Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi hadir dalam rangka membagun pilar agama dan bangsa.

Eratkan Silaturrahim Jalin Kebersamaan

Selain Hablumminallaah, kita juga harus senantiasa membangun tradisi Hablumminannaas.

Salurkan Infaq dan Shodaqoh anda kepada Penghafal Qur'an

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi Mencetak Generasi Berkarakter Qur'ani.

Dirikan Shalat, Tegakkan Agama Allah

Shalat Berjamaah Di Masjid Adalah Ciri-ciri Orang Beriman .

Suntikan semangat pagi hari

Mari dukung program dakwah Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi.

30 Maret 2015

Waspadai Berhala Diri

Pengalaman masa lalu, buku-buku yang dibaca, dan guru-guru yang mengajari serta lingkungan, kesemuanya itu akan berpengaruh dalam pemahaman keagamaan seseorang
Oleh: Abdullah Sholeh Hadrami
ALHAMDULILLAH, aku sudah melewati masa itu. Jujur aku dulu pernah berpemahaman merasa kelompokku adalah paling benar sendiri dan yang lain adalah sesat.
Pernah aku terperangkap dalam pemikiran bahwa kelompokku adalah Al-Firqotun Najiyah (golongan yang selamat) sedang yang lainnya adalah ahli neraka.
Alhamdulillah akhirnya Allah berikan hidayah kepadaku untuk keluar dari pemikiran sempit seperti itu.
Aku belajar ke banyak guru dan aku mencintai mereka semua dan tidak mungkin melupakan jasa-jasa mereka.. Walau akhirnya Allah arahkan aku untuk berada dalam barisan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Salafy, ini adalah pilihanku.
Bagiku, semua umat Islam adalah saudaraku dan aku suka saling mengingatkan dan saling menasehati serta saling mendoakan.
Aku berharap kita semua sama-sama Allah masukkan ke dalam Jannah.
Pengalaman masa lalu, buku-buku yang dibaca, dan guru-guru yang mengajari serta lingkungan, kesemuanya itu akan berpengaruh dalam pemahaman keagamaan seseorang.
Berbicara tentang kelompok dalam Islam tidak akan pernah tuntas karena semua merasa paling benar dan menuduh yang lain tersesat.
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” [QS: Al-Mukminun [23]: 53]
Kita perlu selalu membaca dan merenungkan ayat ini secara rutin dan terus menerus disertai muhasabah, koreksi dan mawas diri;
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”[QS : An-Najm Ayat [53] 32]
Hanya Allah Yang Maha Tahu siapa yang terbaik diantara kita di SisiNya.
Ada satu berhala dalam diri kita semua yang harus kita hancurkan, yaitu; NAFSU!
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu yang dimilikinya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS: Al-Jatsiyah Ayat [45]: 23]
Daku hanyalah seorang hamba yang miskin papa di hadapanNya. Dosa-dosaku teramat sangat banyak,  amal ketaatanku teramat sangat sedikit, hatiku selalu berbolak-balik, perjalananku cukup jauh, bekalku belum mencukupi, tapi ajalku telah dekat.
Harapanku Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berkenan mengasihi lagi menyayangiku.
Ayat harapanku,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
”Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: 39 Az-Zumar [39]: 53)
Ya Allah, ampunilah semua kejahilan hamba dan bimbinglah hamba istiqomah di jalanMu yang lurus.
Dari saudaramu yang selalu mencintaimu dan berharap berkumpul denganmu sampai di Jannah Firdaus.*
@AbdullahHadrami
Rep: Admin Hidcom
Dikutip dari hidayatullah.com

29 Maret 2015

Pilih Dada Sempit atau Dada Lapang?

Jika ingin dadamu lapang dan hatimu bersih kamu harus selalu dekat kepada pemiliknya yang mengusainya
SUATU hari ada seorang ustaz didatangi seorang murid yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu sang murid langsung menceritakan semua masalahnya.
Sang ustaz hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam garam dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya,” kata Sang Ustaz.
“Asin, asin sekali,“ jawab murid itu sambil meludah ke samping.
Ustaz itu tersenyum, lalu mengajak muridnya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu.
Sesampai di sana, Sang Ustaz itu kembali menaburkan garam ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah,” Kata Sang Ustaz.
Saat si murid mereguk air itu, ustaz kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar“, sahut si murid.
“Apakah kamu merasakan asin di dalam air itu ?” tanya Ustaz.
“Tidak, ” sahut murid itu.
Ustaz tersenyum sambil berkata:
“Wahai muridku, dengarkan baik-baik. Problem dalam kehidupan, adalah layaknya segenggam garam ini. Semuanya sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Bahagia dan sengsara itu mengikuti perasaan tempat kita meletakkannya. Dadamu harus lapang dan hatimu harus bersih jika kamu ingin hidup damai dan bahagia dalam kondisi apapun.”
Ustaz itu lalu kembali menasehatkan: “Dada dan hatimu adalah wadah itu, tempat kamu menampung segalanya. Jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap permasalahan dalam kehidupan ini, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”
Sang Ustaz menutup nasehatnya seraya berkata:
“Wahai muridku, jika ingin dadamu lapang dan hatimu bersih kamu harus selalu dekat kepada pemiliknya yang mengusainya, dengan cara selalu taat dan patuh kepadaNya. Dia adalah Robbmu, penciptamu, pemilikmu dan pengatur semua tentang dirimu. Bacalah kitabNya, Al-Qur’an dan hiduplah sesuai dengan petunjukNya. Semoga engkau selamat, sukses dan bahagia wahai muridku, barokallah fiik“.
Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
“Ini (Al-Qur’an) adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [QS: Shood [38]: 29]
Berkata sebagian ahli tafsir:
“Kami menyibukkan diri kami dengan membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an maka kamipun diliputi oleh keberkahan dan berbagai kebaikan.”*
Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

28 Maret 2015

Mengapa Harus Berzakat?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kewajiban manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT adalah beribadah kepada-Nya. (QS. Al-Dzariyat: 56). Menurut kebanyakan ulama cara beribadah kepada Allah dikategorikan menjadi dua.
Pertama adalah ibadah mahdloh yang dalam kaidah yurispudensi Islam (ilmu ushulul al-fiqh) bahwa pada dasarnya ibadah (formal) adalah terlarang, kecuali ada petunjuk sebaliknya” (Al-ashlu fil al-ibadah al-tahrim illa ma dalla al-dalil  ala khilafihi) dalam hal ini sangat berkaitan dengan semangat Ketuhanan (habl min Allah).
Dan kedua adalah ibadah ghoiru mahdloh yang pada dasarnya semua perkara (selain ibadah murni) di perbolehkan, kecuali ada petunjuk sebaliknya” (Al-ashl fil asy ‘ya’ (ghayr al-ibadah) al-ibahah illa idza ma dalla al-dalil ala khilafihi) maka ini ada kaitanya dengan semangat kemanusiaan (habl min al-nas).

Shalat, zakat, puasa dan haji adalah bagian dari ibadah mahdloh, karena ibadah tersebut merupakan ibadah formal,  maka dalam banyak dalil ibadah mahdloh sudah ada prinsip ketentuannya. Meski demikian prinsip tersebut dapat menyesuikan dengan kebutuhan zamannya. Dalam permasalah ini akan dititikberatkan tentang salah satu bentuk ibadah dengan harta benda (maliyah) yakni zakat.

Secara etimologis menurut Ahmad Warson Munawir dalam Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, kata zakat berasal dari kata zakaa, yang berarti suci, baik, berkah, terpuji, bersih, tumbuh, berkembang. Sedangkan menurut Didin Hafidhuddin dalam buku Mutiara Dakwah Mengupas Konsep Islam Tentang Ilmu, Harta, Zakat & Ekonomi Syariah, zakat secara itimologi adalah penuh keberkahan dan beres.

Sedangkan secara terminologis, menurut Yusuf Qaradawi dalam buku Hukum Zakat. Zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak. Menurut UU No. 38 Tahun 1998 tentang Pengelolaan Zakat, pengertian zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.

Direktur pelaksana BAZNAS Pusat Teten Kustiawan menjelaskan ada delapan asnaf mustahiq zakat, antara lain  faqir, miskin, amil, muallaf, budak, orang yang berhutang, fi sabilillah, dan ibnu sabil. Ini sesuai dengan dalil Alquran At-Taubah: 60).
"Zakat tersebut tidak diberikan kecuali kepada mereka yang menggunakannya di jalan ketaatan," kata dia.

27 Maret 2015

Toleransi Agama dalam Perspektif Sīrāh Nabawiah [1]

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Ini membuktikan bahwa dalam masalah akidah dan ibadah tidak ada yang namanya toleransi.
TAK PAHAM Toleransi: mahasiswa IAIN ikut acara Misa di gereja (ilustrasi)

Oleh: Mahmud Budi Setiawan
SALAH satu argumen pembela pluralisme agama di Indonesia dalam menjustifikasi kebenaran konsep pluralisme agama ialah dengan mengangkat tema toleransi(seperti: Zuhairi Misrawi, dalam bukunya, Al-Qur`an Kitab Toleransi, Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme, Abd. Muqsith Ghazali dalam,Argumen Pluralisme Agama, Musthafa Ali Ya`qub dalam,Toleransi antar Umat Beragama, Media Zainul Bahri dalam, Satu Tuhan Banyak Agama). Dengan toleransi -menurut mereka-, keberagaman agama bisa disinergikan sedemikian rupa untuk menumbuhkan sikap saling menghargai, menghormati,  -bahkan pada titik paling ekstrim merelatifkan kebenaran agama-agama – yang bertujuan untuk menciptakan kerukunan dan perdamaian antarumat beragama.
Di antara contoh singkat, bentuk justifikasi pembela pluralisme agama dalam melegitimasi toleransi ialah sebagai berikut. Pertama, Biasanya dari al-Qur`an diambil sepenggal ayat dari surat al-Baqarah ayat: 256 yang artinya, ‘Tidak ada paksaan dalam agama …..”; ada pula ayat lain dalam surat al-Kahfi ayat: 29 yang artinya, ‘….barangsiapa menghendaki (beriman), maka berimanlah, barang siapa menghendaki(kekufuran), maka kafirlah’. Kedua ayat itu dianggap sebagai dasar normatif dari al-Qur`an yang mengandung nilai toleransi yang dijadikan dasar bagi konsep pluralisme agama.
Kedua, Hadits yang biasa dipakai ialah riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Bukhari yang artinya, ‘Agama yang paling dicintai Allah adalah ajaran yang lurus-toleran’. Hadit ini juga –dianggap- sangat menganjurkan sikap toleransi dalam beragama. Ketigadari sejarah Nabi Muhammad, biasanya diambil rujukan perjanjian Piagam Madinah sebagai cikal bakal justifikasi pluralisme agama (baca: Aksin Wijaya, Hidup Beragama dalam Sorotan UUD 1945 dan Piagam Madinah, hal. 44).
Bertolak dari realita tersebut, pada tulisan ini, penulis merasa perlu membahas secara kritis terkait masalah toleransi beragama dalam perspektif sejarah Nabi Muhammad. Secara khusus dipilih pendekatan sīrāh nabawiah (sejarah hidup Nabi), karena sudah banyak yang  mengambil rujukan dari al-Qur`an dan Hadits, terkait masalah toleransi. Pendekatan historis dari sīrāh nabawiah sangat diperlukan untuk mengetahui obyektivitas mereka dalam mengambil rujukan dari sejarah.
Terkait dengan masalah toleransi agama dalam perspektif sīrāh nabawiah, dapat  diklasifikasikan menjadi beberapa aspek, yaitu: akidah, ibadah, dan interaksi sosial.
Pertama, dari aspek akidah toleransi agama yang dipraktikkan Nabi sangat jelas dan tegas (lihat: al-Bararah, 256) yaitu tidak ada paksaan sama sekali dalam memasuki agama. Nabi pun melarang sahabatnya membunuh pemuka agama ketika berperang, sebagaimana hadits: “Berangkatlah dengan nama Allah, berperanglah di jalan Allah terhadap orang-orang yang kufur kepada Allah, jangan melampaui batas, jangan berkhianat, jangan mencincang dan jangan membunuh anak-anak serta penghuni-penghuni gereja (orang-orang yang sedang beribadah)”(Ahmad, Juz: IV, hal. 461). Ini sebagai bukti betapa Islam adalah agama yang sangat toleran.
Tak hanya itu, beliau ketika di Madinah sangat menghormati pemeluk agama lain dalam menjalankan agama. Namun yang perlu ditekankan di sini ialah, toleransi Nabi dalam bidang  akidah, ialah menghormati dan tidak memaksa pemeluk agama lain masuk Islam. Toleransi agama yang dipraktikkan beliau, tidak sampai mengarah pada relativitame kebenaran agama, yang menganggap semua agama benar, bahkan sama.
Kedua, dalam peribadatan pun beliau toleran dalam arti, menghormati pemeluk agama lain menjalankan agama masing-masing, bukan dalam pengertian meyakini bahwa ibadah pemeluk agama lain juga benar.
Suatu saat, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berada di depan Ka`bah, beliau didatangi oleh al-Aswad bin al-Muthallib, al-Walīd bin al-Mughīrah, Umayyah bin Khalaf dan al-`Āsh bin Wāil(Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Maktabah al-Ma`ārif, Bairut, Juz. III hal. 90).
Pada intinya, mereka menginginkan agar Muhammad mau bergantian dalam menjalankan agama masing-masing supaya terjadi kerukunan dan perdamaian. Namun -bertepatan dengan itu-, turunlah surat al-Kafirun(1-6) yang secara tegas menyatakan bahwa dalam masalah akidah dan peribadatan tidak ada toleransi. “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Ini membuktikan bahwa dalam masalah akidah dan ibadah tidak ada yang namanya toleransi.* (Bersambung)
Penulis adalah peserta PKU VIII UNIDA Gontor 2014
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari : Hidayatullah.com

Makna Religius di Balik Nama Tokoh Pewayangan

REPUBLIKA.CO.ID,Pendekatan ajaran Islam dalam kesenian wayang juga tampak dari nama-nama tokoh punakawan. Ada yang menyebutkan, Semar berasal dari kata Sammir yang artinya siap sedia.
Namun ada pula yang meyakini bahwa kata Semar berasal dari bahasa Arab Simar yang berarti paku. Maksudnya adalah seseorang harus memiliki iman yang kuat dan kokoh laksana paku yang menancap.

Lalu, ada yang berpendapat, Gareng berasal dari kata Khair yang bermakna kebaikan atau kebagusan. Versi lain meyakini, Nala Gareng diadaptasi dari kata Nala Qariin. Orang Jawa melafalkanya menjadi Nala Gareng. Kata ini berarti memperoleh banyak teman. Seorang Muslim harus pandai mencari banyak teman untuk diajak menuju jalan kebaikan.

Tokoh Petruk, yang berasal dari kata fat-ruuk yang berarti tinggalkan, maksudnya seseorang harus meninggalkan segala sesuatu yang tidak layak disembah kecuali Allah semata. Tokoh Bagong, yang berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Maksudnya seseorang harus memberontak ketika melihat kedzaliman di hadapannya.

Sedangkan Dalang, yang berperan sebagai sutradara dibalik semua pertunjukan wayang itu berasa dari kata dalla yang artinya menunjukkan.
Dalam hal ini, seorang Dalang adalah orang yang menunjukkan kebenaran kepada para penonton wayang.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa seni dan kebudayaan bukan musuh dari agama. Sunan Kalijaga telah membuktikan itu, dengan keberhasilanya dalam memasukkan unsur ajaran Islam ke dalam tradisi seni dan kebudayaan, sehingga menjadikan sebuah perpaduan yang apik dan harmonis.

Sunan Kalijaga memberi pelajaran kepada kita, bahwa untuk membujuk seseorang tidak harus dengan cara serta merta. Karena jika menyerang pendirian mereka, maka mereka akan menjauh. Maka ikutilah mereka sambil mempengaruhinya.

Sumber: Serat Bayanullah

26 Maret 2015

Sumber Kehidupan Kian Tercemar, Mari Hemat Air

Peringatan hari air 2015 mengambil tema Air dan Pembangunan Berkelanjutan (Water and Sustainable Development)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mencanangkan 22 Maret sebagai hari air sedunia (World water day). Peringatan ini sebagai salah satu usaha menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan usaha penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. Pada tahun 2015 ini, peringatan hari air mengambil tema Air dan Pembangunan Berkelanjutan (Water and Sustainable Development).
Dalam rangka memfasilitasi kaum Muslimin menunaikan ibadah sunnah wakaf, Badan Wakaf Al-Qur’an dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya kelestarian air untuk pembangunan berkelanjutan. Pada peresmian sarana penerangan listrik bertenaga air mikrohidro di Dusun Ampiri, Desa Bacu-Bacu Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan pada 25 Oktober misalnya, BWA menyegarkan kembali ingatan warga sekitar sungai Ampiri untuk tetap menjaga kelestarian hutan di hulu sungai.
Tujuannya tentu saja agar ketersediaan air tetap terjaga, sehingga pasokan tenaga untuk membangkitkan listrik tetap tersedia. Listrik diperlukan untuk membangun keamanan dengan penerangan malam hari, mendukung pembangunan SDM dengan memperpanjang waktu belajar anak anak sekolah, dan pembangunan ekonomi dengan membuat mesin pemecah kacang berbasis listrik. Dan yang tak kalah pentingnya, dengan kesediaan air yang berkelanjutan itu, dapat menunjang kesehatan fisik dan juga thaharah sebagai syarat sahnya shalat.

25 Maret 2015

Dua Pelajaran dari Nyamuk

Oleh: Muhammad Syamlan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil lagi....” (al-Baqarah: 26). Di dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir mengemukakan penjelasan yang sangat menarik. Bahwa, nyamuk itu hidup ketika lapar dan menjadi mati ketika kenyang. Ar-Rabi' bin Anas mengatakan, “Demikian itu adalah perumpamaan bagi mereka (orang-orang kafir, munafik, dan fasik). Mereka hidup hanya memburu dunia. Maka, ketika mereka bergelimang dengan dunia, tiba-tiba Allah membinasakan mereka. Sebagaimana firman-Nya, “Maka, tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan (dunia) untuk mereka. Sehingga, apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Jadilah ketika itu mereka terdiam tak berkutik lagi.” (al-An'am: 44).

Berkaitan dengan nyamuk ini, paling tidak ada dua pelajaran yang sangat penting. Pertama, kita tak boleh terpesona dengan harta benda yang melimpah ruah dan peradaban materi yang menjulang tinggi yang dimiliki dan dibangun oleh orang-orang yang tak beriman. Tingginya peradaban fisik dan hebatnya kekuatan ekonomi belum tentu sebagai lambang kesuksesan atau kejayaan suatu bangsa. Manusia, baik dalam skala pribadi, masyarakat, bangsa, maupun negara bila terbuai dengan dunia dan melupakan ajaran-ajaran Allah, niscaya binasa. Sebagaimana nyamuk yang pasti mati ketika sangat menikmati menghisab darah hingga kekenyangan. Itulah, hanya karena capaian materi dan ekonomi yang sangat besar tak boleh membuat kita takjub kepada mereka. Dengan kekayaan yang melimpah bisa saja justru mereka terkubur mengenaskan. (Lihat: at-Taubah: 55).

Kedua, hati-hati dengan perangkap dunia. Yang terperangkap dengan dunia dengan segala bentuknya bukan hanya orang-orang kafir, tapi bisa saja kita orang-orang yang beriman. Bahkan, bisa para aktivis pergerakan dan dakwah. Sepanjang sejarah, gerakan dakwah tidaklah menang karena adanya fasilitas harta. Dan, tidak pernah kalah karena minimnya sarana dan prasarana dunia. Justru sebaliknya, elan perjuangan menjadi lemah ketika dunia mulai masuk dalam kehidupan mereka dan akhirnya benar-benar kalah ketika mereka telah bergelimang dengan harta. Lagi-lagi, inilah filosofi nyamuk. Ketika dalam kondisi lapar, sangat lincah, bisa terbang ke sana ke mari dan bisa menggigit dengan tajam sekali. Milintansi luar biasa. Tapi, ketika nyamuk itu sudah terlalu kenyang, ia tak bisa terbang lagi. Tak perlu dibunuh, nyamuk itu dengan sendirinya pasti mati.

Karena itu, para aktivis gerakan dakwah hendaknya selalu waspada dengan jebakan dunia ini. Musuh-musuh dakwah telah banyak yang mengetahui bahwa untuk menghentikan gerakan dakwah tak perlu dibantai para aktivisnya. Cukup beri mainan dunia kepada mereka hingga mereka benar-benar terbuai dengan dunia itu. Bila sudah hanyut dengan dunia, aktivis dakwah niscaya kehilangan militansi. Bahkan, tak akan berdakwah lagi. Karena itu, Imam Al-Banna Sang Mujahid Dakwah mengajarkan, “Shunduquna juyubuna”. Artinya, meski dengan segala kekurangan, modal dakwah kita adalah dari saku-saku kita sendiri. Ingat, kata Al-Banna, tangan yang suka menerima tak akan bisa memukul. Wallahu a'lam.

24 Maret 2015

Sombong Penyakit Jiwa yang tidak Terasa

Piramida Giza di Mesir peninggalan Firaun yang binasa akibat kesombongannya mengaku tuhan
Oleh: Prof H Dadang Kahmad
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam mengajarkan pemeluknya memiliki sifat tawadhu (rendah hati), mengakui terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Sifat tawadhu menyadarkan seseorang selalu memohon ampun kepada Allah dengan beristighfar. Rasulullah SAW mencontohkan istighfar paling sedikit sebanyak 100 kali setiap hari.

Merasa diri suci merupakan kesombongan, merasa paling berkuasa termasuk ketakaburan, merasa paling benar ialah kebodohan. Kesombongan cenderung merendahkan, menyalahkan orang lain, dan merasa dirinya yang paling benar.

Sombong dan ria merupakan penyakit jiwa yang tidak terasa. Bahaya laten yang menyelinap di setiap hati manusia. Jika saja tidak diawasi oleh kebeningan hati dan dibimbing oleh iman yang kuat, niscaya akan bersemayam di hati dan menjadi kepribadian yang susah dihilangkan.

Secara teologis sombong merupakan salah satu sifat yang diwariskan setan kepada manusia. Setan dilaknat Tuhan karena menolak perintah untuk bersujud kepada Adam karena merasa lebih mulia kedudukannya. Bila Adam tercipta dari tanah, dirinya berasal dari api. Bagi setan api lebih mulia dari tanah. Padahal di hadapan Allah, semua makhluk sama dan yang membedakannya, yaitu derajat ketakwaan.

Firaun yang mengaku dirinya Tuhan karena merasa paling berkuasa. Qarun sombong karena merasa dirinya paling kaya. Kesombongan menguasai jiwa dan pikiran manusia karena “merasa paling kaya, cantik, tampan, berkuasa, gagah, suci, benar” dan segala pikiran yang merasa “lebih” dibandingkan orang lain.

Padahal, segala simbol kehidupan yang disebutkan tadi semuanya milik Allah semata, hanyalah titipan sementara untuk dipergunakan beribadah kepada-Nya. Namun, semua perhiasan duniawi itu kerap membuat manusia lupa diri.

Dalam Alquran surah al-A’raf ayat 48, Allah SWT mengingatkan bahwa segala hal yang disombongkan itu tidak ada manfaatnya sama sekali. “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.”

Dalam teladan kenabian kita melihat, Nabi Daud yang berkuasa tetap rendah hati, Nabi Sulaiman yang kaya raya tetap tawadhu, Nabi Musa yang pintar tetap merasa kurang, Nabi Muhammad SAW yang paling taat dan suci tetap beristighfar lebih dari 100 kali setiap hari. Itu semua karena mereka menyadari kekurangannya dan menghindari kesombongan dalam jiwa mereka.

Hidup di dunia ini hanya sebentar, seperti orang yang singgah di perjalanan. Umur manusia bagaikan orang yang menyeberang jalan. Keabadian itu ada pada kehidupan yang akan datang. “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS al-Qashash [28]: 83).

Mesti disadari bahwa dalam segala aspek kehidupan terdapat kesempatan untuk ria dan sombong, bahkan dalam ibadah sekalipun sombong bisa hadir dalam bentuknya yang lain. Misalnya, ingin dipuji orang, dipandang saleh, alim, dan suci. Semua itu termasuk jebakan yang harus diwaspadai. Ikhlas dalam beribadah merupakan penangkalnya, kontinu terus-menerus ialah obatnya, tak terganggu oleh kemeriahan, harapan mendapat pujian dan penilaian dari orang lain.

Harta hanyalah alat untuk beribadah. Jabatan merupakan amanah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada sesama. Ditakdirkan mempunyai paras cantik atau tampan untuk lebih bersyukur kepada Zat Pencipta, seperti diteladankan oleh Nabi Yusuf AS, bukan untuk dipertontonkan apalagi diperjualbelikan. Semua termasuk ujian agar manusia tetap beriman, beribadah, dan berakhlak mulia dalam hidup keseharian.

Janganlah bersifat tinggi hati karena hal itu hak Allah SWT. Ia murka kepada orang yang menyaingi-Nya dan menyindirnya, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung,” (QS al-Isra [17]: 37). Wallâhu’alam.