Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!
Tampilkan postingan dengan label adab islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adab islami. Tampilkan semua postingan

21 Januari 2016

Akhlak Bagian dari Implementasi Syariat Islam

Akhlak refleksi pemahaman seseorang agama terhadap agama Islam yang terpantul dalam kehidupan sehari-hari
Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Aceh, Dr. H. Aslam Nur

Hidayatullah.com–Akhlak merupakan bagian dari implementasi syariat Islam, yaitu sifat dan perilaku yang harus dimiliki setiap muslim guna menyempurnakan pengamalannya terhadap Islam yang menjadi bagian dari perintah dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala.
Akhlak islami tidak mungkin dipisahkan dari hukum-hukum syariat lainnya, semisal ibadah dan muamalah. Karenanya, keterkaitan antara ibadah dan akhlak sangat erat.
Demikian disampaikan Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Aceh, Dr. H. Aslam Nur LML, MA saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (13/01/2016) malam.
“Salah satu dimensi ibadah yang banyak dilupakan oleh kaum muslimin adalah berakhlak baik. Ibadah sangat erat kaitannya dengan akhlak. Bahkan, ibadah-ibadah ritual yang kita kenal dan rutin kita jalani, mengandung nilai-nilai akhlak yang mulia di dalamnya. Jika shalatnya, puasanya, zakatnya dan hajinya benar maka akhlaknya pasti baik,” ujar Aslam Nur.
Menurutnya, ibadah yang baik benar membentuk akhlak yang baik. Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala juga sering mengaitkan ibadah dengan akhlak. Allah berfirman dalam surat Al Ankabut ayat 45 yang artinya, “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar”.
“Akhlak refleksi pemahaman seseorang agama terhadap agama Islam yang terpantul dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa menilai sesuatu itu dari perilaku,” sebutnya.
Disebutkannya, selama ini ajaran Islam normatif adalah yang ideal berdasarkan tuntunan Al-quran dan Hadits. Namun, dalam implementasi sehari-hari justru Islam praktis jauh berbeda dengan Islam normatif dan historis.
Ustaz Aslam Nur juga menyebutkan, kenapa selama ini kalangan orientalis Barat kerap menulis yang tidak baik terhadap Islam karena mereka melihat prilaku umat Islam.
“Orientalis biasa menulis Islam praktisý di tengah masyarakat muslim.ý Mereka tidak bicara ayat dan hadits seperti kejujuran, keadilan, serta kebersihan sebagian dariý iman. Kita kadang marah orientalis menulis yang jelek-jelek tentang Islam.ý Karena mereka tidak belajar Al-quran, yang mereka lihat perilaku muslim sehari-hari. Antara ideal dan praktek itu beda sekali,” ungkapnya.
Diakuinya, selama ini memang ada yang salah dengan umat Islam, kita tidak mempraktekkan Islam secara normatif. Kita anggap sudah shalat, puasa, zakat dan haji selesailah Islam kita.
“Refeksi akhlak Islam dalam kehidupan sehari-hari, seolah-olah tak ada hubungan antara akidah, ibadah dan akhlak. Akhlak tidak bisa dipelajari karena yang dipelajari itu ilmu. Akhlak itu dipraktekkan, sehingga Rasullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam itu diutus ke dunia ini khusus untuk menyempurnakan akhlak,” jelas Dosen UIN Ar-Raniry ini.
Pada pengajian KWPSI itu seorang jamaah juga bertanya, kalau memang Rasul diutus untuk menyempurnakan akhlak, lalu kenapa disuruh shalat, puasa, zakat dan ibadah lainnya.
“Tidak mungkin orang akhlak mulia jika dia tidak shalat lima waktu dan ibadah lainya. Untuk bisa muncul akhlak mulia itu memang harus melalui proses ibadah, dan terkait juga dengan iman. Akhlak tidak bisa berdiri sendiri tapi ada proses. Akhlak bukan ilmu tapi praktek,” terangnya.
Ustadz Aslam Nur juga menyampaikan beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk meraih akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, berdoa. Kunci paling utama minta kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar diberikan kita akhlak mulia. Karena di dalam diri setiap manusia itu ada dua kekuatan yang saling tarik menarik, yaitu sifat Abrar (taqwa) dan fujur.
“Misalnya ketika kita ingin berbuat baik seperti shalat berjamaah, tiba-tiba muncul bisikan dalam hati nanti saja, itu sifat fujur. Ketika mau ke masjid kita tunda juga fujur. Rasul saja selalu minta sama Allah untuk akhlak baik. Seperti yang diajarkan kepada Muaz bin Jabal dengan doanya, “Allahumma Inni A’uzubika Husni Ibadatik. Kalau ingin kebaikan, minta dipermudah oleh Allah, karena Allah yang punya kuasa untuk membolak-balik hati manusia.
Kiat kedua, bersahabat dengan orang-orang baik yang satu visi dengan kita memperbaiki akhlak. Bergaul akrab dengan orang yang baik, bukan pula berarti kita menjauhi orang tidak baik.
“Persahabatan bukan urusan dunia saja. Nanti di hari kiamat ada 7 golongan yang dinaungi oleh Allah, diantaranya adalah orang bertemu karena Allah dan berpisah juga karena Allah,” sebutnya.
Ketiga, agar konsisten akhlak yang mulia, kita perlu membaca buku biografi kisah-kisah hidup orang saleh dan tokoh Islam yang hidup dengan akhlakul karimah seperti imam mazhab yang empat.
“Lalu kita azamkan dan bertekad dalam hati ingin kita praktekkan. Jika kita suka melihat dan membaca yang baik, maka itu yang akan terus kita ingat. Tapi jika sering nonton sinetron dan suka gosip, maka itu juga yang sering terekam dalam kehidupan sehari,” katanya.*
Rep: Ahmad
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

19 Januari 2016

Terpilih di Antara yang Sedikit

Hanya saja, At-Thaifah Al-Manshurah di akhir zaman jauh lebih berat dari ujian generasi pertama sahabat
Pemuda Hamas sedang latihan fisik [ilustrasi]

Oleh: Fida’ Ahmad S

KEBAIKAN pastilah lebih sedikit ketimbang keburukan. Hal ini telah menjadi realitas di dunia tempat manusia berpijak ini. Walau tak bisa menjadi patokan di setiap waktu dan tempat, namun secara umum kebaikan selalu yang lebih sedikit. Kaidah ini tak bisa dibalik, ‘yang baik pastilah sedikit, tapi tak semua yang sedikit itu baik’.
Sebagai seorang Muslim, tolak ukur kebaikan kita tentu adalahDinul Islam. Maka tak salah kalau kita menganggap Islam sebagai kebaikan itu sendiri. Pemeluk Islam di dunia saat ini ada sekitar 1,6 miliar jiwa. Angka yang fantastis bagi pemeluk agama, dan hanya kalah oleh pemeluk Kristen (sekitar 2,2 miliar jiwa). Tapi jika dibandingkan keseluruhan penduduk dunia yang sekitar 6,9 miliar jiwa, maka angka tadi tidaklah terlihat begitu besar, hanya sekitar 23 persen dari total penduduk. Maka hanya sekitar segitulah kebaikan. Sekali lagi, bagi Muslim tolak ukur kebaikan adalah Islam, dan Islam adalah kebaikan itu sendiri.
Dan di antara pemeluk Islam -pemilih kebaikan- yang tak seberapa ini, masih bisa kita klasifikasi lagi menjadi beberapa tingkatan. Kalau kita mengukur kebaikan dengan ketaatan dan ketaqwaan, maka masih amat banyaklah umat Islam yang terlena akan kewajibanya sebagai hamba.  Dengan kata lain dalam kebaikan ini, masih bisa kita persempit lagi menjadi, ‘yang benar-benar baik’.
Maha benar Allah ta’ala dan RasulNya. Umat Islam saat ini telah ditimpakan penyakit yang telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lalu. Ialah penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Yang hari ini kita terjemahkan sebagai hedonisme dan materialisme. Dari penyakit yang menjelma jadi gaya hidup dan obsesi masyarakat ini, lahirlah penyakit-penyakit lainya dalam berbagai bentuknya. Mulai dari pergaulan sesuka hati hingga prostitusi. Begal motor di jalan hingga korupsi di Senayan. Belum lagi degradasi moral hingga penyimpangan seksual.
Ibnu Qoyyim rahimahullah menyebutkan bahwa fitnah akhir zaman terdapat dua macam, yakni syubhat dan syahwat. Wahn adalah penyebab utama manusia terjatuh dalam fitnah syubhat dan syahwat. Fitnah syahwat adalah segala urusan di antara perut dan kemaluan, yang contohnya sudah disebutkan di atas. Sedang fitnah syubhat termasuk di antaranya adalah rusaknya fikrah dan merebaknya berbagai isme di kalangan orang yang berilmu. Hari ini, biasa kita dapati bekas kondom yang tersebar setelah pesta natal dan tahun baru. Hari ini pula, telah kita dapati orang yang belasan tahun belajar agama, tak malu mengatakan Al-Qur’an perlu perevisian.
Sebelum memperingatkan kaum Muslim tentang wahn, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Tsauban radhiallahu anhu, menceritakan tentang keadaan umat Islam di akhir zaman. Umat Islam pada saat itu digambarkan seperti makanan di meja penghidangan bagi musuh-musuhnya. Jumlahnya banyak, akan tetapi mereka seperti buih di lautan. Sungguh penggambaran yang tepat akan kodisi umat Islam saat ini.
Tapi Allah dan RasulNya sudah menjamin, bahwa akan senantiasa ada di antara umatnya sekelompok orang yang berpegang teguh pada din. Mereka adalah thoifah mansurah(kelompok yang ditolong Allah ta’ala) sekaligus firqatun najiyah (kelompok yang selamat). Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Hadits Muslim menerangkan bahwa mereka memiliki latar yang berbeda-beda. Ada yang gagah berani berjihad, para fuqaha, orang-orang yang menekuni hadits, ahli-ahli zuhud, penegak amar ma’ruf nahi munkar, atau pelaku-pelaku kebaikan lainya. Bisa jadi mereka berada dalam suatu wilayah, atau menyebar di berbagai penjuru dunia.
Penyebutan thaifah dan firqah (kelompok), menunjukkan bahwa sedikit mereka yang berpegang teguh ini, sudah selazimnya berkelompok alias berjamaah. Karena setaqwa dan sekuat apapun iman seseorang, ia takkan sanggup melawan musuh-musuh Allah sendirian. Maka berjamaah merupakan keniscayaan. Dan dalam berjamaah, ada berkah yang turun melalui saling menasehati dalam kebaikan dan ketaqwaan.
Di saat kedzaliman telah mengakar, akan senantiasa ada keadilan, meski lebih sedikit. Di tengah kaum kafir dan musyrik yang dominan, akan selalu ada kaum Muslim yang beriman, meski lebih sedikit. Dan di antara umat Isam banyak yang terlena dan berpaling, akan senantiasa ada At-Thaifah Al-Manshurah dan firqatun najiyah yang akan membawa kemenangan din ini meski mungkin, mereka hanya sedikit.
Sebagaimana hadits dari  al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda;
لا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ ا وَهُمْ ظَاهِرُونَ
“Pasti akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang senantiasa meraih kemenangan, sampai ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla datang menghampiri mereka. Dan mereka pun tetap di atas kemenangannya.” [HR Bukhari]
Dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ (وفي رواية – يُقَاتِلُونَ ) عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan kebenaran (dalam hadits lain dengan kata mereka berperang di atas kebenaran), tidak merugikannya orang yang menghinanya sampai datang hari kiamat, dan mereka tetap dalam keadaan demikian hingga kiamat datang“. [HR Muslim].
Hanya saja, At-Thaifah Al-Manshurah di akhir zaman jauh lebih berat dari ujian generasi pertama sahabat.
Yang dihadapi oleh Thaifah Manshurah bukan hanya musuh dari kalangan kaum kuffar dan musyrikin, namun juga dari kelompok kaum muslimin yang berkhianat, munafik penjilat, dan konspirasi global musuh Islam yang memiliki kekuatan senjata dan media; dua kekuatan raksasa yang membuat umat Islam terjepit fisik dan mentalnya. [Baca juga: Akhir Zaman yang Dipenuhi dengan Berbagai Cobaan]
Maka selayaknya kita tanyakan pada diri, sudahkah kita menempatkan diri di antara yang sedikit ini?*
Santri di Hidayatullah Yogyakarta      
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

18 Januari 2016

Meraih Derajat Tinggi dengan Akal Pikiran (1)

Melalui akal, seseorang akan dapat mengetahui tanda-tanda keagungan dan keesaan Allah, serta mukjizat para rasul-Nya.
SESEORANG yang menggunakan akal pikirannya dengan baik, maka dia akan dapat mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbagai hal yang terkait dengan nama serta sifat-sifat-Nya yang agung. Melalui akal, seseorang dapat beriman pada sejumlah kitab, rasul, dan malaikat-Nya, serta hari akhir.
Selain itu, melalui akal, seseorang akan dapat mengetahui tanda-tanda keagungan dan keesaan Allah, serta mukjizat para rasul-Nya. Dan berkat akal pula, seseorang dapat menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Akal pikiran inilah yang selalu menilai segala risiko buruk sehingga ia terus mewaspadainya; yang berupaya menjalankan segala hal yang sesuai dengan kemaslahatan, yang menentang keinginan hawa nafsu sehingga mampu mengalahkan bala tentaranya dengan penuh kehinaan. Selain itu, akal pula yang membantu kesabaran hingga berhasil mengalahkan hawa nafsu, setelah sebelumnya ia nyaris terpukul dengan anak panah hawa nafsu.
Akal pikiran senantiasa menganjurkan untuk meraih segala kemuliaan, menghindari segala kehinaan, menyingkap segala tabir makna kebaikan yang tersembunyi, dan mengukuhkan ketekadan sehingga ia berdiri tegak di bawah kendalinya. Akal pula yang menopang ketetapan hati hingga ia berhasil meraih taufik dari Allah, memperoleh kebaikan, dan menyingkirkan kejelekan.
Apabila akal dan bala tentaranya turun dengan kekuatan penuh, maka ia akan menawan bala tentara hawa nafsu dan memasukkannya dalam jeruji penjara. Seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Dia akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Bila akal dimanfaatkan secara baik, maka ia akan membawa pemiliknya beranjak menuju derajat para raja yang mampu mengendalikan hambanya, dalam hal ini hawa nafsunya.
Hawa nafsu laksana pohon. Akarnya adalah pikiran segala risiko buruk yang bisa terjadi. Batangnya adalah kesabaran. Rantingnya adalah ilmu pengetahuan. Daunnya adalah budi pekerti yang luhur. Buahnya adalah hikmah. Seharusnya, bermula dan berakhirnya hawa nafsu adalah oleh akal pikiran. Jika memang seperti ini, maka sangat tidak pantas kalau musuh akal berhasil menaklukkan dan menguasainya, sehingga musuhnya itu menyingkirkannya dari daerah kekuasaannya; menurunkan derajatnya yang mulia dan melengserkan kedudukannya.
Seandainya itu terjadi, maka akal akan menjadi tawanan setelah sebelumnya sebagai pemimpin. Menjadi terdakwa setelah sebelumnya sebagai hakim, dan menjadi pengikut setelah sebelumnya sebagai yang diikuti.
Seseorang yang bersabar berdasarkan kebijakan akal, niscaya dia akan meraih kenikmatan dan kesenangan. Sebaliknya, seseorang yang berpaling dari kebijakannya, niscaya dia akan terjerumus menuju jurang kebinasaan dan kehinaan.
`Ali bin Abu Thalib mengungkapkan, “Banyak sekali kaum yang masuk ke dalam surga, padahal mereka bukan termasuk golongan yang sering salat, puasa, haji, ataupun umrah. Namun, mereka itu senantiasa menggunakan akal pikiran mereka guna memikirkan pesan dan nasihat Allah sehingga hati mereka bergetar, jiwa mereka merasa tenang, dan anggota badan mereka tunduk mematuhi. Dengan cara ini, mereka menjadi kelompok yang mulia. Bahkan, mereka memperoleh derajat tertinggi di tengah-tengah manusia saat di dunia dan di sisi Allah saat di akhirat kelak.”
‘Umar bin Khaththab mengatakan, “Orang yang berakal bukanlah orang yang hanya mengetahui yang baik dan yang buruk, tetapi orang yang mengetahui yang terbaik di antara dua hal yang buruk.”
‘Aisvah mengatakan, “Sungguh beruntung orang yang dianugerahi akal pikiran oleh Allah.”
Abdullah bin `Abbas mengatakan, “Ketika Raja Kisra (Raja Persia) dikaruniai anak, dia menghadirkan seorang ulama dan meletakkan sang bayi di hadapan mereka. Kemudian, Sang Raja bertanya, ‘Apakah perangkat paling berharga yang dimiliki bayi ini?’ Ulama itu menjawab, ‘Akal yang dianugerahkan sejak dia lahir.’
‘Kalau itu tidak ada?’ tanya Sang Raja melanjutkan.
‘Budi pekerti luhur saat dia hidup di dunia.’
‘Kalau itu tidak ada?’
`Malapetakalah yang akan menghantamnya,’ jawab ulama itu dengan tegas.”
Sejumlah ulama pernah mengungkapkan, “Ketika Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, Malaikat Jibril pun menghampirinya dengan membawa tiga perkara: agama, budi pekerti, dan akal pikiran. Malaikat Jibril kemudian berkata, `Allah swt menyuruhmu untuk memilih di antara ketiga perkara ini.’
Nabi Adam lantas berkata, ‘Jibril, saya tidak melihat sesuatu yang lebih baik daripada semua itu selain yang ada di surga.’ Lalu dia menjulurkan tangannya pada akal dan merengkuhnya ke dalam dirinya.
Malaikat Jibril kemudian berkata kepada agama dan budi pekerti, ‘Naiklah kamu berdua ke langit.’ Keduanya pun berkata, ‘Kami diperintahkan untuk senantiasa bersama akal kapan pun dan di mana pun ia berada.’ Akhirnya, ketiga perkara ini dianugerahkan kepada Adam.”
Ketiga perkara ini merupakan anugerah terbesar dan teragung yang telah Allah berikan kepada sejumlah hamba-Nya. Di samping itu, Allah juga menciptakan tiga perkara lain yang akan menjadi musuh bebuyutannya: hawa nafsu, setan, dan jiwa buruk. Peperangan dan perseteruan di antara kedua kubu ini senantiasa bergolak. Allah berfirman,
Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar hatimu merasa tenteram karenanya. Kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Ali `Imran: 126).*/Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, dari bukunya Bercinta dengan Allah. [Tulisan selanjutnya

16 Januari 2016

Soal Gafatar, Gus Sholah Ingatkan Masyarakat Lebih Kuatkan Pemahaman Agama

KH. Salahudin Wahid, atau yang akrab disapa Gus Sholah
Hidayatullah.com – KH. Salahudin Wahid, atau yang akrab disapa Gus Sholah mengaku tidak mengerti dengan fenomena banyaknya masyarakat yang bergabung Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).
“Itu saya juga gak tahu, bagaimana seorang dokter kok bisa seperti dicuci otaknya,” kata Gus Sholah kepadahidayatullah.com sesuai menjadi pembicara pada acara launching buku Dr. Adian Husaini berjudul ‘Mewujudkan Indonesia Adil dan beradab’ di Hotel Sahid Surabaya,  belum lama ini.
“Katanya itu ada upacara, dan orang disuruh minum apa gitu ya, mungkin disitulah dicuci otaknya,” lanjut pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang ini.
Hal itu, menurut Gus Sholah, karena melihat salah satu korban Gafatar, dr. Rika yang seperti orang bingung saat ditemukan oleh pihak keamanan lewat siaran televisi.
“Kok dokter Rika seperti orang kehilangan apa gitu, kayak orang linglung,” ungkapnya.
Atas fenomena itu, Gus Sholah menghimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati dengan ajakan yang tidak jelas, serta meningkatkan pemahaman agama.
“Hati-hati, jangan mau diajak yang tidak-tidak. Dan lebih menguatkan pemahaman agama,” pungkasnya.*
Rep: Yahya G Nasrullah
Editor: Cholis Akbar

14 Januari 2016

Keajaiban Wudhu, Mencegah Kanker Kulit [1]

Penelian: Rajin berwudhu mencegah kanker kulit
Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Quran itu) adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya,(An-Najm, ayat 3-4).

Empat belas abad yang lalu, Nabi kita(shalawat serta salam baginya) memberi kita tatacara dari 26 gerakan wudhu yang harus dilakukan selama 5 kali dalam sehari, yang berjumlah 13 gerakan wudhu harian, untuk memberikan kita kesehatan yang optimal.
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu hingga siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, agar kamu bersyukur. (Al-Ma’idah, ayat 6)
Sebelum seorang Muslim melakukan shalat, dia harus melakukan gerakan wudhu seperti yang disebutkan dalam ayat diatas, yang oleh Nabi telah  tunjukkan kepada kita.
Begitulah, wudhu tediri dari membersihkan tangan, pergelangan tangan hingga siku, wajah, mulut, lubang hidung, dan kaki hingga ke mata kaki, semuanya dilakukan tiga kali. Bagian dalam dan bagian luar kedua telinga, serta bagian kepala dari atas dahi hingga rambut hanya dibasuh sekali. Dilakukan lima kali sehari, wudhu tidak hanya membersihkan bagian yang vital dari debu dan kotoran tetapi juga “menghaluskan” dan menyegarkan bagian tersebut. [Health and Fitness In Islam, Halal.com]
Yang cukup menarik, Nabi juga menganjurkan untuk berwudhu sebelum tidur. Sunnah ini juga pernah dianjurkan oleh pakar Yoga yang mengatakan bahwa membersihkan bagian penggerak penting dan organ pancaindera seperti tangan, lengan, mata, kaki, mulut dan alat kelamin sebelum tidur menggunakan air dingin yang dapat  melemaskan tubuh  agar dapat tidur lebih nyenyak. [Avadhuta, Vedprajinananda, Yoga Health Secrets]
Merangsang ritme Biologis
Dalam sebuah artikel yang berjudul Muslims Rituals and their Effect on the Person Health, Dr. Magomed Magomedov, asisten departemen dari Man’s General Hygiene and Ecology di Akademi Medis Negeri Daghestan, mengatakan bagaimana berwudhu merangsang ritme biologis dari tubuh dan secara spesifik Biological Active Spots(BASes), sangat mirip dengan ide di belakang terapi refleksi China. Saat ini kita tahu bahwa tubuh seorang laki-laki adalah sebuah sistem kompleks medan elektromagnetik, irama biologis, dan meridian.
Organ dalam laki-laki , pada gilirannya, menampilkan tidak kurang sebuah keseluruhan bioenergi yang canggih; organ-organ itu memiliki hubungan multi-channel bilateral yang tidak dipecahkan dengan kulit, yang memuat tempat khusus, yang fungsinya mirip denga tombol untuk mengontrol dan papan isi ulang yang bertanggung jawab pada organ tertentu. Wilayah-wilayah ini di sebut biologically active spot (BASes). [Magomedov, Magomed, Muslim Rituals  their effect on the person health]
Selain menunjuk beberapa kesamaan antara wudhu dan pengetahuan terapi refleksi China di dalam artikel nya yang menarik, Dr. Magomedov juga menyatakan beberapa poin penting utama. Untuk menjadi seorang ahli dalam ilmu refleksi (reflexology), kata dia, seseorang harus mengambil 15 hingga 20 tahun studi, dapat ditandingi dengan teknik sederhana dalam berwudhu.
Pada perbandingan lain reflexotherapy utamanya digunakan untuk megobati penyakit dan jarang sekali digunakan sebagai pencegahan, selama, yang kita akan lihat, berwudhu memilik banyak manfaat pencegahan. Dalam reflextherapy terdapat sisi negatifnya, kata dia, sedang berwudhu tidak.
Mayoritas BASes yang paling kuat dibersihkan selama ritual ibadah Muslim. Bukanlah dokter, yang telah belajar bertahun-tahun, yang melakukan itu, tetapi setiap Muslim bagi dirinya sendiri. Disamping itu, shalat lima waktu sehari memberi kewajiban kepada setiap Muslim untuk mengambil tindakan pencegahan terhadap penyakit terlebih dahulu. [Dr. Magomed Magomedov, Muslim Rituals  their effect on the person health]
Menurut Dr. Magomedov, pengobatan China mengatakan bahwa terdapat lebih dari 700BASes, dan enam puluh enam diantaranya memiliki reflek efek terapi yang cepat dan dinamakan dengan titik  drastis (atau agresi atau antic atau elemen utama).
Dari enam puluh enam titik, enam puluh satu titik diantaranya berada di zona yang diharuskan dalam berwudhu dan lima lainya berada di antara mata kaki dan kaki.
Demikianlah, wudhu menjadi semacam perawatan komplek, yang di dalamnya termasuk pemijatan dengan air pada BAS, titik panas, dan stimulasi fisik. [Dr. Magomed Magomedov dalam Muslim Rituals  their effect on the person health]
BAS yang berada di wajah (yang dibasuh selama wudhu) mengisi kembali organ-organ seperti usus, perut, dan kambung kemih, disamping itu juga memilik efek positif pada sistem syaraf dan reproduksi, demikian kata Dr. Magomedov dalam penemuannya. Dia menambahkan BAS bertanggung jawa pada sistem yang berhubungan dengan tulang, usus, sistem syaraf, daerah pinggang, perut, pancreas, kantong empedu, kelenjar tiroid, ulu hati dan lainnya yang terletak di bagian kanan kaki, wilayah lain yang dijangkau oleh wudhu.
Sedangkan kaki kanan bertanggungjawab dalam kerja kelenjar di bawah otak, organ otak yang mengatur fungsi kelenjar endokrin dan mengontrol pertumbuhan. Di dalam koklea telinga terdapat ratusan BASes yang berselarah dengan hampir semua kerja organ, mengurangi tekanan darah dan meringankan penyakit di tenggorokan dan gigi. Sebagaimana diketahui, membersihkan telinga dalam wudhu termasuk bagian dari sunnah.*/artikel diambil dari tulisan Lamya Tawfik berjudul asli The Preventive and Healing Wonders of Ablution. Pernah dimuat islamonline tahun 2004, diterjemahkan Nashirul Har AR (BERSAMBUNG)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

18 Juni 2015

Puasa Sebelum Nabi Muhammad Diutus Allah (2)

ilustrasi
DALAM pandangan Islam, Ramadhan diambil dari kata Ramadha yang berarti `panas terik di musim panas yang menyebabkan panasnya kerongkongan karena kehausan’. Arti tersebut memberikan kejelasan tentang musim yang terjadi pada bulan itu. Bangsa Arab kuno terbiasa memisahkan antara tahun qamariyah dan tahun syamsiah dengan mengambil patokan pada bulan yang telah terlewatkan.
Inilah arti puasa menurut aspek bahasa dan sastra Arab yang berhubungan erat maknanya dengan aspek hukum Islam. Puasa secara syar’i berarti ‘menahan diri dari hal yang membatalkan’, yaitu makan, minum, dan lainnya, yang dibarengi dengan niat sejak terbitnya fajar, hingga matahari terbenam. Kesempurnaan dan kelengkapan ibadah puasa itu adalah dengan menghindari segala larangan dan tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang haram.
Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang keji dan perbuatannya, maka Allah tidak memiliki keperluan untuk meninggalkan makan dan minumnya.”
Sebelum bangsa Arab kuno mengenal puasa, ada bangsa sebelumnya yang telah mengenal puasa. Hal itu telah dilakukan oleh masyarakat Mesir kuno yang diikuti oleh bangsa Yunani dan Romawi. Tradisi puasa pun telah dikenal oleh agama lain selain agama samawi, seperti ajaran minyawi, Hindu, dan Budha.
Puasa juga diakui oleh Yahudi dan Kristen. Dalam kitab perjanjian lama dijelaskan banyak peristiwa puasa yang dilakukan oleh para nabi, seperti Nabi Yehezkiel, Daniel, dan Daud.
Dalam kitab Taurat bagian kedua, berbunyi, “Aku memanggil, di sana untuk berpuasa di sungai Ahwa, agar kami dapat merendah di hadapan Tuhan kami, untuk meminta jalan yang lurus kepadanya untuk kita, anak-anak, dan setiap harta kita.”
Dalam Al-Kitab dikatakan, `Adakanlah puasa yang kudus.. ..” (Perjanjian Lama, Yoel:1:14)
Pada bagian kedua dikatakan, “Tetapi sekarang juga,’Demikianlah firman Tuhan, ‘Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis, dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Adakanlah puasa yang kudus maklumkanlah perkumpulan raya, kumpulkan bangsa ini, kuduskanlah jemaah…: ” (Perjanjian Lama: Yoel: 2: 12-16)
Dalam Al-Kitab surat keluaran dikatakan, “Ditetapkan bahwa Musa berada pada Tuhannya selama empat puluh hari empat puluh malam, tanpa memakan roti dan tidak meminum seteguk air.”
Di dalam Al-Kitab surat raja-raja dikatakan, “Bahwa Nabi Elia berjalan dengan tergopoh, tanpa makan selama empat puluh hari empat puluh malam ke sebuah gunung, yang disebut Horeb.”
Di dalam Al-Kitab surat Zakaria dikatakan, “Beginilah firman Tuhan semesta alam kepadaku, ‘Waktu puasa dalam bulan keempat, dalam bulan yang kelima, dalam bulan yang ketujuh, dan dalam bulan yang kesepuluh akan menjadi kegirangan dan suka cita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai!” (Perjanjian lama: Surat Zakharia: 8:19)
Dalam surat Matius dikatakan, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu, dan cucilah mukamu. Supaya jangan dilihat oleh orang, bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.'” (Perjanjian baru: Mathius: 6:16-18)
Dalam bagian ketujuh belas surat Matius dikatakan, “Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, ‘Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?’ Ia berkata kepada mereka, ‘Karena kamu kurang percaya. Sebab aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya sekiranya kamu mernpunyai iman sebesar biji sawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung itu akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. Jenis itu tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.”‘
Dalam Injil Matius dikatakan bahwa Nabi Isa berpuasa selama empat puluh hari di daratan. Dan para hawariyyun (murid-murid Isa) berpuasa dari daging, ikan, telur, dan susu.
Dalam surat Paulus kedua kepada jemaat di Kornitus, dia berkata, “Sebaliknya, dalam segala hal kamu menunjukkan bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan, dan kesukaran. Dalam menanggung dera, dalam penjara, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa….” (Perjanjian Baru, surat Paulus kepada jemaat di Kornitus: 6:4-5)
Inilah gambaran berbagai bentuk puasa yang telah diwajibkan kepada umat terdahulu. Di antara mereka ada yang hanya berpuasa dari makanan tertentu, ada yang berpuasa dari makan dan minum selama beberapa jam, ada yang berpuasa dari terbitnya bintang hingga terbit kembali di hari berikutnya, ada juga yang berpuasa dari berbicara selain bertasbih dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.*
Dari tulisan Samih Kariyyam dalam buku Indahnya Ramadhan Rasulullah.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

12 Juni 2015

‘Islamisasi’ dan ‘Arabisasi’ Nama di Jawa

Fakta banyak orang Jawa menamai anaknya dengan nama Arab menunjukkan Islamisasi dan Arabisasi memang berjalin berkelindan satu sama lain, mustahil dipisah

 
Fakta banyak orang Jawa menamai anaknya dengan nama Arab menunjukkan Islamisasi dan Arabisasi memang berjalin berkelindan satu sama lain, mustahil dipisah
Oleh: Adif Fahrizal
HARI Jum’at 29 Mei 2015 lalu, bertempat di Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, berlangsung sebuah diskusi yang mengambil tema “Islamization in Java. Contemporary Etnographic and Quantitative Data on Arabic Names”.
Diskusi ini diawali dengan presentasi hasil penelitian kuantitatif oleh Joel C. Kuipers antropolog asal Universitas George Washington Amerika Serikat. Dalam presentasi ini Kuipers memaparkan hasil penelitian yang dilakukannya selama 10 tahun tentang nama-nama berbahasa Arab di kalangan masyarakat Jawa. Dari penelitiannya ini banyak fakta menarik yang berhasil digali.
Nama sebagai Penanda
Penelitian mengenai nama ini dilakukan dalam rangka memahami proses Islamisasi yang berlangsung di tengah masyarakat Jawa selama satu abad terakhir. Mengapa nama menjadi obyek penelitian? Dan apa kaitan antara nama berbahasa Arab dengan Islamisasi?
Tidak banyak orang yang menyadari bahwa perubahan atau pergeseran dalam hal pemberian nama sesungguhnya bisa mencerminkan perubahan yang terjadi dalam sebuah masyarakat. Dalam kaitannya dengan Islamisasi, diasumsikan bahwa semakin meningkatnya pengaruh Islam di tengah masyarakat Jawa bisa dilihat dari semakin banyaknya orang yang menggunakan nama-nama Arab.
Mengapa demikian? Dalam konteks kehidupan masyarakat Muslim di Jawa bahasa Arab erat kaitannya dengan aktivitas ibadah, bahasa Arab juga merupakan bahasa Al Qur`an. Dengan demikian menyandang nama yang diambil dari bahasa Arab identik dengan -setidaknya harapan- menjadi Muslim yang taat.
Nama-nama Arab di Tiga Daerah Jawa
Untuk mengeksplorasi penggunaan nama Arab di Jawa, Kuipers dibantu asistennya yang terdiri dari para peneliti lokal mengumpulkan data nama yang tercatat dalam database kependudukan di tiga daerah di Jawa yaitu Kabupaten Bantul (DI Yogyakarta), Lamongan, dan Lumajang (keduanya di Jawa Timur). Ketiga daerah itu dipilih sebagai sampel untuk mewakili tiga area kebudayaan Jawa yaitu Mataraman (Bantul), Pasisiran (Lamongan), dan Brang Wetan (Lumajang).
Kuipers beserta timnya mengumpulkan data nama yang tercatat dalam kurun waktu satu abad lebih yaitu dari tahun 1900-2010. Tim Kuipers lalu mengklasifikasikan nama-nama yang diperoleh ke dalam enam kategori yaitu nama Jawa murni, nama Arab murni, nama Barat murni, nama Jawa campuran, nama Arab campuran, dan nama Barat campuran.
Berdasarkan data-data yang telah diklasifikasikan tersebut dapat dianalisis bagaimana pergeseran yang terjadi dalam pola pemberian nama di kalangan masyarakat di ketiga daerah itu selama satu abad terakhir.
Hasilnya, Kuipers menemukan fenomena yang sama di ketiga daerah yang diteliti yaitu semakin berkurangnya penggunaan nama-nama Jawa murni dan meningkatnya penggunaan nama-nama Arab -baik nama Arab murni maupun campuran- dari masa ke masa.
Di Bantul yang mewakili daerah Mataraman ditemukan bahwa sampai dekade 1980-an nama-nama Jawa murni masih mendominasi, sebaliknya nama-nama Arab murni hanya sedikit jumlahnya. Namun memasuki dekade 1980-an sampai 2000-an nama-nama Arab murni semakin banyak ditemukan sementara nama-nama Arab campuran -dengan nama Jawa, Barat, atau keduanya- perlahan-lahan menjadi nama yang paling banyak ditemukan pada periode tersebut. Sementara itu di Lamongan dan Lumajang nama-nama Arab -murni dan campuran- sudah banyak ditemukan sejak awal abad lalu, melebihi nama-nama Jawa murni.
Memasuki dasawarsa 1990-an-2000-an nama-nama Arab semakin jamak ditemukan di kedua daerah ini sedangkan nama-nama Jawa murni hanya tinggal sedikit sekali. Satu hal yang menarik bahwa di ketiga daerah yang diteliti nama-nama khas Jawa dengan awalan “Su-” (seperti Sumarno, Sunarto (untuk laki-laki) atau Sumarni dan Sunarti (untuk perempuan)) sudah hilang sama sekali pada dekade 2000-an. Padahal di Bantul pada dasawarsa 1950-an-1970-an nama-nama berawalan “Su-” sangat jamak ditemukan bahkan boleh dibilang menjadi nama yang dominan. Sebaliknya nama “Muhammad” semakin lazim dijumpai di ketiga daerah itu pada dekade 1980-an-2000-an.
Temuan lain dari penelitian ini adalah adanya kecenderungan standarisasi nama yang digunakan. Nama “Muhammad” misalnya, pada dasawarsa 1980-an-1990-an makin banyak ditulis dengan ejaan “Muhammad” sementara pada periode-periode sebelumnya ada sejumlah variasi dari nama “Muhammad” antara lain “Mohammad”, “Mochammad”, “Mohamad”, “Mochamad”, “Mochamat”, atau disingkat “Moch.”, “Moh.”, dan “Much.”.
Demikian pula dengan nama “Aisyah”, pada akhir abad ke-20 dan awal abad ini semakin banyak ditulis dengan “Aisyah” atau bahkan “A’isyah” sementara makin mundur ke belakang penulisan nama “Aisyah” lebih bervariasi antara lain “Aisah”, “Ngaisah”, atau bahkan tertukar dengan “Asiyah”.
Di sisi lain ada pula kecenderungan meningkatnya hibridisasi nama Arab, yaitu pencampuran nama Arab dengan nama Jawa atau -dalam kuantitas yang lebih rendah- Barat atau campuran ketiganya (Arab, Jawa, dan Barat) di ketiga daerah dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir. Perlu pula dicatat bahwa sepanjang periode yang diteliti nama-nama Barat di tiga daerah tersebut selalu sangat jarang ditemukan.* (Bersambung)
Penulis adalah mahasiswa S2 Sejarah Universitas Gajah Mada
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

11 Juni 2015

Pemimpin Penipu, Pemimpin Penganiaya (3)

Orang-orang yang adil akan berada di atas mimbar dari cahaya, yaitu mereka yang berlaku adil dalam menghukum, dalam keluarga, dan dalam apa yang mereka pimpin.

.
ilustrasi
DALAM sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, perintahkanlah kebajikan dan cegahlah kemungkaran sebelum kamu memohon kepada Allah. Sebab jika tidak, Allah tidak akan mengabulkan permohonanmu itu. Juga sebelum kamu minta ampun kepada Allah. Sebab jika tidak, Allah tidak akan mengampunimu. Sesungguhnya setelah para pendeta Yahudi dan Nasrani meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, maka Allah melaknat mereka melalui lisan para nabi yang datang kepada mereka, kemudian Allah meratakan bencana ke atas mereka.” (Diriwayatkan Ath-Thabrani dari Ibnu Umar)
Sabda Nabi SAW:
“Barangsiapa tidak mengasihi tidak akan dikasihi.” (Diriwayatkan Ahmad dan Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)
Juga,
“Allah tidak akan mengasihi orang yang tidak mengasihi manusia.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Al-Humaidi, dari Jarir)
Sabda Nabi SAW, “Pemimpin yang adil itu akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ahmad, dan Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah)
Juga, “Orang-orang yang adil akan berada di atas mimbar dari cahaya, yaitu mereka yang berlaku adil dalam menghukum, dalam keluarga, dan dalam apa yang mereka pimpin.” (Diriwayatkan Al-Humaidi, Ahmad, Muslim, dan An-Nasa’i)
Ketika Rasulullah SAW mengutus Mu’adz ra ke Yaman, beliau bersabda, “Hati-hatilah kamu terhadap harta pilihan mereka, dan takutlah pwda doa orang yang teraniaya, sebab antara doa itu dengan Allah tidak ada tabir penghalang” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad, dari Ibnu Abbas)
Beliau bersabda, “Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat.” Lalu beliau menyebutkan salah satunya raja yang pendusta. (Diriwayatkan Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah)
Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya kalian akan sangat menginginkan kepemimpinan, padahal itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat kelak.” (Diriwayatkan Ahmad, Al-Bukhari, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, dan Al-Baghawi, dari Abu Hurairah)
Juga, “Ada pun kami, demi Allah, kami tidak akan menyerahkan amal ini kepada orang yang memintanya atau orang yang tamak terhadapnya.” (Diriwayatkan Ahmad, Al-Bukhari, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, dan Al-Baghawi, dari Abu Musa Al-Asy’ari)
Kepada Abu Dzar r.a Umar r.a pernah berkata, “Sampaikan kepadaku sebuah hadits yang Anda dengar dari Rasulullah!” Abu Dzar berkata, “‘Pada hari kiamat akan didatangkan seorang pemimpin, kemudian dibiarkan berjalan di atas jembatan Jahannam. Kemudian jembatan itu bergoncang dengan sangat keras, sehingga persendiannya lepas dari tempatnya. Jika ia seorang yang taat kepada Allah, maka ia dapat melaluinya dengan selamat; namun jika ia seorang yang durhaka kepada Allah maka jembatan itu menjadi terputus dan ia pun jatuh ke dalam Jahannam, melayang-layang di atasnya selama lima puluh tahun.” Umar bertanya, “Jika demikian, siapa yang mau mencari pekerjaan itu, wahai Abu Dzar?” Abu Dzar menjawab, “Orang yang hidungnya dipotong oleh Allah dan pipinya Dia tempelkan ke tanah (orang yang benar-benar celaka).” (Diriwayatkan Ab Dunya dari Abu Hurairah)
Amru bin Muhajir berkata, “Umar bin Abdul Aziz pernah berpesan kepadaku, ‘Jika engkau melihatku telah menyeleweng dari jalan yang benar, maka letakkanlah tanganmu di tengkukku lalu katakan, ‘Hei Umar, apa yang kamu kerjakan?’”*
Dipetik dari tulisan Imam Adz-Dzahabi dari buku Dosa-dosa Besar.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

10 Juni 2015

Pemimpin Penipu, Pemimpin Penganiaya (2)

RASULULLAH SAW juga bersabda:
“Tidak ada seorang hakim pun yang memutuskan perkara di antara manusia kecuali pada hari kiamat kelak ia akan ditahan, sedangkan satu malaikat memegang tengkuknya. Jika dikatakan, ‘lemparkan ia!” maka malaikat itu melemparkannya ke dalam neraka Jahannam sejauh empat puluh tahun (perjalanan). ” (Diriwayatkan Ahmad dan Al-Baihaqi dari Ibnu Mas’ud)
Sabda beliau SAW, “Celakalah para pemimpin! Celakalah para pegawai! Celakalah para penjaga! Sungguh, pada hari kiamat nanti ada kaum yang berangan-angan lebih baik rambut pada ubun-ubun mereka digantungkan pada bintang timur lalu disiksa meski tanpa suatu dosa.” (Diriwayatkan Ahmad, Ath-Thayalisi, Ath-Thabrani, dan Abu Ya’la, Al-Baghawi, dan Al-Hakim, dari Abu Hurairah)
Sabda Nabi SAW, “Pada hari kiamat kelak akan datang suatu saat di mana seorang hakim yang adil (karena beratnya hisab yang diterimanya) ia berangan andai ia tidak memutuskan perkara antara dua orang walau dalam kasus sebiji kurma sekalipun.” (Al-Baihaqi, Ahmad, Ath-Thabrani, dari Abu Hurairah)
Sabda Nabi SAW, “Tidak ada seorang pun yang memimpin sepuluh orang kecuali ia akan didatangkan pada hari kiamat kelak dalam keadaan tangan terbelenggu; entah keadilannya yang akan membebaskannya ataukah kezalimannya yang akan mencampakkannya (ke neraka).” (Diriwayatkan Ath-Thayalisi, Ahmad, Ibnu Abi Dunya, Al-Baihaqi, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, Ath-Thabrani, dari Aisyah ra)
Di antara doa-doa Rasulullah SAW:
‘Ya Allah, barangsiapa yang mengurus urusan umatku ini lalu ia mengasihi mereka, maka kasihilah ia, dan siapa yang menyusahkan mereka maka susahkanlah mereka.” (Diriwayatkan Ahmad, Muslim, Ibnu Hibban, dan Al-Baghawi dari Aisyah)
Pada hari kiamat kelak akan datang suatu saat di mana seorang hakim yang adil (karena beratnya hisab yang diterimanya) ia berangan andai ia tidak memutuskan perkara antara dua orang walau dalam kasus sebiji kurma
ilustrasi
Rasulullah SAW bersabda:
‘Barangsiapa dikuasakan oleh Allah SWT untuk mengurus sesuatu dari urusan kaum muslimin, lalu dia tidak mau tahu tentang kebutuhan, kemiskinan dan kefakiran mereka, maka Allah pun tidak akan mau tahu tentang kebutuhan, kemiskinan dan kefakirannya.” (Diriwayatkan Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dari Amr bin Murrah)
Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang suatu masa di mana para pemimpin pada saat itu fasik dan sewenang-wenang. Barangsiapa membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka dalam berbuat zalim maka ia tidak termasuk golonganku, dan aku bukan golongannya. Ia juga tidak akan sampai ke telagaku.” (Diriwayatkan Ahmad, Al-Bazzar, dan Ath-Thabrani)
Beliau SAW juga bersabda, “Dua golongan dari ummatku tidak akan memperoleh syafaatku; pemimpin yang zalim lagi penipu dan orang yang berlebih-lebihan (ghuluw) dalam urusan dien, sedangkan dien menjadi saksi atas mereka serta berlepas diri dari mereka.” (Diriwayatkan Ath-Thabrani dari Abu Umamah)
Sabda beliau SAW ,”Manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah penguasa yang sewenang-wenang.” (Diriwayatkan Abu Ya’la, Ath-Thabrani, Abu Nu’aim, dari Abu Sa’id)* [Tulisan selanjutnya]
Dipetik dari tulisan Imam Adz-Dzahabi dari buku Dosa-dosa Besar.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

9 Juni 2015

Pemimpin Penipu, Pemimpin Penganiaya (1)

Kata Rasulullah SAW, "Barangsiapa menipu kita, maka ia bukan termasuk golongan kita."
ilustrasi
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Asy-Syura: 42)
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.” (Ibrahim: 42-43)
“…Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (Asy- Syu’ara': 227)
Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (al-Maidah: 79)
Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa menipu kita, maka ia bukan termasuk golongan kita.” (Diriwayatkan Ahmad, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah)
Sabdanya:
“Kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)
Sabdanya:
“Masing-masing kalian adalah pemimpin. Masing-masing kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ahmad, dari Ibnu Umar)
Sabdanya:
“Pemimpin mana saja yang menipu rakyatnya, maka tempatnya adalah neraka.” (Diriwayatkan Ahmad dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar)
Sabdanya:
“Barangsiapa diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian dia tidak mencurahkan kesetiaannya, niscaya Allah mengharamkan surga baginya.” (Hadits riwayat Bukhari)
Dalam riwayat lain berbunyi: “… lalu ia mati pada hari kematiannya itu ia dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkan surga baginya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, Ath-Thayalisi, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban, dan Ahmad, dari Ma’qil bin Yasar)* [Tulisan selanjutnya]
Dipetik dari tulisan Imam Adz-Dzahabi dari buku Dosa-dosa Besar.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !