Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

27 April 2017

Sikap Tercela Merendahkan Orang Berilmu

Orang yang menyakiti kehormatan ulama telah melakukan kesalahan berat, karena kehormatan ulama melebihi muslim biasa.
SYEIKH HABIB Muhammad Ismail mengatakan bahwa medan dakwah dewasa ini menghadapi tantangan semakin berat. Hal ini karena akhlak buruk tumbuh dengan sangat pesat, terutama mereka yang menganut paham at-tarbiyah an-nau’iyyah (pendidikan beragam).
Hal ini memunculkan fenomena berbahaya, seperti anak muda yang tidak menghormati orang yang lebih tua, orang-orang pandir yang berani melangkahi ulama, dan para pelajar berkelahi. Mereka saling bermusuhan, melupakan persaudaraan, tidak santun, tidak mau saling memaafkan, dan tidak mau bersabar. Mereka lebih bersikap pandir, seperti orang yang tidak berpendidikan sama sekali.
Kini para pelajar banyak tenggelam ke dalam lumpur celaan, pertikaian, dan perkelahian. Bahkan, di antara mereka ada yang berani menantang para ulama ternama. Hal ini karena mereka tidak sadar bahwa setan sedang meniupkan api permusuhan. Mereka mengira bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang dibenarkan agama.
Sungguh, seseorang yang menjadikan lidah sebagai pengontrol tingkah laku sangat disayang Tuhan. Karena itu, amal-amal berikut ia jadikan bahan evaluasi atas semua ucapannya.
Evaluasi tersebut mencakup dua pikiran utama sebagai berikut.
1. Akhlak mulia kepada sesama muslim. Hal ini dilakukan dengan menjaga kehormatan dan menjauhkan orang lain dari hal-hal yang dapat menyakitinya, seperti pembicaraan aib yang kini kian santer terdengar.
2. Akhlak mulia kepada ulama. Hal ini dilakukan dengan menjaga nama baik, serta mengenal dan mengakui kemampuan dan kelebihan mereka. Juga menghindar dari fitnah dan pencemaran nama baik.
Poin kedua patut diperhatikan lebih mendalam. Poin pertama merupakan pendahuluan karena para ulama memiliki dua hak, yaitu sebagai seorang muslim dan sebagai seorang yang memiliki kelebihan. Dalam hal ini kelebihan ilmu. Pola ini senada dengan sikap Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang lebih mengutamakan kaum muslimin dibandingakan dengan umat lain, kemudian Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu di antara kaum muslimin.
Allah swt berfirman, “…Niscaya Allah mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Di sisi lain, jika Allah mengharamkan sesuatu, bisa jadi pengharamannya berbeda dengan sesuatu yang lain. Suatu kesalahan, misalnya, bisa menarik dosa yang lebih besar dibandingkan dengan kesalahan yang lain. Hal ini dihitung berdasarkan banyaknya pelanggaran. Dengan begitu, azab dan hukuman satu dosa bisa berlipat ganda.
Menzalimi diri sendiri dengan berbuat maksiat dilarang oleh agama di mana pun dan lebih tegas pada bulan-bulan haram (Syawwal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram). Mengenai pengharaman ini, Allah swt. berfirman,
“…Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu…” (QS. At-Taubah: 36).
Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam memberikan contoh lain dalam sabda beliau, “Berzina dengan sepuluh orang wanita lebih ringan bagi seseorang daripada berzina dengan seorang wanita tetangganya. Mencuri sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada mencuri sebuah rumah milik tetangganya.” (HR. Ahmad, hadits sahih).
Allah juga berfirman,
“…Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji…” (Al-Baqarah: 197).
Hukum diat membunuh dan menyiksa pada bulan-bulan suci tentu lebih berat. Hukuman diat karena membunuh kerabat yang masih ada hubungan darah juga lebih berat. Hal ini sejalan dengan ketentuan dalam mazhab Syafi’i.
Sungguh, orang yang menyakiti dan merendahkan kehormatan ulama telah melakukan kesalahan berat. Hal ini karena kehormatan ulama melebihi seorang muslim biasa. Selain memiliki hak yang sama dengan seorang muslim, ulama memiliki hak sebagai orang tua dan para pembesar.
Di samping itu, mereka memiliki hak sebagai orang yang membawa risalah Al-Qur’an, hak keilmuan, dan hak para wali saleh. Dengan begitu, kita akan mudah memahami perkataan Imam Syafi’i, “Membicarakan aib ulama dan orang-orang yang menyampaikan risalah Al-Qur’an termasuk dosa besar.”*/Sudirman (sumber buku Ensiklopedia Akhlak Muhammad Saw, penulis Mahmud al-Mishri)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !
Topik: 

25 April 2017

Memberi yang Terbaik

Cinta Allah sudah dibuktikan dengan memberikan berbagai fasilitas hidup dan sarana lainnya. Kini Allah menuntut mana bukti kecintaanmu?

WAJAR bila seseorang yang hendak menikah, karena begitu bahagianya, membelikan sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk calon isterinya. Demikian halnya Julaibib, sahabat Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam ini. Ia kebetulan lama melajang, berkat bantuan Rasulullah akan mempersunting seorang gadis cantik lagi terhormat.
Julaibib pergi ke pasar dengan harapan dapat membeli sekian barang yang dapat menyenangkan hati si calon istri. Tapi belum sampai membeli barang, genderang jihad telah ditabuh bertalu-talu. Segera Julaibib mengurungkan niatnya. Kini ia tidak membeli kenang-kenangan untuk calon istrinya, justru membeli tombak, panah, tameng, dan peralatan perang lainnya.
Seruan jihad fi sabilillah ternyata lebih punya daya panggil daripada menikah. Tombak, panah, dan tameng lebih berharga dari emas dan permata. Ia lebih mencintai Allah dari yang lainnya. Karenanya ia mau berkorban apa saja untuk-Nya.
Calon istri dicintainya, akan tetapi ia lebih mencintai Allah, Tuhannya. Ia tidak enggan untuk membelikan kenangan untuk calon istrinya. Tapi bila Allah juga meminta pengorbanannya, maka ia lebih mendahulukan-Nya.
Ada pun orang-orang yang beriman amat sangat mencintainya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
Pembaca tentunya mengaku diri sebagai orang yang beriman. Sekarang ukur kecintaan Anda dengan standar sahabat Nabi ini. Cinta Allah kepada kita sudah dibuktikan-Nya dengan memberikan berbagai fasilitas hidup dan sarana lainnya. Kini Allah menuntut mana bukti kecintaanmu?
Suatu ketika kas Baitul Mal kosong, padahal peperangan harus diteruskan. Musuh sudah mengepung, lawan sudah di depan hidung. Menyerah berarti kalah, sementara melawan perlu dana banyak. Akhirnya Rasulullah mengumandangkan imbauan kepada kaum muslimin agar mau menyisihkan sebagian hartanya untuk jihad fi sabilillah.
Saat itu datanglah Abu Bakar dengan segala perlengkapan rumahnya. Abu Bakar yang sudah jatuh pailit, tentu saja tidak mampu membawa apa-apa kecuali barang-barang sisa pakai. Melihat Abu Bakar melakukan itu, Rasulullah mencegahnya, “Jangan kamu bawa semua, kamu tidak lagi punya apa-apa di rumah,“seru Rasulullah.
Tetapi apa jawaban Abu Bakar? “Allah dan Rasul-Nya lebih berharga dari seluruh isi jagad raya ini. Apakah tidak pantas bila sisa-sisa hartaku ini kupersembahkan untuk-Nya?”
Dulu ketika masih kaya, Abu Bakar, begitu melihat Bilal bin Rabah, saudara sesama muslimnya hendak dimerdekakan oleh tuannya yang jahat, dialah yang menebusnya. Kini setelah hartanya ludes untuk perjuangan, ia masih hendak berinfaq fi sabilillah.
(yaitu) Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik pada saat lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imran: 134)
Di saat lapang, ketika jabatan masih dipegang, ia gunakan kekuasaannya untuk berbakti kepada Tuhan. Ia memanfaatkan jabatannya untuk memajukan Islam. Tak menunggu pensiun untuk berjuang. Mumpung ada kesempatan untuk berbuat ma’ruf, kapan lagi?
Ketika kekayaan masih di tangan, ia gunakan untuk membiayai proyek-proyek perjuangan. Tak segan ia keluarkan uangnya untuk membantu sesama muslim yang membutuhkan. Tak berat mengeluarkan hartanya untuk proyek-proyek kemanusiaan.
Ketika sudah pensiun, ia tetap berjuang. Tiada kata sisa, sebab ia tetap punya wibawa. Meskipun tak seperti saat menjabat, tapi itu cukup bekalnya. Ia telah memberikan yang terbaik saat pensiun.
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali-Imran: 92)
Karenanya disunnahkan bila menghadap kepada-Nya, pergi ke masjid guna melakukan ibadah shalat, hendaknya memakai pakaian yang baik, ditambah aroma wangi. Janganlah sebaliknya, bila pergi ke kantor selalu berpakaian rapi and style, tapi kalau shalat seenaknya saja. Sarungnya lusuh, bajunya kumal, ditambah kopiah yang sudah tak berbentuk.
Demikianlah halnya dalam bersedekah dan berinfak. Pilihlah yang terbaik untuk Allah. Jangan hanya uang recehan yang dimasukkan di dalam kotak amal. Sungguh ironis, bila ke rumah makan siap mengeluarkan lembaran puluhan ribuan, sementara bila ke rumah ibadah hanya mengeluarkan ribuan.
Lihatlah ketika shalat Jumat para jamaah kebanyakan hanya mengeluarkan uang recehan. Belum tentu amalannya diterima, tapi suara recehannya sudah mengganggu konsentrasi dan kekhusyuan yang mendengarkan khotbah.*/Sudirman STAIL (dari buku Cara Baru Memandang Dunia, penulis Hamim Thohari)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

24 April 2017

Allah Mengembalikan Senyum Keluargaku saat Ramadhan

Laksana kata pepatah; Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah yang terjadi selanjutnya dalam keluargaku. Musibah yang menimpa bapak, justru menjadi awal retaknya keakraban hubungan keluarga.
SIANG itu tiba-tiba dering telepon berbunyi dari talam tasku. Oh, dari ibu. Sempat kaget mengetahuinya. Maklum, tak biasanya ibu meneleponku di saat-saat baru jam pulang sekolah. Karena ibu tahu kebiasaanku, sebelum pulang, aku biasanya shalat dulu di mushalla sekolah, kemudian istirahat sejenak.
“Assalamu’alaikum… Nak, kalau sudah selesai sekolah, langsung pulang, yah. Jangan mampir ke mana-mana!” ucap ibu dengan nada bergetar, dan langsung menutup sambungan telepon.
Terang saja, aku langsung diselimuti kekalutan. Pikiran-pikiran buruk terjadi di keluarga tiba-tiba berseliweran di benak. Ingin menelepon balik, mustahil. HP tidak ada pulsa. Akhirnya, dalam kekalutan itu, saya putuskan untuk mengerjakan shalat zuhur terlebih dahulu.
Selesai, aku langsung menuju parkiran sekolah untuk mencari tumpangan. Namun apa lacur, semua kawan sudah pada buyar. Tempat parkir sepi. Ingin naik angkutan desa, uang tak puya. Di lain sisi, suara ibu di telepon terngiang-ngiang. Semakin kalutlah pikiran.
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya aku memutuskan pulang dengan berjalan kaki di tengah teriknya matahari. Jarak sekolah-rumahku kurang lebih 3,5 km.
Ketika langkahku telah mendekati halaman rumah, tanda-tanda firasat burukku terjadi mulai bermunculan. Nampak beberapa tetangga berjubel di rumah. Semua mata tertuju padaku. Kudapati sorot mereka penuh duka. Bekas aliran air mata masih melekat di pipi. Terutama kaum perempuan.
Ketika aku masuk ruangan utama keluarga; Innaalillah…. Sepontas terasa persendianku remuk. Jantungku seakan berhenti berdegup, ketika kusaksikan sosok di hadapanku. Ayahku yang merantau di negeri jiran, berbaring tak berdaya dengan balutan perban.
“Bapak kecelakaan kerja. Jari jemarinya terpotong, terkena mesin penggiling rumput,” ucap ibu lirih.
Duug!
Aku tersentak kaget mendengarnya. Pelopak mataku tak lagi kuasa menahan bendungan air mata. Kudekati ayah. Ia berusaha menegarkan diri dengan berupaya memberi tersenyum kepadaku. Sementara itu, air matanya pun meleleh. Kupeluk erat ayah. Suasana semakin haru. Suara tangisan membahana dari sanak keluarga.
‘Badai’ Lanjutan
Laksana kata pepatah; Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah yang terjadi selanjutnya dalam keluargaku. Musibah yang menimpa bapak, justru menjadi awal retaknya keakraban hubungan keluarga.
Kakek dan nenek dari pihak ayah, tidak terima dengan kejadian menimpa ayah. Celakanya, mereka justru menyudutkan ibu sebagai biang kerok kecelakaan itu. Logika yang dipakai, musibah itu tidak akan pernah terjadi, kiranya, ayahku tidak menikah dengan ibu.
Karena pernikahan itulah, ayah harus merantau jauh ke Malaysia, demi memenuhi kehidupan keluarga, yang akhirnya menerima kenyataan, ia mengalami lumpuh permanen karena kecelakaan kerja.
Ayah sudah beberapa kali berusaha memberikan pemahaman kakek dan nenek. Namun tak jua mengerti. Mereka masih saja memusuhi ibu. Puncaknya, merasa tidak kuat terus dipojokkan, ibu menggugat cerai.
Ayah berusaha meredam keinginan ibu, tapi gagal. Beberapa alasan dikedepankan, termasuk keberlangsungan nasib kami, sebagai anaknya, bila harus bercerai, tidak mempan mendinginkan suasana.
Akhirnya, peristiwa yang paling kutakutkan itu pun terjadi. Ibu dan ayah resmi bercerai. Kejadian itu terjadi menjelang Ramadhan. Ayah menjatuhkan talak satu pada ibu. Jadilah Ramadhan tahun itu, kami lalui sekeluarga tanpa kehadiran ibu.
Saya yang masih usia remaja (lulusan SMP) semakin kalut pikiran. Semua menjadi sasaran amarahku. Tak kecuali Tuhan (Allah). Kutuntut keadilan-Nya, yang kurasakan tak menghinggapi keluargaku.
Berkah Bulan Suci
Syukur Alhamdulillah, kekeliruanku ini tak berjalan lama. Pasalnya, ustadz tempatku belajar al-Qur’an terus memberiku pencerahan. Yang paling menghentakku, ketika beliau menyitir ayat al-Qur’an yang berbunyi;
“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya maka ia berkata. Tuhan telah menghinaku.” (QS Al-Fajr : 16)
Aku benar-benar terasa tersindir dengan ayat ini. bergegas kuberistighfar, mengakui kesalahan. Aku pun mulai menata hati untuk ridha atas apa yang Allah tetapkan untuk kami sekeluarga.
Di lain pihak, ayah sendiri menuntun kami sekeluarga, untuk mengoptimalkan keberkahan bulan suci Ramadhan, guna bermunajat kepada-Nya, memohon, agar keberkahan senantiasa menaungi keluarga kami.
Kami pun mengamini ayah. Terlihat ayah sangat tekun beribadah. Begitupun dengan diriku. Setiap kali selesai melakukan ibadah, khususnya shalat, selalu kuselipkan doa untuk keutuhan rumah tangga kami.
“Ya Allah, persatukanlah kembali ibu dan ayah kami, dan berkahilah keluarga kami,” demikianlah di antara untaian doa yang kupanjatkan kepada-Nya.
Laa haulaa wa laa quwwata illa billahil azhim. Allah ternyata mendengarkan rintihan kami sekeluarga. Di penghujung Ramadhan, ibu bertandang ke rumah, dan menyatakan permintaan maaf kepada ayah, dan meminta untuk rujuk kembali.
Ayah pun dengan lapang dada memaafkan ibu. Idul Fitri itu pun akhirnya kami lalui dengan hati nan riang gembira. Tak sampai di situ kebahagiaan kami. Tak lama berselang, bapak mendapat panggilan dari tempat kerjanya semula, dari Malaysia.
Dijanjikan ia akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kondisinya, sekaligus mendapat gaji yang berlipat. Berangkatlah ayah. Dari hasil keringat ayah itu pulalah, akhirnya, keluarga kami bisa menyambung hidup. Termasuk aku, bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Terimakasih, ya Allah, atas karunia yang kau limpahkan atas keluarga kami.Dikisahkan oleh Hasbi kepada Muhammad Syahroni (Anggota komunitas menulis PENA Gresik)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

12 April 2017

Hukum Puasa Rajab Menurut Empat Madzhab

Di bulan Rajab ini, bermunculan berbagai tulisan pembahasan mengenai hukum mengerjakan puasa Rajab yang tidak jarang memunculkan polemik. Dimana hal ini selalu terulang-ulang setiap tahunnya, sedangkan para fuqaha di madzhab empat sendiri sudah membahas persoalan ini. Marilah kita lihat, bagaimana duduk permasalahannya sebenarnya menurut mereka.
Madzhab Hanafi
Yang disukai dari puasa-puasa ada beberapa macam, yang pertama adalah puasa Al Muharram, kedua puasa Rajab dan ke tiga adalah puasa Sya’ban dan puasa Asyura’ (Al Fatawa Al Hindiyah, 1/202)
Posisi madzhab Hanafi cukup jelas, bahwasannya mereka menyatakan bahwa puasa di bulan Rajab secara mutlak adalah perkara yang disukai.
Sebagaimana jika seorang bernadzar untuk berpuasa penuh di bulan Rajab, maka ia wajib berpuasa sebulan penuh dengan berpatokan pada hilalnya. (Syarh Fath Al Qadir, 2/391)
Madzhab Maliki
Al Lakhmi menyatakan bahwa bulan-bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah tiga, yakni Al Muharram, Rajab dan Sya’ban. (Al Mawahib Al Jalil, hal. 319)
Ad Dardir menyatatakan bahwasannya disunnahkan puasa bulan Al Muharram, Rajab dan Sya’ban, demikian juga di empat bulan haram yang dimana paling utama adalah Al Muharram kemudian Rajab lalu Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. (Syarh Ad Dardir ‘ala Khalil, 1/513)
Dengan demikian, Madzhab Al Maliki berndapat mengenai kesunnahan puasa di bulan Rajab secara mutlak, meski dengan sebulan penuh.
Madzhab Syafi`i
Ulama Madzhab Asy Syafi’i mensunnahkan puasa di bulan Rajab, dimana Imam An Nawawi berkata,”Telah berkata ashabuna: Dari puasa yang disunnahkan adalah puasa di bulan-bulan haram, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al Muharram dan Rajab.” (Al Majmu’, 6/438)
Hal serupa disampaikan di Imam An Nawawi dalam kitab yang lain (lihat, Raudhah Ath Thalibin, 2/254).
Ibnu Hajar Al Haitami juga menyatakan,”Dan disunnahkan (puasa) di bulan-bulan haram, bahkan ia adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa setelah Ramadhan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al Muharram dan Rajab.” (Minhaj Al Qawim dengan Hasyiyah At Tarmasi, 5/804,805)
Dengan demikian, bisa dismpulkan bahwa Madzhab Asy Syafi’i mensunnahkan puasa Rajab secara mutlak, tanpa memandang bahwa amalan itu dilakukan di sebagian bulan Rajab atau di seluruh hari-harinya.
Imam Asy Syafi’i dalam pendapat qadim menyatakan makruh menyempurnakan puasa satu bulan di selain bulan Ramadhan, agar tidak ada orang jahil yang meniru dan mengira bahwa puasa itu diwajibkan, karena yang diwajibkan hanyalah puasa Ramadhan. Namun ketika unsur itu hilang, Imam Asy Asyafi’i menyatakan,”jika ia mengerjakan maka hal itu baik.” (Fadhail Al Auqat, 28)
Madzhab Hanbali
Al Buhuti menyatakan bahwa mengkhususkan puasa di bulan Rajab hukumya makruh. Namun Al Buhuti melanjutkan,”Dan hilang kemakruhan dengan berbuka meskipun hanya sehari, atau berpuasa pada bulan lain di tahun itu.” (Kasyf Al Qina’, hal. 1003)
Hal yang sama disampaikan Ibnu Rajab Al Hanbali, bahwa kemakruhan puasa di bulan Rajab hilang dengan tidak berpuasa penuh di bulan Rajab atau berpuasa penuh dengan menambah puasa sebulan di bulan lainnya di tahun itu. Sedangkan Imam Ahmad menyatakan tidak berpuasa Rajab secara penuh kecuali bagi yang berpuasa terus-menerus. (Lathaif Al Ma’arif, hal. 230)
Dengan demikian, madzhab Hanbali hanya memandang makruh bagi yang mengkhususkan Rajab untuk berpuasa sebulan penuh, namun ketika hal itu dilakukan tidak penuh di bulan itu, atau berpuasa penuh namun dengan berpuasa sebulan di bulan lain maka hilanglah unsur kemakruhan.
Bisa disimpulkan bahwa semua madzhab di atas sepakat mengenai dibolehkannya puasa bulan Rajab secara tidak penuh. Khilaf yang terjadi adalah berpuasa penuh di bulan Rajab tanpa disertai dengan puasa lainnya. Dan khilaf yang terjadi berkisar antara hukum sunnah dengan makruh, bukan haram.
Setelah posisi para ulama madzhab empat jelas bagi kita, bahwa hal ini adalah masalah khilafiyah yang mu’tabar, dimana berlaku kaidah yang menyatakan bahwasannya masalah ikhfilaf tidak boleh diinkari. Dengan demikian, hubungan baik antara umat Islam akan terjaga.
Jika dalam tulisan kali ini dibahas mengenai pendapat para ulama madzhab empat, dalam tulisan selanjutnya akan dibahas mengenai dalil-dalil dari masing-masing pihak dalam masalah ini. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.





Rep: Sholah Salim
Editor: Thoriq

27 Maret 2017

Awas Tertipu dengan Akalmu

Orang yang jauh dari agama biasanya gampang ujub (bangga terhadap diri sendiri) dan takabbur (meremehkan orang lain).
BANYAK alasan mengingkari kebenaran. Mulai dari kejahilan akal manusia, menuruti hawa nabfsu, hingga terperangkap dalam jebakan tipu daya setan yang licik.
Bisa dikata sepanjang perjalanan hidup manusia, sebentang itu pula perseteruan antara kebaikan dengan keburukan.
Tapi satu yang pasti, kehancuran itu ditimpakan kepada pendukung keburukan sedang kejayaan bagi penegak kebenaran.
Allah berfirman:
وَعَاداً وَثَمُودَ وَقَد تَّبَيَّنَ لَكُم مِّن مَّسَاكِنِهِمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ
“(Juga) kaum ‘Ad dan Tsamud. Sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.” (QS. Al-Ankabut [29]: 38).
Secara eksplisit, ayat di atas mengungkap fenomena “tipu-tipu” dengan menyebut kaum Ad dan Tsamud sebagai “mustabshirin” (orang-orang yang berpandangan tajam).
Setidaknya ada dua makna dari kata tersebut, kata Ibnu Jarir ath-Thabari Rahimahullah (Ra), pengarang Tafsir Jami’ al-bayan fi Ta`wil al-Qur’an.
Pertama, orang-orang yang punya pandangan tajam dalam urusan kesesatan.
Mereka menjadi pakar sekaligus bangga dalam urusan maksiat tersebut. Pendapat ini dipegang oleh Mujahid, ahli tafsir lainnya.
Kedua, orang-orang itu disebut berpandangan tajam karena mereka sesungguhnya sangat mengerti tentang kebenaran.
Al-Farra’ menjelaskan, orang tersebut berakal cerdas dan punya nalar yang kuat.  Pandangannya tajam serta analisisnya kuat.
Pendapat kedua ini tampak diamini oleh ath-Thabari. Ia berkata, tidaklah orang itu berpandangan tajam, kecuali sebelumnya memahami hakikat dan seluk beluk sesuatu.
Namun sejatinya, di sinilah letak persoalan tersebut. Sejak awal manusia diberi akal dan nalar untuk berfikir dan berilmu.
Tapi ilmu yang menjadikannya dianggap pintar itu justru menjadikannya buta terhadap hidayah.
Wawasan pengetahuannya terbilang luas oleh orang lain. Menjadi pakar dalam berbagai permasalahan dunia bahkan agama.
Segala urusan banyak diketahui secara mendetail. Orang-orang pun sampai merujuk kepada dirinya.
Tapi ketahuilah, demikian itu bukan standar nilai yang esensial di hadapan Allah.
Kecuali jika bertambahnya ilmu tersebut membuatnya kian bersimpuh sujud kepada Yang Mahaluas Pengetahuan-Nya.
Lebih jauh, al-Maraghi Rahimahullah (Ra) menguatkan, ilmu yang jauh dari bimbingan Allah membuatnya makin mudah diperdaya oleh bujuk rayu setan.
Sebab dasarnya, setan itu menjadikan indah setiap keburukan yang dilakukan. Pegangannya rapuh, hanya mengandalkan nalar dan berbasis akal atau perasaan semata.
Tak heran, orang-orang yang jauh dari agama biasanya gampang ujub (bangga terhadap diri sendiri) dan takabbur (meremehkan orang lain).
Akibatnya, ilmu yang dipunyai tidak meninggalkan jejak maslahat (kebaikan) bagi lingkungan sekitarnya.
Kebenaran baginya adalah apa yang dipandang baik dan sesuai dengan yang dimauinya.
Alih-alih berbagi manfaat, orang-orang di sekelilingnya malah merasa resah dan tak betah bergaul dengannya.
Bahkan iapun, di saatnya nanti, juga merasakan kegelisahan yang sama. Sebab apa yang dipunyainya selama ini ternyata hanya berujung kepada kebahagiaan semu.*
Rep: Masykur Abu Jaulah
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !