Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi hadir dalam rangka membagun pilar agama dan bangsa.

Eratkan Silaturrahim Jalin Kebersamaan

Selain Hablumminallaah, kita juga harus senantiasa membangun tradisi Hablumminannaas.

Salurkan Infaq dan Shodaqoh anda kepada Penghafal Qur'an

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi Mencetak Generasi Berkarakter Qur'ani.

Mari Ikuti Dauroh Tahfidz Al-Qur'an 14 Hari Hafal 10 Juz

Masjid Baitul Makmur, Perum Telaga Sakinah, Cikarang Barat - Bekasi, tanggal 4 - 17 Mei 2015.

Suntikan semangat pagi hari

Mari dukung program dakwah Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi.

DONATUR JAN - FEB 2016
ZULKIFLI - Cikarang Rp. 20.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

1 Februari 2016

Bersyukur Pangkal Selamat

Sikap syukur yang demikian niscaya makin mengokohkan pondasi keimanan pada diri seorang Muslim

HAL terindah dalam kehidupan manusia adalah kala ia masih mampu bersyukur. Itu pertanda, orang tersebut masih mempunyai iman atau hidayah sebagai karunia termahal bagi seseorang. Demikian rumus bersyukur bagi orang beriman. Sikap syukur senantiasa segandeng seiring dengan keimanan yang tumbuh dalam jiwa. Iman yang benar niscaya menggerakkan pemiliknya untuk mensyukuri segala yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt).
Syukur yang benar adalah syukur yang bertolak dari kesadaran seorang hamba akan kuasa dan kehendak Sang Pengatur alam semesta. Syukur itu bernilai jika bersandar kepada keyakinan kepada Allah, bukan sekedar muncul akibat dari kebiasaan atau tradisi lingkungan semata. Sebab syukur adalah hasil yang lahir dari iman sebagai pondasi bagi seluruh amalan dan aktivitas manusia selanjutnya.
Layaknya jenis ibadah yang lain, puncak dari implikasi perbuatan bersyukur adalah dijauhkannya seorang hamba dari ancaman siksa neraka. Sebagaimana syukur itu bisa semakin mendekatkan dirinya kepada surga, seperti yang dijanjikan bagi orang-orang yang beriman.
Olehnya sejak awal dikatakan, seluruh tingkah dan laku manusia di muka bumi ini hakikatnya tidak berpengaruh kepada izzah (kemuliaan) yang melekat pada diri Allah Ta’ala.
Jika segenap makhluk yang ada itu beriman dan menyembah kepada Allah, maka hal itu tak menambah secuilpun izzah yang dimiliki oleh Allah. Sebaliknya, andai seluruh penghuni kolong langit dan bumi lalu bersepakat kufur (mengingkari) dan tidak mau sujud di hadapan Allah. Hal itu juga tak bakal mengurangi izzah dan ketinggian Allah. Bagi Allah, tetap saja Dia sebagai Zat Yang Mahakuasa lagi Maha Terpuji.
Allah berfirman:
ما يفعل الله بعذابكم إن شكرتم وآمنتم وكان الله شاكرا عليما
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Surah an-Nisa [4]: 147).
Bersyukur pangkal selamat
Secara khusus Allah memilih mendahulukan kata syukur daripada iman pada ayat di atas.. Hal ini dimaksudkan agar setiap manusia menyadari segala macam nikmat yang Allah karuniakan sejak penciptaan dunia dan seisinya tersebut. Syukur yang benar menjadikan manusia kian tahu hakikat siapa dirinya dan siapa Penciptanya. Semakin ia bersyukur, maka semakin tampak pula kelemahan dan keterbatasan orang itu.
Hingga akhirnya rasa syukur itulah yang mendorong dia untuk tunduk mengakui kekuasaan Allah semata. Tak ada yang layak disembah di muka bumi kecuali dengan mentauhidkan Allah Yang Mahaesa. Demikian Imam al-Alusi menerangkan panjang lebar tentang hikmah didahulukannya kata syukur sebelum iman tersebut (Tafsir Ruh al-Ma’aniy fi Tafsir al-Qur’an al-Adzim).
Sikap syukur yang demikian niscaya makin mengokohkan pondasi keimanan pada diri seorang Muslim. Sama halnya ketika iman tersebut telah mengakar kuat dalam jiwa orang beriman, menjadikan rasa syukur yang ada kian berkualitas. Tak heran, kolaborasi dua mata rantai inilah –antara syukur dan iman- yang kelak berfungsi sebagai tameng dalam melindungi seorang hamba dari ancaman siksa neraka.
Mengapa? Tidak lain karena perpaduan antara iman dan syukur sanggup melahirkan amal shalih setiap saat. Ia bahkan bisa menjadikan seseorang berlomba dalam kebaikan. Sebab ia sadar waktu untuk bersyukur dan beramal sangat terbatas dibanding pemberian Allah yang sungguh tiada batas.
Untuk itu, bagi orang beriman, bersyukur bukan lagi sebuah kewajiban yang membebani. Namun hendaknya ia dimaknai sebagai kebutuhan yang tak terpisahkan lagi dari hidupnya. Lain halnya dengan orang-orang yang ingkar dan tidak mengakui nikmat Tuhannya. Dengan segala keluasan ilmu-Nya, Allah menegaskan bahwa Dia Zat Yang Maha Mengetahui. Kelak di hari Kiamat nanti, Allah membongkar seluruh rahasia yang disembunyikan oleh hamba-hamba-Nya. Mana di antara mereka yang benar-benar bersyukur serta siapa yang hanya acuh dengan perintah agung ini.*/Masykur

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !
Topik: 

Ini 3 Keuntungan Fokus Fastabiqul Khairat

Membiasakan diri ber-Fastabiqul Khairat akan menyelamatkan diri kita pada kesia-siaan waktu
Warga Aceh beramai-ramai membantu pengungsi Rohingya

SIAPA tidak bisa menggunakan waktu untuk peningkatan mutu dirinya (baca iman takwa) maka ia tidak akan pernah mampu merasakan nikmat dan bahagia dari melakukan apapun yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.
Sederhana saja, ambil contoh perihal shalat Subuh misalnya. Jika diri ini biasa melakukan shalat Subuh dengan bangun 30 menit sebelum adzan, atau bahkan lebih awal, misalnya pukul 03.00, maka mendirikan shalat Subuh akan menghadirkan rasa dan pengalaman yang berbeda. Dibanding dengan yang ketika adzan, baru bangun, lantas buru-buru wudhu dan nyaris semua dilakukan dengan kurang tenang.
Dalam Fastabiqul Khairat berarti semua mesti direncanakan, disiapkan dan diazamkan bahkan didoakan, agar Allah memudahkan terwujudnya segala macam rencana positif yang diniatkan.
Ketika seorang Muslim memiliki mental Fastabiqul Khairat maka hidupnya akan diwarnai dengan keteraturan dan optiisme karena setiap mengamalkan kebaikan diawali dengan perencanaan dan kesungguhan. Atau sekiranya ada agenda penting yang diluar rencana dan itu positif menurut Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu pun akan disegerakan.
Berkaca pada Abu Bakar
Abdurrahman bin Abu Bakar radhiyallahu anhu pernah bercerita kepada kami, “Paa suatu ketika saat Rasulullah usai melaksanakan shalat Subuh, tiba-tiba beliau mengarahkan pandangannya ke arah para sahabatnya seraya mengatakan, “Adakah di antara kalian yang hari ini ia berpuasa?”
Umar bin Khaththab menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak berniat untuk puasa pada hari ini, sehingga di pagi ini aku tidak berpuasa.”
Lalu Abu Bakar berkata, “Aku berpuasa wahai Rasulullah, sebab sejak semalam aku telah berniat puasa, sehingga di pagi ini aku pun berpuasa.”
Rasulullah pun melanjutkan, “Adakah salah satu dari kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?”
Umar mnenjawab, “Wahai Rasulullah, usai menjalankan shalat tentunya kami masih berada di sini…. Lantas bagaimana kami bisa menjenguk orang sakit?”
Abu Bakar berkata, “Telah sampai kabar kepadaku bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sedang sakit, sehingga dalam perjalanannku ke arah masjid ini aku telah menyempatkan diri menjenguknya.”
Rasulullah masih melanjutkan pertanyaannya, “Adakah salah satu dari kalian yang hari ini bershadaqah?”
Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, usa menjalankan shalat tentunya kami masih berada di sini.”
Abu Bakar menjawab, “Saat aku memasuki masjid aku melihat seorang pengmis sedang meiminta-minta, ketika itu aku mendapati sepeotorong roti di tangan Abdurrahman (salah seorang putranya), lalu aku pun meminta untuk bisa diberikan kepada pengemis itu.”
Setelah itu, Rasulullah pun bersabda, “Bergembiralah engkau (wahai Abu Bakar) dengan surga.”
Sedangkan kepada Umar Rasulullah bersabda, “Semoga Allah menyayangi Umar, semoga Allah menyayangi Umar, sebab segala kebaikan yang diinginkannya telah didahului seluruhnya oleh Abu Bakar.” (HR. Thabrani).
Manivestasi Fastabiqul Khairat
Fastabiqul Khairat itu adalah suatu konsep yang menghendaki segenap umat Islam segera melakukan aksi kebaikan untuk mendapat ridha-Nya. Jika ada yang lain juga melakukan, maka berusahalah untuk melakukan dengan kualtias terbaik (Ahsanu Amala) dan terus-menerus. Dalam Islam dikenal istilah Adwamuha wa in qalla (terus-menerus alias ajeg meski sedikit).
Secara operasional, tentu Fastabiqul Khairat butuh yang namanya perencanaan atau mudahnya adalah pelaksanaan dari konsep Planning, Organizing, Actuating and Controlling (POAC), sehingga waktu tidak ada yang terbuang percuma, energi tersalurkan pada peningkatan mutu diri secara keseluruhan. Dan, selamat dari bisik-bisik setan yang merugikan. Itulah beberapa keuntungan dari fastabiqul Khairat.
Pertama, tidak ada waktu yang terbuang percuma
Mari perhatikan bagaimana Sayyidina Abu Bakar selepas Subuh sudah mengerjakan semua amalan yang Rasul tanyakan. Artinya, Abu Bakar paling siap. Mulai dari meniatkan puasa, medengar sahabat yang sakit serta bersegera menjenguknya, hingga memberi sedekah kepada orang miskin. Tentu, Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu anhu akan lebih antusias dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan lainnya selepas Subuh.
Membiasakan diri ber-Fastabiqul Khairat akan menyelamatkan diri kita pada kesia-siaan waktu. Bahkan seseorang akan mengetahui posisi dirinya dengan senantiasa ber- Fastabiqul Khairat, sehingga tidak ada waktu terbuang, karena semua dihadapi dengan perencanaan dengan sebaikl-baiknya.
Kedua, energi tersalurkan pada peningkatan mutu diri secara keseluruhan. Fastabiqul Khairat akan menyelamatkan hdiup kita pada penyalahgunaan energi, semua terarah pada amalan-amalan yang Allah ridhai.
Sebagai contoh, ketika diri sendiri ingin membiasakan diri membaca Al-Qur’an dengan memahami terjemah dan maknanya, lantas merencanakan waktu sekitar 3 jam dalam 24 jam untuk mengamalkan hal tersebut, maka 3 jam itu akan memberikan dampak kecerdasan intelektual dan spiritual sekaligus. Pada saat yang sama perilaku hidup atau akhlak diri akan semakin baik, seiring dengan peningkatan ilmu yang diperoleh dari konsistensi membaca Al-Qur’an selama 3 jam dalam setiap 24 jam.
Ketika Fastabiqul Khairat menjadi karakter, maka insya Allah apa yang Buya Hamka tulis dalam bukunya “Pribadi Hebat” akan juga kita raih. Sebab dengan Fastabiqul Khairat akan hadir rasa cinta dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik yang Allah ridhai.
Buya Hamka menulis, “Keinginan dan kecintaan kepada pekerjaan meimbulkan beberapa kemajuan:
1. Menambah tinggi mutu pekerjaan
2. Menggiatkan dan memajukan yang mengakibatkan tumbuhnya kegembiraan
3. Mendorong kita agar lebih kuat melaksanakan sehingga menimbulkan inspirasi untuk menerobos segala pagar kesulitan.
Ketiga, selamat dari bisik-bisik setan yang merugikan. Pada dasarnya manusia diciptakan dengan fitrah bekerja. Ketika akal, hati dan motorik manusia tidak bekerja melakukan kebaikan yang Allah ridhai, maka semua komponen penting dalam jiwa-raga manusia itu tetap akan bekerja. Tetapi, boleh jadi menyimpang dari yang seharusnya.
Mengapa banyak orang bisa berkomentar tetapi tidak bisa menciptakan dan membuktikan sesuatu? Karena hidupnya tidak diatur dan dirinya tidak ingin ber- Fastabiqul Khairat. Mengapa banyak orang ngomongnya negatif dan nyaris waktunya habis untuk mengoreksi orang lain, karena dia tidak mau ber- Fastabiqul Khairat.
Demikianlah pentingnya Fastabiqul Khairat itu, maka mari kita mulai dalam diri untuk mengamalkannya, karena begitu banyak manfaat penting yang amat kita butuhkan ketika Fastabiqul Khairat itu menjadi bagian dari kehidupan kita semua. Wallahu a’lam.*
Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Saat Malaikat Maut Mencabut Nyawa (1)

Malaikat Maut memiliki wajah, mata, tangan, dan telinga berjumlah sama dengan bilangan seluruh manusia.

DI DALAM kitab as-Suluuki karya Syeikh Muqatil bin Sulaiman disebutkan, “Sesungguhnya Malaikat Maut itu mempunyai ranjang yang terletak di langit ketujuh.” Ada juga yang mengatakan, di langit yang keempat. Wallahu a’lam bishshawab.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Malaikat Maut dari nur. Ia mempunyai tujuh puluh ribu kaki. Sayapnya sebanyak empat ribu. Seluruh jasadnya dipenuhi dengan mata dan lisan. Tidak ada satu makhluk dari anak turun Adam As., juga burung-burung, ataupun makhluk yang bernyawa lainnya, kecuali baginya terdapat di tubuh Malaikat Maut.
Malaikat Maut memiliki wajah, mata, tangan, dan telinga berjumlah sama dengan bilangan seluruh manusia. Ia mencabut nyawa dengan tangan itu. Ia melihat dengan wajahnya tepat pada muka manusia yang akan dicabut nyawanya.
Demikianlah cara ia mencabut nyawa setiap makhluk di mana pun ia berada. Di mana pun makhluk itu berada, niscaya tidak akan mampu selamat darinya. Jika seseorang telah meninggal dunia, maka akan hilang gambarnya dari jasad Malaikat Maut itu.
Ada juga yang mengatakan Malaikat Maut memiliki empat wajah. Satu wajah ada di depan, wajah yang kedua ada di atasnya, yang ketiga ada di atas punggungnya, dan yang keempat berada di bawah kedua telapak kakinya. Ketika ia mencabut ruh para nabi dan para malaikat, maka ia mencabut dari wajah yang ada di kepalanya; ketika ia mencabut ruh orang-orang mukmin, ia menggunakan wajah yang ada di hadapannya; ketika ia mencabut nyawa orang-orang kafir, ia menggunakan wajah yang ada di punggungnya; dan ketika mencabut nyawa para jin, ia menggunakan wajah yang berada di kedua kakinya. Salah satu kakinya berada di atas titian Neraka Jahannam, dan yang lainnya berada di atas ranjang Surga.
Ada sebagian orang mengatakan, karena saking besarnya Malaikat Maut, sehingga jika seluruh air lautan dan seluruh air sungai dituangkan di atas kepalanya, maka air itu tidak akan ada yang menetes ke bumi, setetes pun. Dikatakan, sesungguhnya Allah menjadikan dunia seisinya berada di dalam lambung Malaikat Maut.
Lambungnya diumpamakan seperti meja makan yang diletakkan di depan seseorang yang akan memakan dengan sesuka hati dari apa-apa yang dihidangkan. Seperti itulah Malaikat Maut menghadapi seluruh makhluk yang ada di jagat ini, yakni sebagaimana halnya ketika anak turun Adam As. dalam membolak-balikkan uang logam.
Dikatakan pula bahwa Malaikat Maut tidak akan turun kecuali pada saat mencabut ruh para nabi dan para rasul. Ia mempunyai beberapa khalifah (utusan) untuk mencabut nyawa binatang buas dan beberapa binatang lainnya (termasuk manusia).
Ada juga yang menuturkan, sesungguhnya Allah ketika menginginkan untuk merusak (membinasakan) makhluk-Nya dari jenis manusia atau yang lainnya, maka Dia tinggal merusak mata-mata yang berada di jasad Malaikat Maut; seluruhnya (sesuai yang Dia kehendaki), hingga tersisa delapan dari makhluk-Nya. Delapan yang tersisa tersebut, yakni Malaikat Israfil, Malaikat Mikail, Malaikat Jibril, Malaikat Izrail, dan empat yang lainnya adalah keempat malaikat yang membawa Arsy.*/Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi, sebagaimana tertulis dalam bukunya Daqaiqul Akhbar. [Tulisan berikutnya]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

27 Januari 2016

Petisi Dukung Menristek Larang LGBT Hilang dari Change.org

“Kami tidak dapat menemukan halaman yang Anda cari. Kembali ke homepage (beranda) kami,” demikian penjelasan Change.org.
Tampilan google chache laman petisi "dukung Menristek larang LGBT masuk kampus" yang hilang dari situs Change.org.
Hidayatullah.com– Mendukung pelarangan lesbian, homoseksual, biseksual, dan transgender (LGBT) masuk kampus, sebuah petisi online dibuat di situs Change.org. Namun, petisi yang dibuat Rantala Sikayo sejak Senin, 15 Rabiuts Tsani 1437 (25/01/2016) itu menghilang dari situs tersebut.
Petisi ini dibuat untuk mengajak masyarakat mendukung pelarangan LGBT masuk ke kampus. Pelarangan itu ditegaskan oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek) M. Nasir.
Dukung Pernyataan Menristek M. Nasir; ‘LGBT Merusak Moral Bangsa, & Dilarang Masuk Kampus’,” demikian tajuk petisi yang dimulai sekitar Senin pagi jelang siang itu.
Pantauan hidayatullah.com, petisi yang ditujukan kepada DPR RI, Universitas Indonesia, dan kampus di seluruh Indonesia itu, sudah tak terlihat lagi pada Selasa (26/01/2016) malam.
Saat media ini mencoba mengklik tautan petisi tersebut –yang telah disimpan sebelumnya, ternyata sudah tidak bisa diakses. Pada link itu, Change.org menampilkan latar putih dengan kotak merah muda di tengah, disertai tulisan berbahasa Inggris dan simbol tanda tanya berukuran mencolok.
Well this is embarrassing… We couldn’t find the page you were looking for. Go back to our homepage,” demikian yang tertulis, seperti terlihat pada Rabu (27/01/2016) pagi. Klik link-nyadi sini.
Tulisan itu kira-kira bermakna bahwa tidak dapat diaksesnya tautan tersebut merupakan sesuatu yang “memalukan”.
“Kami tidak dapat menemukan halaman yang Anda cari. Kembali ke homepage (beranda) kami,” demikian maksud Change.org pada kalimat berikutnya.

Di situ tak ada penjelasan perihal penyebab hilangnya atau kemungkinan dihapusnya petisi tersebut.
Tampilan laman yang hilang dari Change.org.
Pengamatan hidayatullah.com sebelumnya, pada Senin malam, sekitar 13 jam setelah dibuat, petisi itu telah ditandatangani oleh setidaknya 308 pendukung.
Sementara Rantala Sikayo hanya menampilkan “Indonesia” sebagai identitas tempat asal pembuatnya.
Halaman petisi tersebut masih bisa terlacak di Google Cache, namun yang terekam saat petisi itu masih ditandatangani 46 pendukung. Klik di sini tautannya!
Saat mencari daftar petisi dengan kata kunci “LBGT” di kolom pencarian Change.org, ditemukan tiga petisi online. Tidak ada petisi yang mendukung pernyataan Menristek M. Nasir tersebut.
Sebaliknya, di Change.org sudah ada petisi lain yang meminta Nasir mencabut pernyataannya bahwa “LGBT merusak moral bangsa dan dilarang masuk kampus”.
Petisi yang dibuat oleh Poedjiati Tan dari Surabaya, yang ditujukan juga kepada Mendikbud Anies Baswedan ini, hingga Rabu pagi, telah ditandatangani seribu lebih pendukung.
Usai meresmikan kampus baru Universitas PGRI Semarang, Sabtu (23/01/2016), Nasir menegaskan, kelompok LGBT semestinya tidak boleh masuk kampus. “Masa kampus untuk itu? Ada standar nilai dan standar susila yang harus dijaga. Kampus adalah penjaga moral,” ujarnya.
Situs web Change.org kerap digunakan oleh warga dunia, untuk menyampaikan petisi dan kampanye sosial secara online. Hingga berita ini dirampungkan, belum ada tanggapan dari pihak Change.org terkait petisi yang hilang tersebut.*
Rep: Muh. Abdus Syakur
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

“Apakah Boleh Membaca Buku Al Ghazali?”


ISMAIL BIN MUHAMMAD AL HADRAMI adalah seorang ulama shalih bermadzhab As Syafi’i. Ulama Yaman ini memiliki beberapa karya baik dalam bidang fiqih seperti Mukhtashar Al Muhadzdzab juga dalam bidang hadits semisal Mukhtasar Shahih Muslim serta kumpulan fatwa.
Ulama yang pernah menjabat sebagai qadhi ini juga menjadi rujukan dalam fatwa. Hingga suatu saat datang Ismail bin Muhammad pertanyaan “bolehkah membaca buku-buku karya Al Ghazali?”
Syeikh Ismail bin Muhammad pun menjawab,”Innalillahi wa inna ilahi raji’un…Muhammad bin Abdillah adalah sayyid para nabi, Muhammad bin Idris (Imam As Syafi’i) adalah sayyid para imam, Muhammad bin Muhammad (Al Ghazali) adalah sayyid mushannifin ( para penulis kitab)”. (Al Kawakib Ad Durriyah, 2/393)

Rep: Sholah Salim
Editor: Thoriq