Program Orang Tua Asuh Santri

Yuk.. ikut bagikan kabar gembira sebagai ungkapan kepedulian Yuk ulurkan tangan kita untuk mempersiapkan generasi penjaga Al-Qur'an karena “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” insyaallah setiap bantuan anda terhitung sebagai amal jariyah....

Program SEDEKAH SEIKHLAS SENYUM

Yuk bantu para santri yatim dan dhuafa yang sedang menghafal Al-Qur'an!!!... dengan bantuan yang anda berikan akan sangat bermanfaat untuk para santri program ini bertujuan melatih kita untuk konsisten dan istiqoamah saat berinfaq.

Majalah Suara Hidayatullah

Apresiasikan perjuangan para Da'i Allah Dengan berlangganan majalah, Menebarkan berkah-Bukan fitnah Untuk Berlangganan HUB : 0813-8606-8612 ,Dan 0895-345-423-758.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
ZULKIFLI - Cikarang Rp. 20.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

23 Juli 2016

Anak, Sang Peniru

Ia sepertinya sudah merasakan kesedihan. Suatu perilaku yang bisa jadi ia tiru dari orang-orang dalam kehidupannya.
MUHAMMAD ABDUS SYAKUR/HIDAYATULLAH.COM
Setiap tanggal 23 Juli disebut sebagai Hari Anak Nasional. Sementara setiap tanggal merupakan hari dimana anak-anak harus selalu diperhatikan.
HARI-hari bagi seorang anak penuh dengan pencermatan dan meniru apa saja yang dilakukan orang lain, terutama kalangan dewasa termasuk orangtuanya.
Seperti bocah laki pada gambar ini. Dalam suatu proses pemakaman seorang Muslim di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, para pelayat mendoakan almarhum yang baru saja dikuburkan.
Anak tersebut pun mengangkat tangannya, mungkin turut berdoa mengikuti orang-orang di sekelilingnya. Gambar dijeprethidayatullah.com pada Senin pagi, 22 Ramadhan 1437 H (27/06/2016).
Dari raut wajah dan tatapannya ke papan nisan, anak ini sepertinya sudah merasakan kesedihan atas kepergian almarhum yang tak lain keluarga dekatnya. Suatu perilaku yang pastinya ia tiru dari orang-orang di lingkaran kehidupannya.
Suatu keyakinan bagi banyak orangtua, mengajak buah hati ke tempat-tempat seperti pemakaman merupakan proses pendidikan untuk melatih empati dan kejiwaan anak.
[Foto: Syakur]
Di Balikpapan, Kalimantan Timur, seorang anak terlihat “bersusah payah” memasukkan uang ke kotak infaq di sela-sela khutbah Idul Fitri 1437 gelaran Masjid ar-Riyadh, Teritip (06/07/2016).
Sementara di belahan wilayah lainnya, banyak disaksikan anak-anak yang merokok, mencabul, maupun bertindak anarkistis, dan lain sebagainya.
Fenomena itu, diyakini banyak pihak, dilakukan oleh anak-anak karena meniru apa yang telah mereka saksikan. Baik secara langsung dari orangtua, maupun lewat berbagai media seperti televisi.
Di Indonesia, setiap tanggal 23 Juli disebut sebagai Hari Anak Nasional. Sementara setiap tanggal merupakan hari dimana anak-anak harus selalu diperhatikan.
Ada yang bilang, anak adalah peniru terbaik. Kepada mereka, mari memberi contoh yang benar dan baik!*
Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

22 Juli 2016

Ilmu: Antara Manfaat dan yang Menipu

Siapa menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan untuk ridha Allah, tetapi ia pelajari untuk dunia, di hari kiamat ia tak mencium bau Surga
Oleh: A. Kholili Hasib

SUATU saat, seorang murid senior Imam al-Ghazali berkirim surat berkeluh-kesah atas keadaan dirinya. Sang murid itu telah bertahun-tahun belajar kepada sang Hujjatul Islam. Hingga berhasil menguasai beberapa disiplin ilmu sampai pada tingkat detil dan rumit. Akan tetapi, dengan modal ilmu-ilmu itu, ia merasa ada yang kurang. Sebab, ia kebingungan mana yang bermanfaat untuk masa depannya.
“Telah aku baca berbagai macam dan jenis disiplin ilmu. Aku habiskan rentang usiaku hanya untuk mempelajari dan menguasainya. Sekarang, aku harus memilah dan memilih jenis disiplin ilmu apa yang bermanfaat untukku di masa depan serta mampu menjadi teman yang menghiburku di dalam sempit nangelap di liang kubur, mana juga yang tidak bermanfaat hingga aku langsung menyisihkannya”, demikian kata sang murid dalam hatinya (Imam al-Ghazali,Ayyuhal Walad,).
Renungan murid imam al-Ghazali tersebut patut kita cerna baik-baik. Mungkin saja kita sedang dalam keadaan menggeluti sesuatu yang belum memberi manfaat untuk masa depan hidup kita. Karena, kita berada dalam milliu pendidikan yang tidak lagi menjadikan ilmufardhu ain dan fardhu kifayah sebagai frame pendidikan Islam. Di lain pihak masih banyak lembaga yang masih mencari-cari model pendidikan yang mampu melahirkan generasi Muslim beradab.
Maka dapat kita ditemui, para orang tua sangat menekankan anak-anaknya untuk kursus bahasa Mandarin, kursus menari, musik, bimbingan belajar matematika dan lain-lain. Bahkan beban itu terlampau melewati batas normal kemampuan anak. Dengan biaya mahal sekalipun. Tapi lalai, bahwa anaknya belum bisa membaca surat al-Fatihah, belum hafal bacaan shalat dan tata caranya, dan buta terhadap maksud rukun iman dan Islam.
Begitulah, kejahilan tentang ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah menyebabkan seseorang itu tertipu (maghrur). Apalagi ada perasaan ‘ujub terhadap pencapaian ilmu yang telah diraihnya. Bisa jadi, seseorang tersibukkan dengan ilmu-ilmu yang tidak membawa manfaatnya.
Diterangkan oleh imam al-Ghazali, terdapat ilmu yang ahli bidang hukum dan khilafiyah fiqih dengan detail. Akan tetapi, ilmu tersebut tidak bermanfaat (untuk dirinya). Indikasinya, semakin detail ia pelajari, semakin ia bermaksiat kepada Allah.
Siang-malam dihabiskan untuk meneliti persoalan khilafiyah, namun abai terhadap penyakit yang menempel dalam hatinya sendiri.  Berprasangka bahwa tidak ada ilmu lain yang menarik perhatiannya, kecuali ilmu perdebatan (munadzarah), membela diri, mengalahkan lawan-lawannya demi eksistensinya sebagai ilmuan yang ‘ahli’ fikih.
Akibatnya, tipe orang seperti itu mengabaikan sifat-sifat yang tercela seperti sombong, riya, hasud, cinta kehormatan, pangkat dan mencari popularitas. Semua ini adalah bentuk ketertipuan terhadap ilmunya. Kesibukannya hanya bertumpu pada amaliah lahir saja. Yang benar, mestinya ilmuan tersebut mempelajari ilmu lahir (fikih) sekaligus ilmu batin (tazkiyatun nafs).
Sebagaimana seseorang yang mempelajari fiqih harus memahami tauhid. Bahkan, kata Ibnu Athoillah al-Sakandari, memisahkan keduanya berarti terjun ke dalam ‘kekufuran’. Ia berpendapat: “Orang yang banyak berbicara tentang tauhid tetapi tidak peduli ilmu fiqih, sama saja dengan mencampakkan dirinya ke dalam samudra kekufuran”.
Seorang yang tertipu oleh ilmunya sendiri antara lain ada yang menekuni ilmu-ilmu syariat dan ilmu rasional (ilm ‘aqliyah). Dua ilmu ini baik dan bagus. Semestinya membawa manfaat. Namun di sisi yang lain, mereka membiarkan anggota tubuhnya berbuat maksiat. Ddisebabkan, ilmunya tidak tidak diamalkan dengan baik.
Seseorang tertipu dengan ilmunya itu, karena dalam dirinya terdapat perasaan bahwa dengan eksisnya ilmu syariat dalam dirinya, ia merasa sudah aman dari murka Allah Swt. Prasangka yang berlebihan bahwa ilmu yang ia pelajari langsung menaikkan derajatnya di sisi AllahSubhanahu Wata’ala.
Mereka inilah yang tertipu dengan ilmu yang dimiliki. Padahal, ilmu yang bermanfaat adalah apabila diamalkan dan membawa kepada rasa khasyyah (takut) kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Tanda ilmu yang bermanfaat itu diungkapkan oleh Ibnu Athoillah al-Sakandari, yaitu jika ilmu itu kita pelajari mengundang khasyyah (rasa takut) kepada Allah Subhanahu Wata’ala (Ibnu Athoillah al-Sakandari, Al-Hikam, hal.278). Bila kita pelajari suatu ilmu, tetapi tidak semakin bertakwa, maka ada dua sebab; bisa jadi ada subjek ilmu yang belum ditekuni dan bisa pulamindset belajarnya keliru yaitu ilmunya dituju untuk tujuan-tujuan tidak baik.
Ternyata, disiplin ilmu-ilmu itu tidak mengandung manfaat kecuali bila membantu menuju kepada takwa. Jadi, kemuliaan ilmu digantungkan oleh manfaat atau tidaknya. Sudah pasti dengan memenuhi syarat mempelajari; yaitu niat karena Allah Subhanahu Wata’ala. Sementara, ilmu yang tidak bermanfaat akan menjadi ‘senjata’ menenggelamkan seseorang dalam kekeliruan.
Kata Ibnu Athoillah, ‘sebaik-baik ilmu adalah yang mengundang rasa khasyyah. Maka, setiap ilmu yang tidak disertai rasa takwa dipastikan tidak akan memberikan kebaikan. Dan pemiliknya tidak boleh digelari dengan alim. Maksud dari ungkapan Ibnu Athoillah tersebut adalah ilmu-ilmu yang dapat menghantar untuk mengenal Allah. Inilah ilmu terbaik.
Ilmu yang manfaat atau yang tidak, diukur dengan manfaatnya masa depan akhirat. Sufyan al-Tsauri mengatakan: “Sesungguhnya ilmu itu dipelajari semata untuk taqwa kepada Allah. Maka, jika ada ilmu yang di dalamnya tidak bisa membawa taqwa, maka buanglah” (Muhammad bin Ibrahim al-Randy,Ghaitsul Mawahib al-‘Aliyyah fi Syarh al-Hikam al-‘Athoiyyah, hal. 278).
Karena itu, banyaknya subjek ilmu yang dikuasai seseorang menjadikan seseorang menjadi takabbur sehingga merusak hati dan pikirannya. Bahayanya adalah, bila seseorang tidak merasa sama sekali dalam hatinya bahwa ia tertipu dengan ilmunya sendiri. Lebih bahaya lagi banyaknya subjek ilmu yang dipelajari bukan dari guru.
Seringkali ilmu menjadi sesuatu yang buruk dan merusak karena pemilik ilmu itu jauh dari Allah. Ia menempatkan orientasi ilmunya pada popularitas, dan selalu disibukkan dengan dunia. Ilmu yang demikian, hanya akan merusak masa depan seseorang.
Maka, riwayat Abu Hurairah ini harus menjadi pengingat para ilmuan;  “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan untuk ridha Allah, tetapi ia pelajari untuk dunia, di hari kiamat ia tak mencium bau Surga.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).*
Penulis adalah anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)  
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !
Topik: 

3 Juli 2016

Tanda Cinta Allah

Tanda Cinta Allah Terhadap Hamba-Nya

banyak orang mengaku dicintai dan mencintai Allah, tanpa menyadari kalau  sesungguhnya Allah tidak suka, bahkan murka padanya; yaitu orang yang sering bermalas-malasan dan lalai melaksanakan kewajibannya kepada Allah. Hakikat sederhana untuk meraih cinta Allah adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ibarat seseorang yang mencintai lawan jenis, ia harus menunjukkan cintanya dengan bergegas dan terbukti nyata yang masuk akal.
Kekeliruan dalam memaknai cinta dan mencintai Allah adalah seperti kaum kafir sesat yang menempuh jalan salah. Untuk meluruskannya tidaklah sulit.
Allah SWT telah menginformasikan kekeliruan dalam Al Quran  : Katakanlah “Apakah Kami beri tahu kalian tentang perbuatan orang-orang yang paling merugi; usaha mereka sia-sia dalam kehidupan dunia , dan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya? Mereka itulah orang-orang yang telah mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (mengingkari) perjumpaan dengan Nya. Maka sia-sialah amal mereka , dan kami tiadakan mereka pada hari Kiamat (QS Al Kahfi : 103-105)
Cinta Hamba kepada Tuhannya dan cinta Allah terhadap hambaNya mensyaratkan ketundukan (Tawajuh) hati manusia dan seluruh perangkat fisiknya pada segala sesuatu yang diridlai Tuhannya. Allah SWT berfirman.
Diantara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan dari selain Allah. Mereka mencintai tandingan-tandingan itu seperti mencintai Allah. Adapun orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah  dan teramat kuat (Qs. AL Baqarah : 165)
Firman Allah SWT : “ Katakanlah (Muhammad) “ Jika kalian benar-benar mencintai Allah , ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.. (QS. Ali Imran : 31)
“ Wahai orang-orang beriman barang siapa diantara kalian murtad (keluar) dari agamanya maka akan Allah datangkan kaum yang dia cintai dan mencintai dia. Mereka bersikap lembut terhadap orang-oang mukmin dan tegas terhadap kaum kafir. Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut pada celaan pencela. Itulah karunia Allah , diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunianya lagi Maha Mengetahui ..”  (Qs AL Maidah : 54)
Allah mencintai mereka dengan memberi pahala dan pertolongan (taufik). Mereka mencintai Allah dengan beriman dan taat. Tanda cinta Ilahi ialah sikap tawadhu’ (rendah hati) di antara kaum mukmin, berjuang di jalan Allah dan berani dalam (menegakkan ) kebenaran.
Menjelaskan dengan elemen-elemen cinta hamba terhadap Tuhannya , dan cinta Allah terhadap hambaNYa, Bukhari meriwayatkan dari Abu Huraiarah r.a, ia menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, : “ Allah SWT berfirman ,” Siapa memusuhi waliKU ,Aku nyatakan perang kepadanya. Suatu upaya hambaKu untuk mendekat kepada Ku dengan amalan-amalan sunnah, Aku pasti mencintainya. Apabila Aku mencintainya, Aku menjadi telinganya yang dengan itu ia mendengar; Aku menjadi matanya yang dengan itu ia melihat; Aku menjadi telinganya yang dengan itu ia mendengar; Aku menjadi tangannya yang dengan itu ia menggenggam ; dan Aku menjadi kakinya yang dengan itu ia berjalan. JIka ia meminta kepadaKu, pasti Ku beri dan jika ia minta perlindungan kepadaKU, pasti kulindungi .
“ Aku jadi telinga, mata dan seterusnya..” Bermakna bahwa Allah akan menjaga seluruh indra dan organ tubuhnya dari pengfungsian diluar kerangka ketaatan. Ini merupakan kiasan akan pertolongan Allah terhadap hamba yang mencintaiNya.
Di antara buah cinta Allah SWT terhadap hambaNya mewujud melalui cinta Jibril serta penghuni langit dan penduduk bumi kepadanya. Dan murka Allah terhadap hambaNya mewujud melalui pernyataan benci para penduduk langit dan bumi kepadanya.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a , dari Nabi Saw , beliau bersabda, “ Apabila Allah SWT mencintai Fulan: cintailah ia! Maka penghuni langit pun mencintainya. Kemudian didesain penerimaan (cinta) untuknya di bumi.’
Dalam riwayat Muslim disebutkan (melengkapi makna sebaliknya) “…Apabila Allah membenci seorang hamba, diserukan kepada Jibril bahwa Allah membenci Fulan;”Bencilah dia’. Maka Jibril membencinya dan menyerukan kepada penghuni langit bahwa Allah membenci Fulan ,”bencilah dia.” Kemudian didesain kebencian kepadanya di bumi.
Orang yang dicintai konsisten pada kebaikan yaitu menaati Allah secara utuh. Dan yang dibenci adalah orang yang fasik , yaitu orang yang bergelimang maksiat. Maka orang yang dicintai Allah , Jibril , para malaikat dan manusia, bahagia di dunia dan akhirat. Dan orang yang dibenci akan sengsara.
Termasuk tanda cinta Allah terhadap hambaNYa ;  Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW mengirim sessorang untuk memimpin pasukan ke medan perang. Orang itu selalu membaca untuk kawan-kawannya dalam shalat mereka dengan baca “Qul Huwallahu Ahad”.. sebagai penutup . Setelah kembali , hal itu disampaikan kepada Rasulullah Saw,” tanyakan kepadanya,” Kata beliau, mengapa dia melakukan itu? Setelah ditanyakan maka orang itu menjawab, “ karena merupakan sifat Allah Yang Maha Penyayang , aku senang sekali membacanya.” Rasulullah Saw bersabda,” Sampaikan kepadanya bahwa Allah mencintainya.”..
Prof. Dr wahbah Az-Zuhail
i

30 Juni 2016

Hikmah Orang yang Bersedekah

Perasaan kekurangan dan ketidakcukupan dalam hidup ini sering kita alami. Rejeki yang didapat terasa tak pernah cukup dan kebutuhan yang terus bertambah.Realita kehidupan pun dirasa semakin sulit untuk dijalani, dan semakin terasa menghimpit. Mengapa?
Sejatinya, bukan hidup yang semakin sulit untuk dijalani tapi hati kita yang sempit, terlalu banyak penyakit. Hati yang berpenyakit membuat tidak adanya rasa syukur terhadap yang kita miliki, hingga kita selalu merasa kekurangan. Seringkali kita tidak bisa membedakan antara kebutuhan dengan keinginan, karena hati kita ditutupi oleh penyakit-penyakit duniawi. Penyakit di dalam hati kita ini tumbuh karena keserakahan dan dosa-dosa yang telah dilakukan. Maka tak heran, kehidupan yang dijalani akan terus terasa sulit selama hati kita dihinggapi penyakit.
Di sinilah kita perlu memahami makna sedekah. Secara rohani, sedekah menjadi sarana penyucian diri dari dosa dan sifat kikir. Allah berfirman, “Ambillah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka. Dengan sedekah, kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (Qs. At-Taubah : 103). Rezeki yang dianugerahkan Allah kepada kita melalui kerja dan usaha yang kita lakukan, baik sedikit ataupun banyak, sepatutnya kita sisihkan untuk bersedekah. Perlu dicatat, kita mesti menyisihkan rejeki kita bukan menunggu sisa dari rejeki kita baru kita sedehkahkan, karena seberapa banyak rejeki yang kita miliki kita tidak akan pernah merasa cukup.
Sedekah bukan hanya sekedar obat untuk hati kita karena secara etimologis sedekah sejajar dengan keimanan (Ashshidqu), yaitu membenarkan keimanan dengan perbuatan. Sedekah yang paling utama ialah ketika kita dalam kondisi sangat membutuhkan harta tersebut, namun kita rela memberikannya untuk membantu saudara yang lebih lebih membutuhkan.
“Barang siapa meringankan seorang mukmin dari kesulitan dunia, Allah kelak meringankannya dari kesulitan di hari kiamat.”(HR. Muslim)
Dengan demikian, seorang muslim tidak semestinya berkeluh kesah meskipun dalam kesempitan. Sebab sedekah dalam kesempitan adalah sebaik-baik sedekah.
”Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu, lalu ia berkata, Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (Kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salah” (Qs. Al-Munafiquun : 10)

Kebahagiaan Menyambut Idul fitri

Tiga kebahagiaan menyambut Idul fitri

Tidak terasa satu bulan penuh kita telah menjalankan ibadah puasa Ramadhan, satu bulan kita telah berhasil menahan lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari. Di saat bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan itu telah pergi, hari ini kita dipertemukan dalam momen kegembiraan, yaitu hari raya idul fitri. Kalau kita artikan secara tekstual, bermakna "hari berbuka" atau "hari kembali kepada fitrah", fase kehidupan manusia yang dianggap suci, bersih dan terbebas dari segala dosa.
Di hari kemenangan ini, mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya: kegembiraan apa yang patut kita rayakan pada saat idul fitri tiba? Apakah hanya sekedar datang dan berlalunya "suatu hari" tanpa ada arti sebagimana hari-hari yang lain? Atau ada sebuah keistimewaan yang patut kita banggakan di hari ini? 

Pada kesempatan kali ini, saya akan mengupas tentang tiga kebahagiaan bagi komunitas muslim dalam menyambut datangnya idul fitri. Yaitu; Bahagia telah sempurna menemui bulan Ramadhan, dengan menjalankan perintah puasa, bahagia telah berbagi kepada saudara se-iman, dengan menunaikan kewajiban zakat fitrah, dan bahagia dengan kesempatan halal bi halal atau bersilaturrahim, saling mema'afkan segala kesalahan menghapus luka yang pernah tergores dan mempererat hubungan persaudaraan.     

Bahagia telah sempurna menjumpai Ramadhan:

Harus kita akui bahwa berhasil menjumpai bulan Ramadhan, dengan kondisi fisik dan mental yang sehat, sehingga mampu melaksanakan perintah puasa dengan khidmat, adalah anugerah besar dari yang maha kuasa, sahabat Ali bin Abi Thalib Ra (w: 40 H / 661 M) berkata: "Sehat jasmani adalah anugrah yang paling indah"

Kita bisa membayangkan, bagaimana orang-orang yang pergi ke alam baqa' (meninggal dunia) sesaat menjelang datangnya bulan Ramadhan, mereka tidak bisa menjumpai bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan. Padahal, melalui ibadah di bulan Ramadhan, kita diberi bonus pahala berlipat dan kesempatan untuk melebur dosa-dosa yang pernah dilakukan. Rasulullah Saw - dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim - menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. 

Atau tidak sedikit saudara-saudara kita yang pada saat tiba bulan Ramadhan dalam keadaan sakit, fisik maupun mentalnya tidak sehat, sehingga tidak bisa menjalankan kewajiban ibadah puasa, atau kalaupun tetap menjalankan, tidak dengan khidmat sebagaimana orang yang normal kesehatannya. Tentu saja dengan uzur sakit, mereka itu tidak bisa merasakan bagaimana nikmatnaya saat berbuka, saat bersahur, bagaimana nikmatnya kita mampu mengendalikan hawa nafsu dengan sedikit mengekang hasrat jasmani dan biologis. 

Dalam satu kesempatan, ulama besar di zaman tabi'in (setelah zaman para sahabat Nabi) imam Ibnu Sirin, (w: 110 H / 728 M) berterus terang bahwa urusan hawa nafsu adalah urusan yang paling pelik dalam hidup ini, ia berkata: “Aku tidak pernah mempunyai urusan yang lebih pelik ketimbang urusan jiwa”. Betapa urusan jiwa yang menyangkut pengendalian hawa nafsu adalah kendala besar yang kerap merintangi hidup manusia, Rasulullah Saw dalam hal ini mengingatkan: "Jalan ke sorga dilapangkan dengan mengendalikan hawa nafsu, sedangkan jalan ke neraka dilapangkan dengan menuruti hawa nafsu" (HR. Bukhori dan Muslim)

Dengan tibanya idul fitri ini, sangatlah wajar jika kita berbahagia menampakkan kegembiraan bersama, bukan atas dasar telah berlalunya bulan suci Ramadhan, akan tetapi kebahagiaan ini dilandaskan pada keberhasilan kita dalam mengekang hawa nafsu dalam kadar dan rentang waktu tertentu.

Bahagia dengan peduli terhadap sesama:

Kebahagiaan kedua yang semestinya kita rasakan pada momen datangnya hari raya idul fitri adalah, kita telah mengeluarkan zakat fitrah. Sebuah ibadah yang tidak lain sebagai bentuk penyucian diri setiap muslim sekaligus sebagai penyempurna puasa Ramadhan.

Zakat fitrah merupakan salah satu ibadah yang berdimensi horisontal. kalau kita perhatikan secara kasat mata, sangatlah sepele, tidak membutuhkan jumlah harta yang berlimpah, akan tetapi setiap muslim yang pada saat tibanya idul fitri memiliki kebutuhan pokok untuk dirinya, keluarga dan orang yang harus dinafkahinya, maka dia berkewajiban untuk mengelurakan zakat. Nominasi harta yang dikeluarakan pun sangat sedikit, hanya 1 Sha' sekitar 2,5 kg makanan pokok setempat, atau bisa diuangkan sesuai dengan standar harganya.  

Berbeda dengan zakat harta, zakat hewan ternak, zakat hasil bumi, zakat profesi dan zakat niaga, jenis-jenis zakat ini hanya bisa ditunaikan oleh kalangan berada saja. Maka dari itu, prosentasi muslim yang berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah jauh lebih banyak dari pada zakat-zakat tersebut, hal ini sesuai dengan maqasid (tujuan) disyari'atkannya zakat fitrah yaitu untuk mengembalikan setiap manusia pada fitrahnya.

Kalau sejenak kita menengok maqasid (tujuan) dan hikmah diwajibkannya ibadah zakat secara umum, ternyata ajaran Islam, disamping mengupayakan kesucian diri setiap insan, juga mengharapkan kesucian dan keberkahan harta benda yang dimilikinya. Dalam al Qur'an di jelaskan, saat Allah Swt memerintahkan Muhammad Saw untuk merealisasikan kewajiban zakat kepada para sahabatnya: "Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan – dan mensucikan - mereka" (Qs. at Taubah: 103).

Dalam kesempatan lain Allah Swt menjelaskan: " Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridha'an Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan " (Qs. Ar Ruum: 39)

Kalau demikian kenyataannya, maka kesempatan kita untuk menjalankan kewajiban zakat fitrah, adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Kita telah diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk mensucikan jiwa sekaligus mewujudkan rasa peduli terhadap kondisi di sekitar kita. Bagaimanapun kebahagiaan dalam menyambut datangnya idul fitri, juga berhak dirasakan oleh kaum miskin yang sama sekali tidak memiliki makanan pokok saat hari raya tiba. 

Berbahagia dengan bersilaturrahim:

Tradisi “halal bi halal” yang ada di setiap hari raya idul fitri adalah kesempatan bagi kita untuk bersilaturrahim. Tentunya silaturrahim dalam maknanya yang luas, yaitu saling memafkan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan, saling mempererat hubungan persaudaraan atas dasar keimanan dan kebangsaan, bukan hanya sebatas persaudaraan atas dasar kekerabatan dan hubungan nasab keturunan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al Qur’an: "Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu" (Qs. Al Hujurat: 10)

Sebagaimana kita semua sadari, bahwa interaksi keseharian dalam komunitas umat manusia akan selalu di warnai dengan berbagai hal, sesuai dengan situasi dan kondisi. Adakalanya baik ada kalanya buruk, kadang damai kadang konflik. Implikasi dari hubungan keseharian antar sesama manusia ini tidak selamanya menyakitkan sehingga menimbulkan kebencian, begitu juga tidak semuanya menyenangkan sehingga menimbulkan kecintaan, pada saat-saat tertentu emosi, egois dan kesombongan bisa saja menguasai diri kita.  

Implikasi buruk yang kita terima dari sikap orang lain, begitu juga kelakuan tidak bersahabat yang kita tunjukkan kepada orang lain, baik dengan penuh kesadaran  maupun dalam ketidaksadaran, harus kita netralisir dengan bersilaturrahim. Kita percaya, bahwa hari raya idul fitri sebagai momen yang tepat untuk menetralisir atau paling tidak meminimalisir ketegangan hubungan antar sesama umat manusia. Rasulullah Saw bersabda : "Wahai manusia, tebarkanlah kedamaian dan sambunglah persaudaraan" (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Melalui silaturrahim, kita juga akan mendapatkan hikmah dan faedah yang luar biasa. Di antaranya; akan mempermudah segala urusan, bisa menjalin partner usaha, dan memperbanyak kolega yang tentunya akan saling menguntungkan dalam bekerjasama. Dalam satu kesempatan Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang ingin dijembarkan rezekinya dan dipanjangkan usianya maka sambunglah persaudaraan" (HR. Bukhori dan Muslim). Sebagian ulama mengartikan kalimat "panjang usia" dalam hadist di atas dengan makna "keberkahan hidup".



Kita semua berharap, mudah-mudahan hari raya idul fitri kali ini adalah momen yang dapat mengembalikan pada fitrah keimanan kita, di mana idul fitri datang setelah kita menyelesaikan proses latihan mengendalikan jiwa melalui puasa Ramadhan, ia tiba dibarengi dengan kewajiban zakat fitrah yang merupakan wujud kepedulian, dan ia juga datang dengan tradisi “halal bi halal” sebagai upaya mempererat tali persaudaraan dan persahabatan. Tidak lain, tiga kebahagian yang kita rasakan sekaligus dalam momen hari raya idul fitri adalah anugerah dari Allah Swt yang wajib kita syukuri. "Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. " (Qs. Yunus: 58)