Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi hadir dalam rangka membagun pilar agama dan bangsa.

Eratkan Silaturrahim Jalin Kebersamaan

Selain Hablumminallaah, kita juga harus senantiasa membangun tradisi Hablumminannaas.

Salurkan Infaq dan Shodaqoh anda kepada Penghafal Qur'an

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi Mencetak Generasi Berkarakter Qur'ani.

Mari Ikuti Dauroh Tahfidz Al-Qur'an 14 Hari Hafal 10 Juz

Masjid Baitul Makmur, Perum Telaga Sakinah, Cikarang Barat - Bekasi, tanggal 4 - 17 Mei 2015.

Suntikan semangat pagi hari

Mari dukung program dakwah Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi.

28 April 2015

Rasa Malu

Sudirman Timsar Zubil
Ketua Umum FUISU

"Sebagai ulama saya merasa malu dikota Medan sampai12 Masjid dihancurkan untuk kepentingan bisnis..."

Pernyataan di atas diucapkan oleh Drs. KH Tengku Zulkarnain MM, ketika menjadi saksi ahli di PN Medan dalam gugatan Perdata atas penghancuran Masjid At Thoyyibah oleh preman-preman suruhan Direktur PT. MIL, Drs. Benny Basri, pada 10 Mei 2007 lalu.

Apabila direnungkan pernyataan Drs. KH. Tengku Zulkarnain MM diatas patutlah kita tercenung karenanya. Betapa tidak? dari sekian banyak umat Islam, dan tidak sedikit di antaranya berpredikat ulama atau ustadz, tidak pernah ada yang melintas dipikirannya untuk membuat pernyataan seperti yang dinyatakan ulama asal Medan yang kini menjadi Wakil Sekjen MUI Pusat itu.
Sungguh bertolak belakang dengan penandatangan fatwa sesat MUI Kota Medan yang tanpa merasa malu meminta kepada saya untuk berdamai. Hal itu disampaikannya ketika saya telah selesai memberikan kesaksian dalam gugatan perdata kasus penghacuran Masjid At Thoyyibah di PN Medan pada tanggal 27 Agustus 2012. Saya dan sang Profesor bertemu di Masjid Pengadilan Tinggi Medan ketika akan sholat Zuhur. Sang Profesor berkata :

"Bagaimana kalau kita berdamai saja ?"

"Boleh, asal dipenuhi syaratnya", jawab saya tegas.

"Apa syaratnya? nanti saya sampaikan sama Pak Beny, kalau perlu disuruh dia membuat permintaan maaf kepada umat Islam, dimuat disurat kabar - surat kabar"

"Syaratnya sederhana saja, bangun kembali Masjid At Thoyyibah dilokasi semula. Kalau bersedia maka gugatan akan dicabut."

"Wah, itu sulit. Karena dilokasi itu sudah dibangun ruko-ruko ...." Saya potong bicaranya, dan dengan geram saya bilang: "Menghancurkan rumah ALLAH (Masjid) tidak sulit bagi kalian, tetapi kenapa sekarang mengatakan sulit untuk membangun kembali masjid At Thoyyibah yang dihancurkan secara tidak sah atau melawan hukum. Untuk diketahui kami bukan sekedar memperjuangkan fisik bangunan masjid. Akan tetapi kami juga membela marwah, harkat dan martabat umat Islam yang telah dilecehkan, dinista oleh si kafir Benny Basri dengan menghancurkan rumah ALLAH (Masjid At Thoyyibah).”

Dengan suara lemah sang Professor berkata :

"Saya kan cuma usul, kalau setuju saya sampaikan, kalau tidak, ya tidak apa", katanya pasrah.

Beberapa contoh lagi

Lain pula ulah Professor yang satu lagi. Kepada warga (Jamaah Masjid Raudhatul Islam) dan rekan-rekan dari Aliansi ormas Islam dikatakannya dia mendukung pembangunan kembali Masjid Raudhatul Islam, dan bersedia membuat surat atas dukungannya itu. Akan tetapi ketika diminta surat yang dijanjikannya itu, ternyata sang Professor ingkar janji dia tidak merasa malu kepada ALLAH dan kepada rekan-rekan Aliansi Ormas Islam beserta pengurus BKM Raudhatul Islam yang datang berkunjung kerumahnya pada akhir Bulan Ramadhan 1433 H yang lalu.

Adapun Ketua Komisi Fatwa yang pada pertemuan di kantor MUI Kota Medan tanggal 23 April 2007 menyatakan pendapatnya :

“Jangan dulu masjid At Thoyyibah lama dibongkar, dan jangan pula masjid baru pengganti diresmikan sampai ada keputusan dari Mahkamah Agung mengenai kasasi yang diajukan oleh masyarakat”.

Akan tetapi  hanya berselang 3 hari kemudian, pada tanggal 26 April 2007 keluarlah fatwa MUI Kota Medan yang beliau sendiri turut menandatanganinya, dan fatwa itulah yang dijadikan alasan pembenaran oleh Direktur PT. MIL untuk menghancurkan masjid At Thoyyibah.

Ketika saya memberi kesaksian di PN Medan itu, kuasa hukum MUI Kota Medan, dalam pembelaannya menyatakan bahwa fatwa MUI Kota Medan tentang Istibdal Masjid At Thoyyibah tidak ada menyebutkan penghancuran Masjid tersebut. Pernyataannya itu saya jawab :

"Saya juga tidak mengatakan fatwa MUI Kota Medan menyebutkan penghancuran Masjid At Thoyyibah, akan tetapi keterangan (keputusan) fatwa tersebut yang menyatakan bahwa masjid baru pengganti telah layak untuk menggantikan masjid At Thoyyibah lama. Dengan fatwa itulah Direktur PT. MIL berhasil mendapatkan dukungan  Pemkot Medan dan Kepolisian Daerah Sumatera Utara. Oleh karena bila suatu objek telah diganti, maka objek yang digantikan itu tentulah menjadi milik yang menggantikan, makanya PT. MIL merasa berhak menghancurkan Masjid At Thoyyibah."

Beberapa hal yang diuraikan diatas menunjukan sikap dan perbuatan dari mereka yang sudah tidak punya rasa malu sehingga berakibat masjid At Thoyyibah luluh lantak oleh palu godam preman-preman bayaran Direktur  PT. MIL Drs. Benny Basri. Mereka tidak merasa malu, tidak merasa terhina melihat rumah ibadahnya dihancurkan, melihat bagaimana menara Masjid At Thoyyibah dalam sekejap rubuh oleh eskavator milik Drs. Benny Basri. Mereka lupa kepada pernyataan imam-imam mereka  bahwa  meskipun diganti yang lebih bagus Masjid tidak boleh di tukar jika tidak dengan alasan yang syar'i.

Adapun kepentingan bisnis pengembang bukanlah alasan yang syar'i, jadi oleh sebab itu Masjid At Thoyyibah tidak boleh dipindahkan. Apalagi pada saat itu proses hukum (kasasi) status lahan dimana Masjid At Thoyyibah berada belum diputus oleh Mahkamah Agung. Seyogyanya, jangankan menghancurkan untuk membangunpun dalam keadaan status quo tidak dibenarkan. Maka penghancuran Masjid At Thoyyibah adalah illegal, melawan hukum karena tanpa perintah pengadilan. Ironinya penghancuran itu dilaksanakan dengan pengamanan puluhan Satpol PP dan pasukan Brimob bersenjata lengkap.

Kenapa bisa terjadi ?

Jawabannya ialah, dikarenakan rasa malu sudah hilang sehingga perbuatan-perbuatan jahat, seperti dusta, manipulasi data, suap menyuap dan perbuatan melawan hukum lainnya dilakukan tanpa rasa malu sedikitpun sampai koruptor pun dianggap sebagai pahlawan hanya karena dapat memberi uang dan jabatan. Naudzubillahi min dzalik.
Semoga Majelis hakim yang akan memutuskan perkara ini terpelihara oleh rasa  malu, bila  ada godaan mendatangi mereka  untuk mengalahkan ratusan warga yang menjadi Penggugat. Amin ya Rabbal’alamin.

27 April 2015

Akhlak Adalah Bagian dari Syariat Islam

Akhlak merupakan bagian dari syari’at Islam, yakni bagian dari perintah dan larangan Allah. Akhlaak merupakan sifat yang harus dimiliki seorang muslim guna menyempurnakan pengamalannya terhadap Islam.

Definisi Akhlak 

Secara bahasa, akhlak berasal dari kata al-khuluq yang berarti kebiasaan (al- sajiyyah) dan tabiat (al-thab’u). Sedangkan secara istilah, akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dimiliki tatkala ia melaksanakan berbagai aktivitasnya. Sifat-sifat Akhlak ini nampak pada diri seorang muslim tatkala dia melaksanakan berbagai aktivitas —seperti ibadah, mu’amalah dan lain sebagainya— apabila ia melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut secara benar. Misalnya, akan nampak pada dirinya sifat khusyuu’ di dalam sholat. Allah berfirman:

Sesunggunya beruntunglah orang-orang yang mukmin, yakni orang-orang yang khusyuu’ di dalam sholatnya (TQS. Al Mu-minuun[23]: 1-2). 

Sifat lembutpun nampak pada diri seorang pengemban da’wah tatkala ia melakukan diskusi dengan masyarakat. Allah berfirman tatkala menggambarkan sifat Rasulullah saw:

Maka karena rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu…
 (TQS. Ali ‘Imraan[3]: 159). 

Dalam hal lain, akan terlihat pada diri seorang muslim sikap berani tatkala ia melakukan koreksi terhadap penguasa yang zhaalim. Rasulullah saw bersabda:

Pemimpin para syuhada adalah Hamzah dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa yang zhalim kemudian ia menasehatinya, lantas penguasa itu membunuhnya. 

Diri seorang muslimpun akan dihiasi dengan kesabaran (al-shabr) dan menguatkan kesabaran (mushaabarah) tatkala menanggung derita dan tatkala menghadapi musuh. Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian dan teguhkanlah kesabaran kalian…
 (TQS. Ali ‘Imraan[3]: 200). 

Ia pun akan dihiasi dengan sifat mendahulukan orang lain, yakni mengutamakan orang lain untuk mendapatkan kebaikan dibandingkan dirinya sendiri. Dia rela berlapar-lapar diri demi orang lain. Allah swt berfirman:

…dan mereka mengutamakan (orang Muhajirin) atas (kepentingan) mereka walaupun mereka dalam kesusahan… (TQS. Al Hasyr[59]: 9). 

Kita pun bisa melihat tatkala Ali bin Abi Thalib rela menempati temat tidur Rasulullah pada malam terjadinya persekongkolan (konspirasi) orang-orang musyrik untuk membunuh Beliau saw Ia mengorbankan dirinya demi Rasulullah saw. Seorang penguasa, akan memiliki sifat adil di tengah-tengah masyarakatnya. Allah swt berfirman:

dan apabila kamu menghukum di tengah-tengah manusia maka hendaklah kamu menghukum dengan adil 
(TQS. AN Nisaa[4]: 58). 

Selain yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa sifat Akhlak lainnya yang diperintahkan oleh Allah untuk dimiliki setiap muslim, diantaranya adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik (‘iffah), dermawan, tawaadhu’, dan lain sebagainya. Di samping itu, terdapat pula beberapa sifat Akhlak tercela yang dilarang oleh Islam, diantaranya adalah berdusta, menghasud, zhalim, menipu, riya’, malas, penakut (al jubnu), membicarakan orang lain (ghiibah), dan lain sebagainya. Allah swt berfirman:

…dan dari kejahatan orang yang menghasud…
 (TQS. Al Falaq [113]: 5). 

Rasulullah saw bersabda: Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kepenakutan, kepikunan, dan kekikiran

Kekhususan- kekhususan Akhlak Islami

1. Akhlak Islami tidak mungkin dipisahkan dari hukum-hukum syari’at lainnya, semisal ibadah, mu’amalah, dan lain-lain. Khusyu’ misalnya, ia tidak akan tampak kecuali di dalam sholat. Begitu pula jujur dan amanah akan tampak di dalam mu’amalat. Sehingga, Akhlak tidak mungkin dipisahkan dari perintah-perintah dan larangan-larangan Allah lainnya, sebab, Akhlak merupakan sifat yang tidak akan tampak pada diri seseorang kecuali tatkala ia melakukan aktivitas tertentu.

2. Akhlak Islami tidak tunduk kepada keuntungan materi (al-naf’iyyah al-maadiyah). Yang dituntut dari seorang muslim adalah terhiasinya dirinya dengan sifat-sifat Akhlak ini, yang kadang membawa kemudharatan dan kadang mendatangkan kemanfaatan. Berkata jujur di hadapan penguasa yang zhalim misalnya, dan keberanian melakukan kritikan kepada penguasa itu, maka hal itu bisa jadi akan membuatnya menanggung siksaan. Rasulullah saw bersabda:

Pemimpin para syuhada adalah hamzah dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa yang zhalim dan menasehatinya, kemudian penguasa itu membunuhnya


3. Akhlak Islami sebagaimana halnya aqidah Islam selaras dengan fitrah manusia. Misalnya, memuliakan tamu dan membantu orang sedang yang membutuhkan selaras dengan naluri mempertahan eksistensi diri (ghariizat ul baqa). Khusyu’ dan tawaadhu’ sesuai dengan naluri beragama(ghariizat ut tadayyun). Sedangkan kasih sayang dan berbuat kebajikan, sejalan dengan naluri melestarikan jenis (ghariizat al-nau’).

Pengaruh Akhlak

1. Sesungguhnya akhlak maupun kewajiban-kewajiban syari’at yang lain akan menjadikan seorang muslim memiliki kepribadian yang unik (syakhshiyyah mutamayyizah) tatkala ia bermu’amalat dengan orang lain Itu dapat menjadikan orang-orang mempercayai perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan dirinya.

2. Akhlak Islam menciptakan rasa cinta kasih dan saling menghormati sesama individu-individu dalam keluarga secara khusus, dan antara individu-individu masyarakat secara umum.

Salah satu pengaruh dari Akhlak Islamiyyah adalah, pahala yang akan diberikan Allah swt kepada kepada sorang muslim di akhirat kelak. Orang-orang yang memiliki akhlak yang baik di dunia ini akan menjadi kerabat Rasulullah saw di akhirat dan menemani Beliau dalam merasakan kenikmatan surga. Rasulullah saw bersabda: 

Sesungguhnya yang paling kucintai di antara kalian, dan orang yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang palimg baik akhlaknya.
 (HR. Bukhari)

Ketika Rasulullah saw ditanya tentang kebanyakan orang yang masuk syurga, maka Rasulullah bersabda: "Yang paling bertaqwa kepada Allah dan paling baik akhlaknya."

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Dirasat fil Fikr Al Islamiy.

26 April 2015

Berbakti kepada Orang Tua

Allah Swt berfirman:

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٥)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan meyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan bergaulah dengan keduanya di dunia dengan baik, dan ikulah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang kamu kerjakan” (QS. Luqman 14-15)

Menurut Imam Jalalain dalam Tafsir Jalalain ayat 14-15 ini merupakan kalimat sisipan (jumlah I’tirad) dari keseluruhan ayat yang membuat nasihat Luqman kepada anaknya, yakni dari ayat 12 sampai 19. Imam Az Zamakhsyari dalam tafsir Al Kasysyaf Juz III hal 479 mengatakan bahwa kedua ayat tersebut menurut suatu riwayat diturunkan terhadap kasus sahabat Sa’ad bin Abi Waqash ra., dan ibunya.

Dikisahkan ibunya mogok makan dan minum selama tiga hari memprotes keislamanan anaknya. Tetapi Saad menanggapi aksi ibunya dengan tegas : “Seandainya dia mempunyai 70 nyawa dan keluar satu per satu -mati lantaran mogok makan-, saya tak akan kembali kepada kekufuran”. Imam Az Zamakhsyari juga mengatakan bahwa dua ayat tersebut merupakan kalimat sisipan.

Sedangkan Ibnu Abbas dalam Tafsir Tanwirul Miqbas hal 255. menafsirkan lafazh ‘al insan’ yang menjadi obyek wasiat atau perintah Allah itu dengan Sa’ad bin Abi Waqash ra. meskipun demikian tidak berarti wasiat Allah Swt tersebut untuk Sa’ad saja, melainkan bagi siapa saja di antara manusia, khususnya mereka yang menghadapi fakta seperti Sa’ad bin Abi Waqash tersebut.

Bersyukur

Imam Jalalain, Syaikh An Nawawi Al Jawi, Ibnu Abbas ra. dalam tafsirnya masing-masing mengatakan bahwa dalam ayat : “wawashainal insaana biwaalidaihi” Allah Swt berpesan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Menurut Imam Az Zamakhsyari, perintah bersyukur inilah yang menjadi tafsir dari pesan Allah Swt di atas.

Syaikh An Nawawi Al Jawi dalam Tafsir Al Munir Juz II/171 menyebut bahwa syukur kepada Allah dalam ayat “anisykur lii” adalah dengan melakukan perbuatan ketaatan kepadaNya. Syukur kepada Allah Swt layak dan harus dilakukan manusia kepadaNya lantaran Allah Swt adalah Pemberi Nikmat Sejati yang telah menganugerahkan seluruh kenikmatan kepada manusia. Ibnu Abbas ra. menyebut syukur kepada Allah dengan mentauhidkannya alias tidak mempersekutukanNya dengan sesuatupun dan senantiasa taat kepadaNya.

Sedangkan syukur kepada kedua orang tua dalam ayat “wawaalidaik” wajib kita lakukan lantaran tanpa mereka kita tak bakalan ada. Syukur kepada kedua orang tua dapat kita lakukan diantaranya dengan merawat mereka, menafkahi mereka, memperhatikan mereka, terutama saat mereka tua. Adalah tindakan tercela dan durhaka malah kalau kita mengirimkan orang tua ke panti jompo. Na’udzubillahi min dzalik.

Syaikh An Nawawi mengutip ucapan Sufyan bin Uyainah, seorang ulama mufassir di kalangan tabi’in, sebagai berikut : “Siapa saja yang melaksanakan shalat lima waktu, berati dia telah bersyukur kepada Allah Swt. Dan siapa saja yang selepas shalat lima waktu selalu berdo’a untuk kedua orang tuanya, berarti dia telah bersyukur kepada keduanya”. 

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim Juz III/445 menyebutkan bahwa manusia hendaknya senantiasa mengingat jasa-jasa baik kedua orang tuanya, khususnya ibu yang selain susah payah dalam mengandung anaknya selama kurang lebih sembilan bulan, juga bersusah payah siang malam dalam memelihara, mengasuh dan mendidiknya. Termasuk dalam berbakti kepada orang tua adalah mengingat keduanya dalam do’a, sebagaimana dalam firman Allah : “Dan ucapkanlah : Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil” (QS. Al Isra 24)

Az Zamakhsyari mengemukakan suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At Tirmidzi dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya yang berkata : “Aku bertanya : Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbuat baik? Rasulullah Saw. Menjawab: “Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lau ayahmu …!”

Silaturahmi Dengan Orang Tua

Bersahabat dan bersilaturahmi dengan kedua orang tua merupakan perkara yang tidak boleh kia sepelekan. Bahkan tak boleh diputuskan meskipun kedua orang tua kafir dan menyuruh kepada kekafiran. Ayat 15 secara gamblang mengatakan bahwa jika kedua orang tua -yang kafir atau musyrik- memaksamu menyembah sesuatu yang engkau tak ada ilmu tentangnya, maka janganlah engkau taati keduanya, namun tetaplah bergaul dan bersahabat dengan keduanya dalam urusan keduniaan secara baik.

Kata “ma’rufan” dalam kalimat “wa shahibhuma ma’ruufan” menurut Az Zamakhsyari maksudnya adalah“shahaaban au mushaahaban ma’rufan hasanan”, yakni bergaul atau bersahabat baik dengan budi pekerti yang baik, lembut, dan senantiasa mempertahankan hubungan silaturahmi.

Az Zamakhsyari menafsirkan lafazh “ma laisa laka bihi ilm”, dalam larangan syirik dalam ayat tersebut sebagai larangan menserikatkan Allah dengan sesuatu yang tidak ada apa-apanya (ma laisa bisyai’), yakni berhala-berhala. Sedangkan Ibnu Abbas ra menafsirkan : Jika  keduanya memaksamu untuk menserikatkan aku dengan sesuatu yang engkau tak punya pengetahuan tentangnya “bahwa sesuatu itu adalah sekutuKu, maka janganlah engkau taati keduanya dalam perbuatan syirik itu.

Imam Ibnu Katsir mengutip sebuah riwayat Imam At Thabrani dari Sa’ad bin Malik (Abi Waqash) yang mengatakan bahwa ayat 15 tersebut turun mengenai dirinya. Ia mengatakan : “Dulu aku adalah seorang yang sangat baik (berbakti) kepad ibuku. Ketika aku masuk Islam, beliau berkata: Hai Sa’ad, apa yang terjadi ada dirimu? Ayo, engkau tinggalkan agamamu itu atau aku tidak makan dan tidak minum hingga mati lalu engkau akan dipanggil : Hai pembunuh ibumu! Lalu aku mengatakan kepadanya : Janganlah engkau lakukan, wahai ibu. Karena aku tidak akan meningalkan agamaku ini lantaran apapun. Maka ibuku mogok seperti itu hinga tiga hari. Pada hari ketiga kukatakan padanya : Wahai ibu, ketahuilah, demi Allah, andaipun ibu mempunyai seratus nyawa lalu keluar satu per satu -mati lantaran mogok (makan) tersebut- aku tak akan meninggalkan agamaku karena sesuatu pun. Jika ibu mau, makanlah. Jika tidak, ya sudah. Lalu ibuku makan”.

Dengan demikian ayat tersebut jelas melarang seorang muslim mengikuti tindakan syirik kedua orang tuanya, meskipun tetap harus mempertahankan hubungan baiknya dengan mereka. Secara praktis hal itu dapat kita lihat dalam hadits yang diriwayatkan Asma binti Abu Bakar ra. yang berkata : “Ibuku yang masih dalam keadaan musyrik datang kepadaku di masa perjanjian damai orang-orang Quraisy, yaitu ketika mereka mengadakan perjanjian perdamaian dengan Rasulullah Saw dan ayahnya (Abu Bakar ra.). Aku meminta saran kepada Nabi Saw lalu aku bertanya : “Sesungguhnya ibuku datang memerlukan sesuatu, bolehkan aku menolongnya?”. Nabi Saw menjawab : “ya, tolonglah ibumu” (HR. As Syaikhan)

Jadi silaturahmi dan berbakti kepada orang tua, tidak ada putus-putusnya bagi seorang anak hingga ia sendiri meninggal.
Dikutip dari Suara Islam

25 April 2015

Kaum Sejenis, Kriminal dan Kuno

Allah Swt berfirman:

“Apakah patut kamu sekalian mendatangi orang laki-laki dan meninggalkan isteri-isterimu yang justru dijadikan oleh Rabb (Tuhan) mu untuk kalian? Bahkan kalian adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. As Syu’ara 165-166)

Itulah yang dikatakan nabiyullah Luth As yang mempunyai tradisi bejad dan menyimpang ribuan tahun silam. Tradisi zaman dahulu yang aneh bagi orang waras dan juga menentang sunnatullah ini muncul kembali. Bahkan sejak beberapa tahun yang lalu semakin terkenal di sini, negeri muslim Indonesia, bersamaan dengan mencuatnya keprihatinan dunia (Barat yang kafir dan sesat itu) atas munculnya penyakit AIDS hasil garapan/serangan virus HIV lantaran perbuatan seksual bejad dan kriminal itu. 

Disamping rasa gamang dan was-was atas akibat fatal penyakit AIDS, toh jumlah pelaku homoseksual di negeri muslim terbesar di dunia terus meningkat bersamaan dengan Visit Indonesian Year yang mengundang datangnya wisatawan mancanegara yang tentunya tidak dijamin bebas virus HIV. Oleh karena itu, tampaknya kita perlu menyegarkan kembali ingatan dan kesadaran kita terhadap firman-firman Allah Swt yang berkaitan dengan tradisi kriminal dan kuno yang terjadi pada kaum Luth As agar kita mendapatkan pelajaran darinya.

Imam Jalaluddin Al Mahally dalam Tafsir Al Qur’an Al Azhim/Jalalalain dan Imam Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasysyaf mengatakan, yang dimaksud ‘adzdzukraana minal ‘alamin’ dalam ayat itu adalah ‘ad dzukraana minan naas’ artinya laki-laki diantara manusia. Selanjutnya Az Zamakhsyari mengatakan digunakannya lafazh tersebut mengingat jumlah wanita saat itu (seperti juga kini) jauh lebih banyak dari pada pria. Sehingga menjadi hal yang aneh kaum Nabi Luth As justru tergila-gila pada lelaki sedikit, yang otomatis membuat para wanita yang jumlahnya mayoritas itu ‘menganggur’. 

Penggunaan lafazh ‘minal ‘alamin’ menurut Az Zamakhsari (idem, Juz III hal 319) juga menunjukkan bahwa tradisi bejat dan keji itu tidak pernah dilakukan oleh kaum yang lain di seluruh alam. Kaum Luth As satu-satunya pelaku kejahatan seksual itu dan berarti pelaku pertama tradisi kuno yang merusak manusia dan mengancam kelestarian hidup mereka.

Ancaman tradisi buruk mereka terhadap kelangsungan hidup manusia adalah tradisi kaum kuno yang tidak mau mendatangi istri-istri mereka yang telah diciptakan Allah Swt buat mereka. Wanita diciptakan Allah Swt buat pria, agar mereka bisa tenang dan hidup berkasih sayang (QS. Ar Ruum 21) serta menghasilkan keturunan (QS. An Nisa 1). Setelah mengatakan “Patutkan kalian mendatangi sesama lelaki” (QS. As Syu’ara 165), Nabi Luth As mengatakan kepada mereka : “Watadzaruuna ma khalaqa lakum rabbukum min azwaajikum” (Dan kalian meninggalkan istri-istri kalian yang justru diciptakan oleh Rabb untuk kalian). 

Artinya, istri-istri yang berfungsi mengandung dan melestarikan keturunan kalan, kok kalian tinggalkan? Az Zamakhsyari menerangkan bahwa ayat 166 inipun menyatakan bahwa tradisi kaum Luth As adalah meningalkan aktivitas seksual alami, yakni menyetubuhi wanita (istri-istri mereka) pada qubul-nya dan malahan berbuat aneh-aneh dengan menyetubuhi istri-istri mereka pada dubur atau anus mereka. Walhasil, generasi barupun tak bakal dilahirkan

Jelaslah kebiasaan buruk menyetubuhi manusia (laki maupun perempuan lewat duburnya) itu merusak mekanisme alami kelangsungan hidup manusia. Padahal untuk itulah Allah telah menciptakan naluri cinta kasih antara pria dan wanita (gharizah an na’u).

Rusaknya para lelaki kaum Luth As ternyata menimbulkan kerusakan ndividu. Para lelaki begitu ogah menyentuh wanita. Mereka hanya suka laki-laki. Kalaupun mereka menyentuh wanita, perasaan mereka seperti menyentuh laki-laki. Itu terbukti dengan menyetubuhi dubur mereka. Pandangan dan perasaan kaum lelaki yang telah mentradisi dan membudaya ini telah mengubah perasaan kaum wanita, yang akhirnya menyalurkan hasrat mereka sesama mereka (lesbian). 

Ini bisa dipahami kenapa Allah Swt tidak menyelamatkan istri Nabi Luth As dari siksaNya (QS. As Syu’ara 171). Sunguh rusak kaum Luth As. Sungguh keterlaluan kebejatan dan kemaksiatan yang mereka lakukan. Allah Swt pun menyatakan mereka sebagai kam yang sangat melampaui batas (‘bal antum qaumun aaduun’).

Begitu rusaknya tradisi mereka hingga tak punya malu sama sekali, bahkan tidak menghormati Nabi Luth As yang diutus Allah Swt untuk memperingatkan mereka kepada jalan Allah serta hidup sehat, wajar dan meninggalkan cara-cara hidup yang tidak senonoh dan gila. Mereka malah menghardik dan mengancam utusan Allah itu (QS. As Syu’ara 167). Bahkan tatkala datang para malaikat yang diutus Allah untuk mengazab mereka, kaum Luth masih dengan sikap pongah dan angkuh, tetap mempertahankan tradisi keji itu sebagaimana diabadikan oleh Allah Swt dalam firman-Nya :

‘Dan datanglah kaumnya kepadanya (Nabi Luth As) dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang keji (homoseksual-lesbian). Luth berkaa : Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kalian kepada Allah, dan janganlah kalian mencemarkan (nama)Ku terhadap kaumku ini. Tidakkah ada diantaramu orang yang berakal?. Mereka menjawab : Sesungguhnya kamu telah tahu, bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki” (QS. Huud 78-79)

Hujan batu untuk kaum Nabi Luth, untuk yang sekarang apa?

Oleh karena itu, Allah Swt telah menurunan azab yang amat pedih yang memang layak buat kaum yang tidak memakai akalnya, padahal Allah ciptakan buat pengendali hidup mereka, yakni pasangan hidup. Malah mengumbar hawa nafsu serta tipuan-tipuan syaithan, sehingga hidup mereka di dunia telah jauh menyimpang dari tujuan yang sebenarnya (QS. Adz Dzariat 56). Kaum sesat penuh noda itu dimusnahkan oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya :

“Dan kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amatlah buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian tu benar-benar terdapat bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman” (QS. As Syu’ara 173-174)

Kalau untuk kaum Luth Allah menyiksanya dengan hujan batu, untuk umat akhir zaman ini apa? Apakah penyakit AIDS itu merupakan siksa Allah yang setara dengan hujan atau yang ditimpakan kepada kaum Luth? Mungkin saja andai penyakit itu telah menewaskan mayoritas penduduk dunia, tapi fakta sekarang belum menunjukkan hal itu. Artinya, sekarang adalah peringatan dari Allah bahwa hal itu bisa terjadi nantinya, atau mungkin ada siksa yang lebih ganas seperti yang menimpa kaum Luth.

Bagi kita orang-orang yang waras, tentunya fenomena AIDS adalah peringatan dan teguran dar Allah Swt secara langsung lantaran hukum Allah yang berkaitan dengan homoseksual tidak diterapkan dan diindahkan. Jika hukum Allah diterapkan, berarti kita telah menyelamatkan umat manusia dari siksa Allah yang mengerikan, sebab mencegah manusia dari perbuatan keji itu berarti menghilangkan sebab datangnya siksa Allah, karena siksa Allah yang luar biasa itu akan ditimpakan jika kemaksiatan telah merajalela dan masyarakat tidak bisa diperbaiki lagi. Oleh karena itu kita wajib menerapkan hukum Allah atas orang-orang yang melakukan tindak kriminal homoseks.

Menurut Syekh Ali Ash Shabuni Tafsir Ayatul Ahkam (halaman 40 Juz II) disebutkan, bahwa sanksi bagi kaum homoseks adalah hukuman mati yang teknik pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan hakim. Bisa jadi mereka dipenggal, dirajam, ditembak, atau dilempar dari gedung yang paling tinggi di sebuah kota. Jika alternatif yang terakhir ini dilaksanakan di Jakarta, maka yang paling tepat adalah dilempar dari puncak Monas. 

Kita lihat fenomena hari ini, Amerika yang menjadi kiblat para pemuja nafsu saat ini sudah mencabut larangan perkawinan sejenis. Sehari setelah larangan tersebut dicabut, banyak sekali pasangan sejenis bergegas meresmikan hubungan mereka. Merekalah pengikut kaum Nabi Luth yang ingkar dan bejad. Oleh karena itu, sudah saatnya kaum muslimin melaksanakan tuntunan hidup sesuai syariat Islam saja dan segera meninggalkan segala apapun yang merusak dari bangsa kafir karena mereka memang berniat hendak menghancurkan kaum muslimin dengan berbagai macam cara (QS. Al Baqarah 120).
Wallahu ‘alam bishshawab.

Dikutip dari Suara Islam

24 April 2015

Nasehat Buat Anak

Seringkali Rasulullah SAW mengingatkan agar kita berbakti kepada orang tua kita. Memuliakan dan mengabdi kepada mereka. Sehingga jika ada anak yang durhaka kepada orang tuanya maka ia adalah orang yang bakal sengsara didunia dan di akhirat. Dan termasuk dosa yang akan didahulukan hukumannya di dunia sebelum di akhirat adalah dosa durhaka kepada orang tua.

Untuk memupuk benih bakti seorang anak kepada orang tuanya adalah dengan sering-sering kita menghadirkan besarnya makna perjuangan orang tua terhadap anak-anaknya di saat sang anak masih kecil.

Sungguh suatu pengabdian yang tiada tandingnya. Orang tua rela sakit demi anak, tidak nyenyak tidur demi anak dan begitu seterusnya. Perjuangan demi perjuangan beliau jalani, pengabdian demi pengabdian beliau lalui semuanya adalah demi anak.

Akan tetapi kadang seorang anak terbawa dalam kelalaian akan semua yang telah diperjuangkan oleh orang tua. Sehingga ada seorang anak membentak orang tuanya atau bahkan dengan mudah memukul orang tuanya atau menyakiti hati orang tuanya dengan lidah dan tingkah lakunya. Yang ingin melihat manusia celaka di dunia dan di akhirat cukuplah melihat seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Durhaka kepada orang tua kadang teramat halus sehingga tidak dirasakan oleh seorang anak akan tetapi ternyata seorang anak sudah berada pada hakekat kedurhakaan.

Seorang anak yang menghindar dari beban biaya rumah sakit untuk orang tuanya yang ditanggung oleh saudara-saudaranya. Disaat pembayaran biaya rumah sakit pura-pura tidak tahu atau menjauh untuk sementara dari keluarganya dengan berbagai alasan. Namun sebenarnya hanya ingin menghindar dari beban biaya pengobatan orang tuanya. Sungguh Allah Maha Tahu apa yang ada di hati sang anak durhaka ini. Sadarilah bahwa jika kita sakit seorang tua akan mengorbankan semua yang dimilikinya demi kesehatan kita.

Adalagi seorang yang durhaka dengan memanfaatkan kebaikan orang tua. Orang tuanya memang mencintainya dan berjuang untuknya. Menyekolahkannya hingga sang anak bisa berhasil dan mendapatkan pekerjaan yang nyaman, bersih dengan gaji tinggi. Sementara orang tuanya tetap tidak berubah sebagai seorang petani yang kulitnya disamping semakin hitam terbakar matahari juga semakin berkeriput dimakan usia. Akan tetapi keberhasilan sang anak tidak merubah keadaan orang tuanya. Bahkan mungkin seorang anak dengan tanpa hati nurani telah menjadikan sang ibu babu di rumahnya yang mencuci bajunya dan menyiapkan makan sang anak. Sungguh ini adalah anak durhaka yang susah bertaubat sebab ia tidak sadar jika yang demikian itu adalah durhaka.

Adalagi durhaka yang tidak dirasakan oleh seorang anak. Yaitu dikala orang tua yang sudah keriput itu tidak lagi dianggap nyaman keberadaannya di meja makan bersama. Maka seorang tua pun dibuatkan meja kecil di ruang yang agak terpisah agar tidak menggangu. Dan hanya orang durhaka-lah yang menganggap orang tuanya mengganggu.

Cukuplah orang tua kita capek di saat kita masih kecil giliran kita sudah dewasa dan orang tua kita semakin lemah mari kita muliakan dan kita layani orang tua kita. Mengabdi berangkat dari hati yang tulus karena Allah SWT bukan hanya takut dihujat oleh masyarakatnya. Sebab ada orang mengabdi dan berlemah lembut kepada orang tuanya di depan teman dan tetangganya akan tetapi di saat tidak ada yang melihatnya maka pengabdian dan lemah lembut itupun hilang.

Wallahu a'lam bishshowab


Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah
 

23 April 2015

Sahabat Sejati

Buya Yahya
(Pengasuh LPD Al-Bahjah)

Kemuliaan hati adalah disaat kita merasa senang jika ditegur dan diingatkan oleh sahabat  kita. Dan sahabat  sejati adalah sahabat yang gemar mengingatkan disaat  kita berbuat salah. Alangkah indahnya jika persahabatan dijalin dalam irama meningkatkan kualitas diri agar bisa semakin dekat kepada  Allah SWT  dan semakin cinta kepada Rasulullah SAW. Bukanlah disebut sahabat jika dia membiarkan diri kita terjerumus dalam kesalahan. Begitu sebaliknya, bukanlah disebut sahabat jika ia mendendam disaat kita mengingatkan dan menegurnya tatkala ia bersalah.

Sahabatku, ada sesuatu yang tersimpan di lubuk hati kita yang tidak tampak, kecuali disaat kita mendengar atau melihat sahabat kita bersalah. Yaitu rasa ingin menegur dan menyapanya karena merindukan kebaikan untuk sahabatnya tanda ketulusan dalam persahabatan. Sedangkan rasa enggan serta acuh tak acuh  untuk menegurnya adalah tanda kekotoran hati saat bersahabat.

Ada sesuatu yang tersembunyi di lubuk hati kita yang tidak tampak kecuali disaat kita mendapat teguran dari teman kita kala kita bersalah. Yaitu kesombongan yang menjadikan kita  tiba-tiba merasa dendam, marah serta sebal melihatnya dan tidak nyaman duduk disampingnya.

Ketahuilah! Seorang sahabat amat besar pengaruhnya dalam pembentukan karakter, sikap, akhlak, dan keimanan. Itulah yang dimaksud Rasulullah SAW untuk umat beliau melalui sabdanya "Seseorang itu akan mudah terbawa kepada agama sahabatnya, maka jika ingin melihat iman dan akhlaq seseorang lihatlah siapa yang menjadi teman dalam hidupnya!"

Yang  disebut  sahabat  maknanya luas, bisa teman kerja, guru yang mengajar  kita, jalinan suami-istri, termasuk diantaranya adalah anggota dalam sebuah lembaga atau paguyuban, maka disaat hubungan kawan dengan kawan, guru dengan murid, suami dengan istri atau keanggotaan dalam sebuah lembaga. Jika di dalamnya tidak terdapat makna saling memberi dan saling menerima teguran positif maka sungguh jalinan itu bukan jalinan yang dirajut karena Allah SWT.

Sahabatku, untuk menciptakan keindahan bersahabat karena Allah SWT disini dibutukan dua hal, yaitu Pertama; adalah ghiroh, yaitu rasa mencintai sahabatnya dan rasa tidak rela jika sahabatnya terjerumus. Dan semua ini berlaku dalam rangka menghayati makna hadits Nabi Muhammad SAW "Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian sebelum ia benar-benar mencintai saudaranya seperti mencintai untuk dirinya  sendiri". Maknanya adalah agar kita senantiasa merasa tidak rela jika sahabat kita berbuat maksiat dan dimurkai oleh Allah SWT seperti halnya ia tidak rela jika dirinya di murkai oleh Allah SWT

Kedua; adalah lapang dada, dengan menghadirkan penghargaan kepada saudara kita yang telah menegur dan mengingatkan kita dengan menginsyafi betapa berharganya sebuah teguran itu. Menghindari sifat-sifatnya orang-orang yang sombong yang jauh dari hidayah Allah SWT yang mudah tersinggung, kecewa dan dendam disaat ada seorang sahabat yang mengingatkannya.

Jika ada orang menegur dan mengingatkan kita, lihatlah makna yang disampaikannya. Sebisa mungkin untuk tidak  mempermasalahkan caranya, yang mungkin menurut kita kurang menarik atau mungkin menyakitkan. Sebab hati yang tulus dan tawadhu hanya akan melihat kebenaran dan kebaikan darimana pun datangnya dan bagaimanapun cara penyampaiannya. Rasa terima kasih yang dalam disaat ditegur adalah  tanda sebuah ketawadhuan dan kebesaran jiwa dalam menerima sebuah kebenaran. Dan hati yang sombong amat susah menerima kebenaran walau sebaik apapun cara kebenaran itu disampaikan dan sehebat apapun orang yang menyampaikannya. 

Wallahua'lam bisshowab

22 April 2015

Dunia Ini Permainan Belaka

Allah Swt berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat iti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. Al An’am 32)

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnyanakhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahuinya.”(QS. Al Ankabut 64)

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِن تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS. Muhammad 36)

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

‘Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (QS. Al Hadid 20)

Keempat ayat di atas meskipun secara redaksional berbeda-beda, namun mengandung pesan yang sama, yakni penegasan sekaligus peringatan Allah Swt kepada para hambanya tentang hakikat kehidupan dunia agar manusia bisa memiliki pandangan yang jernih dan tepat tentang kehidupan dunia sehingga dapat mengambil sikap yang tepat dalam kehidupan dunia yang cuma sekali ini.

Pada ayat pertama, Allah Swt menggunakan lafazh “ma”..”illa”, yang merupakan alat pembatas (adlatul hasr) untuk membatasi hakikat kehidupan ini. Dalam tafsir Jalalain, kehidupan dunia dalam ayat itu maksudnya adalah “kesibukan dunia”. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan “umumnya atau kebanyakannya” kehidupan manusia di dunia itu tidak lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Sedangkan “daarul akhirat” menurut Imam Jalalain adalah surga yang tentunya lebih baik dari pada kesenangan kehidupan dunia bagi orang-orang yang bertakwa (yattaquun). Imam Jalalain mengatakan penggunaan huruf “ta” dalam lafazh “ta’qiluun” setelah huruf “ya” pada lafazh yataquun memiliki pengertian dorongan agar beriman adanya kehidupan akhirat yang hakikatnya lebih baik itu.kepada Allah adalah surga yang tentunya lebih baik.

Pada ayat kedua Allah membatasi hakikat kehidupan dunia dengan lafazh yang sama dengan “maa” ….”illa”,  hanya ada tambahan lafazh Hadzihi. Kehidupan dunia ini tidak lain merupakan senda gurau dan main-main belaka. Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah Swt mengabarkan kepada kita tentang rendah dan hinanya kehidupan dunia serta tujuan-tujuan yang ada dalam aktivitas kehidupan itu hanyalah sekedar aktivitas senda gurau dan permainan belaka. Kehidupan dunia itu sementara dan ada akhirnya. Sekaligus Allah Swt menegaskan bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sejati dan abadi. Ayat itu ditutup dengan kalimat “lau kaanuu ya’lamuun”, kalau mereka mengetahuinya. Menurut Ibnu Katsir, sekiranya mereka mengetahuinya tentulah mereka lebih mengutamakan yang kekal dari pada yang sementara ini. Kata Imam Jalalain, kalau mereka tahu, tentunya mereka tidak akan memiliki dunia dan meninggalkan aktivitas dunia seperti itu. 

Pada ayat ketiga Allah Swt menggunakan pembatan “innama” (hanyalah) untuk merendahkan urusan-urasan dunia dengan mengatakan bahwa hasil atau kesimpulan sema aktivitas dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan sendau gurau belaka. Imam Ibnu Katsir mengatakan hal itu berlaku bagi semua kegiatan manusia di dunia dengan kekecualian, yakni kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencari keridloaan Allah Swt. Kekecualian ini nampak dalam lanjutan ayat tersebut : “Jika kalian beriman dan bertakwa, maka Allah akan memberikan pahala kepada kalian.” Artinya, segala aktivitas yang dibangun atas daasar keimanan –termasuk iman kepada akhirat--, dan ketakwaan –sesuai dengan syari’at Allah--, dan dalam rangka mencari keridloan Allah itu tidak termasuk dalam kehidupan hina. Allah menegaskan bahwa diri-Nya Maha Kaya, yakni tidak meminta harta manusia sedikitpun. Dia hanya mewajibkan zakat dan menganjurkan shadakoh agar diberikan kepada saudara mereka yang faqir – miskin yang ini manfaatnya pun akan kembali kepada pemberi harta itu.

Sedangkan pada ayat keempat Allah Swt menggunakan pembatas “annamaa” (hanyalah) utnuk menyatakan kerendahan dan kehinaan dunia. Kehidupan yang hanya dipenuhi dengan permainan dan senda gurau yang melalaikan belaka. Lebih jelas lagi Allah Swt menambahkan bahwa dalam kehidupan seperti itu biasanya dipenuhi dengan perhiasan, bermegah-megah, dan berbangga-banggaan harta dan anak belaka. Kesibukan manusia hanya diseputar aktivitas untuk memenuhi tujuan-tujuan itu. Mereka pun lalai bahwa tujuan diciptakan manusia dan jin di dunia ini hanyalah untuk beribadah, sebagaimana firman-Nya dalam surat Adz Dzariat :56 : “wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduuni.” Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu. Mereka lalai dalam kesibukan itu. 

Lihatlah kesibukan yang terjadi dalam seluruh pesta permainan olah raga level dunia seperti olimpiade misalnya. Belum lagi kesibukan sebelumnya, dan tentunya dengan berbagai kebanggaan dan kegembiraan masing-masing tim yang disambut kedatangannya di negara masing-masing, merekapun telah ancang-ancang (melakukan berbagai persiapan yang jauh lebih terencana, lebih matang dengan harapan dapat memperbaiki dan memperoleh prestasi yang lebih baik, agar lebih gembira lagi!) untuk memenuhi jadwal hari-hari berikutnya dengan berbagai kesibukan seperti itu. Belum lagi tim-tim permaian olah raga lainnya, yang kini di berbagai negara telah terorganisir. Belum lagi permainan kesenian dan hiburan, baik yang diperlombakan maupun yang dipertontonkan (melalui festival-festival, peragaan busana, pemilihan ratu sejagad, dsb) melalui berbagai media, media cetak, elektronik maupun langsung. Yang kesemuanya itu tidak lain hanyalah memenuhi selera hawa nafsu manusia belaka 

Itulah tabiat manusia. Bahkan Al Qur’an merekam peristiwa yang mengambarkan tabiat yang mudah lalai itu, sebagaimana digambarkan Allah pada masa Rasulullah Saw saat beliau sedang berkhutbah Jum’at:

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk mendatanginya dan meninggalkan engkau (Muhammad) (masih) berdiri (menyampaikan khutbah Jum’at).”  (QS. Jum’ah 11)

Oleh karena itu, Allah Swt memberikan peringatan dalam surat Al Munafiqun 9: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

Dikutip dari Suara Islam