Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!
Tampilkan postingan dengan label acara santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label acara santri. Tampilkan semua postingan

18 Agustus 2016

Kegiatan Santri Para Penghafal Al-Qur'an


kegiatan Santri Penghafal Al Qur'an di Rumah Tahfidz Gema Al Qur'an
Bagi anda yang mau mendukung dan turut berpartisipasi dalam membantu pengembangan program ini,
silakan salurkan zakat, infak dan shadaqah terbaik anda dengan cara:

1. Di ambil/jemput oleh petugas kami ke rumah Anda.
(Syukur: 089638134013).

2. Transfer via Rekening :
-Bank Muamalat Cab. Tambun
No. Rekening: 4960000701
A.n. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi.

-Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang
No. Rekening: 7052026851
A.n. Hidayatullah (Ketua Yayasan HICB).

- Bank BNI Capem Mutiara Gading
No. Rekening: 0431912428
A.n. Hidayatullah .

- Bank BRI Cab. Karang Satria
No. Rekening: 788801003356536
A.n. Hidayatullah


Konfirmasi transfer: Ust. Fahmi (0852-8180-4909 / 0898-2232-306)
.
3. Datang langsung ke KantorSekretariat Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi yang beralamat di:
1. Jl. Wali Songo, Perum Telaga Sakinah Blok CD 8/1, Cikarang Barat, Kab. Bekasi, JABAR.
2. Perum Cluster Alamanda blok W - 12 No. 23 Rt 004 / Rw 023 , Desa Karang Satria, Kec. Tambun Utara, Bekasi - JABAR.

Semoga apa yang diberikan bpk/ibu/sdr menjadi shadaqah jariyah dan pemberat amal kebaikan. Aaamiin ya Robbal 'alamiin.
InsyaAllah kami akan menyalurkannya sesuai dengan amanah Anda.
Jazakallahu khoiron jaza'.


29 Maret 2015

Pilih Dada Sempit atau Dada Lapang?

Jika ingin dadamu lapang dan hatimu bersih kamu harus selalu dekat kepada pemiliknya yang mengusainya
SUATU hari ada seorang ustaz didatangi seorang murid yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu sang murid langsung menceritakan semua masalahnya.
Sang ustaz hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam garam dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya,” kata Sang Ustaz.
“Asin, asin sekali,“ jawab murid itu sambil meludah ke samping.
Ustaz itu tersenyum, lalu mengajak muridnya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu.
Sesampai di sana, Sang Ustaz itu kembali menaburkan garam ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah,” Kata Sang Ustaz.
Saat si murid mereguk air itu, ustaz kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar“, sahut si murid.
“Apakah kamu merasakan asin di dalam air itu ?” tanya Ustaz.
“Tidak, ” sahut murid itu.
Ustaz tersenyum sambil berkata:
“Wahai muridku, dengarkan baik-baik. Problem dalam kehidupan, adalah layaknya segenggam garam ini. Semuanya sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Bahagia dan sengsara itu mengikuti perasaan tempat kita meletakkannya. Dadamu harus lapang dan hatimu harus bersih jika kamu ingin hidup damai dan bahagia dalam kondisi apapun.”
Ustaz itu lalu kembali menasehatkan: “Dada dan hatimu adalah wadah itu, tempat kamu menampung segalanya. Jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap permasalahan dalam kehidupan ini, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”
Sang Ustaz menutup nasehatnya seraya berkata:
“Wahai muridku, jika ingin dadamu lapang dan hatimu bersih kamu harus selalu dekat kepada pemiliknya yang mengusainya, dengan cara selalu taat dan patuh kepadaNya. Dia adalah Robbmu, penciptamu, pemilikmu dan pengatur semua tentang dirimu. Bacalah kitabNya, Al-Qur’an dan hiduplah sesuai dengan petunjukNya. Semoga engkau selamat, sukses dan bahagia wahai muridku, barokallah fiik“.
Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
“Ini (Al-Qur’an) adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [QS: Shood [38]: 29]
Berkata sebagian ahli tafsir:
“Kami menyibukkan diri kami dengan membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an maka kamipun diliputi oleh keberkahan dan berbagai kebaikan.”*
Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

9 Februari 2015

Menjaga Al Qur`an Seperti Menjaga Onta


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنِّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عاهَدَهاَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَ  إِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ -البخاري
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Sesungguhnya perumpamaan shahib Al Qur`an seperti pemilik onta yang bertali kekang. Jika ia terus-menerus menjaganya (tali) atasnya (onta) ia menahannya dan jika ia melepasnya (tali) maka ia (onta) pergi”. (Riwayat Al Bukhari)
Shahib Al Qur`an adalah siapa yang biasa membacanya, baik dengan melihat maupun dengan hafalan. Dan hadits di atas mengumpamakan Al Qur`an dengan onta yang bertali kekang, sehingga selama yang bersangkutan terus-menerus membacanya maka ia akan terjaga sebagaimana jika onta dijaga dengan tali kekangnya.
Dalam hadits ini onta di jadikan perumpamaan, karena onta merupakan hewan yang paling mudah kabur. (lihat Faidh Al Qadir, 3/ 3)
Rep: Sholah Salim
Editor: Thoriq

1 Februari 2015

Tiga Langkah Menumbuhkan Kecintaan Anak Baca Al-Qur’an

Subhanallah, betapa indahnya keluarga yang ayah, ibu, dan anak-anaknya, seluruhnya memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an

Semua itu terjadi karena sebagian besar dari mereka, para remaja itu, tidak memiliki pedoman hidup islami, sehingga yang mereka pikirkan hanyalah trend dan kesenangan belaka.
Untuk itu, sangat penting bagi setiap keluarga Muslim untuk mencegah putra-putrinya, terutama yang sudah menginjak masa remaja dari segala macam dampak negatif pergaulan yang kini sangat terbuka dan massif.
Tentu banyak sekali cara atau alternatif yang bisa kita lakukan. Akan tetapi, dalam konteks keseharian, cara terbaik untuk remaja memiliki pedoman hidup islami, selfconfidence dalam segala kebaikan, menumbuhkan rasa cinta mereka dalam membaca Al-Qur’an merupakan cara yang paling strategis.
Selain akan membangun wawasan Qur’ani, frame berpikir islami mereka juga akan terbangun. Dan, yang paling menarik bagi para orangtua, setiap bacaan yang mereka lakukan, berimbas pahala kebaikan bagi kedua orangtua pada setiap hurufnya. Lebih jauh dari itu, remaja yang dekat dengan Al-Qur’an, peluang menjadi anak sholeh dan sholehah jauh lebih terbuka.
Oleh karena itu, menjadi tantangan yang menarik sebenarnya untuk para orangtua bersungguh-sungguh menumbuhkan rasa cinta anak-anaknya dalam membaca Al-Qur’an, sangat baik dari belia, mendesak saat remaja dan penting mendesak saat mereka dewasa.
Pertama, mengajak anak untuk mengerti keutamaan-keutamaan dari membaca Al-Qur’an. Allah Ta’ala tidak pernah memberikan perintah, melainkan telah disiapkan balasan kebaikan-kebaikan yang luar biasa, termasuk dalam hal membaca Al-Qur’an.
Rasulullah bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan  ‘Alif-Laam-Miim’ satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).
Kemudian, sabdanya, “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad).
Hadits kedua ini tepat untuk memotivasi anak memanfaatkan sebagian malamnya untuk membaca Al-Qur’an. “Setidaknya 100 ayat nak kamu baaca di waktu malam, insya allah kamu akan dapat pahala seperti orang sholat sepanjang malam,” begitu mungkin sekedar contoh dalam mendorong anak-anak kita mengamalkannya.
Dan, sampaikanlah keutamaan terbesar dari membaca Al-Qur’an ini kepada anak kita,“Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).
Kedua, bangun budaya membaca Al-Qur’an di dalam rumah sendiri. Orangtua tentu sangat ingin anak-anaknya gemar membaca Al-Qur’an. Tetapi sangat tidak pantas jika anak diharap cinta Al-Qur’an, sementara orangtua justru tidak berusaha memberi teladan.
Oleh karena itu, sejatinya tidak ada alasan untuk tidak bisa membangun budaya mulia ini. Mulai saja secara bersama-sama. Ayah, ibu, anak, semuanya membiasakan diri membaca Al-Qur’an bersama setiap lepas Maghrib sampai Isya’.
Lebih baik lagi, jika selepas Isya’ hingga terasa mengantuk. Hal ini akan sangat baik, mengingat jam-jam tersebut banyak sekali acara di televisi yang kurang tepat bagi tumbuh kembangnya iman dari anak-anak kita.
Mungkin, pada awal kali mencoba, membangun budaya ini terasa berat. Tetapi, semua bisa dilakukan dengan enjoy karena kebiasaan. Oleh karena itu, berat di awal jangan sampai menghalangi kita dari membudayakannya bersama anak-anak, di rumah kita sendiri.
Ketiga, mengambil pelajaran dari keluarga yang menghafal Al-Qur’an. Sekedar membaca mungkin akan menimbulkan kesan monoton. Untuk itu sangat penting orangtua mencari referensi keluarga penghafal Al-Qur’an.
Di negeri ini sudah mulai bermunculan keluarga-keluarga yang anak-anak dan orangtuanya penghafal Al-Qur’an. Selain itu juga sudah mulai cukup banyak pesantren tahfidz. Dengan demikian, langkah kita untuk mendapat pelajaran dari mereka yang telah membuktikannya, bukan lagi suatu yang sulit. Tinggal kemauan semata.
Jika memang ada referensi, jangan sungkan untuk bersilaturrahim dengan keluarga yang anak-anaknya hafal Al-Qur’an. Keluarga itu tentu memiliki pengalaman hidup yang sangat berguna bagi kita yang baru berupaya membangun budaya membaca Al-Qur’an bersama anak di rumah sendiri.
Kita bisa dialog dengan mereka, bagaimana perjuangannya menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an, sehingga anak-anaknya bisa hafal Al-Qur’an. Jika sudah dilakukan, kita bisa meminta bantuan doa kepadanya, agar kita dan anak-anak kita dimudahkan dalam menghafal Al-Qur’an.
Subhanallah, betapa indahnya keluarga yang ayah, ibu, dan anak-anaknya, seluruhnya memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an, sehingga senantiasa membacanya. Dan, tidak ada waktu yang dilalui, melainkan senantiasa ada ayat-ayat Al-Qur’an yang disenandungkan. Kemudian tidak berpikir, berbicara dan bertindak, kecuali sesuai tuntunan Al-Qur’an. Wallahu a’lam.*

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari: hidayatullah.com

28 Januari 2015

2 Ulama Zuhud Belajar dari 2 Anak Kecil Tentang Dunia

ABU MUSA ATH THURSUSI seorang ulama zuhud mengisahkan, bahwa suatu saat Fath Bin Said Al Maushili yang juga seorang ulama zuhud  mendapati dua anak kecil. Salah satu dari anak itu membawa roti yang dioles madu, sadangkan satunya membawa roti tanpa madu.
Saat itu, anak yang membawa roti tanpa madu berkata kepada anak yang membawa roti bermadu,”Beri aku makan dengan rotimu”.
Anak yang membawa roti madu itu pun menjawab,”Baik, aku akan memberimu makan, asalkan engkau jadi anjingku”.
Si anak kecil yang meminta roti madu pun menjawab,”Baik!” Lalu si pembawa roti madu memberinya roti lalu ia mengaitkan tali di mulut anak itu kemudian menariknya.
Melihat peristiwa itu Fath bin Said Al Maushili berkata,”Seandainya engkau ridha dengan roti yang engkau miliki, maka engkau tidak akan menjadi anjing”. Abu Musa Ath Thursusi pun mengatakan,”Itulah dunia”. (Hilyah Al Auliya, 8/293)
Rep: Sholah Salim
Editor: Thoriq
Dikutip dari : Hidayatullah.com

23 Januari 2015

Menikah Juga Perlu Ilmu

Pemahaman ilmu dien yang cukup dari masing-masing pasangan, memegang peran penting dalam mewujudkan keluarga sakinah

Menikah Juga Perlu Ilmu
Seminar Pra Nikah yang diselenggerakan sebuah media Islam di Jakarta

SEORANG
 Muslimah menolak perjodohan yang dilakukan orangtuanya. Menurutnya, calon yang diajukan tidak sekufu.  enolakannya itu menyulut konflik dengan orangtuanya. Pada akhirnya, ia justru menikah dengan pria yang menurutnya se-kufu. Pria itu dicarikan oleh teman pengajiannya. Meski agak berat, orangtua merestui pernikahan mereka berdua.
Di awal pernikahan, semuanya berjalan baik dan membahagiakan. Waktu pun terus berjalan. Mulailah mereka mengenal dengan jelas tabiat dan karakter pasangannya masing masing. Sayang, mereka berdua mulai jarang hadir dalam pengajian.
Permasalahan kemudian muncul satu persatu. Istri menganggap suami sudah berubah tidak seperti dulu lagi. Sedang suami yang merasa tidak mendapat pelayanan yang baik, sibuk dengan dirinya sendiri. Permasalahan dengan orangtuanya yang dulu ia anggap sangat berat, ternyata tidak seberat dengan apa yang ia hadapi sekarang.
Persiapan
Pernikahan adalah hal yang fitrah dan didambakan oleh setiap orang yang normal. Baik itu laki-laki maupun perempuan yang sudah baligh. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan rasa saling tertarik kepada lawan jenis dan saling membutuhkan, untuk mendapatkan ketenangan dan keturunan dalam kehidupannya. Bahkan pernikahan adalah rangkaian ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang di dalamnya banyak terdapat keutamaan dan pahala besar yang diraih oleh pasangan tersebut.
Walaupun demikian, banyak di antara kita salah menilai suatu pernikahan. Ironinya, kesalahan itu juga dilakukan oleh kalangan mereka yang mengerti ilmu sekalipun.
Memang untuk mendapatkan keluarga sakinah seperti yang dicita-citakan setiap Muslim dan Muslimah, tidak semudah yang dibayangkan. Ternyata, pemahaman ilmu dien yang cukup dari masing-masing pihak memegang peran penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut, mengingat dalam rumahtangga banyak permasalahan yang akan timbul. Misalnya, menyangkut memenuhi hak dan kewajiban suami-istri, apa tugas masing-masing, bagaimana cara mendidik anak dan sebagainya. Bagaimana mungkin semua persoalan itu bisa diselesaikan, jika tidak kita persiapkan sebelumnya? Di sinilah salah satu hikmah diwajibkannya bagi setiap Muslim untuk mencari ilmu
Ilmu sebagai Landasan
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim.” (Riwayat Ahmad).
Ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama yang dengannya kita tahu apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya. Dengan ilmu itu pula kita tahu apa yang disunahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mana yang bukan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pernikahan adalah dunia orang dewasa, karena banyak persoalan yang harus diselesaikan dengan pemikiran dewasa, bukan pemikiran yang kekanak-kanakan. Maka, tidak salah pula bila dikatakan untuk menikah itu butuh ilmu sya’i, baik pihak isteri, terlebih lagi pihak suami sebagai qawwam (pemimpin) bagi keluarganya. Namun sangat disayangkan, sisi yang satu ini sering luput dari persiapan dan sering terabaikan, baik sebelum pernikahan terlebih lagi pasca pernikahan.
Kurangnya pemahaman ilmu agama sering mendatangkan masalah. Misal anggapan se-kufu dalam pernikahan, jelas akan berlainan antara orang yang berilmu dengan yang tidak. Bagi orang berilmu, se-kufu adalah dalam hal agama bukan yang lainnya, apalagi yang bersifat duniawi.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kalian….” (Al-Hujurat [49]: 13).
Orang berilmu tidak akan meninggalkan orangtua dalam mencari jodoh, karena salah satu tugas orangtua adalah mencarikan jodoh untuk putra-putrinya.
“Seseorang yang dianugerahi anak oleh Allah Subhanahu Wata’ala hendaknya memberikan nama yang baik, pendidikan yang baik dan menikahkannya apabila telah mencapai usia. Apabila ia tidak dinikahkan kemudian ia berbuat dosa, maka ayahnya bertanggung jawab atas perbuatannya.” (Al-Hadits).
Tapi jangan salah menilai orang berilmu. Orang berilmu bukannya orang yang banyak kitab atau riwayat (Hadits). Orang berilmu adalah orang yang memahami dan mengamalkan apa yang disampaikan kepadanya (Lihat Syarhus Sunnah oleh Al-Imam al-Barbahari).
Ilmu bakal mendatangkan rasa takut bagi pemiliknya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“…Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang yang berilmu (ulama)….” (Fathir [35]: 28).
Di samping ilmu agama yang wajib kita pahami dan amalkan, ilmu yang menunjang harmonisnya kehidupan rumah tangga perlu juga diketahui. Misalnya ilmu berdandan, agar suami betah di rumah atau mengetahui berbagai resep masakan yang membuat lidah seisi rumah tidak mau makan kalau bukan kita yang memasak.
Tarbiyah Keluarga
Salah satu tugas suami sebagai qawwam keluarga adalah mendidik keluarga.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…..” (At-Tahrim [66]: 6).
Kalau suami mampu mendidik langsung keluarganya adalah suatu keutamaan sebagaimana keluarga ulama terdahulu. Misalnya Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Atsqalani Rahimahullah. Kesibukan beliau dalam dakwah di luar rumah dan menulis ilmu tidaklah melalaikan beliau untuk memberi taklim kepada keluarganya. Dari hasil pendidikan ini lahirlah dari keluarga beliau orang-orang yang terkenal dalam ilmu, khususnya ilmu Hadits, seperti: saudara perempuannya Sittir Rakb bintu ‘Ali, istrinya Uns bintu Al-Qadhi Karimuddin Abdul Karim , putrinya Zain Khatun, Farhah, Fathimah, ‘Aliyah, dan Rabi`ah.
Juga Sa’id Ibnul Musayyab Rahimahullah membesarkan dan mengasuh putrinya dalam buaian ilmu hingga ketika menikah suaminya mengatakan ia mendapati istrinya adalah orang yang paling hafal kitabullah, paling mengilmuinya, dan paling tahu tentang hak suami. (Al-Hilyah, 2/167-168).
Tetapi tidak semua suami mempunyai kemampuan dalam ilmu agama, maka wajib bagi suami untuk memfasilitasi kemudahan dalam menuntut ilmu agama bagi diri dan keluarganya. Bisa dengan mendatangkan guru atau membelikan buku-buku agama.
Menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang memprioritaskan pendidikan agama. Apabila semua anggota keluarga pemahaman dan pengamalan agamanya baik, insya Allah kehidupan keluarga akan bahagia. Wallahu a’lam bish shawab. */Sri Lestari, ibu rumah tangga tinggal di Yogyakarta


Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari: Hidayatullah.com

17 Januari 2015

Ulama ini Hatamkan Al Qur`an 18 Ribu Kali Saat Hidup

Telah berlalu selama 68 tahun aku menghatamkan Al Qur`an tiap malamnya

Ulama ini Hatamkan Al Qur`an 18 Ribu Kali Saat Hidup

Rep: Sholah Salim
ABU BAKR BIN AYYASH adalah seorang ulama qari’ yang hidupnya tidak lepas dari Al Qur`an. Suatu saat saat Abu Bakr bin Ayyash menjelang wafat, ia menyaksikan bahwa saudari perempuannya menangis.
Abu Bakr bin Ayyash pun berkata kepada saudarinya tersebut,”Janganlah engkau menangis”, sambil menunjuk ke sudut rumah, lalu ia mengatakan,” sesungguhnya saudaramu di sudut itu telah menghatamkan Al Qur`an sebanyak 18 ribu kali.”
Setelah wafat, Al Haitsam bin Kharijah sahabat Abu Bakr Ayyash mengisahkan bahwa ia bertemu sahabatnya itu dalam mimpinya. Di kakinya ada semangkuk kurma manis.
Al Haitsam bin Kharijah pun mengatakan, ”Wahai Abu Bakr, kenapa engkau tidak mengundangku untuk ikut makan?” Abu Bakr pun menjawab,”Wahai Kharijah, ini adalah makanan ahli surga, ahli dunia tidak memakannya”.
Kemudian Al Haitsam bertanya, bagaimana sahabatnya itu hingga mencapai derajat yang demikian itu. Abu Bakr pun menjawab, ”Engkau bertanya kepadaku tentang hal ini? Telah berlalu selama 68 tahun aku menghatamkan Al Qur`an tiap malamnya.” (Dalam Hilyah Al Auliya, 8/303)
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari: Hidayatullah.com

16 Januari 2015

Kesederhanaan Makan Rasulullah

Nabi tak pernah kenyang selama hidupnya, bahkan lebih banyak dan lebih sering lapar

Kesederhanaan Makan Rasulullah

Oleh: Zaidul Akbar
JIKA kita amati, mengapa penyakit di zaman dahulu tidak separah dan tidak seberat manusia modern. Apa sebab?
Ternyata jawabannya terletak pada seberapa sederhana seseorang mengkonsumsi makanan hariannya.
Hal ini sebenarnya telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam. Beliau begitu sederhana dalam urusan makanan yang beliau konsumsi yang akhirnya membuat beliau menjadi manusia yang sangat sehat, baik secara fisik maupun secara qolbu.
Hal ini sebenarnya dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, artinya kesederhanaan seseorang dalam mengkonsumsi makanan hariannya lah yang menenetukan sedikit banyak penyakit, yang kalaulah itu menjadi takdir untuknya, meski hal ini belumlah menjadi faktor penentu 100 persen.
Namun, jika kita mencontoh Rasulullah, ya benar sekali, beliau tak pernah kenyang selama hidupnya, bahkan beliau lebih banyak dan lebih sering lapar daripada kenyang atau kekenyangan, karena memang salah satu penyebab lemahnya iman seseorang adalah banyaknya makanan.
Yah, percaya, wisata kuliner dan berbagai ragam makanan masa kini plus dengan berbagai bahan-bahan sintetik didalamnya, sangat mengundang selera manusia untuk mengkonsumsinya, tapi sebenarnya insan yang bijak adalah insan yang memperhatikan sekali apa yang masuk ke dalam perutnya, sehingga semakin sederhana makanan yang ia konsumsi dan semakin alami, maka semakin kecil peluang ia mendapatkan sakit yang berat.
Jadi ya, jangan tanya kenapa banyak mengalami keluhan dan sakit sakit yang sedikit banyak menganggu aktifitas sehari-hari jika yang dikonsumsi adalah makanan “sampah” atau makanan minuman yang memang tidak layak masuk ke dalam tubuh manusia.
Tinggal kita sendiri yang menilai, selama ini lebih banyak kita makan untuk memenuhi hawa nafsu lebih dominan atau justru makan benar benar hanya sekedar memuaskan lidah, bahasa sederhananya, enak di mulut, sampah di perut.*
Twitter Zaidul Akbar @zaidulakbar
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari Hidayatullah.com

15 Januari 2015

Menimba Ilmu Tanpa Batas: Tradisi Ulama Nusantara

Rabu, 14 Januari 2015 - 07:26 WIB

Bahkan Abdusshomad Al Palimbani menjadi ulama nusantara di Haramayn yang turut menggelorakan jihad di nusantara, melalui surat-suratnya kepada penguasa Jawa
Menimba Ilmu Tanpa Batas: Tradisi Ulama Nusantara
Syekh Muhammad Jamil Jaho dan ulama nusantara

Oleh: Beggy Rizkiyansyah
BELAKANGAN ini berhembus kabar dari pemerintah (Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi) mengenai diterapkannya larangan bagi guru agama dan dosen teologi asing dari semua agama untuk bekerja di Indonesia[1].Yang lebih mengejutkan, larangan tersebut bertolak dari upaya melindungi lembaga pendidikan dari benih-benih radikalisasi. Sungguh mengherankan sikap pemerintah, terlebih jika kita hendak bercermin kepada tradisi keilmuan agama (Islam) di tanah air yang bahkan telah teranyam hingga ratusan tahun, bahkan sebelum kita mengenal istilah Indonesia[2].
Jika kita tak abai untuk membuka lembaran-lembaran sejarah, maka kita akan temukan tradisi keilmuan di tanah air yang amat erat hubungannya dengan umat Islam di seluruh dunia. Malah penyebaran Islam di nusantara dilakukan oleh para muslim yang berasal dari berbagai bangsa di dunia,sebut saja dari Hadramaut, India, Haramayn, hingga negeri Cina[3].Tidak hanya berhenti disitu. Murid-murid para ulama tadi, kemudian menyebar, menjelajahi seluruh pelosok negeri, menyiarkan Islam, mendidik kembali, hingga terciptalah jaringan yang amat luas di negeri tanah Jawi (balad al Jawi) ini.
Balad Al Jawi ini pula yang kemudian dikenal sampai jauh di timur tengah sana. Tepatnya di Haramayn; Makkah dan Madinah. Banyak dari ulama-ulama nusantara berguru ke Makkah dan Madinah karena disanalah pusat keilmuan Islam.Orang-orang dari segala penjuru dunia memusat di Haramayn, termasuk dari Balad Al Jawi (Tanah Jawa, yang sebenarnya meliputi seluruh nusantara bahkan hingga ke Kamboja-Vietnam-Thailand)[4].
Di sana ulama-ulama nusantara menimba ilmu kepada guru-guru yang dari berbagai bangsa dan mahzab. Seperti Syeikh Nawawi Al Bantani yang berguru kepada Abdul Hamid Al Dhagestani (Dagestan)[5]; kemudian Syeikh Yusuf Al Maqassari  yang berguru kepada Ibrahim Al Kurani (Kurdi)[6], ada pula ulama besar asal Palembang, Abdushomad Al Palimbani (1704-1789) yang pernah berguru kepada Muhammad Al Jawhari Al Mishri (Mesir), bahkan kepada Muhammad Murad seorang mufti mazhab Hanafi[7]. Sejak lampau pun ulama kita, tiada alergi dan sungkan berguru pada ulama-ulama dari berbagai bangsa. Mereka menjadi bagian dari jaringan ulama internasional, karena ilmu tidak mengenal sekat-sekat kebangsaan. Para ulama tersebut, ketika menuntut ilmu menjadi penuntut ilmu pengembara, berkelana dari suatu daerah kemudian ke daerah lainnya.
Perjalanan Syeikh Yusuf Al Maqassari dapat kita jadikan sebuah teladan betapa gigihnya beliau menuntut ilmu, melintas batas geografis. Ia pernah menuntut ilmu mulai dari tanah India (kepada Umar bin Abdullah Ba Sya’ban), Yaman (kepada Muhammad Bin Al Wajih Al Sa’di Al Yamani), Makkah dan Madinah (Ahmad Qusyasyi dan Ibrahim Al Kurani), Suriah (kepada Ayyub Al Khalwati, bahkan menurut sebagian pendapat hingga ke Turki[8].
Sebagian para ulama nusantara, setelah menuntut ilmu ada yang kembali ke tanah air, mnyebarkan ilmu, tetapi ada pula yang menetap di timur tengah, khususnya Makkah dan Madinah, untuk mengajar di sana. Seperti misalnya Syeikh Nawawi Al Bantani, pada usia 15 tahun ia menuntut ilmu ke Makkah. Di sana ia belajar kepada Syeikh Abdul Gahni (Bima), dan Syeikh Ahmad Khatib Sambas (Kalimantan)[9]. Syeikh Nawawi Al Bantani sendiri kemudian kelak menjadi ulama nusantara yang mengajar di Makkah. Ilmunya begitu disegani sehingga ia dijuluki Sayid Al Hijaz. Nama lain yang dapat kita sebut adalah Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Tahun 1876 ia pergi ke Makkah, menuntut ilmu di sana hingga kemudian mencapai kedudukan tertinggi sebagai imama mahzab syafi’I di Masjidil Haram. Kita kemudian paham, bahwa murid-murid Syeikh Ahmad Khatib adalah para ulama nusantara generasi berikutnya, mulai dari KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Haji Rasul (ayah Buya Hamka), hingga Haji Agus Salim[10]. Maka para ulama-ulama kita di tanah suci sana, mereka menyebarkan ilmunya hingga ke pelosok nusantara melalui perantara para murid-muridnya.
Tidak saja ilmu-ilmu itu menyebar melalui murid-muridnya, tetapi juga kitab-kitab mereka yang melintas darat dan lautan hingga ke nusantara.Sejarah kemudian mencatat bahwa kitab-kitab mereka menjadi rujukan bagi para penuntut ilmu di nusantara. Sebut saja misalnya Syeikh Nawawi Al Bantani, yang kitab-kitabnya menjadi rujukan bagi pesantren-pesantren di tanah air hingga kini. Misalnya kitab Tijan Al Darari. Di kitab tersebut belau dengan bangga menyebut gurunya Syaikh Ibrahim Al Bajuri, seseorang yang tentu saja berbeda bangsanya dari beliau. Begitu pula dengan tafsir beliau Marah Labid Tafsir Al Nawawi[11].
Begitu pula dengan Abdushomad Al Palimbani yang  menulis banyak kitab termasuk salah satu kitab khusus jihad yang amat dikenal di nusantara, yaitu Nasihah Al Muslimin fi Fada’il Al Jihad. Kitab inilah yang turut mempengaruhi semangat jihad di Aceh dan disebut-sebut menjadi rujukan Hikayat Perang Sabil. Bahkan Abdusshomad Al Palimbani menjadi ulama nusantara di Haramayn yang turut menggelorakan jihad di nusantara, melalui surat-suratnya kepada penguasa Jawa. Nama lain yang turut membakar jihad melawan penjajah melalui tulisan-tulisannya adalah Daud Fattani. Karyanya, Munya Al Musalli ditujukan kepada muslim Patani untuk melawan kezaliman bangsa Thailand yang hendak menjajah mereka[12].
Terang sekali bagi kita, dalam tradisi keilmuan Islam di Indonesia, bangsa dan  daerah bukanlah momok, tetapi justru menjadi untaian hikmah. Tidak seharusnya kita menjadi alergi dengan guru-guru yang berasal dari luar tanah air. Salah satu contoh guru asal luar tanah air yang amat berpengaruh di Indonesia adalah Syeikh Ahmad Soorkati. Dilahirkan di Sudan tahun 1872, ia adalah salah satu guru agama penerima sertifikat tertinggi dari pemerintah Kesultanan Usmaniyah di Istanbul. Tahun 1911 ia tiba di Jakarta atas undangan Jamiat Khair untuk mengajar. Ia kelak dikenal sebagai salah seorang tokoh Al Irsyad yang amat berpengaruh di bidang pendidikan.[13] Tokoh Masyumi, Muhammad Natsir, mengakui bahwa Syeikh Ahmad Soorkati adalah salah seorang ulama yang amat berpengaruh pada dirinya.
Telah terang dan bertabur contoh betapa tradisi keilmuan para ulama di tanah air kita ini banyak sekali bersinggungan dan saling melengkapi dengan dunia Islam di dunia.Jejaring para ulama dan ilmu-ilmu mereka tak bisa disekat-sekat oleh batas-batas kebangsaan atau geografis. Ketakutan pemerintah atas pengaruh radikal adalah tidak berdasar. Tradisi keilmuan di nusantara justru menunjukkan betapa kita amat dipengaruhi oleh dunia Islam secara luas. Sejarah pernah mencatat bahwa IbrahimAl Kurani, ulama di Haramayn pernah menulis sebuah kitab berjudul Ithaf Al Dzaki bagi umat Islam di Jawi, sebagai penerang untuk kitab tasawuf,  Tuhfat Al Mursalah ila Ruh An-Nabi karya ulama India, Fadlallah Al Hindi Al Burhanpuri (w.1620) . Tuhfat Al Mursalah yang sempat menimbulkan kehebohan di nusantara ini, kemudian disarikan dan dikomentari pula oleh Abdushomad Al Palimbani dalam kitab alMulakkhas ila at Tuhfah[14]. Inilah upaya ulama nusantara yang menanggapi pengaruh sebuah kitab dari luar untuk bangsanya sendiri. Ada pula tafsir 30 juz pertama karya ulama Nusantara, Tarjuman Al Mustafid yang ditulis oleh Abdurrauf Al Sinkili (1615-1693) dari Aceh.Tafsir ini adalah tafsir yang terpengaruh oleh Tafsir Jalalayn[15].Terang terlihat adanya pengaruh dari luar. Tetapi pengaruh dari luar  ini justru memberikan makna positif bagi keilmuan di nusantara.
Tercatat pula dalam sejarah ketika guru-guru asing membawa pengaruh negatif dalam Islam. Seperti kasus Mirza Wali Ahmad Baig, seorang penyebar paham Ahmadiyah di awal abad ke 20. Awalnya ia diterima sebagai pengajar di komunitas Muhammadiyah, namun seiring perkembangan waktu, paham Ahmadiyah sendiri akhinya terkuak dan ditolak oleh ulama-ulama Muhammadiyah (seperti Haji Rasul) dan Indonesia pada umumnya[16]. Dari contoh ini kita dapat melihat bagaimana ulama-ulama mampu membendung pengaruh negatif di Indonesia.Maka ketakutan pemerintah akan pengaruh buruk di tanah air adalah sebuah paranoid berlebihan. Karena ulama-ulama kita, dari ratusan tahun silam telah mampu untuk menyerap, menimbang dan menyaring segala pengaruh yang datang dari luar.
Justru ketakutan pemerintah kepada hal-hal yang berbau asing, semisal pengaruh dari timur tengah adalah serupa dengan ketakutan pemerintah colonial di masa lalu kepada ulama-ulama serta haji-haji kita yang telah kembali dari Makkah[17].
Tiada mungkin terlebih di era ledakan informasi seperti ini, untuk mengurung diri atas dasar ketakutan terhadap pengaruh dari luar. Melarang hadirnya guru-guru agama  dari luar Indonesia adalah sebuah ketentuan yang abai akan sejarah banngsanya sendiri dan justru menyelisihi tradisi keilmuan para ulama kita.*
Penulis adalah pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

Ulama, nusantara, jawa, Makkah, dakwah, ilmu
[2]Laffan, Michael Francis. 2003. Islamic Nationhood and Colonial Indonesia, The Umma Below The Winds. RoudledgeCurzon: New York
[3] Azra, Azyumardi.  2013. Jaringan Ulama timur tengah dan kepulauan nusantara abad XVII dan XVIII.Kencana Prenada Media Group: Jakarta. Lihat juga Al Qurtuby, Sumanto. 2009. The Tao of Islam: Cheng Ho and The Legacy of Chinese Muslims in Pre Modern Java. Studia Islamika. Volume 16. No. 1
[4]Lesus, Rizki. Catatan Penghujung Tahun: Dari Patani ke Champa, Merajut Jejak Islam di Nusantara. http://jejakislam.net/?p=576. Diunduh pada 12 Januari 2015.
[5]Burhanuddin, Jajat. 2012. Ulama dan Kekuasaan.Pergumulan Elit Muslim dalamSejarah Indonesia. Mizan: Jakarta.
[6] Azra, 2013.
[7] ibid
[8] Ibid
[9] Jajat,2012. Dan Rachman, Abd. Nawawi. 1996.  Al Bantani, An Intellectual Master of the Pesantren Tradition. Studia Islamika.  Volume 3. No. 3.
[10]Noer, Deliar. 1996. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. LP3ES: Jakarta
[11]Jajat, 2012 dan Rachman, 1996.
[12]Jajat, 2012.
[13] Noer, 1996.
[14] Fathurrahman, Oman. 2011. Sejarah Pengkafiran dan Marginalisasi Paham Keagamaan Di Melayu dan Jawa (Sebuah Telaah Sumber). Analisis, Volume XI. No. 2.
[15] Riddel, Peter. 1989. Earliest Quranic Exegetic Activity in Malay Speaking States. Archipel volume 38.
[16]Beck, Herman L. 2005. The Rupture Between The Muhammdiyah and The Ahmadiyya dalam Bijdragen Tot de Taal,- Land en Volkenkunde (BKI) 161-2/3.
[17] Jajat, 2012.
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari: Hidayatullah.com

24 Desember 2014

Pembagian Raport TPQ Al-Madinah




Alhamdulillah, pembagian raport TPQ Al-Madinah sudah berlangsung kemarin (jum'at/19-12-14). Anak-anak terlihat sangat senang karena selain mendapatkan raport juga mendapatkan hadiah dari para gurunya.
Dibawah asuhan para guru yang sangat mencintai murid-muridnya, para santri TPQ Al-Madinah tumbuh dan berkembang dengan baik.
Dengan pembagian raport ini, para wali santri dapat mengetatui prestasi-prestasi yang di capai oleh anak-anaknya. Para gurupun menjadi antusias karena ini akan jadi tolak ukur untuk meningkatkan kinerja untuk membantu mendongkrak prestasi para anak didik.
Marilah sebagai saudara muslim, mari kita mendukung program-program yang serupa sebagai bukti bahwa kita ikut ambil bagian dalam bangkitnya peradaban islam.

22 Desember 2014

Belajar Desain Dengan Photoshop



  Dalam sebuah kehidupan manuntut ilmu adalah hal yang wajib dilakukan. karna mau tidak mau sakarang ini semua yang kita lakukan agar lebih efectif dan efisien harus mengerti ilmunya. jadi kita harus beljar dan terus belajar. untuk mencapai apa yang kita inginkan, untuk mencapai apa yang kita impikan.
  Dengan semangat itu kami sebagai tim sekertariat dari pesantren Al-Qur'an & Wirausaha Hidayatullah Bekasi bertolak ke Depok untuk meng-upgrade kemampuan kami khusunya dalam bidang internet dan desain. Bagaimanapun sekarang ini 2 bidang tersebut adalah senjata utama, khususnya untuk mempromosikan program-program kami.
  Dalam bidang desain kami belajar pada Zahir, salah satu pengasuh di pondok pesantren Hidayatullah Depok. Saat belajar kami menggunakan photoshop sebagai program untuk membuat desain brosur yang lebih cantik dan menarik.

20 Desember 2014

Ayo belajar Digitalpreneur...



Belajar..belajar...dan belajar...
Itulah spirit semangat teman-teman Hidayatullah Bekasi dalam rangka meningkatkan kemampuan dan ilmu. 
Hari ini, sabtu 20 Desember 2014 Tim Sekertariat mengikuti training  Digitalpreneur di Kantor  Pusat Syabab Hidayatullah, Depok.
Dibawah coaching Mr. Ainuddin teman-teman diasah kemampuan dan kompetensinya dalam bidang internet dan media sosial.

17 Desember 2014

Kunjungan Dari BMH Bekasi



     Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah berkata :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي يَعْقُوبَ الْكِرْمَانِيُّ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ، حَدَّثَنَا يُونُسُ، قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Ya’quub Al-Kirmaaniy[1] : Telah menceritakan kepada kami Hassaan[2] : Telah menceritakan kepada kami Yuunus[3] : Telah berkata Muhammad – ia adalah Az-Zuhriy[4] - , dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2067].
 Dengan mengambil spirit hadist di atas,hendaknya setiap muslim senantiasa menyambung tali silaturahim kepada keluarga, saudara, teman sahabat, tetangga, dan yang lainnya. dengan harapan kita diluaskan rizkinya dan di tangguhkan kematiannya( diberkahi umurnya).
   Dan sepertinya itu yang menjadi landasan utama bagi BMH Bekasi untuk bersilaturahmi ke Pessantren Al-Qur'an & Wirausaha Hidayatullah Bekasi. Selain untuk bersilaturahmi tentu BMH sebagai penyalur zakat, infaq, sodaqoh dan lain sebagainya juga menjalin kemitraan dengan pesantren untuk saling mendukung program-program untuk membangun peradaban islam dan pemberdayaan ummat.

13 Desember 2014

Kegiatan Belajar Dan Tilawah Al-Qur'an Bersama Ustad-Ustad Muda Yang Tampan & Bersahabat




 Yang muda dipandang sebelah mata. Sepertinya istilah itu tidak berlaku di Pesantren Al-Qur'an & Wirausaha Hidayatullah. Karna sebagian besar tenaga pengajar dan pengasuhnya adalah anak-anak muda yang masih lajang. Tetapi walaupun seperti itu, untuk masalah ke-ilmuan insa Allah tidak meragukan, hafidz qur'an, lulusan STAIL Surabaya, lulusan Pondok Pesantren Daarul Hufadz Tuju-tuju, dan ada juga yang masih menjalani proses belajar di LIPIA Jakarta.
   Seperti gambar di atas, kegiatan yang dilakukan santri yang sedang belajar/tilawah Al-Qur'an dengan ustad-ustad muda yang ganteng-ganteng, ramah, dan bersahabat tentu saja. Dengan semangat muda yang berkobar dan menggebu-gebu, kami siap untuk mencetak generasi berkarakter Qur'ani.

11 Desember 2014

REHAT PASCA UJIAN SEMESTER GANJIL

Alhamdulillah....begitulah kata-kata yang terucap dari para santri pasca ujian semester kemarin (3 hari) mulai senin hinga rabu. walaupun begitu, bukan berarti santri tanpa kegiatan.. buktinya justru hari ini santri kerja bakti membersihkan seluruh areal pesantren... kerja terus ya.. dengan semangat... pesantren bersih..moga hati juga jadi bersih...amin.