Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi hadir dalam rangka membagun pilar agama dan bangsa.

Eratkan Silaturrahim Jalin Kebersamaan

Selain Hablumminallaah, kita juga harus senantiasa membangun tradisi Hablumminannaas.

Salurkan Infaq dan Shodaqoh anda kepada Penghafal Qur'an

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi Mencetak Generasi Berkarakter Qur'ani.

Mari Ikuti Dauroh Tahfidz Al-Qur'an 14 Hari Hafal 10 Juz

Masjid Baitul Makmur, Perum Telaga Sakinah, Cikarang Barat - Bekasi, tanggal 4 - 17 Mei 2015.

Suntikan semangat pagi hari

Mari dukung program dakwah Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi.

DONATUR MARET-APRIL 2015
ZULKIFLI - Cikarang Rp. 20.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | AMIRUDDIN - Bekasi Rp.150.000 | JONATHAN - Cikarang Rp.50.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

19 Mei 2015

Orang Optimistis Miliki Kardiovaskular Lebih Sehat


ORANG yang memiliki pandangan optimis dalam hidupnya memiliki kesehatan kardiovaskular lebih baik secara signifikan.
“Individu yang level optimisme tertinggi, dua kali lebih sehat jantungnya, dibandingkan mereka yang pesimistis. Hubungan ini signifikan pada karakteristik sosio-demografi dan kesehatan mental yang buruk,” kata profesor kerja sosial dari Universitas Illinois, Rosalba Hernandez.
Untuk sampai pada kesimpulan ini, Hernandez dan tim meneliti sekitar 5.100 orang dewasa yang berada pada rentang usia 45–84 tahun. Para partisipan terdiri atas 38 persen orang kulit putih, 28 persen ras Afrika-Amerika, 22 persen orang Latin, dan 12 persen China.
Mereka ini menjalani tujuh pemeriksaan kesehatan, yakni tekanan darah, indeks massa tubuh, kadar glukosa, kolesterol, asupan diet, aktivitas fisik, dan konsumsi rokok.
Peneliti juga memeriksa kesehatan mental para partisipan, level optimisme, kesehatan fisik, berdasarkan hasil tes medis. Pada akhir penelitian, peneliti menjumlahkan semua hasil pemeriksaan partisipan.
Hasil penelitian menunjukkan, total angka kesehatan individu meningkat seiring naiknya level optimisme. Mereka yang paling optimis, 50 dan 76 persen lebih cenderung memiliki angka total kesehatan yang bagus, atau ideal.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Health Behavior and Policy itu juga memperlihatkan, hubungan antara optimisme dan kesehatan kardiovaskular lebih kuat terjadi saat karakteristik sosio-demografi, misalnya usia, ras dan etnis, pendapatan serta status pendidikan dimasukkan menjadi faktornya.
Orang yang optimis memiliki kadar gula darah dan kolesterol lebih baik secara signifikan dibandingkan mereka yang pesimis. Mereka juga lebih aktif secara fisik, memiliki indeks massa tubuh, dan relatif jarang merokok.
“Temuan ini menunjukkan, strategi yang menargetkan modifikasi kesejahteraan psikologis –misalnya optimisme– mungkin sangat potensial untuk meningkatkan kesehatan jantung masyarakat Amerika sebanyak 20 persen sebelum 2020,” kata Hernandez, demikian seperti dilansir eurekalert.org.*
Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan

18 Mei 2015

Mengapa Orang Beragama Lebih Sehat?

Orang yang menjalani kehidupan beragama, cenderung memiliki ukuran hippocampus lebih kecil dari orang Atheis

“PUTUS asa adalah sumber kesesatan; kegelapan hati dan pangkal penderitaan jiwa,” demikian kata-kata hikmah dari Bediuzzaman Said Nursi atau kerap dipanggil Said Nursi. Ucapan bintang intelektual Muslim yang berpengaruh di dunia muslim khususnya di Turki berkat mahakaryanya ”Risalah An-Nur “ ini nampaknya cocok dengan temuan terbaru para peniliti sosial.
Dalam studi yang dilakukan oleh Christopher Scheitle, asisten peneliti senior di bidang sosiologi di Penn State University, di mana menyebutkan, 40 persen orang yang menjalankan praktek agama, dilaporkan dalam kondisi sehat. Sementara orang yang tidak percaya Tuhan cenderung mengabaikan pola hidup sehat, demikian hasil penelitian.
“Kesehatan yang buruk juga dapat memicu seseorang meninggalkan suatu agama dan kehilangan kepercayaannya akan adanya Tuhan,” kata Christopher Scheitle, peneliti dari universitas itu.
Scheitel bukan sedang begosip, ia pernah meneliti 423 kasus yang berhubungan dengan agama antara 1972-2006. Hasil penelitiannya menunjukkan, sekitar 40% penganut agama yang taat, dalam kondisi kesehatan baik dan 25% lainnya yang berpindah keyakinan ke agama lain, juga dalam kondisi kesehatan baik.
Scheiter meneliti penganut Gereja Yesus Kristus Hari Terakhir (Mormon) dan Saksi Jehovah –termasuk penganut garis keras dan ketat dalam aliran Kristen—di mana mempunyai garis pedoman keras bagaimana anggota sebaiknya harus hidup, termasuk tidak konsumsi alkohol atau penggunaan tembakau, dapat memberi dampak baik bagi kesehatan.
Dalam laporannya, Scheitle menyatakan, penurunan kesehatan dapat kelompok agama tersebut. Penelitian juga membuktikan, ketidakpercayaan pada Tuhan juga membawa dampak buruk bagi kehidupan sosial.
Bahkan penelitian yang dimuat di situs www. eMaxHealth.com ini juga menyimpulkan, seperempat di antara orang dengan sikap yang lebih liberal dalam beragama, masih dianggap memiliki manfaat kesehatan istimewa dan akan turun sampai 20 persen jika ia berhenti total dari agama alias Atheis.
Suatu studi yang baru diterbitkan pada Desember 2013 di JAMA Psychiatry, menemukan bahwa kemungkinan risiko depresi jauh lebih kecil bagi orang yang taat beragama. TeknologiMRIs menunjukkan bahwa otak orang yang taat beragama memiliki lapisan yang lebih tebal dibandingkan orang yang sebaliknya.
Harold G. Koenig, direktur Center for Spirituality, Theology, and Health di Duke University menulis beberapa buku seperti The Healing Power of Faith and Mental Health. Buku-buku tersebut berisi mengenai manfaat agama bagi kesehatan. Manfaatnya antara lain, menurunnya stres melalui doa.
“Salah satu perusak otak paling buruk adalah stres,” kata Dr. Majid Fotuhi, seorang pendiri dan ketua NeurExpand, serta dosen di Harvard Medical School. “Stres dapat menghasilkan zat yang beracun bagi tubuh. Salah satu cara untuk mengurangi stres adalah berdoa. Ketika Anda berdoa, Anda akan merasakan pikiran yang lebih tenang,” tambahnya dikutipnews.discovery.com.
Sebuah studi di kutip Journal of Affective Disorders, dikutip dari laman Daily Mail, Ahad (19/05/2013), mengatakan, beriman pada sesuatu yang lebih baik ditemukan dapat meningkatkan pengobatan seseorang secara signifikan bagi orang yang menderita penyakit jiwa.
David B. Larson dan timnya dari The American National Health Research Center, pernah membandingkan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama. Hasilnya, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60 persen lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100 persen lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7 : 1 di antara para perokok.
Dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran pernah melaporkan, orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang taat beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66 persen lebih tinggi daripada mereka yang beragama.
Penelitian yang dilakukan oleh Hayward, menemukan adanya perkembangan hippocampus mereka selama 28 tahun. Hippocampus adalah bagian otak yang memperbesar peluang depresi serta Alzheimer di usia tua. Penelitian ini sekaligus menunjukkan orang yang menjalani kehidupan beragama, cenderung akan memiliki ukuran hippocampus yang lebih kecil dari yang tidak (orang Atheis).
Bagi umat Islam, Shalat dianggap sebagai tiangnya agama. Dengan mengingat Allah melalui shalat, bisa menjadikan umatnya keluar dari segala persoalan atau masalah yang dihadapi. Dengan menyandarkan segala pertolongan pada Sang Maha Penolong, segala sesuatu akan mudah.
Karena itu, menjalankan shalat sebenarnya juga berarti membuka jalan bagi datangnya pertolongan Allah.
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan kesabaran dan Shalat.” (QS al-Baqarah [2]: 45; lihat pula ayat 153).
Jika shalat dan ibadahnya benar, seorang Muslim seharusnya lebih siap menghadapi hidup dan problematikanya dibanding sebelumnya. Sebab itu sesuai janji Allah sendiri bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang, tidak mudah stress, depresi dan ujungnya menjadi lebih sehat.
أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.* (QS: al-Ra‘d [13]: 28)].
Nah, jika semua penelitian sudah menunjukkan bahwa dengan banyak ibadah berdampak baik pada kesehatan dan otak Anda, Apa ruginya jika tak mulai rajin beribadah mulai sekarang? *


Rep: Muhsin
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !
Topik: 

17 Mei 2015

Harga Diri Beragama

Sejumlah pemuda Yahudi melecehkan wanita Palestina

oleh: Shalih Hasyim
SUDAH menjadi adat antar bangsa jika ada pelarian politik (minta suaka politik) kepada suatu negara, maka negara itu tidak boleh menyerahkannya kepada negara yang menuntutnya. Sebab, pelarian politik tidak identik dengan orang jahat seperti koruptor.
Beberapa tokoh politik di negara-negara jiran, pernah meminta suaka kepada Kerajaan Saudi Ibnu Sa’ud saat itu. Menurut undang-undang antar bangsa, orang yang minta suaka politik tidak boleh diserahkan. Tetapi, bagi Ibnu Sa’ud ada yang lebih tinggi dari peraturan produk manusia, yaitu undang-undang yang inhern dengan fitrah manusia, ghirah (cemburu) beragama.
Bagi Bangsa Arab, betapa hinanya kalau muru’ah (harga diri) dilanggar. Namanya akan jatuh, karena memperoleh sanksi sosial (hukum tidak tertulis) dari komunitas Arab. Seorang yang meminta keselamatan, akan dilindungi sekalipun harus mengorbankan nyawa.
Dalam sejarah Iraq, pernah tercatat kisah Perdana Menteri Al Kailani, yang dikenal tokoh pro Jerman. Semasa ia menjadi Perdana Menteri, Kailani telah memproklamirkan perang kepada Inggris. Padahal bantuan Jerman yang diharapkannya tidak kunjung datang. Kesudahannya, Inggris menghancurkan Iraq dibawah kepemimpinannya. Bandara Habbaniyah diduduki. Al Kailani kalah dan melarikan diri.
Secara rahasia, dia datang ke Riyadh dan meminta suaka pada Ibnu Saud. Sa’ud tidak menolak. Bagi Saud, menolak orang yang meminta jaminan adalah kehinaan. Sekalipun, berkali-kali utusan Iraq datang ke Riyadh untuk mendesak agar Al Kailani diserahkan.
Kasus serupa pernah juga terjadi di Suriah. Rezim Adib Syisyakli yang tidak didukung rakyat berakhir dengan kemenangan lawan politiknya, Hasyim Al Attasi. Adib Syisyakli terpaksa melarikan diri sebelum 12 peluru di tubuhnya dikeluarkan. Dia meminta perlindungan kepada Riyadh. Setelah Ibnu Sa’ud mangkat, digantikan oleh putranya, Sa’ud, ia tetap teguh memegang tradisi ghirah (harga diri dan kebanggan) yang lebih kuat pengaruhnya dari masa ke masa.
Sultan Pasya Atrasyi, seorang pemimpin Suriah yang terkenal sebagai panglima laskar pembela Islam memberontak kekuasaan Prancis tahun 1925. Awalnya, ia setia kepada pemerintah penjajah. Ia tidak bisa berbuat banyak ketika Prancis menduduki tanah airnya. Tetapi, tahun 1925 ia mengambil sikap sebagai pemimpin pemberontak.
Pada suatu hari seorang pemimpin yang ekstrim dikejar-kejar penjajah Prancis, namanya Idham Khan Jar. Pada saat pencarian, sampailah ia di Jabal Druzz, kediaman Sultan Atrasyi untuk minta perlindungan. Sayangnya, Sultan tidak di rumah. Hanya ada para khadam (pembantu) dan keluarganya. Tapi tentara Prancis tetap mengepung dan menangkap. Esoknya, Sultan gemetar mendengar kisah penghinaan harga diri itu. Baginya, sungguh malu seorang tamu ditangkap di rumah tuan rumah.
Sultan akhirnya mengirim surat permohonan kepada Prancis supaya tawanan itu dikembalikan. Sayangnya, suratnya hanya dibalas ejekan. Sultan akhirnya menulis surat selebaran kepada seluruh pengikutnya. Baginya, rasa malu menyerahkan tamu kepada penjajah tak bisa ditebus kecuali dengan nyawa.
Ia memulai selebaran dengan pepatah Arab, “An Naaru Al ‘Aaru” (api mesiu lebih baik daripada menanggung malu). Maka barangsiapa di antara para pengikutku yang masih memahami arti hidup, ghirah, muru’ah, malu, silakan bergabung bersama, memberontak penjajah Prancis. Yang takut mati, tidak memiliki rasa cemburu (dayus), silakan hidup terus dengan berselimutkan kehinaan. Kehinaan identik dengan kematian, sekalipun secara fisik terlihat gagah. Dalam hitungan menit, berkumpullah beratus-ratus pahlawan lengkap dengan senjata.
Pemberontakan hebat akhirnya terjadi terhadap Prancis. Itulah pemberontakan paling seru dalam sejarah bangsa Arab setelah Perang Dunia I. Prancis mempertontonkan keganasan dan kekejaman tiada tara terhadap penduduk. Kota Damaskus sendiri dihujani dengan bom.
Karena kekuatan tak seimbang, Sultan akhirnya kalah. Namun baginya, kekalahan tidak menjadi masalah dibanding rasa malu dan kehormatan. Setelah tidak ada perlawanan lagi, Sultan akhirnya mengundurkan diri ke padang pasir. Sampai tahun 1936, keluar pengampunan massal dari Prancis. Saat itu pula pemimpin-pemimpin yang dalam pengasingan muncul kembali di bumi Suriah.
Wanita, Ghirah dan Agama
Ghirah dan muruah bukan saja milik umat Islam. Tetapi milik semua bangsa dan agama. Biasanya, ghirah dan harga diri dikenal berkaitan dengan cinta dan wanita. Namun ada juga yang berkaitan dengan agama. Jika adik perempuan kita atau istri kita diganggu orang, lalu kita berbalik melawan, berarti dalam diri kita masih ada ghirah. Tetapi membiarkan orang lain meniduri istri kita, menunjukkan bahwa kita sudah kehilangan pegangan dan tuntunan agama.
Dalam catatan sejarah, disamping penjajah merampas hasil rempah-rempah kita, juga mengusung program misionarisasi. Program yang selalu diangkat oleh penasehat pemerintah Belanda Snouck Hurgronje atau dikenal dengan nama Abdul Ghafur Al-Holandi adalah menciptakan tasykik (keraguan), tasybih (salah paham) dan taghrib (pembaratan) terhadap Islam.
Dalam kitab “Tajul Muluk” (mahkota para Sultan), sebelum Indonesia berdiri, pendahulu kita telah mewariskan kepada bumi pertiwi ini kultur bernegara (civic culture), persatuan, sosial kontrol dan spirit jihad. Warisan terakhir inilah yang mengantarkan rakyat Indonesia berhasil mengusir penjajah. Kata Bung Tomo, tak ada ruh tanpa ada suara takbir. Ia, bahkan mungkin kehilangan inspirasi untuk menggerakkan arek-arek Suroboyo berjihad dengan bambu runcing untuk melawan penjajah.
Akhir-akhir ini Barat dengan berbagai cara yang canggih berupaya menghilangkan ghirah umat Islam melalui; makanan, pakaian, hiburan, olah raga dan pemikiran. Sehingga sekalipun banyak umat Islam yang memakai atribut Islam, tetapi pikiran dan jiwa Islam telah mulai terkubur. Apa yang kita pikir dan apa yang kita kerjakan adalah sekedar tiruan-tiruan mereka.
Pada zaman klasik, sekalipun secara fisik penjajah mengeruk kekayaan alam kita, tetapi mereka berfikir seribu kali untuk memasuki wilayah-wilayah keagamaan yang sangat personal. Sekarang, berfikir bebas, melecehkan al-Qur’an, menghina Nabi, menafsirkan seenaknya ayat-ayat, menuduh para ulama salaf dan menghina ulama, seolah menjadi kebanggan kaum akademis. Tak perlu jauh-jauh orang asing atau orientalis. Bahkan itu dilakukan orang-orang yang mengaku cendekiawan Muslim sendiri.
Jika agama dilecehkan, kemudian kita diam seribu bahasa, pasif, dan tidak bereaksi, berarti alamat ghirah dan muruah dalam diri seseorang sudah hilang. Hidup yang kehilangan ghirah dan muruah, sama dengan kematian.
Tanpa ghirah, beragama menjadi kosong, kering, tidak berefek pada perubahan pola pikir dan kepribadian. Dan jika ghirah telah hilang, indikator kita menyediakan diri untuk dijajah. Seharusnya dengan ghirah dan muruah, kita tidak mungkin bisa terkalahkan. Karena kening kita hanya bersedia ditundukkan kepada Zat Yang Maha Perkasa.*
Penulis kelumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

16 Mei 2015

Jemput ‘Hidayah’ dan Hijrah Dengan Berhijab

Kampanye jilbab di Sidney
Oleh: Sholih Hasyim
ALLAH Subhanahu Wata’ala pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada satu cahaya (iman).” (QS. Al Baqarah (2) : 257).

DATANGNYA hidayah terkadang unik, di luar nalar kita. Ia tidak berproses secara logis, bahkan terkesan instan. Ia bagaikan lailatul qadar yang menurut Buya Hamka, waktunya sebentar tetapi mampu mengubah jalan hidup.
Namun, jika dirunut datangnya hidayah sesungguhnyadiawali proses spiritual (mujahadah) yang panjang. Hidayah ibarat seorang siswa yang memperoleh penghargaan akademik karena kepintarannya. Upacara penghargaan memang berjalan hanya 10 menit. Namun, proses mencapai puncak prestasi tersebut butuh kerja keras untuk waktu yang lama.
Begitu juga hidayah. Untuk mendapatkannya, orang perlu berproses terlebih dahulu. Proses itulah yang akan mendatangkan pahala buatnya, sesuai dengan tingkat kepayahannya (al ujratu ‘alaa qodri al masyaqqah).
Adalah kisa yang terjadi dengan seorang Muslimah di Kudus, Jawa Timur. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama sekitar tahun 1991, ukhti yang kini menjadi pengasuh santriwati SMPII Luqman Al Hakim, Hidayatullah ini masuk sekolah kebidanan dan memilih tinggal di asrama. Saat itulah hidayah datang. Ia memutuskan untuk mengenakan busana Muslimah.
Ini keputusan hijrah yang luar biasa buat dirinya. Sebab, latar belakang pendidikannya bukan sekolah agama. Ia tak pernah diajarkan tentang kewajiban berhijab selama duduk di bangku sekolah. Yang ia pahami, menutup aurat hanya wajib ketika sedang shalat.
Keadaan ini diperparah oleh kurang simpatinya penampilan figur Muslimah berjilbab di kampungya. Jilbab diposisikan hanya sekadar tradisi. Pakaian luar itu tidak identik dengan kesucian batin dan keluhuran akhlak pemakainya.
Alhamdulillah, hidayah itu datang laksana fajar subuh(mitslu falaqish shubh), membuka belenggu hatinya, melapangkan dadanya untuk menerima cahaya kebenaran.
Ada harapan baru, motivasi baru, dan cara pandang baru.
Usai berhijrah, ia terus berupaya meningkatkan kualitas amal shalih, sebagaimana cara bersyukurnya Nabi Sulaiman AS:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk menger jakan amal Sholeh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang Sholeh.” (QS: An Naml [27] : 19).
Awal Datangnya Hidayah
Cerita ini bermula ketika lima siswi sekolah kebidanan membuat gebrakan tak biasa. Mereka memberanikan diri memakai jilbab di sekolah.
Yang menarik, langkah berani kelima siswi itu bukan sekadar ikut trendi, apalagi membuat sensasi. Mereka melakukan itu untuk sebuah keyakinan. Dan, mereka terlihat sangat kuat memegang prinsip (mabda). Mereka tak takut dengan siapa pun meski Surat Keputusan tentang dibolehkannya memakai jilbab di sekolah kesehatan belum turun.
Mereka terlihat sangat siap menanggung risiko tak diizinkan ikut ujian dan praktik lapangan, bahkan andai harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun. Belum lagi harus menghadapi intimidasi, interogasi, pengucilan, pembunuhan karakter, dan dicitrakan ekstrim. Konsekuensi seberat apa pun mereka siap terima.
Mereka juga berhati-hati dalam bergaul dengan lawan jenis. Mereka berperilaku terpuji. Dan, yang mencengangkan, mereka unggul dalam prestasi akademik.
Fenomena ini menumbuhkan rasa empati yang dalam pada iri sang ukhti kepada lima sahabatnya ini. Rasa empati ini kemudian berkembang menjadi keinginan yang besar untuk mengenal Islam lebih dalam lagi, utamanya syariat berjilbab.
”Apakah kita termasuk orang-orang yang hanya mengambil sebagian syariat yang sesuai dengan nafsusyahwat dan menanggalkan syariat yang lain (jilbab).
Hidayah Allah jangan disia-siakan sebelum Allah menggembok pintu hati kita.” Begitulah pesan lima pionir penegakan syariat di sekolah itu kepada sang ukhti pada suatu hari.
Maka, tahulah ia bahwa berhijab merupakan kewajibansetiap Muslim yang kedudukannya sama dengan wajibnya rukun Islam. Ia bersifat qath’iyyatuts tsubut (ketentuan yang pasti, mengikat).
Kata-kata yang diucapkan kelima sahabatnya tersebut laksana sihir (inna minal bayani la sihran) yangmenggugah kesadarannya. Pernyataan yang keluar dari hati itu (qaulan tsaqila, qaulan layyina, qaulan karima, qaulan ma’rufah) menghunjam kuat dalam hatinya, menguatkan tekad untuk segera mengambil keputusan penting dalam fase kehidupannya, yaitu berjilbab, sekalipun keluarga kurang mendukung.
Keputusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dengan modal perhiasan pemberian orang tua, sang ukhti membeli satu jilbab dan kain untuk mengganti seragam sekolah. Pakaian Muslimah yang hanya sepotong itu tentu saja tidak cukup. Sang ukhti terpaksa meminjam jilbab temannya jika jilbabnya kotor.
Awal mula memakai jilbab terasa canggung. Maklum, jilbab yang dipakai berukuran 150 cm. Ia tak biasa.
Namun, keyakinan di dalam lubuk hati mengalahkan semuaitu. Nikmatnya iman telah mengubah pola pandang, orientasi hidup, dan perilaku.
Bahkan, ada kenikmatan spiritual (lazzatur ruh), meminjam istilah Abul Ala Al Maududi dalam karya monumentalnya al Hijab, menjalar dalam tubuhnya.
Kenikmatan itu adalah ketenangan jiwa; terkontrolnya ucapan, sikap, dan perbuatan; tidak takut menghadapi ancaman dan teror yang dibuat manusia sekaligus penyerahan diri secara total kepada Allah Yang Maha Melindungi; terjaganya kesucian, kemuliaan, dan kehormatan; serta terangakatnya martabat.
Dia jadi teringat ungkapan bijak orang tua zaman dahulu: ajining rogo soko busono, ajining diri soko lathi (harga diri fisik seorang diukur dari cara berpakaian, kualitas kepribadian dinilai dari cara berbicara). Ia bisa memahami bahwa jilbab tidak sekadar asesoris, hiasan lahiriah, tetapi berpengaruh juga pada kesucian batin pemakainya.
Sejak itu, pakaian Muslimah yang dipakainya menjadi filter sikap, tutur kata, pergaulan, kesehariannya. Ia telah menemukan konsep kehidupan. Ia semakin rajin mengikuti berbagai kajian keislaman (liqo).
Halaqah-halaqah taklim telah membuka cakrawala pikirannya tentang kesempurnaan Islam. Ia semakin tidak khawatir dan tidak berduka setiap diterpa persoalan hidup. Ia mudah berfikir jernih dan tidak emosional. Berbagai ujian yang datang, ia pahami sebagai usaha untuk meningkatkan derajatnya dan mengurangi dosanya.
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
”… Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS: Al Baqarah [2] : 38).
Berjuang Untuk Jilbab
Setelah diri mendapat hidayah maka tugas berikutnya adalah mengajak orang lain untuk menggapai hidayah yang sama. Itulah dakwah. Sang ukhti paham betul bahwa ia juga punya tanggungjawab sosial untuk mendakwahnya syariat Islam kepada orang lain.
Dakwah yang paling sederhana adalah teladan. Itu telah ia tunjukkan dengan ucapan, perbuatan, juga prestasi.
Tak cuma itu, sang ukhti dan beberapa aktivis Muslimah di Madiun, Jawa Timur, juga bertekat memperjuangkan syariat berjilbab di lembaga pendidikan kesehatan agar kelak adik-adik kelasnya bisa menjalankan syariat tanpa perasaan takut.
Mereka mencari dukungan para dokter di rumah sakit dan mendatangi Dinas Pendidikan Propinsi di Surabaya.
Alhamdulillah, pertolongan Allah datang. Surat Keputusan soal jilbab turun beberapa hari sebelum ujian. Semua siswi berjilab lulus dengan predikat sangat memuaskan dan sekarang telah bertugas ke berbagai daerah.
Bukan Mode
Saat ini wanita berjilbab telah menjadi pemandangan sehari-hari. Sayangnya, filosofi jilbab belum banyak dipahami secara utuh oleh pemakainya. Jilbab masih dimaknai sekadar mode, tak dijadikan fungsi taklim (pengajaran), tazkiyah (penyucian), tarbiyah (pembinaan), tashfiyah(pemurnian cara pandang), dantarqiyah (peningkatan kualitas kepribadian).
Akibatnya, betapa banyak Muslimah yang berjilbab namun bebas bergaul dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya. Pola berislam seperti ini jelas indicator sebuah kemunafikan.Nau’zubillah minzalik!
Sang ukhti adalah contoh nyata di zaman yang serba bebas sekarang ini bahwa tegaknya syariat harus diperjuangkan lewat dakwah dan teladan. Selebihnya, serahkanlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang berhak memberi hidayah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.
Kisah ini menunjukkan, bahwa hidayah juga bisa datang dengan cara diusahakan alias ‘dijemput’. Ini sebagaimana janji Allah Subhanahu Wata’ala;
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُّسْتَقِيمٍ
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”. (QS: Al-Hajj: 67)
Juga seperti firman Allah:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-Ankabut: 69).*
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus Jawa Tengah
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !
Topik: 

15 Mei 2015

Penyakit Takatsur, Penghalang Utama Berbagi [2]

Sambungan artikel PERTAMA
Oleh: Shalih Hasyim

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. janganlah begitu,  jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,  niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim.” (QS. At Takatsur (102) : 1-6).
Di tengah jutaan rakyat miskin masih banyak para pejabat yang gemar memamerkan kekayaan hasil korupsi. Hilang pada diri mereka rasa prikemanusiaan dan rasa takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Telah lenyap pada diri mereka kekhawatiran terhadap perhitungan yaumul hisab. Sesungguhnya keadaan ini telah diprediksi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam.
“Akan tiba bagi manusia  suata masa pada saat orang tidak lagi  peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram.”  (HR. Bukhari).
Pejabat tinggi melakukan korupsi secara besar-besaran. Pejabat kecil melakukan korupsi kecil-kecilan. Yang menjadi korban adalah rakyat kebanyakan. Kekayaan negara yang demikian melimpah hanya dinikmati oleh segelintir kecil orang. Rakyat kebanyakan harus rela hidup di bawah garis kemiskinan. Orang miskin tidak boleh sakit. Orang miskin tidak boleh pintar. Orang miskin tidak boleh bahagia. Terjadilah ketimpangan dalam distribusi wewnang dan hasil pembangunan. Bertolak dari sinilah terjadinya kehancuran berbagai negeri.
 “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al Hasyr (59) : 7).
Kita tidak boleh membiarkan ketimpangan sosial ini terus terjadi. Kita harus berjuang dengan cara mencerdaskan masyarakat kita, terutama para pejabat kita yang suka melakukan manipulasi angka-angka. Kita ajari mereka agar memiliki kecerdasan finansial sehingga kemakmuran rakyat yang menjadi cita-cita berdirinya negara Indonesia itu dapat terwujud.Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang makmur dan memperoleh ampunan dari Tuhan Yang Maha Pengampun).
Hidup di zaman sekarang ini memang berat. Semua serba uang. Mau melahirkan anak memerlukan uang. Mau makan, mau sekolah, bahkan mau ke WC di terminal pun harus mengeluarkan uang. Apalagi kalau sakit, mati pun mengeluarkan uang.
Hal ini sesuai dengan prediksi Rasulullah. “Pada akhir zaman kelak manusia harus menyediakan harta untuk menegakkan urusan agama dan urusan dunianya.” (HR. Thabrani).
Memang dengan harta yang cukup kita dapat memelihara harga diri kita dari meminta-minta, dan kita bisa menolong orang lain. Dengan harta yang cukup kita dapat makan dan minum yang halal dan thayib, bisa bersedekah dan bisa beribadah haji. Kita bisa makan kenyang, tidur pulas, menutup aurat dan tempat tinggal yang mapan.
Justru, orang yang rakus bermental miskin. Berapapun karunia yang diberikan oleh Allah SWT tidak dapat mengantarkannya bermental memberi. Islam mengajarkan, orang yang kaya itu bukanlah orang yang banyak saldonya di Bank. Orang yang kaya adalah orang yang kaya hati.
Orang yang kaya hati, senang berbagi dan memberi orang-orang yang membutuhkannya.
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan dalam hartanya ada hak bagi peminta-minta, dan orang miskin yang menahan diri dari meminta”.
Maksudnya, ia gemar bersedekah dan memberikan sebagian rizki yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepadanya untuk orang lain yang membutuhkan. Ia yakin dengan memberi sesungguhnya akan mendapatkan/memperoleh. Allah Subhanahu Wata’ala  akan menggantinya dan melipatgandakannya. Orang inilah yang bermental kaya. Sebaliknya, orang yang simpanannya banyak, tetapi merasa kurang terus, sehingga ia dihinggapi penyakitthoma’ (rakus), sesungguhnya ia bermental miskin. Semakin menumpuk kekayaan yang dimilikinya bagaikan minum air laut, semakin diminum semakin haus.
Orang bertakwa tidak terjangkiti penyakit materialis. Yaitu, ketika memberi selalu mempertimbangkan untung/rugi. Ada maksud tersembunyi dibalik pemberiannya itu. Ia khawatir jika ia memberi, jatuh miskin. Takut hartanya berkurang. Ia tidak percaya bahwa Allah Subhanahu Wata’ala  yang melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang.
Dengki (Hasud)
Dengki adalah rojaa-u zawaali ni’mati al-ghoir (senantiasa berharap hilangnya nikmat pada diri orang lain). Dalam sejarah kehidupan manusia sifat buruk inilah yang menjadi penyebab pembunuhan pertama kali di dunia. Dilakukan putra seorang Nabi yang bernama Qobil dan Habil. Habil meninggal di tangan kakak kandungnya hanya karena persoalan wanita. Wajar jika Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa sifat hasud tidak sekedar mencukur rambut bahkan mencukur sendi-sendi agama.
Beliau juga mengingatkan: “Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki akan membakar seluruh kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.“ (al Hadist). Ummat ini akan menjadi baik selama tidak berkembang sifat dengki.
Demikian bahayanya secara individu dan sosial, Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam mengajarkan kepada kita doa khusus agar terhindar dari penyakit dengki.
وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Ssesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr (59) : 10).
Takabur (Sombong)
Menurut Imam Al Ghozali puncak keruntuhan kepercayaan adalah syirik (menyekutukan Allah) dan puncak kerusakan akhlak adalah takabur. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (bathrul haq wa ghomthun Nas). Sifat warisan iblis inilah yang menjadikan anak manusia tidak pandai melihat kekurangan dirinya sendiri (intropeksi), tetapi lebih senang melihat kekurangan orang lain. Semua orang memiliki kans untuk bersikap sombong dalam profesi apapun. Karena keturunan (nasab), kedudukan (hasab), ketampanan (al Jamal), kekuatan (al Quwwah), kekayaan (harta), ilmu (pengetahuan), al atba’ (pengikut).
Tetapi, kesombongan yang paling dibenci adalah kesombongan yang dilampiaskan tanpa alasan. Yaitu, orang miskin yang sombong, orangtua yang berzina, dll. Seharusnya miskin harus tahu diri. Seharusnya orangtua itu lebih cenderung kepada ketaatan. Karena, usia yang dimilikinya semakin berkurang. Tua-tua berbudi, makin tua makin mengabdi.
Allah sangat membenci kesombongan. Karena pada dasarnya manusia itu tempat salah dan lupa (al insanu mahalil khothoi wa an nisyan). Sekalipun manusia memiliki potensi yang baik yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, tetapi dibatasi oleh berbagai kekurangan/kelemahan.
Di dalam diri manusia disamping ada sisi terang, pula ada sisi gelap. Manusia hanya berisi tong kotoran yang bersumber dari dua lubang mata, dua lubang telinga, dua lubang hidung, lubang qubul dan lubang dubur. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Allah tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga seorang yang dalam dirinya masih tersimpan sifat sombong sekalipun seberat atom.
Dendam
Sifat ini sangat berbahaya baik secara individu maupun kelompok/kehidupan sosial. Karena sifat ini akan mendorong seseorang untuk menjatuhkan orang lain yang berbeda dengannya. Ia ingin melihat orang yang menjadi lawan politiknya celaka. Ia akan berusaha agar tidak ada orang lain yang menyainginya, baik dalam aspek jabatan, kekayaan, pengaruh, ilmu dll. Ia gembira jika melihat orang lain bernasib buruk, dan menderita, serta jatuh, agar posisinya tetap eksis dan diakui orang lain. Rasulullah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap penyakit jiwa ini. Sebab penyakit ini akan mudah merusak pergaulan hidup.
Jika kita mencermati carut marutnya kehidupan manusia dari masa ke masa pokok pangkalnya adalah efek ketiga penyakit jiwa tersebut. Yaitu: serakah, dengki, sombong dan dendam.
Usaha yang terpenting dalam mengatasi gejolak sosial lanjut beliau, masing-masing individu dari anak bangsa ini mengembangkan tiga sifat berikut:
Pertama, maafkanlah orang yang pernah berbuat zalim kepadamu (wa’fu man zhalamaka).Kedua, berilah kepada orang yang pernah menghalangi pemberian kepadamu (wa’thi man haromaka). Ketiga, sambunglah orang yang pernah memutuskan hubungan kepadamu (wa shil man qotho’aka).
Jika sikap senantiasa memberi kepada siapa saja, apapun bentuknya pemberian itu, baik berupa materi dan immateri, menjalin silaturahim dan menyebarkan pintu maaf maka rahmat Allah akan senantiasa meliputi kehidupan mereka…
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,  (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS: Ali Imran (3) : 133-134).*
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus Jawa Tengah
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

14 Mei 2015

Penyakit Takatsur, Penghalang Utama Berbagi [1]

Salah seorang ahli ilmu mengatakan: Induk dari semua dosa ada tiga, yaitu dengki, rakus dan sombong
Oleh: Shalih Hasyim
SESUNGGUHNYA Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan 100 kasih sayang ketika menciptakan langit dan bumi. Satu rahmat daripada-Nya seluas langit dan bumi. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala turunkan salah satu rahmat itu ke bumi. Dengan itulah makhluk saling menyanggupi. Dengan itu ibu mengasihi anaknya. Dengan itu burung dan binatang buas meneguk air (dari satu lokasi). Dengan itu seluruh makhluk dapat hidup. (Dalam Kanzul ‘Ummal, hadits no. 10464).
Jika kita mencermati kehidupan berbangsa dan bernegara kita sekarang dengan bashirah (mata hati), maka hati kita akan tersayat. Seringkali melihat manusia itu tidak konsisten dalam memelihara rahmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, berbeda jauh dengan hewan. Yaitu sosok manusia yang kehilangan jati dirinya sendiri. Kehadirannya bukan sebagai anugrah/mitra bagi orang lain. Tetapi, manusia yang menjadi ancaman/rivalitas bagi sesama. Muncullah sebuah pameo, hari ini makan apa, dan esok hari memangsa siapa ?. Banyak bermunculan manusia yang hilang rasa kemanusiaannya. Manusia bagaikan srigala bagi yang lain.
Fakta membuktikan, bukankah kita seringkali menjumpai manusia sipil berwatak militer, manusia sehat secara pisik, ruhaninya sakit. Manusia maju, tapi ia primitive. Ia terasing dari kehidupan sosialnya.
Banyak orang  mengalami split personality. Ketika di masjid ia khusyuk beribadah, tapi ketika di tengah-tengah kehidupan sosial ia lihai menipu dan mengkhianati saudaranya.  Memalsukan angka-angka kwitansi.
Inilah sumber persoalannya. Agama dipandang sebagai urusan privasi. Allah tidak boleh mencampuri urusan sosial. Alangkah kejinya mereka memposisikan kedudukan Allah. Peran-Nya diberi ruang pada lorong yang pengap dan sempit.
Barangkali kita tidak heran bahwasanya akhir-akhir ini mendengar orangtua memperkosa anak tirinya, suami yang tega mencari wanita idaman lain di tempat kerjanya pada saat yang bersamaan keluarganya sedang menunggu kehadirannya di rumah dengan harap-harap cemas. Seorang istri tega berbuat serong bersama pria idaman lain yang kebetulan sebagai atasannya. Seorang wanita tega membuang anaknya yang baru saja dilahirkan. Karena hasil hubungan gelap dengan laki-laki lain. Oknum partai politik tertentu mengancam pesaing politiknya, karena kalah dalam pemilihan pilkada.
Dimanakah gerangan 1/100 rahmat yang diturunkan Tuhan kepadanya?  Apakah sifat itu sudah dicabut oleh-Nya?
Efek Virus Takatsur
Dr. Yusuf Ali dalam tafsir “The Holy Qur’an”, mengatakan, bahwasanya penyebab hilangnya sifat rahmat (kasih sayang) pada diri manusia karena telah terjangkiti penyakit ruhani (mental) bernama takatsur (usaha menumpuk-numpuk harta, mengejar jabatan, memperbanyak pengaruh, berebut massa/pengikut (al Atba’), tidak untuk memenangkan kebenaran dinul Islam). Tetapi, untuk kepentingan perut dan di bawah perut.
Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa. Di bawah ini adalah tanda-tanda dari penyakit itu. Penyakit-penyakit tersebut adalah pemicu pelanggaran pertama anak Adam di muka bumi ini dengan berbagai bentuk dan variasinya (hunna ashlul khathiah).
إيَّاكُمْ وَالْكِبْرَ فَإِنَّ إِبْلِيْسَ حَمَلَهُ الْكِبْرُ أَلاَّ يَسْجُدَ ِلآدَمَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحِرْصَ فَإِنَّ آدَمَ حَمَلَهُ الْحِرْصُ عَلَى أَنْ آكَلَ الشَجَرَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ ابْنَيَ آدَمَ قَتَلَ أَحَدُهُمَا اْلآخَرَ حَسَدًا هُنَّ أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ (رواه ابن عساكر عن ابن مسعود رضي الله عنه)
“Waspada dan jauhi al-kibr (sombong), karena sesungguhnya Iblis terbawa sifat al-kibr sehingga menolak perintah Allah subhanahu wa ta’ala agar bersujud (menghormati) kepada Adam ‘alaihis salam. Waspada dan jauhi al-hirsh (serakah), karena sesungguhnya Adam ‘alaihis salam terbawa sifat al-hirsh sehingga makan dari pohon yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Waspada serta jauhi al-hasad (dengki), karena sesungguhnya kedua putra Adam ‘alaihis salam salah seorang dari keduanya membunuh saudaranya hanya karena al-hasad. Ketiga sifat tercela itulah asal segala kesalahan (di dunia ini).” (HR Ibnu Asakir dari Ibnu Masud, dalam Mukhtaru al-Ahadits).
Ketika virus ruhani tersebut penyebab pemiliknya salah dalam menempatkan dirinya, lupa kepada Pemilik Hakiki. Memandang wasilah (alat) sebagai ghoyah (tujuan). Ia salah kaprah dalam mempersepsikan harta, tahta, dan wanita. Ia tidak menyadari bahwa dunia adalah lahan untuk menanam benih kebaikan untuk dipanen di akhirat.
Serakah (thoma’)
Salah seorang ahli ilmu mengatakan: Induk dari semua dosa ada tiga, yaitu dengki, rakus dan sombong. Sombong itu asalnya dari Iblis ketika ia enggan (keberatan) bersujud (hormat) kepada Nabi Adam as sehingga ia terkutuk (terlaknat).
Rakus asalnya dari Adam ketika dikatakan kepadanya bahwa semua yang ada di dalam surga itu boleh dikonsumsi kecuali satu pohon. Namun sikap thoma’ menghinggapi dirinya sehingga ia memakannya lantas ia dikeluarkan dari surga. Sedangkan dengki berasal dari Qabil bin Adam ketika membunuh saudaranya (Habil) sehingga ia menjadi kafir dan kekal di neraka (dalam Tanbihul Ghafilin, jilid 1).
Ada dua macam rakus. Rakus yang tercela. Dan rakus yang tidak tercela. Rakus yang pertama melalaikan syariat Allah. Dan rakus yang kedua tidak sampai melupakan perintah dan larangan-Nya.
Jika, direnugkan maka rakus itu merugikan. Karena, apa yang ada ditangan kita tidak permanen. Timbul  dan tenggelam. Bisa saja, atas kuasa-Nya, yang ada digenggaman kita diambil oleh pemilik-Nya. Orang yang beriman tidak perlu mempertanyakan, apakah yang menjadi kepemilikan kita sudah resmi (formal), tetapi apakah karunia yang kita terima menambah barakah (tambahan kebaikan). Alangkah menyakitkan, jika yang kita usahakan dan kita peroleh justru secara bertahap membuat lubang kehancuran citra diri kita (istidraj).
Kita tidak akan memperoleh bagian rizki kecuali yang sudah ditentukan oleh-Nya. Ada rizki itu yang kita buru. Dan ada karunia itu yang memburu kita. Adapun kerja keras itu adalah dalam rangka ibadah kepada-Nya. Banyak sekali sumber rizki tidak berkaitan langsung dengan ikhtiar kita. Tidak menggunakan logika manusia. Misalnya, silaturrahmi, takwa, memperbanyak sedekah, dll. Yang menarik, binatang cecak yang menempel di dinding. Justru, sumber rizkinya binatang yang bisa terbang.
اَللَّهُمَّ لَامَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مَعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
(Ya Allah tiada orang yang menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan dan tiada orang yang memberi terhadap apa yang telah Engkau halangi dan kekayaan orang yang kaya itu tidak akan bisa menyelamatkan dia dari siksa-Mu)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam membaca Al Hakumut Takatsur .. hatta zurtumul maqabir (bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam liang lahat), kemudian beliau bersabda;  “Manusia selalu berkata, Hartaku, hartaku, dan bukanlah termasuk hartamu kecuali apa yang kamu makan lantas kamu habiskan, atau kamu pakai lalu kamu rusakkan, dan kamu sedekahkan lalu kekal (pahalanya) bagimu.”
Orang yang memiliki sifat rakus merasa tidak adil dalam memandang pembagian rizki dari Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal, pengalaman empiris mengajarkan bahwa rakus tidak menambah jatah rizki seseorang.
Dan sifat qonaah tidak mengurangi rizki. Qonaah adalah kekayaan hati yang sangat mahal. Justru, dengan memelihara sifat tercela ini, bagaikan meminum air laut, semakin banyak yang diteguk, bertambah haus. Tidak akan sembuh penyakit yang berbahaya ini kecuali kematian. Jika manusia diberi satu lembah emas, maka ia akan mengharapkan tambahan satu lembah lagi, dst.
Adil itu tidak harus sama, tetapi proporsional. Meletakkan sesuatu pada tempatnya secara pas. Sedangkan zhalim adalah kebalikannya.
Suasana kehidupan sosial yang saling ta’aruf (kenal mengenal), tafahum (saling memahami),ta’awun (saling bersinergi), takaful (saling menanggung), tanashuh (saling memberi nasihat),taakhi (saling bersaudara), adalah karunia yang terbaik melebihi dari yang dikumpulkan manusia berupa kekayaan itu sendiri.
Karena, pada dasarnya karunia itu disamping yang bersifat lahiriyah pula berbentuk nikmat batiniyah. Kehidupan sosial yang menyeimbangkan kebutuhan ruhani dan jasmani, indikator kehidupan sosial yang sehat.
Orang yang memahami posisi harta, memiliki kecerdasan finansial. Ia tidak sekedar pandai mencari uang, tidak sekedar pandai mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, tidak sekedar trampil membuka gembok-gembok rizki, tidak sekedar membuka pintu-pintu karunia. Tetapi, gemar pula berinfak, sebagai hak dari harta itu sendiri. Jadi kaya itu berkaitan dengan sikap mental.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah memberikan definisi yang jelas tentang orang yang mempunyai kecerdasan finansial.
ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس
“Yang disebut al-ghina (orang yang cerdas finansial) itu bukanlah mereka yang sekedar memiliki harta yang banyak, tetapi al-ghina itu mereka yang kaya jiwa.” (HR. Bukhari).
Bukan disebut cerdas finansial orang yang memiliki harta yang banyak tetapi serakah dan kikir. Apa gunanya memiliki banyak kekayaan tetapi tidak dibelanjakan. Seharusnya berapa pun yang diinfakkan tidak masalah. Satu rupiah pun pantang dibelanjakan  untuk maksiat.
Harta bagi orang yang terjangkiti virus ruhani kikir adalah segala-galanya. Semakin banyak yang ia terima, ia semakin rakus. Bagaikan meminum air laut, semakin banyak meminumnya semakin haus.  Ia mengira harta itu mengekalkan kehidupannya. Ia memandang harta sebagai hak milik, bukan hak pakai atau hak guna (titipan dari Allah Subhanahu Wata’ala).
Ancaman Allah pada Orang Yang Mengumpulkan Harta
Allah Subhanahu Wata’ala mengancam terhadap orang yang memiliki pandangan negatif/miring dengan harta.
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ
يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ
كَلَّا لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung [mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya dia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah], dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak!  Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS. Al Humazah (104) : 1-4).
Tidak termasuk cerdas finansial orang yang kaya raya tetapi serakah. Sekalipun kaya secara lahiriyah tetapi jiwanya miskin. Sekalipun kaya, tapi masih menginginkan harta orang lain dengan menghalalkan segala cara. Sekalipun hartanya banyak, tetapi tidak cukup.
Perhatikan, para koruptor itu bukanlah orang-orang miskin. Mereka bukan orang yang tidak punya duit. Mereka punya rumah besar, mobil mewah, dan harta berlimpah, tapi karena mereka serakah, masih saja tega merampok harta negara. Mereka terjangkiti penyakit “Takatsur” (menumpuk-numpuk harta, pengaruh, massa, pengikut, dll).* (bersambung)
Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

12 Mei 2015

Hidayatullah Cikarang Bekasi Dirikan DakwahCenter.com

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, meluncurkan portal yang khusus mengkanalisasi program dakwah Hiadyatullah di Bekasi dengan alamat website www.DakwahCenter.com. 

Ketua Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi (HICB), Ustadz Hidayatullah, S.HI, mengatakan pendirian portal ini sekaligus sebagai proyek diversifikasi program keummatan Hidayatullah di kota dan kabupaten Bekasi.

"Kami berkomitmen terus memberikan pelayanan dan menggalakkan program dakwah di wilayah ini. Dengan dukuangan umat dan kita semua, kami berharap portal ini dapat menjadi wadah untuk terlibat secara aktif dalam mendukung program dakwah Islam," kata Ustadz Hidayatullah.

Ustadz muda murah senyum ini menjelaskan, Hidayatullah Cikarang yang dipimpinnya terus melakukan upaya maksimal dalam rangka menggalakkan berbagai program keummatan yang telah diusungnya. Diantaranya pembinaan anak yatim dhuafa, sekolah dai, lembaga tahfidz, dan lain sebagainya.

"Semoga Allah Ta'ala meridhai segala amal dan usaha kita, Amiin," pungkasnya.

11 Mei 2015

The Economist: Riyadh Lebih Aman Dibanding Jakarta


Hidayatullah.com–Riyadh merupakan kota teraman ke-46 dalam daftar 50 kota teraman untuk tahun 2015. Tokyo menjadi negara paling aman dan Jakarta menduduki peringkat buncit dalam daftar yang disusun oleh majalah The Economist.
Dalam evaluasinya untuk menentukan 50 kota teraman di dunia, The Economist menggunakan empat indikator, termasuk kualitas keamanan digital dan tingkat pencurian identitas. Kota Riyadh menduduki posisi ke-43 dengan 53,26% dalam kategori itu, lansir Arab News (29/1/2015).
Dalam kategori keamanan kesehatan, yang ditinjau dari usia harapan hidup penduduknya dan tingkat perbandingan kapasitas tempat tidur di rumah sakit dengan jumlah penduduk, Riyadh mendapat skor 53,33 persen.
Ibukota Arab Saudi itu juga mendapatkan 61,53 persen untuk keamanan infrastruktur yang antara lain mencakup kualitas jalan.
Dalam kategori keamanan personal Riyadh mendapatkan 60,25 persen dengan penilaian seperti intervensi polisi dan jumlah korban kejahatan.
Secara keseluruhan Tokyo menempati peringkat pertama, Abu Dhabi ke-25, Doha ke-29, Kuwait ke-36, Teheran ke-49 dan Jakarta ke-50.
New York dan Los Angeles menduduki peringkat pertama dalam kategori keamanan digital dan Zurich dalam kategori keamanan kesehatan serta infrastruktur.*
Rep: Ama Farah
Editor: Dija