Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

15 November 2019

Tenangnya Hati Karena Ingat Akhirat

Gundahlah jika tak punya amal, sehingga harta di tangan tak sempat membuat hati sombong.
SIFAT dunia adalah fana, gemerlapnya bukan sumber ketenangan, banyaknya bukan pondasi kebahagiaan. Dunia, segala sisinya adalah kekeruhan, kecuali digunakan untuk ketaatan dan pengabdian kepada Allah Ta’ala.
Hanya agama (baca Islam) yang mampu memberikan uraian perihal hakikat dunia secara rasional dan empiris. Manusia yang kafir kepada ajaran Islam, tidak ada tujuan tertinggi dalam hidupnya, kecuali sumber dari kegelisahan itu sendiri, yakni segala macam capaian keduniaan, mulai dari harta hingga tahta.
Meski demikian, tidak berarti orang beriman lepas dari kegelisahan semacam itu. Kerapkali manusia enggan berpikir, sehingga dalam hidupnya, bahkan ada yang sepanjang hidup, hatinya selalu menjadi tempat kegelisahan demi kegelisahan. Di sini kita perlu terus membaca perihal apa itu dunia secara hakiki.
Jabir ibn ‘Awn al-Asadi berkata, “Dalam sambutan pertamanya sebagai khalifah pada masa Bani Umayyah (715-717)  Sulaiman ibn Abdul Malik mengatakan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan, menghilangkan, dan merendahkan sesuatu yang dikehendaki-Nya; memberi dan menghalangi siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya dunia adalah negeri tipu daya, tempat kebathilan, dan perhiasan yang tidak stabil; sebentar tertawa kemudian menangis; sebentar menangis kemudian tertawa; sebentar menakutkan kemudian mengamankan; sebentar mengamankan kemudian menakutkan; mengubah orang yang kaya jadi fakir; dan mengubah orang fakir menjadi kaya.
Wahai hamba Allah jadikanlah kitab Allah Ta’ala sebagai imam, ridhailah, dan jadikanlah ia sebagai panutan. Ia menghapus (nasakh) kitab sebelumnya dan tidak akan ada kitab setelahnya yang menghapusnya.
Ketahuilah, wahai hamba Allah, Al-Qur’an ini dapat menyingsingkan tipu daya dan kedengkian setan laksana cahaya subuh ketika fajar menyingsing selepas malam yang meninggalkan gelapnya.”
Oleh karena itu, jangan pernah gelisah karena keadaan hidup kita di dunia. Sejauh yang kita miliki halal, walau pun sedikit, atau bahkan mungkin mengundang orang lain memandang kita dengan pandangan yang merendahkan, itu jauh lebih baik jika benar-benar halal dan tidak mengandung unsur yang mengundang murka Allah Ta’ala.
Sebaliknya, tidak perlu berbangga dengan apa yang berhasil dicapai dalam urusan duniawi. Sebab, belum tentu semua aset yang kita miliki benar-benar bersih dari unsur yang dapat memberatkan hisab kita di dunia dan akhirat.Oleh karena itu, menarik kita simak nasihat Ali bin Abi Thalib kepada Salman Al-Farisi.
“Dunia laksana ular. Siapapun yang memegangnya bakal dibinasakan dengan bisanya.
Berpalinglah dari barang-barang dunia yang menakjubkanmu karena bagian dunia yang bisa kamu dapatkan hanya sedikit. Jangan gelisah karena dunia lantaran jelas-jelas kamu bakal meninggalkannya.
Jadikanlah sesuatu yang membuatmu bahagia di dunia adalah hal yang paling ditakuti olehnya. Setiap kali budak dunia merasa damai dan mendapatkan kebahagiaan, setiap kali itu pula ada ketidaknyamanan yang mengganggunya.”
Demikianlah dunia yang dibanggakan oleh sebagian manusia dan digelisahkan oleh sebagian yang lain. Mereka benar-benar lupa bahwa dunia bukanlah tempat yang layak dibanggakan atau pun digelisahkan. Sebab dunia tidak diciptakan melainkan untuk menguji keimanan.
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan engkau semua sebagai khalifah di bumi itu. Maka Allah akan melihat bagaimana yang engkau lakukan. Oleh sebab itu, waspadalah terhadap dunia dan waspadalah terhadap wanita. Karena awal fitnah bagi Bani Israil adalah wanita.” (HR. Muslim).
Selanjutnya kita dapat melihat hakikat dunia ini dari firman Allah Ta’ala.
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 7).
Dengan demikian janganlah bersusah payah dalam kehidupan dunia ini kecuali pada apa yang dapat terus menemani kita hingga ke akhirat, yakni ilmu dan amal.
Gelisahlah jika tak memiliki ilmu sehingga merasa diri terus butuh terhadap ilmu. Gundahlah jika tak punya amal, sehingga harta di tangan tak sempat membuat hati sombong, karena harta itu akan binasa dan membinasakan, kecuali diinfakkan di jalan Allah Ta’ala.
Jika seseorang kegelisahan dan kegundahannya sudah pada tahap esensial seperti itu, perihal ilmu dan amal, insya Allah kebahagiaan dan ketenangan batin akan bersarang di dalam dadanya, bagaimanapun keadaannya. Sebab ia sadar, semua baik, jika menguatkan iman, menambah ilmu dan mendorong diri beramal.*/Imam Nawawi

14 November 2019

Nasihat Ilmu

Inilah rahasia di balik keberuntungan yang disuguhkan kepada orang-orang beriman dalam hidupnya.
AGAMA itu nasihat. Demikian pesan singkat Kanjeng Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam terindah senantiasa tercurah kepada beliau, kepada setiap umat beliau.
Hadits tersebut disalin oleh Imam an-Nawawi dalam Kitab Arbain Nawawiah yang berisi kumpulan empat puluh hadits pokok di kehidupan manusia. Yakni, jika ilmu adalah agama maka sumber ilmu adalah nasihat itu sendiri. Bahwa sebentang masa kehidupan manusia, hakikatnya sehampar itu pula nasihat demi nasihat hadir di sekelilingnya.
Dalam kehidupan ini, manusia hanyalah berpindah dari satu nasihat kepada nasihat berikutnya. Dari satu pelajaran kepada pelajaran selanjutnya. Itulah mengapa hidup di dunia harus senantiasa dihiasi dengan ilmu dan menjadi manusia pembelajar. Karena menuntut ilmu masanya tak berbilang dan tiada berbatas. Tak kenal tepi apalagi tapi.  Ilmu mesti dicari dan terus dipelajari. Penuh kesungguhan, keikhlasan, dan kesabaran yang indah.
Jelasnya, mari simak kembali hadits yang diriwayatkan Imam Muslim tersebut. “Agama itu adalah nasihat”. Kami (Sahabat) bertanya: “Untuk siapa ?” Nabi bersabda: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam-Imam kaum Muslimin dan bagi kaum Muslimin umumnya”.
Jadi sesungguhnya tak perlu risih dengan kata nasihat. Apalagi sampai alergi atau antipati. Tak elok pula berkata bosan menyimak nasihat. Hidup manusia memang tak lepas dari lingkaran nasihat yang memagarinya. Realitasnya, manusia butuh pengingat selalu. Itu fitrah. Jika urusan ini diingkari, justru tampaklah kebodohannya. Itu berarti ia senang terkungkung. Bersembunyi di balik dalam tempurung keegoannya. Hanya karena suka menampik kebaikan yang ditawarkan pada dirinya. Hanya karena bukan namanya yang duluan disebut, atau receh-receh keangkuhan lainnya.
Inilah rahasia di balik keberuntungan yang disuguhkan kepada orang-orang beriman dalam hidupnya. Karena jiwa mereka selalu terasah dengan nasihat yang dikumpulkan. Di sana ada ibrah dan uswah, ada basyiran dan nadziran dari nasihat tersebut.
Manusia yang imannya hidup, juga tidak membatasi nasihat sepagar ceramah di mimbar atau pengajian di majelis taklim semata. Bahkan yang tak bersuara pun bisa jadi pengingat yang berguna. Asal dirinya peka dan jiwanya bersih dalam menerima asupan hati. Perhatikan saja, gigi-gigi yang mulai keropos, sendi tulang yang perlahan mengilu, uban yang kian bercahaya, hingga kematian itu sendiri. Semuanya secara bergantian terus mengingatkan manusia dalam bisu.
Olehnya, terkadang nasihat tersebut bukan persoalan suka atau senang. Bukan asal cocok atau tidak cocok. Tapi selayaknya manusia memang butuh untuk selalu diingatkan. Kehidupan ini berputar dan akan tiba masanya roda itu berhenti di tempat yang ditentukan. Maka beruntunglah manusia yang selalu ingat kepada Penciptanya. Sebagaimana rugi dan celakalah dia yang masih saja lalai dengan berbagai alasan yang dibuatnya. Penuh sesal nanti, ia cuma bisa berucap. Duhai, kiranya saya hanyalah sebutir debu saja di dunia ini.
Bagaimana dengan manusia yang tak kunjung mempan dengan nasihat? Nyatanya demikian. Ada orang yang beratus-ratus judul buku telah dilahapnya. Tak berbilang kajian, seminar, ceramah agama pernah dikunjunginya. Titel ilmunya pun adalah sarjana tentang ilmu agama. Pun dari lulusan sekolah atau kampus berlabel agama pula. Atau mungkin ia berkawan dan bertetangga dengan orang-orang shaleh di sekitarnya. Tapi dirinya sendiri cuma bisa larut menikmati hidup foya-foya, penuh kesia-siaan.Dalam hal ini, selain faktor hidayah sebagai hak kuasa Allah, Nabi Muhammad juga mengingatkan, bahwa nasihat yang bermanfaat adalah yang datangnya dari hati dan diterima melalui hati pula. Itulah adab. Adab bagi yang memberi nasihat dan adab bagi yang menerima nasihat. Sama-sama butuh saling mengoreksi diri. Khawatir dia bermaksud menyampaikan nasihat atau menerima nasihat, namun keduanya lupa untuk membersihkan hati terlebih dahulu. Jika itu terjadi, maka nasihat yang diberi hanya sampai di lidah dan kerongkongan semata. Sebagaimana nasihat yang diterima cukup tertampung sebagai kumpulan pengetahuan di otak saja. Tak mampu menembus hati.* Masykur

13 November 2019

Istighfar Ilmu

barat pelita, istighfar menjadi penerang hati dalam menerima ilmu. sebagaimana dengan istighfar pula, amal seseorang bisa lurus sesuai dengan cita-cita ilmu sebelumnya.
Tradisi beristighfar dan berdoa untuk penghapusan dosa di Bulan Ramadhan.
BERUNTUNGLAH orang yang menjumpai catatan amalannya istighfar (memohon ampun) yang banyak kepada Allah.
Kabar gembira sekaligus perintah ini disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad (semoga shalawat dan salam terindah tak putus mengalir untuknya) seperti diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
Menggembirakan, karena cukup memperbanyak satu amalan saja sudah jadi jaminan kesuksesan. Sederhana. Tapi tak mudah dikerjakan. Itu sebabnya manusia mesti diperintah. Realitasnya, diperintah saja masih ada sebagian manusia yang lalai dari kewajiban tersebut.
Mengapa istighfar? Istighfar adalah kebutuhan pokok bagi manusia. Istighfar sama bahkan melebihi dari kebutuhan primer berupa makanan atau lainnya. Istighfar adalah terapi manjur bagi pribadi jujur. Cocok bagi pegiat ketaatan dan kebaikan. Apalagi mereka yang masih berkubang dengan dosa dan kemaksiatan. Disengaja atau tidak. Disadari atau bukan. Dikatakan jujur. Karena istighfar adalah pengakuan atas kesalahan yang dikerjakan dan ketulusan memohon syafaat atau ampunan Allah.
Istighfar juga obat untuk segala persoalan hidup yang mendera manusia. Ia bisa dibaca untuk mengundang hujan dari langit, menghentikan kemarau dan paceklik yang tak berkesudahan.
Istighfar bisa dipakai untuk mereka yang rindu dibuahi keturunan yang shaleh dan shalehah. Istighfar sangat cocok bagi mereka yang ingin diperbanyak harta dan kebun-kebun yang lebat. Kalimat ajaib ini juga sangat pas pula untuk menenangkan hati seseorang yang sedang gundah.
Cukup? Oh, belum wahai sahabatku. Masih ada selaksa lebih faidah dari permohonan ampun kepada Allah tersebut. Ibnu Taimiyah berkata dalam kumpulan fatwanya, seorang hamba butuh kepada istighfar siang dan malam. Bahkan sangat mendesak untuk senantiasa membasahi lidahnya dengan bacaan istighfar pada setiap ucapan dan keadaan. Dalam keadaan sendiri atau di hadapan banyak orang.Mengapa demikian? Menurut Syeikh al-Islam, istighfar mengandung maslahat yang sangat banyak, menghadirkan kebaikan dan mencegah keburukan. Seorang hamba melalui istighfar, bisa meminta tambahan kekuatan dalam amalan hati, fisik, keyakinan, dan keimanan. Hebatnya lagi, istighfar bukan melulu bicara keburukan atau dosa. Kebaikan pun butuh istighfar. Usai wudhu dan setelah shalat, orang itu masih diminta untuk beristighfar.
Di sini, tampak hubungan kuat antara ilmu dan istighfar. Bahwa meski berilmu tinggi, manusia tetap tak pernah sempurna. Semakin luas bacaan dan semakin dalam penghayatan, orang itu justru kian mendapati dirinya berliput kekurangan dan kecerobohan.
Istighfar adalah rambu yang menahan manusia dari sikap sombong dan bangga terhadap diri sendiri. Menyadarkan akan hakikat dirinya selaku hamba di hadapan Tuhannya. Sedang Tuhannya adalah Rabbul Alamin (Pencipta dan Pengatur alam semesta).
Diceritakan Abu Barzah al-Aslami, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berkata di akhir majelis jika dirinya hendak berdiri meninggalkan majelis:
“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik (artinya: Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan aku meminta ampunan dan bertaubat pada-Mu).
Lalu ada seseorang yang berkata: Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan satu perkataan yang tidak engkau ucapkan sebelumnya? Beliau menjawab, “Sebagai kafarah (penghapus) terhadap apa yang terjadi di majelis”.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ahmad).Inilah hikmah mengapa manusia butuh memohon ampunan selalu. Sebab dalam urusan majelis ilmu pun ia tetap berhajat untuk istighfar. Kalau-kalau ada kekhilafan yang terlewatkan. Ibarat pelita, istighfar menjadi penerang hati dalam menerima ilmu. sebagaimana dengan istighfar pula, amal seseorang bisa lurus sesuai dengan cita-cita ilmu sebelumnya.
Sebagai teladan, mari merenungi kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail yang masih saja tertunduk dalam munajatnya kepada Allah. Padahal mereka adalah manusia pilihan Allah dan sedang mengerjakan amalan terbesar dalam sejarah kehidupan.
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Al-Baqarah [2]: 127).* Masykur

12 November 2019

Pertarungan yang Terberat

"Wahai sahabatku. Jangan biarkan musuh-musuh itu membobol benteng terakhir kita pada jiwamu. Jangan biarkan mereka merampas senjata termahalmu yaitu imanmu dan tekadmu!".

Oleh: Dr. Ali Ash-Shalabi
SAYA masih tetap berpendapat bahwa saat ini kita menjalani tahapan yang terberat dalam pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Mungkin inilah tahapan terakhir dari pertarungan dahsyat ini. Yaitu: Pertarungan batin yang kita rasakan dalam diri kita sendiri.
Yaitu pertarungan yang terjadi antara apa yang kita yakini kebenarannya dengan apa yang dikehendaki oleh pihak lain untuk kita yakini sebagai kebenaran.
Pertarungan antara keyakinan dalam Agama Islam, nilai-nilai mulia dalam Agama Islam, dengan hiruk pikuk dunia yang sangat menggoda, yang menyalahi akhlak mulia dan melanggar keyakinan dalam Islam.
Akhirnya, setelah pertarungan batin yang panjang, banyak dari kita yang kalah. Keyakinan mereka jatuh. Akhlak mulia mereka tumbang.
Saya mengenal dengan baik beberapa orang yang menang dalam pertarungan di banyak penjara. Mereka mampu bertahan di hadapan para tukang pukul yang sangat kejam, tapi akhirnya mereka tumbang kalah di hadapan pertarungan dengan jiwa mereka sendiri. Tiba-tiba mereka mundur seribu langkah ke belakang, lalu mereka melakukan banyak hal yang pada beberapa tahun yang lalu, tidak pernah mereka bayangkan untuk mereka lakukan seujung kuku dari pelanggaran yang mereka lakukan saat ini.
Wahai saudaraku para pemimpin umat.
Jiwa kita masing-masing adalah benteng pertahanan terakhir. Terutama mereka yang masuk dalam pertarungan ini sejak awal. Ketika pertarungan yang terjadi ialah pertarungan antara rakyat dengan penguasa yang zhalim. Kemudian dengan cara-cara yang licik, para tirani itu mengubah pertarungan itu menjadi pertarungan antar sesama rakyat. Pertarungan antar kelompok masyarakat. Kemudian pertarungan itu berkembang menjadi pertarungan antar komponen kelompok masing-masing. Setiap kelompok berpecah belah. Akhirnya, pertarungan ini sampai pada tahap terakhirnya, yaitu pertarungan setiap kita dengan diri kita masing-masing. Pertarungan batin.
Inilah sunnah kauniyah, ketetapan Allah pada pertarungan antara Al-Haq dan Al-Bathil. Pertarungan itu dimulai dari pertarungan sengit antara Jalut dan Kelompok Mu’min, kemudian berakhir dengan pertarungan antar kelompok mu’min itu dengan diri mereka masing masing. Pertarungan yang terakhir ini lahiriyahnya kecil, tapi sesungguhnya ia jauh lebih dahsyat dari pertarungan yang pertama, melawan musuh berwujud manusia yang nyata. Medan pertarungan itu lahiriyahnya adalah pembatasan minum air sungai, tapi pada hakikatnya, ini adalah pertarungan yang luar biasa, karena yang banyak minum berarti jiwanya kalah dalam menahan hawa nafsu; dan yang tidak banyak minum berarti jiwanya menang dalam mempertahankan prinsip kebenaran, membuat hawa nafsu terjungkal di bawah kakinya. Dengan jiwa para pemenang inilah Allah segera memberikan kemenangan kepada mereka:
( فهزموهم بإذن الله )
“Maka mereka mengalahkan (musuh musuh) mereka, dengan izin Allah”. (QS: Al-Baqarah: 251).Ketika Nabi Musa -‘Alaihissalam- dan para pengikut beliau sampai ke tepi pantai Laut Merah, Allah menunda terbelahnya laut, sampai mereka didekati oleh Fir’aun dan pasukannya, agar mereka tiba pada pertarungan yang terakhir, yaitu pertarungan orang beriman dengan diri mereka sendiri, sebelum Allah membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya; lalu goyahlah iman sebagian pengikut Nabi Musa -‘Alaihissalam-, yaitu mereka yang beranggapan bahwa mereka pasti kalah. Saat itulah, Nabi Musa -‘Alaihissalam- mengatakan:
(كلا، إنني معي ربي، سيهدين)
“Sekali kali tidak!. Sesungguhnya aku bersama Rabbku, pasti DIA memberi petunjuk kepadaku. (QS: Asy-Syu’ara’: 62).
Saat ini, kita berada pada tahap ini. Pertarungan tahap akhir. Begitu dahsyatnya pertarungan ini, sampai berguguran ratusan orang setiap hari, padahal mereka itu adalah para pemenang yang sangat tegar pada berbagai pertarungan yang lalu. Begitu dahsyat pertarungan ini dan begitu mengerikannya mereka yang berjatuhan itu, sampai saya berdo’a sekitar seribu kali dalam sehari:
“Ya Allah, Selamatkanlah saya”.
“Ya Allah, Selamatkanlah saya”.
Pada satu hari saya menguatkan sahabatku yang mulai putus asa:
“Wahai sahabatku, Tenangkan dirimu. Kebenaran ini dijamin oleh Allah untuk menang. Sudah pasti pada akhirnya menang. Tapi yang paling mengerikan ialah bahwa kebenaran ini menang lalu kita tidak punya saham walau satu pohon pada taman kebenaran, atau kita tidak meletakkan walau satu batu sekalipun pada bangunan kebenaran”.
“Wahai sahabatku. Jangan engkau sibukkan dirimu dengan sesuatu yang bukan tanggung jawabmu, sampai engkau lupa banyak hal yang sesungguhnya itu semua adalah tanggung jawabmu”.
“Jagalah keyakinan dalam dirimu. Peliharalah ketinggian akhlakmu. Lindungilah kesucian hatimu. Pertahankanlah kesucian lisanmu. Perkuatlah keteguhan jiwamu. Bersamaan dengan itu dan setelah itu semua, tidak usah peduli dengan apa yang terjadi!. Karena sungguh, sekiranya bukan karena kemenangan para pengikut Thalut dalam pertarungan pembatasan untuk minum itu, niscaya Allah tidak memberikan kemenangan kepada mereka dalam pertarungan melawan musuh mereka yang paling beringas”.
“Siapa yang menyangka bahwa tak ada sungai selain sungainya Thalut dan para pengikutnya, maka sungguh ia belum mengenal Allah dengan baik”. (Maksudnya, ujian dan pertarungan batin itu terus berlanjut sepanjang masa).
“Wahai sahabatku. Apa gunanya kebenaran itu menang kalau kita kalah?!”.
“Wahai sahabatku. Jangan biarkan musuh-musuh itu membobol benteng terakhir kita pada jiwamu. Jangan biarkan mereka merampas senjata termahalmu yaitu imanmu dan tekadmu!”.
“Sahabatku. Ini adalah pertarungan terakhir. Sangat sedikit yang selamat. Kebanyakan orang binasa”.“Ya Allah, Selamatkanlah kami.”
“Ya Allah, Selamatkanlah kami.”
Mari kita memperbanyak Shalawat dan Salam kepada Nabi yang do’a paling banyak beliau ucapkan ialah:
(يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك)
“Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, Teguhkanlah hatiku pada AgamaMu”.
اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

11 November 2019

Menyibak Hikmah Masa Kecil Rasulullah

Kehidupan Nabi Muhammad di masa kecil dalam perkampungan Bani Sa`ad, membuatnya akrab dengan alam


SEBELUM kelahirannya, dunia di ambang kehancuran. Allah Subhanahu wata’ala  sendiri –sebagaimana hadits riwayat Muslim- sampai memurkai mayoritas penduduk bumi kala itu. Hanya segelintir kecil orang yang membawa cahaya. Namun, laksana kunang-kunang di tengah pekatnya malam. Mereka ada, tapi tidak bisa menjadi lokomotif perubahan.
Saat kegelapan berada pada titik puncaknya, lahirlah bayi yang dipilih Allah Subhahanu wata’ala  menjadi agen perubahan bagi seantero alam. Kehadirannya menurut pemaparan al-Qur`an, sejak jauh hari sudah diprediksi oleh Injil, dengan nama Ahmad (QS. As-Shaf [61]: 6). Bahkan, uniknya para nabi pun disumpah agar beriman ketika menjumpainya (QS. Ali Imrân[3]: 81).
Kelahirannya diabadikan sejarah dengan momentum kegagalan Abrahah Ashram dalam ekspedisi penghancuran ka`bah. Surah Al-Fil [105], ayat 1-5 menggambarkan secara jelas bagaimana Allah SWT menunjukkan kesudahan orang yang mau meniadakan cahaya. Betapa pun dahsyatnya kegelapan, pada akhirnya akan lenyap dengan hadirnya cahaya (QS. Al-Isrâ [17]: 81). Cahaya itu, bernama Muhammad ﷺ.
Dari jenak-jenak sirahnya di masa kecil (1-10 tahun), ada beberapa hikmah berserakan yang bisa dihimpun sebagai pintu untuk mengetahui sirah beliau dimasa kecil. Pertama,  beliau lahir dari keluarga baik-baik dan dari pernikahan syar`i. Beliau memiliki nasab yang bagus. Merupakan suatu pembelajaran berharga bagi orang tua. Jika ingin mendapat keturunan yang baik, maka harus selektif dalam memilih pasangan.Kedua, terlahir dalam keadaan yatim. Dalam literatur sirah, beliau sudah ditinggal mati ayahnya sejak di dalam kandungan(bahkan nanti disusul ibunya pada saat berusia 6 tahun). Peristiwa ini bertalian erat dengan takdir ilahi yang kemudian hari akan memilihnya menjadi orang pilihan sebagai penutup risalah para nabi.
Keyatiman secara horisontal, membuatnya peka terhadap penderitaan-penderitaan sosial, melembutkan hati, memberikan ketahanan internal yang membuatnya kokoh ketika akan menghadapi rintangan yang akan menimpanya di kemudian hari, bahkan menjadi inspirasi bagi anak semisalnya.
Adapun secara vertikal, ada isyarat menarik yang bisa dibaca dari peristiwa keyatiman beliau: bahwa pendidikan bocah ini tidak akan dicampuri dengan tangan manusia. Keyatiman dini, tidak memberinya peluang untuk mendapat doktrin yang kuat dari ayahnya. Sehingga ia manjadi anak yang betul-betul bebas pengaruh dan mendapat penjagaan dan perhatian langsung dari Allah Subhanahu wata’ala.
Ketiga, penyusuan ke Halimah Sa`diyah. Ini adalah jenak peristiwa yang juga berkaitan erat dengan ‘skenario’ Allah Subhanahu wata’ala dalam mempersiapkannya menjadi manusia pilihan. Dalam tradisi penduduk Arab kala itu, mencarikan ibu asi bagi anak dari penduduk desa merupakan bagian mendasar untuk membuat bayi yang sehat dan kuat. Jadi, sejak kecil (1-4)kebutuhan asi beliau terpenuhi sehingga menjadi anak sehat dan kuat.Sisi lain yang tidak kalah menariknya, kehidupan Nabi Muhammad ﷺ di masa kecil dalam perkampungan Bani Sa`ad, membuatnya akrab dengan alam. Pendidikan alam bisa secara langsung dia terima laiknya anak perdesaan lainnya, beliau akrab berinteraksi dengan alam secara langsung. Beliau biasa berkuda, berenang, bermain dengan teman sebayanya, dan lain sebagainya.
Martin Lings menyebutkan keistimewaan hidup di pedesaan di antaranya: memiliki udara segar untuk pernafasan, bahasa Arab yang fasih untuk lidah, dan kebebasan bagi jiwa (2007: 48). Hidup di lingkungan yang alami seperti ini, membuat masa kecil nabi peka terhadap lingkungan, tidak kehilangan masa kecil, fasih dalam berbicara, bahkan membuat jiwanya lapang.
Keempat, pembelahan dada. Peristiwa pembelahan dada ini, diceritakan langsung oleh Anas bin Malik sebagaimana riwayat Muslim. Dia pun tahu ada bekas jahitan di dada Rasulullah ﷺ. Dalam hadits disebutkan bahwa rahasia pembelahan dada ini adalah untuk membersihkan Muhammad ﷺ dari potensi buruk, pengaruh setan. Kejadian ini membuat hatinya bersih dan beraklak mulia.
Kelima, menggembala kambing. Bukhari meriwayatkan bahwa setiap nabi pasti berprofesi sebagai penggembala kambing semasa kecil. Rasul sendiri menggembalakan kambing penduduk Mekah dengan menerima upah. Kebiasaan ini, tentu saja memberikan pengelaman berharga bagi Nabi Muhammad di masa kecil yaitu: kemandirian, kepemimpinan, kepekaan, kesabaran, kelembutan, keuletan, dan ketelatenan yang sangat berguna ketika pada saatnya menjadi nabi.
Masa kecil nabi yang terlahir dari keluarga baik-baik, yatim, tumbuh di perkampungan Bani Sa`ad, pembelahan dada, dan penggembalaan kambing adalah di antara sekian kecil mutiara yang efeknya sangat dahsyat bagi pendidikan anak. Tidak berlebihan jika al-Qur`an (Al-Ahzab [33]: 21) menandaskan bahwa dalam “sirah” beliau benar-benar menyimpan keteladanan yang berhaga. Tentunya bagi orang yang mengharap (ridha) Allah dan berorientasi akhirat. Bagaimana dengan kita?*/Mahmud Budi Setiawan