Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

12 Mei 2015

Hidayatullah Cikarang Bekasi Dirikan DakwahCenter.com

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, meluncurkan portal yang khusus mengkanalisasi program dakwah Hiadyatullah di Bekasi dengan alamat website www.DakwahCenter.com. 

Ketua Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi (HICB), Ustadz Hidayatullah, S.HI, mengatakan pendirian portal ini sekaligus sebagai proyek diversifikasi program keummatan Hidayatullah di kota dan kabupaten Bekasi.

"Kami berkomitmen terus memberikan pelayanan dan menggalakkan program dakwah di wilayah ini. Dengan dukuangan umat dan kita semua, kami berharap portal ini dapat menjadi wadah untuk terlibat secara aktif dalam mendukung program dakwah Islam," kata Ustadz Hidayatullah.

Ustadz muda murah senyum ini menjelaskan, Hidayatullah Cikarang yang dipimpinnya terus melakukan upaya maksimal dalam rangka menggalakkan berbagai program keummatan yang telah diusungnya. Diantaranya pembinaan anak yatim dhuafa, sekolah dai, lembaga tahfidz, dan lain sebagainya.

"Semoga Allah Ta'ala meridhai segala amal dan usaha kita, Amiin," pungkasnya.

8 Februari 2015

Imam Malik, Uswah dalam Toleransi Madzhab

IMAM MALIK BIN ANAS selaku mujtahid, lebih-lebih mujtahid mutlak yang merupakan sebutan bagi sejumlah orang yang memiliki derajat tertinggi dalam ijtihad pastilah memahami Al Qur`an dan As Sunnah lebih banyak daripada ulama yang tidak sampai pada derajat itu, lebih berhati-hati dalam berfatwa, serta telah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki dalam berijtihad, hingga sampai bahwa pendapatnya paling dekat dengan kebenaran.
Namun meski demikian, Imam Malik enggan untuk memaksakan pendapatnya kepada mereka yang ternyata telah berpegang kepada selain madzhab beliau. Bahkan beliau menolak usulan tiga khalifah Abasiyah yang menginginkan agar madzhab ulama Madinah ini diterapkan di seluruh negeri Muslim dan malah menyarankan agar umat Islam tetap dibiarkan menganut madzhabnya masing-masing.
Permintaan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur kepada Imam Malik
Sejumlah ulama telah mencatat percakapan antara ulama besar salaf ini dengan para khalifah mengenai parkara di atas. Ibnu Abi Hatim dalam muqadimah Al Jarh wa At Ta’dil (hal. 59) mencatat bahwa suatu saat Khalifah Abu Ja’far Al Manshur mengatakan kepada Imam Malik,”Aku benar-benar menginginkan agar ilmu ini hanya satu saja, maka aku tulis ilmu itu kepada para pemimpin pasukan lantas dan para hakim lantas mereka menerapkannya. Barang siapa menolak maka aku penggal lehernya!”
Imam Malik pun menjawab,”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dulu berada di tengah umat ini, dan mengirim pasukan serta beliau sendiri keluar untuk berperang dan tidak banyak negeri yang dibebaskan sampai Allah Azza wa Jalla memanggil beliau. Kemudian setelah beliau, Abu Bakr Radhiyallahu’anhu melanjutkan dan tidak terbebaskan banyak negeri. Kemudian selanjutnya Umar Radhiyallahu’anhu melanjutkan, hingga terbebaskanlah banyak negeri melalui tangannya. Sebagai akibatnya, maka Umar mengirim para sahabat Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam sebagai guru. Dan secara berkesinambungan diambillah ilmu dari mereka oleh ulama besar dari ulama besar hingga saat ini. Jika engkau pergi untuk mengubah mereka dari apa-apa yang mereka ketahui menuju hal-hal yang tidak mereka kenal, maka mereka akan menilai hal itu sebagai kekufuran.Akan tetapi biarkanlah penduduk setiap negeri berpijak kepada ilmu yang ada pada mereka. Ambillah ilmu ini untuk dirimu sendiri”
Khalifah Abu Ja’far Al Manshur pun menjawab,”Perkataan Anda tidaklah salah. Tulislah ilmu ini untuk Muhammad”, yakni putranya Al Mahdi yang akan menjadi khalifah setelahnya.
Dalam riwayat Ibnu Sa’d dari gurunya Al Wakidi, bahwa ketika Abu Ja’far Al Manshur melakukan haji, ia mengundang Imam Malik. Dalam kesempatan itu, Abu Ja’far Al Manshur menyampaikan,”Aku telah bertekad untuk memerintahkan dengan kitabmu ini- yakni Al Muwaththa’-, lalu engkau salin, kemudian aku mengirimnya ke setiap negeri kaum Muslimin satu naskah dan aku memerintahkan mereka untuk menerapkannya serta tidak berpaling kepada selainnya, lalu mereka meninggalkan ilmu baru selainnya. Sesungguhnya aku berpendapat bahwa ilmu yang murni adalah adalah riwayat Madinah dan ilmu mereka”.
Imam Malik pun menjawab,”Wahai Amirul Mukminin, janganlah Anda lakukan hal itu. Sesunggunya telah sampai terlebih dahulu kepada mereka pendapat-pendapat, mereka menyimak hadits-hadits, mereka juga meriwayatkan periwayatan. Dan setiap kaum mengambil dari apa yang datang terlebih dahulu kepada mereka dan mereka mengamalkannya. Serta dengan ilmu itu, mereka hina dengan perselisihan manusia dan selainnya. Dan jika Anda jauhkan mereka dari apa yang mereka yakini, maka hal itu cukup memberatkan. Maka biarkan manusia bersama dengan apa yang mereka pijak dan apa yang dipilih oleh setiap negeri untuk mereka masing-masing”. (Thabaqat Ibnu Sa’d, hal. 440)
Al Wakidi dikenal dhaif dalam hadits, namun dalam periwayatan sejarah para ulama menerima periwayatnnya.
Permintaan Khalifah Al Mahdi kepada Imam Malik
Dalam Tartib Al Madarik juga disebutkan dialog, kali ini antara Imam Malik dengan Khalifah Al Mahdi. Al Mahdi berkata,”Wahai Abu Abdullah, tulislah sebuah kitab yang aku bawa umat ini kepadanya”.
Imam Malik pun menjawab,”Adapun negeri Maghrib, engkau telah dicukupkan olehnya. Adapun Syam, terdapat Al Auza’i, sedangkan penduduk Iraq, mereka adalah ahlul Iraq” (Tartib Al Madarik, 1/193)
Hal itu disebabkan karena banyak murid Imam Malik yang berada di Mahgrib, sedangkan di Syam ada Imam Al Auza’i, maka tidak perlu mendesak madzhab mereka serta membiarkan setiap negeri dengan madzhab yang dianut. Kisah yang sama dicatat Imam Adz Dzhabi dalam Siyar A’lam An Nubala 8/78)
Permintaan Khalifah Ar Rasyid kepada Imam Malik
Al Hafidz Abu Nu’aim dalam Hilyah Al Auliya (6/322)meriwayatkan bahwa Imam Malik bermusyawarah dan Ar Rasyid dalam tiga perkara, salah satunya adalah usulan untuk menempelkan Al Muwaththa dan membawa manusia sesuai dengan apa yang di dalamnya. Maka Imam Malik pun menjawab,”Sesungguhnya sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berselisih dalam masalah furu’, dan mereka menyebar di seluruh penjuru, dan semuanya bagi diri mereka sendiri adalah perkara yang benar”.
Kisah ini sanadnya hasan menurut Imam Adz Dzhabi, namun beliau berpendapat bahwa kisah terjadi antara Al Mahdi dengan Imam Malik, bukan Ar Rasyid.
Sedangkan Al Hafidz Al Khatib Al Baghdadi dalam Ar Ruwat ‘an Malik menyebutkan bahwa Ar Rasyid menyampaikan,”Wahai Abu Abdullah, kita tulis kitab-kitab ini dan kita sebar ke seluruh penjuru negeri Islam untuk membawa umat kepadanya!”
Imam Malik pun menjawab,”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ikhtilaf umat adalah rahmat dari Allah atas umat ini, semuanya mengikuti apa yang benar menurut mereka, semuanya di atas hidayah, semuanya menginginkan Allah”. (lihat, Kasyf Al Khafa’, 1/65)
Dalam Hilyah Al Auliya disebutkan periwayatan yang sama, namun antara Imam Malik dan Al Makmun,  dan riwayat ini dikritik oleh Qadhi Iyadh dalam Tartib Al Madarik (1/209), karena Imam Malik tidak mengalami masa Al Makmun dan wafat sebelumnya sedangkan riwayat yang shahih adalah dialog antara Imam Malik dan Ar Rasyid.
Sedangan Al Muhaddits Muhammad Awwamah berpendapat bahwa tidak ada masalah adanya permintaan berulang-ulang dari Abu Ja’far, kemudian anaknya Al Mahdi lalu Ar Rasyid karena hal itu memang memungkinkan.
Dan yang paling penting dari seluruh periwayatan ini adalah kesamaaan pernyataan mengenai penolakan Imam Malik terhadap usulan untuk membawa seluruh umat Islam kepada madzhab beliau dan membiarkan agar umat Islam tetap berada dalam madzhab yang mereka anut.
Apa yang disampaikan oleh Imam Malik merupakan tauladan bagi semua umat Islam dalam  merespon perbedaan madzhab fiqih dengan sikap yang sangat bijaksana. Semoga kita bisa mengikutinya.

Rep: Sholah Salim
Editor: Thoriq
Dikutip dari : hidayatullah.com

6 Februari 2015

Hukum Merayakan Hari Valentine bagi Umat Islam

Boleh jadi tanggal 14 Februari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi lainnya. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari Valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa ‘kasih sayang’, walau pun pada hakikatnya bukan kasih sayang melainkan hari ‘making love’.
Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasana Valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.
Sejarah Valentine
Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah dan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno.
Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Katakanlah, “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)
Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.
Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.
Valentine Berasal dari Budaya Syirik.
Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.
Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.
Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.
Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.
Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.
Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?
Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.
Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah sybhanahu wa ta’ala berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Isra’: 32)
Kasih Sayang Menurut Islam
Di dalam Islam tidak ada Valentine, sebab kata Valentine itu merupakan istilah impor dari agama di luar Islam. Bahkan latar belakang sejarah dan esensinya pun tidak sejalan dengan Islam.
Namun kalau yang anda inginkan adalah perwujudan rasa kasih sayang menurut syariah Islam, tentu saja Islam merupakan ‘gudang’ nya kasih sayang. Tidak sebatas pada orang-orang terkasih saja, bahkan kasih sayang kepada semua orang. Bahkan hewan pun termasuk yang mendapatkan kasih sayang.
Cinta kepada Kekasih
Kasih sayang kepada orang terkasih pun ada di dalam Islam, bahkan menyayangi pasangan kita dinilai sebagai ibadah. Ketika seorang wanita memberikan seluruh cintanya kepada laki-laki yang dicintainya, maka Allah pun mencurahkan kasih sayang-Nya kepada wanita itu. Hal yang sama berlaku sebaliknya.
Namun kasih sayang antara dua insan di dalam Islam hanya terjadi dan dibenarkan dalam ikatan yang kuat. Di mana laki-laki telah berjanji di depan 2 orang saksi. Janji itu bukan diucapkan kepada si wanita semata, melainkan juga kepada orang yang palingbertanggung-jawab atas diri wanita itu, yaitu sang ayah. Ikatan ini telah menjadikan pasangan laki dan wanita ini sebagai sebuah keluarga. Sebuah ikatan suami istri.
Adapun bila belum ada ikatan, maka akan sia-sia sajalah curahan rasa kasih sayang itu. Sebab salah satu pihak atau malah dua-duanya sangat punya kemungkinan besar untuk mengkhianati cinta mereka. Pasangan mesra di luar nikah tidak lain hanyalah cinta sesaat, bahkan bukan cinta melainkan birahi dan libido semata, namun berkedok kata cinta.
Dan Islam tidak kenal cinta di luar nikah, karena esensinya hanya cinta palsu, cinta yang tidak terkait dengan konsekuensi dan tanggung-jawab, cinta murahan dan -sejujurnya- tidak berhak menyandang kata cinta.
Cinta kepada Sesama
Di luar cinta kepada pasangan hidup, sesungguhnya masih banyak bentuk kasih sayang Islam kepada sesama manusia. Antara lain bahwa Islam melarang manusia saling berbunuhan, menyakiti orang lain, bergunjing, mengadu domba atau pun sekedar mengambil harta orang lain dengan cara yang batil.
Bandingkan dengan peradaban barat yang sampai hari duduk di kursi terdepat sebagai jagal yang telah membunuh berjuta nyawa manusia. Bukankah suku Indian di benua Amerika nyaris punah ditembaki hidup-hidup? Bukankah suku Aborigin di benua Australia pun sama nasibnya?
Membunuh satu nyawa di dalam Islam sama saja membunuh semua manusia. Bandingkan dengan jutaan nyawa melayang akibat perang dunia I dan II. Silahkan hitung sendiri berapa nyawa manusia melayang begitu saja akibat ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki?
Silahkan buka lembaran sejarah, siapakah yang dengan bangga bercerita kepada anak cucunya bahwa nenek moyang mereka berhasil membanjiri masjid Al Aqsha dengan genangan darah muslimin, sehingga banjir darah di masjid itu sebatas lutut kuda?
Di awal tahun 90-an, kita masih ingat bagaimana Serbia telah menyembelih umat Islam di Bosnia, anak-anak mati ditembaki. Bahkan janin bayi di dalam perut ibunya dikeluarkan dengan paksa dan dijadikan bola tendang. Bayangkan, kebiadaban apa lagi yang bisa menandinginya?
Sesungguhnya peradaban barat itu bertqanggung jawab atas semua ini. Tangan mereka kotor dengan darah manusia, korban nafsu angkara murka.
Kasih sayang yang sesungguhnya hanya ada di dalam Islam. Sebuah agama yang terbukti secara pasti telah berhasil menjamin keamanan Palestina selama 14 abad lamanya. Di mana tiga agama besar dunia bisa hidup akur, rukun dan damai. Palestina baru kembali ke pergolakannya justru setelah kaum yahudi menjajahnya di tahun 1948.
Bahkan gereja Eropa di masa kegelapan (Dark Ages) pun tidak bisa melepaskan diri dari cipratan darah manusia, ketika mereka mengeksekusi para ilmuwan yang dianggap menentang doktrin gereja. Tanyakan kepadaGalileo Galilei, juga kepada Copernicus, apa yang dilakukan geraja kepada mereka? Apa yang menyebabkan kematian mereka? Atas dosa apa keduanya harus dieksekusi? Keduanya mati lantaran mengungkapkan kebenaran ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu pengetahuandianggap tidak sesuai dengan kebohongan gereja.
Kalau kepada ilmuwan gereja merasa berhak untuk membunuhnya, apatah lagi dengan orang kebanyakan. Lihatlah bagaimana pemuda Eropa dikerahkan untuk sebuah perang sia-sia ke negeri Islam, perang salib. Lihatlah bagaimana nyawa para pemuda itu mati konyol, karena dibohongi untuk mendapatkan surat pengampunan dosa, bila mau merebut Al Aqsha.
Sejarah kedua agama itu, berikut sejarah Eropa di masa lalu kelam dan bau anyir darah. Sejarah hitam nan legam…
Bandingkan dengan sejarah Islam, di mana anak-anak bermain dengan bebas di taman-taman kota, meski orang tua mereka lain agama. Bandingkan dengan sejarah perluasan masjid di Mesir yang tidak berdaya lantaran tetangga masjid yang bukan muslim keberatan tanahnya digusur. Bandingkan dengan pengembalian uang jizyah kepada pemeluk agama Nasrani oleh panglima Abu Ubaidah Ibnul Jarah, lantaran merasa tidak sanggup menjamin keamanan negeri.
Siapakah yang menampung pengungsi Yahudi ketika diusir dari Spanyol oleh rejim Kristen? Tidak ada satu pun negara yang mau menampung pelarian Yahudi saat itu, kecuali khilafah Turki Utsmani. Sebab meski tidak seagama, Islam selalu memandang pemeluk agama lain sebagai manusia juga. Mereka harus dilindungi, diberi hak-haknya, diberi makan, pakaian dan tempat tinggal layak. Syaratnya hanya satu, jangan perangi umat Islam. Dan itu adalah syarat yang teramat mudah.
Maka kalau kita bicara cinta dan kasih sayang, Islam lah bukti nyatanya.
dikutip dari Fimadani.com

5 Februari 2015

Jalan Kaki 20 Menit Kurangi Resiko Kematian

Penyakit yang diakibatkan dari jarang bergerak dan obesitas hampir sama, yakni penyakit jantung.
PARA peneliti dari Universitas Cambridge mengatakan, kurang bergerak jauh lebih berbahaya ketimbang kelebihan berat badan.
Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan, 676 ribu kematian setiap tahun terjadi karena kurang bergerak. Adapun jumlah kematian akibat obesitas mencapai 337 ribu kasus.
Sejumlah ahli menyatakan, jalan kaki selama 20 menit setiap hari bisa mengurangi risiko kematian.
Studi itu juga mengungkapkan, orang kurus yang jarang berolahraga mempunyai risiko lebih besar mengalami masalah kesehatan.
Sementara itu, orang dengan obesitas tetapi rutin berolahraga mempunyai kesehatan yang lebih baik dibandingkan yang tidak pernah berolahraga.
Studi yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition ini bertujuan untuk mengetahui bahaya kurang gerak dan obesitas.
Para peneliti meneliti lebih dari 334 ribu responden selama 12 tahun.
“Risiko terbesar (dari kematian dini) terjadi pada mereka yang jarang bergerak, dan itu konsisten dalam berat badan normal, kelebihan berat badan dan kegemukan,” kata salah seorang peneliti, Prof Ulf Ekelund kepada BBC News.
Prof Ekelund, yang tinggal di Norwegia, melakukan olahraga ski cross country dan olah raga berat selama lima jam setiap minggu.
Namun, ia mengatakan berjalan cepat dapat mengubah kesehatan.
“Saya pikir orang-orang perlu mempertimbangkan hal ini dalam keseharian mereka. Anda dapat melakukan aktivitas fisik selama 20 menit, seperti berjalan kaki ke tempat kerja. Hal itu lebih baik dari pada menonton televisi,” katanya.
Penyakit yang diakibatkan dari jarang bergerak dan obesitas hampir sama, yakni penyakit jantung.*
Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan
Dikutip dari: hidayatullah.com

4 Februari 2015

Minimarket Dilarang Jual Bir, Mendag Gobel: Keputusan Tak Bisa Diubah

Zulfi Suhendra - detikfinance
Jakarta -Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel menegaskan, tak akan mengubah aturan larangan penjualan bir di minimarket yang diatur dalam Permendag No 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan Terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol. 

Aturan baru yang akan berlaku efektif 16 April 2015 ini dikritik, karena dianggap tak melibatkan dunia usaha dalam pembahasannya. Bahkan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta kaji ulang aturan ini.

"Ini keputusan sudah nggak bisa diubah. Peritel itu kalau perlu saya akan ajak bicara hati nuraninya. Ini menyangkut generasi muda," tegas Gobel usai rapat kerja dengan Komisi VI DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2015)

Gobel beralasan, alasan kebijakan ini untuk mencegah anak-anak muda Indonesia terpengaruh dampak negatif minuman beralkohol termasuk bir, walaupun kadarnya tak lebih dari 5%.

"Kekuatan itu di SDM. Kalau SDM generasi muda kita sudah lemah. Daya pikirnya kurang, mau gimana lagi," kata Gobel.

Mantan Bos Panasonic ini menegaskan, aturan yang dibuatnya telah mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah termasuk DKI Jakarta. Menurutnya, larangan ini hanya untuk minimarket, karena dekat dengan pemukiman dan sekolah termasuk tempat ibadah, sedangkan supermarket dan hipermarket masih diizinkan dengan menjual secara ketat.

"DKI sudah setuju, dia bilang ikut saja. Jadi itu berarti gubernurnya punya hati. Yang dilarang kan minimarket. Karena supermarket tak masuk di pemukiman," katanya.

Di tempat yang sama Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Srie Agustina mengatakan, adanya aturan ini pasti akan berdampak pada pihak-pihak yang dirugikan. Namun pemerintah meyakini kebijakan ini akan lebih banyak manfaatnya. 

Namun Srie menegaskan setelah 16 April 2015, apabila masih ada minimarket dan pengecer maka sanksinya adalah pencabutan izin usaha. "Sanksi 3 kali teguran sampai penutupan," tegas Srie.
(hen/dnl)

24 Januari 2015

#SaveKPK Tembus 200.000 Kicauan

Hidayatullah.com–Dukungan pengguna sosial media Twitter terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas penangkapan Wakil KPK Bambang Widjayanto dengan hastag #SaveKPK terus meningkat, bahkan pada Jum’at (23/01/2015) malam telah menembus angka 200.000 kicauan.
“Hingga pukul 22.25 wib, jumlah kicauan dengan #SaveKPKmencapai 211,673,” jelas pengamat sosial media VComm, Arif Hidayat, Jum’at (23/01/2015).
Selain #SaveKPK yang telah menjadi trending topik di Indonesia sejak Jum’at pagi, kicauan lainnya yang terkait penangkapan wakil ketua KPK adalah “KPK vs POLRI” dan “Cicak VS Buaya”.
“Untuk KPK vs POLRI” sebanyak 29,210 kicauan, dan Cicak VS Buaya sebanyak 22,014,” jelasnya.
Arif memperkirakan, jumlah kicauan #SaveKPK akan terus meningkat, “Pada malam hari rata-rata kicauan #SaveKPKmencapai dua belas ribu kicauannya perjam dan kicauan tertinggi terjadi pada siang dan sore hari,” tambahnya.
Selain menjadi top trending topik di Indonesia, #SaveKPK juga sempat mencapat posisi keduaTrending Topic Worldwide (TTWW).
Selain makin banyaknya kicauan melalui twitter dukungan terhadap KPK juga bermunculan melalui Facebook, “ada beberapa grup baru di FB yang lahir merespon penangkapan wakil ketua KPK, diantara grup Referendum Rakyat Selamatkan KPK,” pungkas Arif.*
Rep: Anton R
Editor: Cholis Akbar

Hamas Serukan Hizbullah Untuk Bersatu Melawan Israel

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Gaza City - Pemimpin salah satu sayap bersenjata Hamas mengirimkan surat kepada kelompok Hizbullah di Libanon. Isi surat ini menyerukan kepada Hizbullah untuk bersatu dengan Hamas dalam melawan Israel.

Surat ini diposting dalam situs Al-Manar TV yang dikelola oleh Hizbullah. Dalam suratnya, Hamas membujuk Hizbullah untuk menyingkirkan perbedaan terkait konflik Suriah yang terus berkelanjutan.

Selama ini Hamas memang menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad. Sedangkan Hizbullah yang didukung oleh Iran, bersekutu dengan Assad dan berjuang melawan pemberontak yang berusaha menggulingkan Assad.

"Musuh bangsa yang sebenarnya adalah Zionis dan semua senapan harus diarahkan kepadanya," demikian isi surat tersebut, yang juga terdapat tanda tangan Deif, seperti dilansir Reuters, Jumat (23/1/2015).

"Semua kekuatan perlawanan harus diarahkan pada pertempuran dengan mereka sebagai satu kesatuan," imbuh surat tersebut.

Deif sendiri pernah menjadi target pengeboman Israel saat konflik Gaza pada beberapa bulan lalu.

Dalam suratnya, Hamas juga menyampaikan belasungkawa kepada pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah atas tewasnya enam anggotanya dalam serangan udara Israel di wilayah Suriah, dekat Golan Heights pada Minggu (18/1).

Israel menuding Deif berada di balik tewasnya puluhan orang dalam serangan bom bunuh diri di wilayahnya. Berulang kali Israel berusaha menewaskan Deif, salah satunya dalam serangan udara terhadap rumah Deif di Gaza pada Agustus 2014.

Sosok Deif sendiri disebut berada dalam persembunyian selama beberapa tahun terakhir.

23 Januari 2015

Raja Saudi Wafat Warga Saudi Antarkan Abdullah ke Peristirahatan Terakhir


CNN Indonesia
RiyadhCNN Indonesia -- Warga Arab Saudi berkumpul di Mesjid Besar Riyadh untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Raja Abdullah bin Abdulaziz al Saud, yang wafat pada Jumat (23/1) pagi waktu setempat, pada usia 90 tahun.

Raja Abdullah wafat setelah beberapa minggu dilaporkan masuk rumah sakit akibat menderita pneumonia.

Seperti dilaporkan Reuters, jenazah Raja Abdullah akan disemayamkan dalam sebuah makam tak bertanda pada Jumat (23/1), beberapa jam setelah Raja Salman diumumkan akan menggantikan Raja Abdullah untuk memimpin Arab Saudi.


Sesuai dengan hukum Islam, jenazah Abdullah dibungkus kain kafan sederhana berwana putih dan dibawa menuju Mesjid Besar Riyadh diiringi dengan keluarga dekat untuk dishalatkan, sebelum dimakamkan.

Pemanjatan doa akan dipimpin oleh Raja Salman dan dihadiri oleh sejumlah kepala negara Islam dan tokoh senior lainnya, termasuk Presiden Mesir, Abdul Fattah al-Sisi, salah satu sekutu terdekat Raja Abdullah paska Revolusi Musim Semi Arab.

Sementara, sejumlah tokoh non-Muslim dikabarkan akan memberi selamat kepada Raja Salman dan penunjukkan putra mahkota baru, Pangeran Muqrin bin Abdulaziz, dalam beberapa hari mendatang.

Raja Salman dan Pangeran Muqrin akan menerima janji setia dari anggota keluarga kerajaan, ulama Wahhabi, kepala suku, sejumlah pengusaha dan tokoh penting lainnya pada malam hari.

Dalam aliran Wahabi yang dijunjung oleh masyarakat Arab Saudi yang mayoritas Muslim Sunni, mengungkapkan karena kematian dianggap tidak baik. Kematian Raja Saudi dan anggota kerajaan lainnya sebelumnya tidak membuat negara ini menyatakan masa berkabung. Bendera negara pun akan dikibarkan dengan penuh, tidak setengah tiang.

Semasa hidupnya, Abdullah dikenal sebagai seorang raja reformis yang dicintai rakyatnya karena kesederhanaan dan kepeduliannya.

Raja Abdullah merupakan raja yang populer, utamanya sejak melakukan reformasi yang bertujuan untuk memangkas gaya hidup mewah keluarga kerajaan dan mengatasi pengangguran muda dengan meliberalisasi perekonomian demi menstimulasi pertumbuhan sektor swasta.

Dalam ulasan Reuters disebutkan, Abdullah bin Abdulaziz, yang lahir tahun 1924, memimpin Kerajaan Saudi sejak 2006 menggantikan Raja Fahd yang mangkat. Namun sebenarnya, selama satu dekade sebelumnya, dia telah menjadi pemimpin de facto Kerajaan Arab Saudi.

Raja Salman, yang meneruskan tampu pemerintahan Suadi, merupakan adik Abdullah. Raja berusia 79 tahun ini telah menjadi putra mahkota dan menteri pertahanan sejak 2012. Sebelumnya, ia adalah gubernur provinsi Riyadh selama lima dekade.

Ucapan belasungkawa dari sejumlah negara

Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita atas meninggalnya Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz di Riyadh pada Jumat (23/1). Pemerintah Indonesia juga mendoakan Abdullah dan rakyat Saudi.

"Indonesia mendoakan semoga Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang memberikan pengampunan dan kedamaian kepada Almarhum Raja Abdullah Bin Abdul Aziz Al-Saud serta memberikan ketabahan dan kekuatan kepada seluruh keluarga kerajaan dalam menghadapi takdir Illahi ini," ujar pemerintah Indonesia dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) hari ini, Jumat (23/1).

Sementara, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menunda kunjungannya ke Somalia untuk menghadiri pemakaman Raja Abdullah.

"Kami telah memutuskan untuk mengunjungi Riyadh saat ini. Namun, kami juga akan melanjutkan rencana kami mengunjugi Djibouti dan Somalia," kata Erdogan dalam siaran langsung di televisi pemerintah TRT, dikutip dari Reuters, Jumat (23/1).

Selain itu, Pesiden Amerika Serikat Barack Obama menyampaikan belasungkawa atas kematian Raja Arab Saudi, Jumat (23/1). Menurut Obama, Abdullah adalah raja pemberani yang berkontribusi besar bagi perdamaian dunia.

"Dengan segala hormat saya haturkan belasungkawa secara pribadi dan simpati dari rakyat Amerika kepada keluarga Raja Abdullah bin Abdulaziz dan rakyat Arab Saudi," kata Obama, dikutip Reuters.

Istana Kepresidenan Elysee Perancis turut menyatakan belasukangkawa dengan merilis pernyataan yang menyebutkan Raja Abdullah merupakan negarawan yang karyanya sangat berpengaruh terhadap sejarah Saudi.

"Visi perdamaian Raja Abdullah yang adil dan abadi di Timur Tengah akan terus dikenang dang relevan. Kepala negara Perancis mengungkapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada warga Saudi dan menyatakan komitmennya untuk terus mempertahankan persahabatan kedua negara," bunyi pernyataan dari Istana Kepresidenan Elysee, dikutip dari Al-Arabiya, Jumat (23/1).

Perdana Menteri Inggris, David Cameron memuji mendiang Raja Abdullah sebagai tokoh yang memperkuat dialog antar-agama di seluruh dunia. Sementara, Perdana Menteri Kanada, Stephen Harper memuji almarhum Raja Abdullah sebagai pembela perdamaian.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyatakan belasungkawa dengan menyatakan "tokoh pemimping yang kuat telah pergi".

Raja Maroko Mohammad VI memuji Raja Abdullah sebagai orang yang yang mendedikasikan hidupnya untuk memimpin dunia Arab.

Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi dan Raja Yordania, Abdullah juga memutuskan untuk mengakhiri kunjungan mereka ke Forum Ekonomi Dunia di Davos agar dapay menghadiri pemakaman Raja Abdullah.

"Warga Mesir tidak akan melupakan Raja Abdullah yang bersejarah," tulis pernyataan resmi dari Istana kepresidenan Mesir, dikutip dari Al-Arabiya.


(ama/ike)

16 Januari 2015

Kesederhanaan Makan Rasulullah

Nabi tak pernah kenyang selama hidupnya, bahkan lebih banyak dan lebih sering lapar

Kesederhanaan Makan Rasulullah

Oleh: Zaidul Akbar
JIKA kita amati, mengapa penyakit di zaman dahulu tidak separah dan tidak seberat manusia modern. Apa sebab?
Ternyata jawabannya terletak pada seberapa sederhana seseorang mengkonsumsi makanan hariannya.
Hal ini sebenarnya telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam. Beliau begitu sederhana dalam urusan makanan yang beliau konsumsi yang akhirnya membuat beliau menjadi manusia yang sangat sehat, baik secara fisik maupun secara qolbu.
Hal ini sebenarnya dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, artinya kesederhanaan seseorang dalam mengkonsumsi makanan hariannya lah yang menenetukan sedikit banyak penyakit, yang kalaulah itu menjadi takdir untuknya, meski hal ini belumlah menjadi faktor penentu 100 persen.
Namun, jika kita mencontoh Rasulullah, ya benar sekali, beliau tak pernah kenyang selama hidupnya, bahkan beliau lebih banyak dan lebih sering lapar daripada kenyang atau kekenyangan, karena memang salah satu penyebab lemahnya iman seseorang adalah banyaknya makanan.
Yah, percaya, wisata kuliner dan berbagai ragam makanan masa kini plus dengan berbagai bahan-bahan sintetik didalamnya, sangat mengundang selera manusia untuk mengkonsumsinya, tapi sebenarnya insan yang bijak adalah insan yang memperhatikan sekali apa yang masuk ke dalam perutnya, sehingga semakin sederhana makanan yang ia konsumsi dan semakin alami, maka semakin kecil peluang ia mendapatkan sakit yang berat.
Jadi ya, jangan tanya kenapa banyak mengalami keluhan dan sakit sakit yang sedikit banyak menganggu aktifitas sehari-hari jika yang dikonsumsi adalah makanan “sampah” atau makanan minuman yang memang tidak layak masuk ke dalam tubuh manusia.
Tinggal kita sendiri yang menilai, selama ini lebih banyak kita makan untuk memenuhi hawa nafsu lebih dominan atau justru makan benar benar hanya sekedar memuaskan lidah, bahasa sederhananya, enak di mulut, sampah di perut.*
Twitter Zaidul Akbar @zaidulakbar
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari Hidayatullah.com

15 Januari 2015

Menimba Ilmu Tanpa Batas: Tradisi Ulama Nusantara

Rabu, 14 Januari 2015 - 07:26 WIB

Bahkan Abdusshomad Al Palimbani menjadi ulama nusantara di Haramayn yang turut menggelorakan jihad di nusantara, melalui surat-suratnya kepada penguasa Jawa
Menimba Ilmu Tanpa Batas: Tradisi Ulama Nusantara
Syekh Muhammad Jamil Jaho dan ulama nusantara

Oleh: Beggy Rizkiyansyah
BELAKANGAN ini berhembus kabar dari pemerintah (Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi) mengenai diterapkannya larangan bagi guru agama dan dosen teologi asing dari semua agama untuk bekerja di Indonesia[1].Yang lebih mengejutkan, larangan tersebut bertolak dari upaya melindungi lembaga pendidikan dari benih-benih radikalisasi. Sungguh mengherankan sikap pemerintah, terlebih jika kita hendak bercermin kepada tradisi keilmuan agama (Islam) di tanah air yang bahkan telah teranyam hingga ratusan tahun, bahkan sebelum kita mengenal istilah Indonesia[2].
Jika kita tak abai untuk membuka lembaran-lembaran sejarah, maka kita akan temukan tradisi keilmuan di tanah air yang amat erat hubungannya dengan umat Islam di seluruh dunia. Malah penyebaran Islam di nusantara dilakukan oleh para muslim yang berasal dari berbagai bangsa di dunia,sebut saja dari Hadramaut, India, Haramayn, hingga negeri Cina[3].Tidak hanya berhenti disitu. Murid-murid para ulama tadi, kemudian menyebar, menjelajahi seluruh pelosok negeri, menyiarkan Islam, mendidik kembali, hingga terciptalah jaringan yang amat luas di negeri tanah Jawi (balad al Jawi) ini.
Balad Al Jawi ini pula yang kemudian dikenal sampai jauh di timur tengah sana. Tepatnya di Haramayn; Makkah dan Madinah. Banyak dari ulama-ulama nusantara berguru ke Makkah dan Madinah karena disanalah pusat keilmuan Islam.Orang-orang dari segala penjuru dunia memusat di Haramayn, termasuk dari Balad Al Jawi (Tanah Jawa, yang sebenarnya meliputi seluruh nusantara bahkan hingga ke Kamboja-Vietnam-Thailand)[4].
Di sana ulama-ulama nusantara menimba ilmu kepada guru-guru yang dari berbagai bangsa dan mahzab. Seperti Syeikh Nawawi Al Bantani yang berguru kepada Abdul Hamid Al Dhagestani (Dagestan)[5]; kemudian Syeikh Yusuf Al Maqassari  yang berguru kepada Ibrahim Al Kurani (Kurdi)[6], ada pula ulama besar asal Palembang, Abdushomad Al Palimbani (1704-1789) yang pernah berguru kepada Muhammad Al Jawhari Al Mishri (Mesir), bahkan kepada Muhammad Murad seorang mufti mazhab Hanafi[7]. Sejak lampau pun ulama kita, tiada alergi dan sungkan berguru pada ulama-ulama dari berbagai bangsa. Mereka menjadi bagian dari jaringan ulama internasional, karena ilmu tidak mengenal sekat-sekat kebangsaan. Para ulama tersebut, ketika menuntut ilmu menjadi penuntut ilmu pengembara, berkelana dari suatu daerah kemudian ke daerah lainnya.
Perjalanan Syeikh Yusuf Al Maqassari dapat kita jadikan sebuah teladan betapa gigihnya beliau menuntut ilmu, melintas batas geografis. Ia pernah menuntut ilmu mulai dari tanah India (kepada Umar bin Abdullah Ba Sya’ban), Yaman (kepada Muhammad Bin Al Wajih Al Sa’di Al Yamani), Makkah dan Madinah (Ahmad Qusyasyi dan Ibrahim Al Kurani), Suriah (kepada Ayyub Al Khalwati, bahkan menurut sebagian pendapat hingga ke Turki[8].
Sebagian para ulama nusantara, setelah menuntut ilmu ada yang kembali ke tanah air, mnyebarkan ilmu, tetapi ada pula yang menetap di timur tengah, khususnya Makkah dan Madinah, untuk mengajar di sana. Seperti misalnya Syeikh Nawawi Al Bantani, pada usia 15 tahun ia menuntut ilmu ke Makkah. Di sana ia belajar kepada Syeikh Abdul Gahni (Bima), dan Syeikh Ahmad Khatib Sambas (Kalimantan)[9]. Syeikh Nawawi Al Bantani sendiri kemudian kelak menjadi ulama nusantara yang mengajar di Makkah. Ilmunya begitu disegani sehingga ia dijuluki Sayid Al Hijaz. Nama lain yang dapat kita sebut adalah Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Tahun 1876 ia pergi ke Makkah, menuntut ilmu di sana hingga kemudian mencapai kedudukan tertinggi sebagai imama mahzab syafi’I di Masjidil Haram. Kita kemudian paham, bahwa murid-murid Syeikh Ahmad Khatib adalah para ulama nusantara generasi berikutnya, mulai dari KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Haji Rasul (ayah Buya Hamka), hingga Haji Agus Salim[10]. Maka para ulama-ulama kita di tanah suci sana, mereka menyebarkan ilmunya hingga ke pelosok nusantara melalui perantara para murid-muridnya.
Tidak saja ilmu-ilmu itu menyebar melalui murid-muridnya, tetapi juga kitab-kitab mereka yang melintas darat dan lautan hingga ke nusantara.Sejarah kemudian mencatat bahwa kitab-kitab mereka menjadi rujukan bagi para penuntut ilmu di nusantara. Sebut saja misalnya Syeikh Nawawi Al Bantani, yang kitab-kitabnya menjadi rujukan bagi pesantren-pesantren di tanah air hingga kini. Misalnya kitab Tijan Al Darari. Di kitab tersebut belau dengan bangga menyebut gurunya Syaikh Ibrahim Al Bajuri, seseorang yang tentu saja berbeda bangsanya dari beliau. Begitu pula dengan tafsir beliau Marah Labid Tafsir Al Nawawi[11].
Begitu pula dengan Abdushomad Al Palimbani yang  menulis banyak kitab termasuk salah satu kitab khusus jihad yang amat dikenal di nusantara, yaitu Nasihah Al Muslimin fi Fada’il Al Jihad. Kitab inilah yang turut mempengaruhi semangat jihad di Aceh dan disebut-sebut menjadi rujukan Hikayat Perang Sabil. Bahkan Abdusshomad Al Palimbani menjadi ulama nusantara di Haramayn yang turut menggelorakan jihad di nusantara, melalui surat-suratnya kepada penguasa Jawa. Nama lain yang turut membakar jihad melawan penjajah melalui tulisan-tulisannya adalah Daud Fattani. Karyanya, Munya Al Musalli ditujukan kepada muslim Patani untuk melawan kezaliman bangsa Thailand yang hendak menjajah mereka[12].
Terang sekali bagi kita, dalam tradisi keilmuan Islam di Indonesia, bangsa dan  daerah bukanlah momok, tetapi justru menjadi untaian hikmah. Tidak seharusnya kita menjadi alergi dengan guru-guru yang berasal dari luar tanah air. Salah satu contoh guru asal luar tanah air yang amat berpengaruh di Indonesia adalah Syeikh Ahmad Soorkati. Dilahirkan di Sudan tahun 1872, ia adalah salah satu guru agama penerima sertifikat tertinggi dari pemerintah Kesultanan Usmaniyah di Istanbul. Tahun 1911 ia tiba di Jakarta atas undangan Jamiat Khair untuk mengajar. Ia kelak dikenal sebagai salah seorang tokoh Al Irsyad yang amat berpengaruh di bidang pendidikan.[13] Tokoh Masyumi, Muhammad Natsir, mengakui bahwa Syeikh Ahmad Soorkati adalah salah seorang ulama yang amat berpengaruh pada dirinya.
Telah terang dan bertabur contoh betapa tradisi keilmuan para ulama di tanah air kita ini banyak sekali bersinggungan dan saling melengkapi dengan dunia Islam di dunia.Jejaring para ulama dan ilmu-ilmu mereka tak bisa disekat-sekat oleh batas-batas kebangsaan atau geografis. Ketakutan pemerintah atas pengaruh radikal adalah tidak berdasar. Tradisi keilmuan di nusantara justru menunjukkan betapa kita amat dipengaruhi oleh dunia Islam secara luas. Sejarah pernah mencatat bahwa IbrahimAl Kurani, ulama di Haramayn pernah menulis sebuah kitab berjudul Ithaf Al Dzaki bagi umat Islam di Jawi, sebagai penerang untuk kitab tasawuf,  Tuhfat Al Mursalah ila Ruh An-Nabi karya ulama India, Fadlallah Al Hindi Al Burhanpuri (w.1620) . Tuhfat Al Mursalah yang sempat menimbulkan kehebohan di nusantara ini, kemudian disarikan dan dikomentari pula oleh Abdushomad Al Palimbani dalam kitab alMulakkhas ila at Tuhfah[14]. Inilah upaya ulama nusantara yang menanggapi pengaruh sebuah kitab dari luar untuk bangsanya sendiri. Ada pula tafsir 30 juz pertama karya ulama Nusantara, Tarjuman Al Mustafid yang ditulis oleh Abdurrauf Al Sinkili (1615-1693) dari Aceh.Tafsir ini adalah tafsir yang terpengaruh oleh Tafsir Jalalayn[15].Terang terlihat adanya pengaruh dari luar. Tetapi pengaruh dari luar  ini justru memberikan makna positif bagi keilmuan di nusantara.
Tercatat pula dalam sejarah ketika guru-guru asing membawa pengaruh negatif dalam Islam. Seperti kasus Mirza Wali Ahmad Baig, seorang penyebar paham Ahmadiyah di awal abad ke 20. Awalnya ia diterima sebagai pengajar di komunitas Muhammadiyah, namun seiring perkembangan waktu, paham Ahmadiyah sendiri akhinya terkuak dan ditolak oleh ulama-ulama Muhammadiyah (seperti Haji Rasul) dan Indonesia pada umumnya[16]. Dari contoh ini kita dapat melihat bagaimana ulama-ulama mampu membendung pengaruh negatif di Indonesia.Maka ketakutan pemerintah akan pengaruh buruk di tanah air adalah sebuah paranoid berlebihan. Karena ulama-ulama kita, dari ratusan tahun silam telah mampu untuk menyerap, menimbang dan menyaring segala pengaruh yang datang dari luar.
Justru ketakutan pemerintah kepada hal-hal yang berbau asing, semisal pengaruh dari timur tengah adalah serupa dengan ketakutan pemerintah colonial di masa lalu kepada ulama-ulama serta haji-haji kita yang telah kembali dari Makkah[17].
Tiada mungkin terlebih di era ledakan informasi seperti ini, untuk mengurung diri atas dasar ketakutan terhadap pengaruh dari luar. Melarang hadirnya guru-guru agama  dari luar Indonesia adalah sebuah ketentuan yang abai akan sejarah banngsanya sendiri dan justru menyelisihi tradisi keilmuan para ulama kita.*
Penulis adalah pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

Ulama, nusantara, jawa, Makkah, dakwah, ilmu
[2]Laffan, Michael Francis. 2003. Islamic Nationhood and Colonial Indonesia, The Umma Below The Winds. RoudledgeCurzon: New York
[3] Azra, Azyumardi.  2013. Jaringan Ulama timur tengah dan kepulauan nusantara abad XVII dan XVIII.Kencana Prenada Media Group: Jakarta. Lihat juga Al Qurtuby, Sumanto. 2009. The Tao of Islam: Cheng Ho and The Legacy of Chinese Muslims in Pre Modern Java. Studia Islamika. Volume 16. No. 1
[4]Lesus, Rizki. Catatan Penghujung Tahun: Dari Patani ke Champa, Merajut Jejak Islam di Nusantara. http://jejakislam.net/?p=576. Diunduh pada 12 Januari 2015.
[5]Burhanuddin, Jajat. 2012. Ulama dan Kekuasaan.Pergumulan Elit Muslim dalamSejarah Indonesia. Mizan: Jakarta.
[6] Azra, 2013.
[7] ibid
[8] Ibid
[9] Jajat,2012. Dan Rachman, Abd. Nawawi. 1996.  Al Bantani, An Intellectual Master of the Pesantren Tradition. Studia Islamika.  Volume 3. No. 3.
[10]Noer, Deliar. 1996. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. LP3ES: Jakarta
[11]Jajat, 2012 dan Rachman, 1996.
[12]Jajat, 2012.
[13] Noer, 1996.
[14] Fathurrahman, Oman. 2011. Sejarah Pengkafiran dan Marginalisasi Paham Keagamaan Di Melayu dan Jawa (Sebuah Telaah Sumber). Analisis, Volume XI. No. 2.
[15] Riddel, Peter. 1989. Earliest Quranic Exegetic Activity in Malay Speaking States. Archipel volume 38.
[16]Beck, Herman L. 2005. The Rupture Between The Muhammdiyah and The Ahmadiyya dalam Bijdragen Tot de Taal,- Land en Volkenkunde (BKI) 161-2/3.
[17] Jajat, 2012.
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari: Hidayatullah.com

11 Januari 2015

ANTV, Jodha Akbar dan Sultan Sulaiman

ANTV, Jodha Akbar dan Sultan Sulaiman
Sebelum ini, ANTV sudah menayangkan “Jodha Akbar”, sinertron yang menggambarkan kerajaan Islam Mughal dengat sangat negatif, penuh dengan kebusukan

NAMA Sultan Sulaiman hari-hari ini menjadi pembicaraan di jejaring social. Pembicaraan terutama sejak digambarkan sangat buruk dalam film King Sulaiman pada siaran televisi ANTV. Sementara cerita juga dirangkai subjektif oleh produser liberal-sekuler membuat sosok mulia Sulaiman menjadi makin negatif dan hina.
Ini bukan kali pertama televisi ini mengangkat kisah-kisah palsu dari para pendongeng Barat. Sebelum ini,

5 Januari 2015

Rahasia Sumber Kedatangan Rezeki

Apabila seorang hamba telah berhasil memilki kedekatan yang begitu dekat pada Allah, maka Allah pun tidak akan membiarkan hamba Nya bersedih hati, terlebih apabila itu masalah rezeki

إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki Nya
dengan tidak terhitung jumlahnya.” (Q.S. Ali Imran [3] : 37)
MEMPERBINCANGKAN masalah rezeki adalah suatu perbincangan yang sangat di sukai oleh banyak lapisan masyarakat. Ini disebabkan karena rezeki telah menjadi pokok kehidupan manusia di dunia.
Saat ini buku-buku yang membahas tentang rezeki banyak sekali di gemari dan di santap oleh ribuan pembaca. Mereka seperti selalu ingin mengetahui bagaimana trik jitu meraih rezeki yang berlimpah dengan amalan-amalan tertentu. Tak terkecuali dengan buku yang satu ini, yaitu “Mudahnya Menjemput Rezeki”.
Penulis menggagaskan pendapatnya dalam buku ini kalau sangat berbeda arti antara menjemput, dengan mencari.
Selama ini kita pasti sangat disibukkan dengan mencari rezeki, berbagai cara, usaha keras, berdoa selalu kita usahakan asalkan pulang membawa rezeki yang halal.
Rindang Nuri Isnaini Nugrohowati memiliki pandangan yang berbeda dengan penulis buku rezeki lainnya, dalam buku ini ia menukilkan bahwa menjemput rezeki jauh lebih mudah dibandingkan mencari rezeki.
Pengertian sederhananya, jika kita menjemput sesuatu kita tentu tahu persis dimana tempatnya dan apa yang harus dilakukan, sehingga kemungkinan besar akan membuahkan hasil. Adapun ketika mencari sesuatu kita tidak tahu persis dimana tempatnya, sehingga hanya kemungkinan kecil bisa membuahkan hasil.
Di sini penulis mengajak dan mengajarkan metode baru dari mencari menjadi menjemput. Pasalnya dalam sebuah pencapaian apapun itu termasuk rezeki semua bergantung pada keridhoan Allah.
Rezeki itu Allah yang memberikan. Sejatinya rezeki itu sudah ada dan terkira berapa takarannya bagi setiapa manusia, tinggal bagaimana cara manusia itu menjemputnya.
Butuh kecerdasan untuk meraih semua itu agar Allah ridho jika rezekinya kita gapai dengan cara yang disukai Nya. Kita sudah sangat sering disuguhkan oleh buku-buku cara menggapai rezeki dengan cara tahajjud, dhuha, membaca surat al-Waqiah, al-Mulk, dan ar-Rahman.
Dalam buku ini ada penambahan bagaimana cara menjemput rezeki nya Allah yaitu dengan cara mendoakan rezeki orang lain, dengan berzikir, dengan tekun melafazkan asmaul husna terakhir dengan bersyukur dan bersedekah serta bekerja dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.
Apabila seorang hamba telah sampai pada tingkat kedekatan yang begitu dekat pada Tuhannya maka apapun yang diminta di dalam doa akan segera diberikan oleh Allah. Layaknya kita jika sudah sangat dekat pada seseorang maka apapun yang kita minta pasti akan di usahakannya, karena tak ingin melihat kita bersedih hati. Begitu pula yang dilakukan Allah apabila seorang hamba telah berhasil memilki kedekatan yang begitu dekat pada Allah, maka Allah pun tidak akan membiarkan hamba Nya bersedih hati, terlebih apabila itu masalah rezeki.
Buku “Mudahnya Menjemput Rezeki “ ini dikupas secara apik dan menarik. Bahasa yang di angkat juga begitu renyah dan mudah difahami. Ditambah lagi setiap pembahasan buku ini menyajikan kata kunci dan kata-kata bijak yang langsung dapat kita maknai artinya, ini memudahkan pembaca untuk mengerti dengan cepat setiap gagasan yang disampaikan.
Kumpulan kisah-kisah hikmah serta butir-butir hadis yang tertulis dengan bukti yang otentik memberikan kekuatan dan kualitas atas gagasan yang disampaikan.
Dengan cerdas penulis membagi isi kandungan menjadi 4 bagian yaitu : Luasnya arti rezeki, bagaimana cara menjemput rezeki, kisah inspiratif menjemput rezeki, action menjemput rezeki.
Di balik isi buku yang begitu menarik, terdapat sedikit kekurangan, adapun kekurangan itu ialah di dalam buku ini setiap hadis dan kata-kata bijak di sendirikan penulisan nya dan diletakkan di dalam kotak-kotak, alangkah baiknya jika kotak yang berisi hadis dan kata-kata bijak itu di beri warna yang bervariasi, ini sangat membantu pembaca untuk tidak cepat bosan dalam melahap materi yang disajikan. Warna-warni unik yang tercermin dalam buku akan menimbulkan daya ketertarikan tersendiri bagi para pembaca.
Namun demikian kekurangan yang tak seberapa itu tidak mengurangi sedikitpun kualitas dan kesederhanaan penulis. Gagasan demi gagasan yang dicurahkan dalam buku ini tetaplah menarik. Oleh karena itu buku ini sangat layak dimilki oleh siapa saja. Baik kalangan praktisi, mahasiswa, pendakwah dan masyarakat umum.
Dengan menjamah buku ini Anda dapat mengganti pola fikir anda dari mencari dengan menjemput, sebab menjemput lebih mudah daripada mencari, dan konotasi menjemput diartikan bahwa rezeki sudah tersedia, tinggal meluruskan niat dan meningkatkan ketakwaan pada sang pemberi rezeki.
Dikutip dari : Hidayatullah.com