DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

17 Januari 2015

Pegadaian Syariah: Menyelesaikan Masalah Tanpa Riba

Salah satu lembaga ekonomi syariah yang terus menggeliat. Kini sudah ada 91 cabang.

FOTO: alalmuslimin.blogspot.com
Pagi itu Iwan (43), lelaki warga Kalibata, Jakarta Selatan kaget. Ia baru teringat punya barang di Pegadaian Syariah yang belum ditebusnya. Padahal waktu jatuh tempo sudah lewat 10 hari, sementara jadwal lelang juga sudah lewat seminggu yang lalu. “Barangnya sudah hilang, dong,” ujar istrinya begitu diberitahu Iwan. Namun Iwan yakin barangnya masih ada, “Teman saya juga pernah telat, tapi (barangnya) masih ada,” katanya beralasan.
Keyakinan Iwan terbukti. Pagi itu, ia datang ke Cabang Pegadaian Syariah di Jalan Dewi Sartika, Jakarta, barang yang digadainya masih ada dan dapat segera ditebus. “Alhamdulillah, ini kemudahan (namanya),” ujar pria asal Jawa Barat ini kepada Suara Hidayatullah yang menemuinya di Cabang Pegadaian Syariah pertama di Indonesia itu.
Iwan pantas bersyukur, karena dulu, sekitar 1998, ia mempunyai pengalaman kurang mengenakan dengan pegadaian konvensional. Saat itu, ia menggadaikan sebuah cincin. Karena telat seminggu, begitu akan ditebus cincin itu sudah laku. “Sayang sekali padahal itu cincin pernikahan,” katanya.
Tapi kemudahan semacam itu bukan alasan utama Iwan menggunakan jasa pegadaian syariah (PS). Alasan utama menurut wirausahawan yang sudah tiga tahun menjadi pelanggan PS ini adalah, “Kita ini Muslim, ingin yang madharatnya lebih kecil.” Yang dimasud Iwan dengan madharatnya lebih kecil adalah terbebas dari praktek riba.
Keinginan Iwan itu klop dengan alasan didirikannya PS pada 2003. “Masyarakat Indonesia mayoritas Muslim, dan tidak semuanya siap dilayani secara konvensional oleh pegadaian. Ada juga yang ingin bersyariah. Supaya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Muslim, maka kita siapkan pegadaian syariah ini,” Suhardjo, Jeneral Menejer Divisi Syariah Perum Pegadaian, menjelaskan latar belakang didirikannya PS.
Ternyata, walau awalnya membidik masyarakat Muslim, tak sedikit non-Muslim yang juga menggunakan jasa PS. Hadi misalnya. Lelaki keturunan Tionghoa yang beragama Kristen ini sudah beberapa kali menggunakan jasa PS. “Soalnya di sini gampang dan fleksibel,” ujar pengusaha bakmi ini
Awal Berdiri
Di Indonesia, beroperasionalnya PS ditandai dengan dibukanya Unit Layanan Gadai Syariah ( ULGS) Cabang Dewi Sartika, Jakarta. Mulanya, PS ini hanya berupa unit layanan sebagai satu unit organisasi di bawah binaan Divisi Usaha Lain Perum Pegadaian. ULGS merupakan unit bisnis mandiri yang secara struktural terpisah pengelolaannya dari usaha gadai konvensional. Dari sini, kemudian didirikanlah ULGS-ULGS lainnya di berbagai tempat di seluruh Indonesia .
Perkembangan PS lumayan pesat. Lima tahun beroperasi, statusnya kini bukan lagi unit organisasi, tapi sudah menjadi divisi tersendiri dibawah Perum Pegadaian dengan nama Divisi Syariah. Jumlah outlet-nya pun sudah berkembang. Hingga Oktober 2008, sudah berdiri 91 outlet di seluruh Indonesia yang terdiri dari Cabang Pegadaian Syariah dan Unit Pelayanan Cabang Syariah. “Akhir tahun ini kita akan kejar pertambahan outlet sampai 200,” ujar Ruly Yusuf, Menejer Divisi Syariah Perum Pegadaian, optimis.
Masih menurut Ruly, tahun 2008 omzet PS diperkirakan mencapai angka 1,6 – 1,7 triliun rupiah dengan perkiraan pelanggan sebanyak 700.000 hingga 800.000 orang. “Alhamdulillah, ini menandakan respon masyarakat baik,” ujar Ruly lagi.
Menurut Ruly, selama lima tahun perjalanannya, PS relatif belum menghadapi kendala. “Kita belum bicara kendala, kita masih bicara peluang pasar yang masih sangat besar,” ujarnya.
Produk
Produk yang disediakan oleh PS hingga kini ada tiga jenis. Pertama, gadai syariah, “Ini produk pertama kami, sudah sejak 2003 diluncurkan,” ujar Suhardjo. Prosedur untuk memperoleh kredit gadai syariah sangat sederhana. Masyarakat hanya cukup menunjukkan bukti identitas diri dan barang bergerak sebagai jaminan. Setelah barang ditaksir oleh pihak pegadaian, uang pinjaman dapat segera diperoleh dalam waktu yang relatif singkat, kurang lebih 15 menit. Begitupun untuk melunasi pinjaman, nasabah cukup menyerahkan sejumlah uang dan surat bukti pinjaman.
Kecepatan pelayanan PS sudah dibuktikan oleh Iwan. “Tidak berbelit-belit, ada barang dan KTP, sudah bisa, mudah sekali, nggak macem-macem syaratnya,” ujarnya.
Kedua, pemberian pinjaman (rahn) untuk usaha mikro. Nama programnya ARRUM, singkatan dari Ar-Rahn Untuk Usaha Mikro Kecil. Sistemnya persis sama dengan gadai, hanya saja layanan ini dikhususkan bagi pemilik usaha produktif minimal sudah berjalan setahun. Pada pinjaman jenis ini, jaminananya cukup surat BPKB-nya. “Jadi, yang bisa jadi jaminannya hanya motor atau mobil,” kata Suhardjo.
Ketiga MULIA, singkatan dari Murabahah Emas Logam Mulia Investasi Abadi, yaitu penjualan emas batangan dengan sistem murabahah. Transaksi untuk produk MULIA ini ada dua jenis, tunai dan kredit. Emas batangan yang ditawarkan adalah emas murni 24 karat yang terdiri atas emas 5 gram, 10 gram, 25 gram, 50 gram, 100 gram, 250 gram, dan 1 kilogram. Kelebihan produk ini, harga tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Perbedaan Pegadaian Konvensional
Implementasi operasi PS sebenarnya hampir mirip dengan pegadaian konvensional. Seperti halnya pegadaian konvensional, PS juga menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Hanya saja terdapat perbedaan fundamental antara keduanya, “Kalau konvensional memakai bunga dan biaya dihitung dari pinjaman. Kalau yang syariah tidak menggunakan bunga dan biaya tidak dihitung dari pinjaman, tapi dengan menggunakan jasa titipan atau ijaroh, dua itu yang jadi perbedaan,” Suhardjo menjelaskan.
Jasa titipan atau ijaroh adalah biaya pemakaian tempat dan pemeliharaan barang gadaian selama digadaikan. Tarif ijaroh dihitung dari nilai taksiran barang jaminan (marhun). Sehingga dengan transaki semacam ini, PS memperoleh keutungan hanya dari bea sewa tempat yang dipungut, bukan tambahan berupa bunga atau sewa modal yang diperhitungkan dari uang pinjaman.
Di samping itu, sumber dana untuk modal kerjanya juga terjamin kehalalannya, “Hanya dari bank syariah, kita tidak pakai bank konvensional,” ujar Ruly.
Pada praktek PS, jika nasabah tidak mampu melunasi pinjaman atau hanya membayar jasa simpan, maka PS melakukan eksekusi barang jaminan dengan cara menjualnya. Kemudian selisih antara nilai penjualan dengan pokok pinjaman, jasa simpan, dan pajak merupakan uang kelebihan yang menjadi hak nasabah. Nasabah diberi waktu selama satu tahun untuk mengambil uang kelebihan itu. Jika dalam waktu satu tahun ternyata nasabah tidak mengambil uang tersebut, PS akan menyerahkan uang kelebihan itu kepada Badan Amil Zakat. *Dwi Budiman/Suara Hidayatullah DESEMBER 2008
Dikutip dari: majalah.hidayatullah.com

0 komentar:

Posting Komentar