkan kualitas amal shalih, sebagaimana cara bersyukurnya Nabi Sulaiman AS:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk menger jakan amal Sholeh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang Sholeh.” (QS: An Naml [27] : 19).
Awal Datangnya Hidayah
Cerita ini bermula ketika lima siswi sekolah kebidanan membuat gebrakan tak biasa. Mereka memberanikan diri memakai jilbab di sekolah.
Yang menarik, langkah berani kelima siswi itu bukan sekadar ikut trendi, apalagi membuat sensasi. Mereka melakukan itu untuk sebuah keyakinan. Dan, mereka terlihat sangat kuat memegang prinsip (mabda). Mereka tak takut dengan siapa pun meski Surat Keputusan tentang dibolehkannya memakai jilbab di sekolah kesehatan belum turun.
Mereka terlihat sangat siap menanggung risiko tak diizinkan ikut ujian dan praktik lapangan, bahkan andai harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun. Belum lagi harus menghadapi intimidasi, interogasi, pengucilan, pembunuhan karakter, dan dicitrakan ekstrim. Konsekuensi seberat apa pun mereka siap terima.
Mereka juga berhati-hati dalam bergaul dengan lawan jenis. Mereka berperilaku terpuji. Dan, yang mencengangkan, mereka unggul dalam prestasi akademik.
Fenomena ini menumbuhkan rasa empati yang dalam pada iri sang ukhti kepada lima sahabatnya ini. Rasa empati ini kemudian berkembang menjadi keinginan yang besar untuk mengenal Islam lebih dalam lagi, utamanya syariat berjilbab.
”Apakah kita termasuk orang-orang yang hanya mengambil sebagian syariat yang sesuai dengan nafsusyahwat dan menanggalkan syariat yang lain (jilbab).
Hidayah Allah jangan disia-siakan sebelum Allah menggembok pintu hati kita.” Begitulah pesan lima pionir penegakan syariat di sekolah itu kepada sang ukhti pada suatu hari.
Maka, tahulah ia bahwa berhijab merupakan kewajibansetiap Muslim yang kedudukannya sama dengan wajibnya rukun Islam. Ia bersifat qath’iyyatuts tsubut (ketentuan yang pasti, mengikat).
Kata-kata yang diucapkan kelima sahabatnya tersebut laksana sihir (inna minal bayani la sihran) yangmenggugah kesadarannya. Pernyataan yang keluar dari hati itu (qaulan tsaqila, qaulan layyina, qaulan karima, qaulan ma’rufah) menghunjam kuat dalam hatinya, menguatkan tekad untuk segera mengambil keputusan penting dalam fase kehidupannya, yaitu berjilbab, sekalipun keluarga kurang mendukung.
Keputusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dengan modal perhiasan pemberian orang tua, sang ukhti membeli satu jilbab dan kain untuk mengganti seragam sekolah. Pakaian Muslimah yang hanya sepotong itu tentu saja tidak cukup. Sang ukhti terpaksa meminjam jilbab temannya jika jilbabnya kotor.
Awal mula memakai jilbab terasa canggung. Maklum, jilbab yang dipakai berukuran 150 cm. Ia tak biasa.
Namun, keyakinan di dalam lubuk hati mengalahkan semuaitu. Nikmatnya iman telah mengubah pola pandang, orientasi hidup, dan perilaku.
Bahkan, ada kenikmatan spiritual (lazzatur ruh), meminjam istilah Abul Ala Al Maududi dalam karya monumentalnya al Hijab, menjalar dalam tubuhnya.
Kenikmatan itu adalah ketenangan jiwa; terkontrolnya ucapan, sikap, dan perbuatan; tidak takut menghadapi ancaman dan teror yang dibuat manusia sekaligus penyerahan diri secara total kepada Allah Yang Maha Melindungi; terjaganya kesucian, kemuliaan, dan kehormatan; serta terangakatnya martabat.
Dia jadi teringat ungkapan bijak orang tua zaman dahulu: ajining rogo soko busono, ajining diri soko lathi (harga diri fisik seorang diukur dari cara berpakaian, kualitas kepribadian dinilai dari cara berbicara). Ia bisa memahami bahwa jilbab tidak sekadar asesoris, hiasan lahiriah, tetapi berpengaruh juga pada kesucian batin pemakainya.
Sejak itu, pakaian Muslimah yang dipakainya menjadi filter sikap, tutur kata, pergaulan, kesehariannya. Ia telah menemukan konsep kehidupan. Ia semakin rajin mengikuti berbagai kajian keislaman (liqo).
Halaqah-halaqah taklim telah membuka cakrawala pikirannya tentang kesempurnaan Islam. Ia semakin tidak khawatir dan tidak berduka setiap diterpa persoalan hidup. Ia mudah berfikir jernih dan tidak emosional. Berbagai ujian yang datang, ia pahami sebagai usaha untuk meningkatkan derajatnya dan mengurangi dosanya.
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
”… Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS: Al Baqarah [2] : 38).
Berjuang Untuk Jilbab
Setelah diri mendapat hidayah maka tugas berikutnya adalah mengajak orang lain untuk menggapai hidayah yang sama. Itulah dakwah. Sang ukhti paham betul bahwa ia juga punya tanggungjawab sosial untuk mendakwahnya syariat Islam kepada orang lain.
Dakwah yang paling sederhana adalah teladan. Itu telah ia tunjukkan dengan ucapan, perbuatan, juga prestasi.
Tak cuma itu, sang ukhti dan beberapa aktivis Muslimah di Madiun, Jawa Timur, juga bertekat memperjuangkan syariat berjilbab di lembaga pendidikan kesehatan agar kelak adik-adik kelasnya bisa menjalankan syariat tanpa perasaan takut.
Mereka mencari dukungan para dokter di rumah sakit dan mendatangi Dinas Pendidikan Propinsi di Surabaya.
Alhamdulillah, pertolongan Allah datang. Surat Keputusan soal jilbab turun beberapa hari sebelum ujian. Semua siswi berjilab lulus dengan predikat sangat memuaskan dan sekarang telah bertugas ke berbagai daerah.
Bukan Mode
Saat ini wanita berjilbab telah menjadi pemandangan sehari-hari. Sayangnya, filosofi jilbab belum banyak dipahami secara utuh oleh pemakainya. Jilbab masih dimaknai sekadar mode, tak dijadikan fungsi taklim (pengajaran), tazkiyah (penyucian), tarbiyah (pembinaan), tashfiyah(pemurnian cara pandang), dantarqiyah (peningkatan kualitas kepribadian).
Akibatnya, betapa banyak Muslimah yang berjilbab namun bebas bergaul dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya. Pola berislam seperti ini jelas indicator sebuah kemunafikan.Nau’zubillah minzalik!
Sang ukhti adalah contoh nyata di zaman yang serba bebas sekarang ini bahwa tegaknya syariat harus diperjuangkan lewat dakwah dan teladan. Selebihnya, serahkanlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang berhak memberi hidayah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.
Kisah ini menunjukkan, bahwa hidayah juga bisa datang dengan cara diusahakan alias ‘dijemput’. Ini sebagaimana janji Allah Subhanahu Wata’ala;
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُّسْتَقِيمٍ
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”. (QS: Al-Hajj: 67)
Juga seperti firman Allah:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-Ankabut: 69).*
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus Jawa Tengah
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !
Topik: 

6 Mei 2015

KH. Hasyim Asy’ari dan Pendidikan Adab (1)

KH Hasyim As’ari mengajarkan etika adab-adab seorang guru saat mengajar. Sucikan diri dari hadas, berpakaian yang sopan dan berniatlah beribadah dalam mengajarkan ilmu.
Oleh: Ilham Kadir
TIDAK banyak yang mengetahui jika KH. Hasyim Asy’ari adalah seorang tokoh pendidikan yang sangat komplit. Kebanyakan masyarakat Indonesia, baik warga Nahdatul Ulama (NU) lebih-lebih di luar NU hanya tau jika KH. Hasyim Asy’ari hanyalah seorang  ulama sekaligus aktivis. Pendiri NU ini adalah sosok pendidik yang sumbangsihnya dalam dunia pendidikan tidak bisa disepelekan.
Di tengah kurang berhasilnya–untuk tidak mengatakan gagal—sistem pendidikan di Indonesia, ada baiknya jika para pengambil kebijakan di negeri ini untuk kembali mengkaji dan menelaah pokok-pokok pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’ari.
Pendidikan yang ditawarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah pendidikan yang berbasis karakter yang sedang digembar-gemborkan oleh Menteri Pendidikan saat ini untuk dijadikan sebagai acuan dalam pembentukan karakter peserta didik. Itu artinya pemikiran pendidikan pengasas organisasi Islam terbesar di dunia ini telah melampaui zamannya.Pokok-pokok pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’Ari, dapat dengan jelas diketahui dalam kitabnya,“Adabul ‘Alim wal Muta’allim” (Maktabah Turats Islamiy, 1415 H).
Peran guru
Masalah pendidikan di negeri ini, selain kurikulum, metode juga menjadi sorotan. Ini dapat dipahami karena metode memang lebih penting dari kurikulum, Ath-thoriqah ahammu minal madah. Namun metode juga sangat tergantung pelaksanaannya pada guru, sebab guru lebih penting dari metode itu sendiri, al-mudarris ahammu min ath thariqah. Namun, roh seorang guru lebih bermakna dari jasadnya sendiri, wa ruhul mudarris ahammu min mudarris nafsuhu. Karena metode secanggih apa pun, jika berada pada guru yang tidak bersemangat akan nihil hasinya. Prinsip keterkaitan antara kurikulum, metode,  dan guru, telah disadari pentingnnya oleh Hasyim Asy’ari dan para ulama-ulama muktabar yang terjun langsung mengurus lembaga pendidikan.
Di pondok pesantren misalnya, ada prinsip bahwa metode lebih penting dari materi; guru lebih penting dari metode; dan jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri. Jadi selain materi dan guru, jiwa guru sangat berperang penting dalam keberhsilan pengajaran. Karena dengan jiwa keikhlasan dan pengabdiannya, guru akan dapat mewarnai murid.  Ini sesuai pendapat Sir Pency Nunn, seorang guru besar pendidikan di University of London yang mengatakan bahwa baik buruknya suatu pendidikan tergantung kebaikan, kebijakan, dan kecerdasan pendidik.
KH Hasyim Asy’ari, juga tampil menawarkan beberapa etika yang harus dimiliki oleh seorang pendidik sebagai bekal dalam melaksanakan tuganya, sebagaimana berikut ini: seorang guru harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah); senantiasa takut kepada Allah (al-khauf ilallah); senantiasa bersikap tenang dan selalu berhati-hati (wara’); senantiasatawadhu’, khusyuk, mengadukan segala persoalannya hanya kepada Allah; tidak menggunakan ilmunya hanya untuk meraih kepentingan dunia semata; tidak terlalu memanjakan anak didik; berlaku zuhud dalam kehidupan duniawi; menghindari berusaha dalam hal-hal yang rendah; menghindari tempat-tempat yang kotor dan tempat maksiat; senantiasa mengamalkan sunnah Nabi; istiqamah dalam membaca Al-Qur’an; selalu bersikap ramah, ceria, dan suka menaburkan salam; membersihkan diri dari segenap perbuatan yang tidak disukai oleh Allah (ijtniabul manhiyat); selalu menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu pengetahuan; tidak menyalahgunakan ilmu dengan cara menyombongkannya; dan membiasakan diri menulis, mengarang, dan meringkas.
Ada pun etika adab-adab seorang guru ketika mengajar, Hasyim As’Ari menawarkan gagasan tentang etika atau adab-adab guru ketika mengajar sebagaimana berikut: Mensucikan diri dari hadas dan kotoran; berpakaian yang sopan dan rapi serta usahakan berabau wangi; berniatlah beribadah ketika dalam mengajarkan ilmu kepada anak didik; sampaikanlah hal-hal yang diajarkan oleh Allah; biasakanlah membaca untuk menambah ilmu pengetahuan; berilah salam ketika masuk ke dalam kelas; sebelum mengajr mulailah terlabih dahulu dengan berdoa untuk para ahli ilmu yang telah lama meninggalkan kita; berpenampilan yang kalem dan jauhi hal-hal yang tidak pantas dipandang mata; menjauhkan diri dari banyak bergurau dan banyak tertawa; jangan sekali-kali mengajar dalam kondisi lapar, marah, mengantuk, dan sebagainya; pada waktu mengajar hendaklah mengambil duduk yang strategis; usahakan tampil dengan sikap ramah, lemah lembut, jelas dalam betutur, tegas, lugas, dan tidak sombong; dalam mengajar hendaklah mendahulukan materi-materi yang penting dan disesuaikan dengan profesi yang dimiliki; jangan sekali-sekali mengerjakan hal-hal yang bersifat syubhat dan bisa membinasakan; perhatikan masing-masing kemampuan murid dalam mengajar dan tidak terlalu lama, serta menciptakan ketenangan dalam ruangan belajar; menasihati dan menegur dengan baik bila terdapat anak didik yang bandel; bersikaplah terbuka terhadap berbagai macam persoalan yang ditemukan; berilah kesempatan kepada peserta didik yang datangnya ketinggalan dan ulangilah penjelasan agar tahu apa yang dimaksud; dan bila sudah selesai, berilah kesempatan kepada anak didik untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas atau belum dipahami.
Tidak hanya itu, Hasyim Asy’ari masih menawarkan beberapa adab guru terhadap para murid-muridnya, sebagaimana berikut: seorang guru harus berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syariat Islam; menghindari ketidak ikhlasan dan mengejar keduniawian; hendaknya selalu melakukan intrsopeksi diri; menggunakan metode yang mudah dipahami oleh para murid; membangkitkan antusias peserta didik dengan memotivasinya; memberikan latihan-latihan yang bersifat membantu; selalu memperhatikan kemampuan peserta didik; tidak terlalu mengorbitkan salah seorang peserta didik dan menafikan yang lainnya; mengarahkan minat peserta didik; bersikap terbuka dan lapang dada terhadap peserta didik; membantu memecahkan masalah dan kesulitan para peserta didik; bila terdapat  peserta didik yang berhalangan hendaknya mencari hal ikhwal kepada teman-temannya; tunjukkan sikap arif dan penyayang kepada peserta didik; dan selalulah rendah hati, tawadhu’.*
Penulis pemerhati pendidikan Islam dan anggota Majelis Intelektual-Ulama Muda Indoesia (MIUMI)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

4 Mei 2015

Menyepelekan Dosa Kecil

“Sudah menikah mas?”
Tanya seorang wanita yang duduk disampingnya, ketika menumpangi “Pesawat Saudia” penerbangan Indonesia-Saudi Arabia.
“Belum”. Jawabnya enteng.
Pemuda ini menceritakan kisahnya selama di pesawat yang duduk bersebelahan dengan seorang wanita, yang ternyata juga berprofesi sebagai pramugari. Saya cukup tersentak dengan cerita teman dari suamiku itu. Sontak saya menjawab.
“Kenapa sich nggak jujur aja kalau udah punya istri?. Kan kasihan istrinya disana.
“Ya bukannya apa-apa, kan kalau kita bilang kita udah nikah, nanti ngobrolnya nggak nyambung.”
“Astagrfirullahal`azhiim,” Aku beristigrfar mendengar jawaban teman itu.
Bukan sekedar heran karena dia adalah seorang mahasiswa indonesia yang menuntut ilmu di Madinah, bahkan satu-satunya mahasiswa Asia yang lulus melanjutkan ke S2 dalam ujian beberapa waktu yang lalu. Ada persoalan yang lebih mendasar yang terpikir olehku. Segampang inikah seseorang melakukan kebohongan. Aku percaya dia tidak punya niat sama sekali untuk menyakiti perasaan istrinya. Meskipun kalau istrinya tahu, ini tentu hal yang menyakitkan. Istri mana yang tidak terluka hatinya jika mendengar suaminya mengaku-ngaku masih lajang kepada orang lain.
Tapi kembali lagi, ada persoalan yang lebih mendasar.
“Ya bukannya apa-apa, kan kalau kita bilang kita udah nikah, nanti ngobrolnya nggak nyambung.”
Kata-kata yang mengalir seolah tanpa beban. Semudah itukah manusia melakukan dosa kecil. Bahkan untuk alasan yang juga sangat seserhana. Hanya sekedar agar obrolan berjalan menyenangkan. Ya Allah, Tidak sadarah bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah, tidak terpikirkah ada Zat yang tidak pernah berhenti mengawasi.
Saya jadi teringat kata-kata yang populer di tengah-tengah akhwat masa-masa gadis dulu.
“Jangan lihat sekecil apa dosa yang engkau lakukan, tapi lihat sebesar apa Zat yang engkau tentang.”
Tanpa sadar, kita begitu sering menyepelekan dosa kecil. Mungkin awalnya hanya sekali, dua kali. Tapi ingat, dosa sekecil apapun, jika ia tidak dibersihkan dengan Taubat, maka ia akan tumbuh menjadi kebiasaan. Kita punya hati nurani. Ketika kita melakukan dosa, hati nurani itu akan menentang, memberontak.
Tapi jika bisikan nurani itu juga tidak kita hiraukan, maka lama-kelamaan bisikan itu juga tidak akan kedenaran lagi. Karena ruang hati kita sudah dipenuhi oleh bisikan-bisikan syaiton. Dosa-dosa kecil yang kita lakukan seakan menjadi hal sepele, ringan tanpa beban.
Atau perumpamaan lain yang sering kita dengar, Hati ibarat cermin. Jika ada noda dosa yang menempel lalu kita bersihkan dengan taubat, maka kesuciannya akan tetap terjaga. Namun jika noda-noda kecil itu kita biarkan, lama-kelamaan cermin hati itu akan berkarat, dan inilah yang menghijabi antara kita dengan Allah.
Ketika kita melakukan dosa, kita seolah tidak bisa melihat cahaya Allah, karena dosa yang berkarat itu telah menutup cahaya itu untuk masuk.
Maka berhati-hatilah dengan dosa kecil. Karena jika ia dibiarkan, maka ia akan bersarang dan menjadi virus yang mematikan hati kita. wallahu a`lam Bisshowab. Semoga bermanfaat.
Dikutip dari eramuslim.com

30 April 2015

Anak Juga Wajib Menafkahi Orang Tuanya

Seorang anak wajib memberikan nafkah kepada orang tua dan anak-anaknya, bila keadaan keuangannya mengizinkan dan kedua orang tuanya hidup dalam kemiskinan. Bahkan, menurut Al Ustadz Ahmad Isa Asyur dalam kitabnya "Birrul Walidain", beberapa ulama berpendapat bahwa kewajiban memberi nafkah itu tidak hanya sebatas kepada kedua orang tua, tetapi juga kepada seluruh keleuarga terdekat, berdasarkan firman Allah Swt yang berbunyi:

"Orang-orang yang bertalian darah, yang satu lebih utama (menunjang) yang lain dalam Kitab Allah"


Berdasarkan ayat ini, maka jelaslah bahwa seorang ayah wajib memberi nafkah kepada anak-anaknya, dan anak-anak wajib memberi nafkah kepada ayahnya yang kekurangan. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, antara yang memperoleh waris atau tidak.

Bukti kewajiban lain bagi anak-anak kepada kedua orang tuanya, tertuang dalam QS. Lukman ayat 15:"Dan bergaullah dengan keduanya di dunia dengan baik."

Dan di dalam Surat Al Ahqaf disebutkan: "Dan Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya."

Seorang anak yang baik, berbakti dan kasih terhadap orang tuanya, tidak akan membiarkan kedua orang tuanya hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, sementara ia dan sanak keluarganya hidup bergelimang kemewahan.

Rasulullah saw menegaskan dalam hadist, "Sebaik-baiknya makanan orang adalah yang diperoleh dari jerih payahnya, dan anak itu hasil dari jerih payahnya." (Dikeluarkan oleh Ahmad dan Ashabus Sunan)

Ibnu Hibban dan Al-Hakim berkata, Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya anak kalian adalah karunia dari Allah, dan harta mereka bagi kalian, kalau kalian membutuhkan." Karena itulah di dalam surat Al Lahab dikatakan, "Tiada guna baginya harta benda dan apa-apa yang diusahakan (kasab)." Sebagai bukti lainnya bahwa anak-anak termasuk kasab orang tuanya, karena ayat itu berarti, "Tidak ada guna baginya harta dan anak-anaknya."

Adapun kewajiban memberi nafkah kepada ibu-bapak, termasuk kakek dan nenek, jika kita telah memenuhi syarat-syarat, yaitu:

1. Keluasan rezeki si anak, artinya kalau rezeki itu sudah cukup untuk kebutuhan anak istrinya dan lebih dari sehari semalam. Yang selebihnya itulah yang diinfakkan kepada ibu-bapak atau keluarganya yang kekurangan. Kalau ia tidak memiliki harta, namun mampu berusaha, maka kelebihan dari hasil usahanya itulah yang diberikan.

2. Kalau kedua orang tuanya hidup tidak berkecukupan. 

3. Kalau keduanya sudah tidak menghasilkan uang lagi. Karena jika orang tua masih dapat menghasilkan, hal itu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Apakah sia anak tega melihat kedua orang tuanya yang tak mampu bekerja lagi, dipaksa untuk bekerja mencari nafkah?. 

Jika kondisi anak juga dalam kesulitan, maka tanggung jawab pemenuhan kebutuhan primer keluarga itu jatuh kepada negara. Baitul Maal berkewajiban memberikan santunan kepada mereka. Wallahu a'lam. (msr)
Dikutip dari Suara Islam.

29 April 2015

Inilah Bukti-bukti Kecintaan Sahabat Kepada Rasulullah saw

Para sahabat Rasulullah saw sangat bersungguh-sungguh untuk menerapkan kewajiban mencintai Allah dan RAsul-Nya. Mereka senantiasa berlomba untuk mendapatkan kemuliaan ini karena ingin termasuk golongan orang-orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Ada banyak sekali riwayat yang membuktikan kecintaan sahabat kepad Rasulullah saw, diantaranya: 

Diriwayatkan dari Anas ra., ia berkata: Ketika perang Uhud kaum Muslim berlarian meninggalkan Nabi saw. Abu Thalhah sedang berada di depan Nabi saw., melindungi beliau dengan perisainya. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang sangat cepat lemparannya. Pada saat itu ia mampu menangkis dua atau tiga busur panah. Kemudian ada seorang lelaki yang lewat. Ia membawa setumpuk tombak kemudian berkata, “Aku akan menebarkannya untuk Abi Thalhah”. Kemudian Nabi saw. beralih ke pinggir melihat orang-orang. Maka Abu Thalhah berkata, “Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan minggir, nanti panah orang-orang akan mengenaimu. Biarkan aku yang berkorban jangan engkau….” (Mutafaq 'alaih)

Qais berkata: Aku melihat tangan Abu Thalhah menjadi lumpuh, karena dengan tangannya itulah ia telah menjaga Nabi saw.  pada saat perang Uhud. (HR. Bukhari)

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik ketika menceritakan tiga orang sahabat yang tidak ikut perang Tabuk. Ka’ab berkata:

Sehingga ketika masa pemboikotan berupa pengasinganku dari orang-orang itu berlangsung lama maka aku berjalan hingga aku menaiki dinding pagar Abi Qatadah. Dia adalah anak pamanku dan orang yang paling aku cintai. Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya. Demi Allah, ia tidak menjawab salamku. Maka aku berkata, “Wahai Abi Qatadah! Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apakah engkau mengetahui bahwa aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Ia diam. Maka aku kembali kepadanya dan aku bersumpah lagi kepadanya tapi ia tetap diam. Kemudian aku kembali lagi dan bersumpah lagi kepadanya, maka akhirnya ia berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Maka bercucuranlah air mata dari kedua mataku, kemudian aku pergi hingga aku memanjat dindingnya.(Mutafaq 'alaih)

Dari Sahal bin Saad ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda pada Khaibar:

Berkata kepadaku Qutaibah bin Said, berkata kepadaku Ya’kub bin Abdurrahman dari Abu Hazim, ia berkata; Sahal bin Sa’ad ra. telah memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda pada perang Khaibar, “Aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang di atas tangannya Allah akan memberikan kemenangan. Ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Berkata Sahal Bin Sa’ad, “Maka orang-orang pun pergi untuk tidur dan mereka bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah di antara mereka yang akan diberikan panji oleh Rasulullah saw.” Ketika tiba waktu subuh, maka orang-orang ramai menghadap Rasulullah saw. Semuanya berharap agar diberi panji oleh Rasululah saw. Maka Rasul bersabda, “Di manakah Ali bin Abi Thalib?” Dikatakan kepada Rasul, “Ia sedang sakit mata, Ya Rasulullah!” Kemudian orang-orang pun mengutus seorang sahabat untuk membawa Ali bin Abi Thalib ke hadapan Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. meludahi kedua matanya dan berdoa untuknya, maka sembuhlah ia hingga seolah-olah ia belum pernah sakit sebelumnya. Kemudian Rasul memberikan panji itu kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali berkata, “Ya Rasulallah!, aku akan memerangi mereka sampai mereka bisa seperti kita (memeluk Islam).” Kemudian Rasullah saw. bersabda, “Berangkatlah perlahan-lahan hingga engkau berdiri di halaman mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang merupakan kewajiban mereka. Maka demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang manusia karena engkau, hal itu lebih baik bagi engkau daripada unta merah.” (Mutafaq 'alaih)

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitab Shahihnya: (…Kemudian Urwah bin Mas’ud kembali kepada para sahabatnya, dan berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku pernah menjadi utusan (delegasi)  kepada para raja. Aku pernah menjadi delegasi kepada Kisra, Qaishar, dan An-Najasyi. Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang pemimpin pun yang sangat diagungkan oleh para sahabatnya seperti halnya para sahabat Muhammad mengagungkan Muhammad. Demi Allah, jika beliau mengeluarkan dahak maka jika jatuh ke tangan seseorang dari mereka, pasti ia akan mengusapkannya pada wajah dan kulitnya. Jika beliau memerintahkan sesuatu kepada mereka, maka mereka akan bergegas melaksanakannya. Jika beliau wudhu, maka mereka akan berlomba —seperti orang yang berperang— memburu air bekas wudhu beliau. Jika beliau berbicara, maka mereka akan merendahkan suara di sisinya. Mereka tidak berani memandangnya semata-mata karena mengagungkannya…) 

Muhammad bin Sirin berkata: Telah berbincang-bincang segolongan laki-laki di masa Umar ra., hingga seakan-akan mereka melebihkan Umar ra. atas Abu Bakar ra., kemudian hal itu sampai kepada Umar bin Khathab r.a., lalu beliau berkata, “Demi Allah, satu malam dari Abu Bakar lebih utama daripada keluarga Umar. Sungguh Rasulullah telah pergi menuju gua Tsur disertai Abu Bakar. Abu Bakar terkadang berjalan di depan beliau dan terkadang berjalan di belakang beliau. Hingga hal itu membuat Rasulullah penasaran, beliau pun berkata: Wahai Abu Bakar! Kenapa engkau terkadang berjalan di depanku dan terkadang di belakangku? Abu Bakar berkata: Jika aku ingat orang-orang yang mengejarmu, maka aku berjalan di belakangmu, dan jika aku ingat orang-orang yang mengintaimu, maka aku berjalan di depanmu. Rasulullah saw. bersabda: Wahai Abu Bakar, jika terjadi sesuatu, apakah engkau suka hal itu menimpamu dan tidak menimpaku? Abu Bakar menjawab: Benar, demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, jika ada suatu perkara yang menyakitkan, maka aku lebih suka hal itu menimpaku dan tidak menimpamu. Ketika keduanya telah sampai di gua Tsur, Abu Bakar berkata: Tunggu sebentar di tempatmu wahai Rasulullah!, hingga aku membersihkan gua untukmu. Kemudian Abu Bakar pun masuk gua dan ia membersihkan (dari segala hal yang akan menggangu). Ketika ia ada di atas gua, ia ingat belum membersihkan sebuah lubang, kemudian ia berkata: Wahai Rasulullah, tetap ditempatmu!, aku akan membersihkan sebuah lubang. Maka ia pun masuk gua dan membersihkan lubang itu. Kemudian berkata; silakan turun wahai Rasulullah saw., Maka Rasul pun turun.” Umar berkata, “Demi Allah, sungguh malam itu lebih utama dari pada keluarga Umar.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak. Ia berkata hadits ini shahih, isnadnya memenuhi syarat Bukhari Muslim seandainya tidak mursal yakni sanad yang tidak langsung sampai kepada rasul). Tapi hadits ini adalah hadits mursal yang bisa diterima.

Anas bin Malik berkata: Sesunguhnya Rasulullah saw. pada saat perang Uhud telah terpojok sendirian bersama  tujuh orang Anshar dan dua orang Quraisy (Muhajirin). Ketika musuh (kaum Musyrik) telah merangsek mendekati beliau, beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar lalu memerangi musuh hingga terbunuh. Kemudian musuh kembali merangsek mendekat. Beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar, lalu memerangi musuh hingga ia terbunuh. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang hingga terbunuhlah tujuh orang Anshar. Rasulullah bersabda kepada dua sahabatnya (dari Muhajirin), “Kita tidak sebanding dengan para sahabat kita itu.”(HR. Muslim)

Abdullah bin Hisyam berkata: Kami bersama Nabi saw., sementara beliau memegang tangan Umar bin Khathab. Umar berkata, “Wahai Rasulullah!, Sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi saw. berkata, “Tidak bisa! Demi Allah hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata, “Sesungguhnya mulai saat ini, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi saw. bersabda, “Sekarang engkau telah benar wahai Umar.”(HR. Bukhari). 

Imam Nawawi telah meriwayatkan dalam Syarah Muslim tentang arti cinta kepada Rasulullah saw. dari Abu Sulaiman Al-Khathaby. Dalam syarah itu dikatakan, “…Engkau tidak dikatakan benar-benar mencintaiku hingga dirimu binasa dalam taat kepadaku, dan engkau lebih mementingkan ridhaku daripada hawa nafsumu, meski engkau harus binasa karenanya.”

Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, ia berkata: Aku pernah berkata kepada Ubaidah bin Al-Jarrah, “Aku memiliki sebagian dari rambut Nabi saw. Kami menerimanya dari Anas bin Malik atau dari keluarga Anas.” Maka Ubaidah berkata, “Sungguh, satu lembar rambut Nabi saw. yang ada padaku lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a: Maka Abu Bakar berkata, “Demi Allah, sungguh aku lebih cinta bersilaturrahmi kepada kerabat Rasulullah saw. daripada kepada kerabatku.” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Suatu hari telah datang Hindun binti Utbah, ia berkata, “Wahai Rasulullah! Seluruh penghuni rumah yang ada di muka bumi, lebih aku sukai mereka terhina dari pada penghuni rumahmu. Dan tidak ada penghuni suatu rumah di muka bumi di pagi hari yang lebih aku cintai agar mereka menjadi mulia dari pada penghuni rumahmu… (Mutafaq 'alaih)

Diriwaytkan dari Thariq bin Shihab, ia berkata: Aku pernah mendengar Ibnu Mas’ud berkata, “Aku bersama Miqdad bin Al-Aswad pernah menyaksikan perang Badar. Jika aku menjadi peraihnya (syahid), maka itu lebih aku sukai dari pada keadilannya.” Orang itu datang kepada Nabi saw., sementara Nabi saw. sedang berdoa untuk kehancuran kaum Musyrik. Ia berkata; Kami tidak akan mengatakan sebagaimana perkataannya kaum Musa, “Pergilah engkau dan Tuhammu untuk berperang”. Tapi kami akan berperang di sebelah kananmu, di sebelah kirimu, di depan dan di belakangmu. Maka aku melihat wajah Nabi saw. dan perkataannya bersinar-sinar. (HR. Bukhari).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a bahwa Saad pernah berkata: Ya Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang lebih aku sukai untuk diperangi karenamu daripada suatu kaum yang mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya. (Mutafaq 'Alaih).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Tsumamah bin Tsaal berkata: Ya Muhammad, demi Allah, dulu tidak ada di muka bumi ini satu wajah pun yang paling aku benci daripada wajahmu. Tapi, akhirnya wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada suatu agama pun yang paling aku benci daripada agamamu, tapi sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada suatu negeri pun yang paling aku benci daripada negerimu, tapi sekarang negerimu menjadi negeri yang paling aku cintai. (Mutafaq 'alaih).

Red: shodiq ramadhan

28 April 2015

Rasa Malu

Sudirman Timsar Zubil
Ketua Umum FUISU

"Sebagai ulama saya merasa malu dikota Medan sampai12 Masjid dihancurkan untuk kepentingan bisnis..."

Pernyataan di atas diucapkan oleh Drs. KH Tengku Zulkarnain MM, ketika menjadi saksi ahli di PN Medan dalam gugatan Perdata atas penghancuran Masjid At Thoyyibah oleh preman-preman suruhan Direktur PT. MIL, Drs. Benny Basri, pada 10 Mei 2007 lalu.

Apabila direnungkan pernyataan Drs. KH. Tengku Zulkarnain MM diatas patutlah kita tercenung karenanya. Betapa tidak? dari sekian banyak umat Islam, dan tidak sedikit di antaranya berpredikat ulama atau ustadz, tidak pernah ada yang melintas dipikirannya untuk membuat pernyataan seperti yang dinyatakan ulama asal Medan yang kini menjadi Wakil Sekjen MUI Pusat itu.
Sungguh bertolak belakang dengan penandatangan fatwa sesat MUI Kota Medan yang tanpa merasa malu meminta kepada saya untuk berdamai. Hal itu disampaikannya ketika saya telah selesai memberikan kesaksian dalam gugatan perdata kasus penghacuran Masjid At Thoyyibah di PN Medan pada tanggal 27 Agustus 2012. Saya dan sang Profesor bertemu di Masjid Pengadilan Tinggi Medan ketika akan sholat Zuhur. Sang Profesor berkata :

"Bagaimana kalau kita berdamai saja ?"

"Boleh, asal dipenuhi syaratnya", jawab saya tegas.

"Apa syaratnya? nanti saya sampaikan sama Pak Beny, kalau perlu disuruh dia membuat permintaan maaf kepada umat Islam, dimuat disurat kabar - surat kabar"

"Syaratnya sederhana saja, bangun kembali Masjid At Thoyyibah dilokasi semula. Kalau bersedia maka gugatan akan dicabut."

"Wah, itu sulit. Karena dilokasi itu sudah dibangun ruko-ruko ...." Saya potong bicaranya, dan dengan geram saya bilang: "Menghancurkan rumah ALLAH (Masjid) tidak sulit bagi kalian, tetapi kenapa sekarang mengatakan sulit untuk membangun kembali masjid At Thoyyibah yang dihancurkan secara tidak sah atau melawan hukum. Untuk diketahui kami bukan sekedar memperjuangkan fisik bangunan masjid. Akan tetapi kami juga membela marwah, harkat dan martabat umat Islam yang telah dilecehkan, dinista oleh si kafir Benny Basri dengan menghancurkan rumah ALLAH (Masjid At Thoyyibah).”

Dengan suara lemah sang Professor berkata :

"Saya kan cuma usul, kalau setuju saya sampaikan, kalau tidak, ya tidak apa", katanya pasrah.

Beberapa contoh lagi

Lain pula ulah Professor yang satu lagi. Kepada warga (Jamaah Masjid Raudhatul Islam) dan rekan-rekan dari Aliansi ormas Islam dikatakannya dia mendukung pembangunan kembali Masjid Raudhatul Islam, dan bersedia membuat surat atas dukungannya itu. Akan tetapi ketika diminta surat yang dijanjikannya itu, ternyata sang Professor ingkar janji dia tidak merasa malu kepada ALLAH dan kepada rekan-rekan Aliansi Ormas Islam beserta pengurus BKM Raudhatul Islam yang datang berkunjung kerumahnya pada akhir Bulan Ramadhan 1433 H yang lalu.

Adapun Ketua Komisi Fatwa yang pada pertemuan di kantor MUI Kota Medan tanggal 23 April 2007 menyatakan pendapatnya :

“Jangan dulu masjid At Thoyyibah lama dibongkar, dan jangan pula masjid baru pengganti diresmikan sampai ada keputusan dari Mahkamah Agung mengenai kasasi yang diajukan oleh masyarakat”.

Akan tetapi  hanya berselang 3 hari kemudian, pada tanggal 26 April 2007 keluarlah fatwa MUI Kota Medan yang beliau sendiri turut menandatanganinya, dan fatwa itulah yang dijadikan alasan pembenaran oleh Direktur PT. MIL untuk menghancurkan masjid At Thoyyibah.

Ketika saya memberi kesaksian di PN Medan itu, kuasa hukum MUI Kota Medan, dalam pembelaannya menyatakan bahwa fatwa MUI Kota Medan tentang Istibdal Masjid At Thoyyibah tidak ada menyebutkan penghancuran Masjid tersebut. Pernyataannya itu saya jawab :

"Saya juga tidak mengatakan fatwa MUI Kota Medan menyebutkan penghancuran Masjid At Thoyyibah, akan tetapi keterangan (keputusan) fatwa tersebut yang menyatakan bahwa masjid baru pengganti telah layak untuk menggantikan masjid At Thoyyibah lama. Dengan fatwa itulah Direktur PT. MIL berhasil mendapatkan dukungan  Pemkot Medan dan Kepolisian Daerah Sumatera Utara. Oleh karena bila suatu objek telah diganti, maka objek yang digantikan itu tentulah menjadi milik yang menggantikan, makanya PT. MIL merasa berhak menghancurkan Masjid At Thoyyibah."

Beberapa hal yang diuraikan diatas menunjukan sikap dan perbuatan dari mereka yang sudah tidak punya rasa malu sehingga berakibat masjid At Thoyyibah luluh lantak oleh palu godam preman-preman bayaran Direktur  PT. MIL Drs. Benny Basri. Mereka tidak merasa malu, tidak merasa terhina melihat rumah ibadahnya dihancurkan, melihat bagaimana menara Masjid At Thoyyibah dalam sekejap rubuh oleh eskavator milik Drs. Benny Basri. Mereka lupa kepada pernyataan imam-imam mereka  bahwa  meskipun diganti yang lebih bagus Masjid tidak boleh di tukar jika tidak dengan alasan yang syar'i.

Adapun kepentingan bisnis pengembang bukanlah alasan yang syar'i, jadi oleh sebab itu Masjid At Thoyyibah tidak boleh dipindahkan. Apalagi pada saat itu proses hukum (kasasi) status lahan dimana Masjid At Thoyyibah berada belum diputus oleh Mahkamah Agung. Seyogyanya, jangankan menghancurkan untuk membangunpun dalam keadaan status quo tidak dibenarkan. Maka penghancuran Masjid At Thoyyibah adalah illegal, melawan hukum karena tanpa perintah pengadilan. Ironinya penghancuran itu dilaksanakan dengan pengamanan puluhan Satpol PP dan pasukan Brimob bersenjata lengkap.

Kenapa bisa terjadi ?

Jawabannya ialah, dikarenakan rasa malu sudah hilang sehingga perbuatan-perbuatan jahat, seperti dusta, manipulasi data, suap menyuap dan perbuatan melawan hukum lainnya dilakukan tanpa rasa malu sedikitpun sampai koruptor pun dianggap sebagai pahlawan hanya karena dapat memberi uang dan jabatan. Naudzubillahi min dzalik.
Semoga Majelis hakim yang akan memutuskan perkara ini terpelihara oleh rasa  malu, bila  ada godaan mendatangi mereka  untuk mengalahkan ratusan warga yang menjadi Penggugat. Amin ya Rabbal’alamin.

27 April 2015

Akhlak Adalah Bagian dari Syariat Islam

Akhlak merupakan bagian dari syari’at Islam, yakni bagian dari perintah dan larangan Allah. Akhlaak merupakan sifat yang harus dimiliki seorang muslim guna menyempurnakan pengamalannya terhadap Islam.

Definisi Akhlak 

Secara bahasa, akhlak berasal dari kata al-khuluq yang berarti kebiasaan (al- sajiyyah) dan tabiat (al-thab’u). Sedangkan secara istilah, akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dimiliki tatkala ia melaksanakan berbagai aktivitasnya. Sifat-sifat Akhlak ini nampak pada diri seorang muslim tatkala dia melaksanakan berbagai aktivitas —seperti ibadah, mu’amalah dan lain sebagainya— apabila ia melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut secara benar. Misalnya, akan nampak pada dirinya sifat khusyuu’ di dalam sholat. Allah berfirman:

Sesunggunya beruntunglah orang-orang yang mukmin, yakni orang-orang yang khusyuu’ di dalam sholatnya (TQS. Al Mu-minuun[23]: 1-2). 

Sifat lembutpun nampak pada diri seorang pengemban da’wah tatkala ia melakukan diskusi dengan masyarakat. Allah berfirman tatkala menggambarkan sifat Rasulullah saw:

Maka karena rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu…
 (TQS. Ali ‘Imraan[3]: 159). 

Dalam hal lain, akan terlihat pada diri seorang muslim sikap berani tatkala ia melakukan koreksi terhadap penguasa yang zhaalim. Rasulullah saw bersabda:

Pemimpin para syuhada adalah Hamzah dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa yang zhalim kemudian ia menasehatinya, lantas penguasa itu membunuhnya. 

Diri seorang muslimpun akan dihiasi dengan kesabaran (al-shabr) dan menguatkan kesabaran (mushaabarah) tatkala menanggung derita dan tatkala menghadapi musuh. Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian dan teguhkanlah kesabaran kalian…
 (TQS. Ali ‘Imraan[3]: 200). 

Ia pun akan dihiasi dengan sifat mendahulukan orang lain, yakni mengutamakan orang lain untuk mendapatkan kebaikan dibandingkan dirinya sendiri. Dia rela berlapar-lapar diri demi orang lain. Allah swt berfirman:

…dan mereka mengutamakan (orang Muhajirin) atas (kepentingan) mereka walaupun mereka dalam kesusahan… (TQS. Al Hasyr[59]: 9). 

Kita pun bisa melihat tatkala Ali bin Abi Thalib rela menempati temat tidur Rasulullah pada malam terjadinya persekongkolan (konspirasi) orang-orang musyrik untuk membunuh Beliau saw Ia mengorbankan dirinya demi Rasulullah saw. Seorang penguasa, akan memiliki sifat adil di tengah-tengah masyarakatnya. Allah swt berfirman:

dan apabila kamu menghukum di tengah-tengah manusia maka hendaklah kamu menghukum dengan adil 
(TQS. AN Nisaa[4]: 58). 

Selain yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa sifat Akhlak lainnya yang diperintahkan oleh Allah untuk dimiliki setiap muslim, diantaranya adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik (‘iffah), dermawan, tawaadhu’, dan lain sebagainya. Di samping itu, terdapat pula beberapa sifat Akhlak tercela yang dilarang oleh Islam, diantaranya adalah berdusta, menghasud, zhalim, menipu, riya’, malas, penakut (al jubnu), membicarakan orang lain (ghiibah), dan lain sebagainya. Allah swt berfirman:

…dan dari kejahatan orang yang menghasud…
 (TQS. Al Falaq [113]: 5). 

Rasulullah saw bersabda: Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kepenakutan, kepikunan, dan kekikiran

Kekhususan- kekhususan Akhlak Islami

1. Akhlak Islami tidak mungkin dipisahkan dari hukum-hukum syari’at lainnya, semisal ibadah, mu’amalah, dan lain-lain. Khusyu’ misalnya, ia tidak akan tampak kecuali di dalam sholat. Begitu pula jujur dan amanah akan tampak di dalam mu’amalat. Sehingga, Akhlak tidak mungkin dipisahkan dari perintah-perintah dan larangan-larangan Allah lainnya, sebab, Akhlak merupakan sifat yang tidak akan tampak pada diri seseorang kecuali tatkala ia melakukan aktivitas tertentu.

2. Akhlak Islami tidak tunduk kepada keuntungan materi (al-naf’iyyah al-maadiyah). Yang dituntut dari seorang muslim adalah terhiasinya dirinya dengan sifat-sifat Akhlak ini, yang kadang membawa kemudharatan dan kadang mendatangkan kemanfaatan. Berkata jujur di hadapan penguasa yang zhalim misalnya, dan keberanian melakukan kritikan kepada penguasa itu, maka hal itu bisa jadi akan membuatnya menanggung siksaan. Rasulullah saw bersabda:

Pemimpin para syuhada adalah hamzah dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa yang zhalim dan menasehatinya, kemudian penguasa itu membunuhnya


3. Akhlak Islami sebagaimana halnya aqidah Islam selaras dengan fitrah manusia. Misalnya, memuliakan tamu dan membantu orang sedang yang membutuhkan selaras dengan naluri mempertahan eksistensi diri (ghariizat ul baqa). Khusyu’ dan tawaadhu’ sesuai dengan naluri beragama(ghariizat ut tadayyun). Sedangkan kasih sayang dan berbuat kebajikan, sejalan dengan naluri melestarikan jenis (ghariizat al-nau’).

Pengaruh Akhlak

1. Sesungguhnya akhlak maupun kewajiban-kewajiban syari’at yang lain akan menjadikan seorang muslim memiliki kepribadian yang unik (syakhshiyyah mutamayyizah) tatkala ia bermu’amalat dengan orang lain Itu dapat menjadikan orang-orang mempercayai perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan dirinya.

2. Akhlak Islam menciptakan rasa cinta kasih dan saling menghormati sesama individu-individu dalam keluarga secara khusus, dan antara individu-individu masyarakat secara umum.

Salah satu pengaruh dari Akhlak Islamiyyah adalah, pahala yang akan diberikan Allah swt kepada kepada sorang muslim di akhirat kelak. Orang-orang yang memiliki akhlak yang baik di dunia ini akan menjadi kerabat Rasulullah saw di akhirat dan menemani Beliau dalam merasakan kenikmatan surga. Rasulullah saw bersabda: 

Sesungguhnya yang paling kucintai di antara kalian, dan orang yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang palimg baik akhlaknya.
 (HR. Bukhari)

Ketika Rasulullah saw ditanya tentang kebanyakan orang yang masuk syurga, maka Rasulullah bersabda: "Yang paling bertaqwa kepada Allah dan paling baik akhlaknya."

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Dirasat fil Fikr Al Islamiy.