DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

20 Januari 2015

Kapten Pilot Abdul Rozak


FOTO: KASKUS
Sebaik-baiknya Rumah, Ada Anak Yatim di Dalamnya
Sebaik-baiknya rumah adalah yang terdapat anak yatim di dalamnya. Begitu salah satu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Sabda itu menjadi inspirasi Abdul Rozak (51) dan Istiqomah (48), sepasang suami istri yang tinggal di Tangerang, Jawa Barat.
Keluarga ini sangat ingin mengasuh anak yatim di rumahnya. Bukan karena tidak dikaruniai anak. Pasangan pilot dan mantan pramugari ini telah diberi momongan empat anak. Mereka mengasuh anak yatim, semata-mata ingin melaksanakan ajaran Rasulullah SAW.
Maka pada tahun 2000, saat menunaikan umrah, Abdul Rozak berdoa sungguh-sungguh agar keinginannya dikabulkan. Nah, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) mengabulkan doanya itu? Lalu, apa hubungannya dengan kecelakaan pesawat terbang yang dialami Abdul Rozak pada tahun 2002? Berikut ini wawancara reporter Suara Hidayatullah, Ibnu Syafaat, dengan pria kelahiran Kudus Jawa Tengah itu.
Apakah doa Anda dikabulkan Allah SWT?
Sepuluh hari setelah saya kembali dari umrah, doa saya dijawab oleh Allah Ta’ala.
Ceritanya bagaimana?
Ketika itu ada seorang tukang kebun dari kampung sekitar komplek perumahan tempat saya tinggal, yang dikaruniai anak. Namun saat melahirkan bayi itu, si ibu meninggal dunia dan si ayah merasa tidak sanggup merawat anak tersebut. Sebelumnya saya tidak berpikir untuk mengasuh anak yatim berupa bayi yang baru saja lahir. Oleh karena itu, saya menawarkan anak tersebut pada beberapa keluarga yang sebelumnya mengutarakan niat untuk mengadopsi anak.
Ternyata tak satu pun yang datang mengambil anak tersebut untuk diadopsi. Saya lalu tersadar, mungkin ini adalah jawaban dari Allah dan amanah yang diberikan-Nya supaya saya menjaga dan merawatnya. Anak tersebut lahir dan mulai saya rawat sejak tahun 2000. Sekarang umurnya sudah delapan tahun.
Apa yang Anda rasakan setelah mengasuh anak yatim?
Sangat berat, meskipun kami sudah berupaya untuk menerimanya seikhlas mungkin. Anak kami yang kelima ini sangat menguji kesabaran, mood-nya seringkali berubah. Perilakunya sesuai dengan suasana hatinya. Bila hatinya sedang lunak, ia akan dengan senang hati menuruti apa yang kami katakan. Namun, bila hatinya sedang keras, menghadapi tingkah lakunya sungguh membutuhkan kesabaran yang tinggi.
Kami juga kadang serba salah menghadapinya. Sebab, kalau anak sendiri bisa saja kami berlaku keras kepadanya, tetapi dia bukan anak kami, jadi tidak mungkin berlaku keras padanya.
Apapun yang terjadi, kami menyadari banyak balasan yang dikaruniakan Allah pada kami sehubungan dengan membesarkan anak yatim di rumah, salah satunya adalah diselamatkannya saya dalam kecelakaan pesawat terbang.
Bagaimana kecelakaan itu terjadi?
Saya membawa pesawat Boeing 737-300 milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia rute bandara Selaparang, Lombok – bandara Adi Sucipto Yogyakarta.
Pada ketinggian 23.000 kaki, pesawat memasuki awan hitam tebal yang mengandung petir dan menutupi pandangan mata. Ini berbahaya. Tidak ada pilihan lain kecuali menembusnya. Tiba-tiba mesin pesawat dua-duanya mati. Saya menyalakan generator untuk menghidupkan kembali kedua mesin yang mati tersebut, tetapi yang terjadi justru electricity power rusak. Pesawat lalu meluncur turun ke ketinggian 8000 kaki.
Saat pesawat meluncur itu, saya sudah berulang kali mengirim pesan, ”Mayday...mayday!” Tetapi jawaban tak kunjung datang dan akhirya saya pasrah kepada kehendak Allah. Ketika kepasrahan itu menyeruak di relung hati saya yang paling dalam, saya kemudian bertakbir, ”Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Subhanallah, tiba-tiba pesawat itu keluar dari kurungan awan dan saya bisa melihat dengan jelas apa yang ada di hadapan saya. Saya sungguh merasa bahwa yang mengeluarkan pesawat saat itu dan kemudian menahan pesawat tetap stabil di udara tak lain adalah kekuasaan Allah, sebab mesin pesawat saat itu sama sekali tidak berfungsi.
Yang ada dalam benak saya saat itu adalah tumpukan dosa dan bayang-bayang kematian. Namun, saya menyadari bahwa kewajiban saya adalah membawa seluruh penumpang tetap dalam keadaan selamat. Keputusan yang kemudian saya ambil adalah menjadikan Bengawan Solo sebagai run way pendaratan. Ini juga sepenuhnya berasal dari Allah.
Saya tidak tahu darimana asalnya kekuatan yang bisa membuat saya memutar pesawat agar tidak menabrak jembatan besi yang membentang di sungai tersebut, kecuali juga dari Allah, sebab power pesawat sudah mati. Allah pula yang menuntun saya untuk mendaratkan pesawat di sisi dangkal sungai yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya, sementara di sekitarnya kedalaman sungai kurang lebih 10 meter. Tentu bisa dibayangkan apa yang terjadi bila pesawat salah mendarat. Kesalahan itu akan membawa seluruh penumpang dan awak pesawat menemui ajalnya.
Apa hikmah yang Anda temukan dari kecelakaan itu?
Setelah kecelakaan itu berlalu dan saya mencoba merenungkan kembali kira-kira pesan apa yang ingin Allah sampaikan melalui peristiwa tersebut dan mengapa saya diselamatkan, saya merasa mungkin Allah menginginkan saya lebih bersyukur dan memanfaatkan waktu yang masih diberikan pada saya untuk merawat anak yatim itu sebaik-baiknya.
Apakah peristiwa tersebut kemudian mempengaruhi kehidupan Anda dan keluarga?
Saya jadi lebih berhati-hati dalam mengarungi kehidupan. Sedikit saja saya mulai melenceng dari jalur, nurani saya segera mengingatkan. Kontrol diri saya terhadap perbuatan yang mengundang murka Allah semakin kuat. Mungkin inilah dampak positif yang dirasakan oleh orang yang pernah merasakan dekat dengan ajal. Saya semakin bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah.
Bagaimana kedekatan Anda dengan keluarga di tengah jadwal terbang yang begitu padat?
Saya berusaha memanfaatkan waktu di rumah untuk mendekatkan hati pada seluruh anggota keluarga. Biasanya saya terbang selama enam hari dan dua hari di darat. Waktu dua hari pun tidak sepenuhnya bisa di rumah karena terkadang harus tetap ke kantor. Waktu yang sempit itulah saya gunakan untuk menguatkan pemahaman agama pada keluarga.
Punya kiat khusus mendidik keluarga, terutama anak-anak?
Saya tanamkan pondasi agama yang kuat pada keluarga. Jika agama yang dimiliki sudah tertanam kuat, tidak akan ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kehidupan. Karena itu, saya agak keras mendisiplinkan ajaran agama pada anak-anak, seperti keharusan shalat di masjid bersama saya, bila saya ada di rumah.
Anak pertama dan kedua saya selama enam tahun menjalani pendidikan di pesantren, yang ketiga pernah bersekolah di sekolah Islam (boarding school). Hanya yang keempat yang lebih memilih untuk di rumah. Walau demikian, saya selalu menekankan pada anak yang keempat tentang disiplin beragama.
Anda terlihat sangat religius, padahal banyak anggapan bahwa profesi pilot lebih dekat dengan kemewahan dan dunia gemerlap?
Mungkin bagi sebagian pilot, anggapan itu benar. Namun, anggapan itu juga salah untuk sebagian pilot lainnya. Saat mengudara ribuan kaki di atas langit tak ada orang yang bisa menolong bila terjadi kecelakaan. Bisa terbang dan mendarat dengan selamat itu kemungkinannya hanya beberapa persen, selebihnya adalah kemurahan Allah. Kesadaran inilah yang mungkin belum dimiliki oleh pilot-pilot yang masih lekat dengan duniawi.*Suara Hidayatullah, JUNI 2008

0 komentar:

Posting Komentar