Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi hadir dalam rangka membagun pilar agama dan bangsa.

Mari Belajar Digitalpreneurship

Tim Sekretariat Yayasan belajar internet dibawah bimbingan Mr. Ainuddin, Sekjen PP Syabab Hidayatullah di kantor Pusat Syabab (Sabtu/20-12-14).

Mereka Wisudawan Tahfidzul Qur'an Cilik

Mereka adalah generasi umat ini yang harus dijaga dan ditumbuhkembangkan.

Daurah Tahfidz Qur'an 15 hari 10 juz

Cetak hafidz qur'an dibawah bimbingan para hafidz dengan metode An-nabawi.

Kiprah Da'i Muda dalam Membangun Peradaban Islam

Mari dukung program dakwah Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi.

27 Januari 2015

Ulama ini Hatamkan Al Qur`an 18 Ribu Kali Saat Hidup

ABU BAKR BIN AYYASH adalah seorang ulama qari’ yang hidupnya tidak lepas dari Al Qur`an. Suatu saat saat Abu Bakr bin Ayyash menjelang wafat, ia menyaksikan bahwa saudari perempuannya menangis.
Abu Bakr bin Ayyash pun berkata kepada saudarinya tersebut,”Janganlah engkau menangis”, sambil menunjuk ke sudut rumah, lalu ia mengatakan,” sesungguhnya saudaramu di sudut itu telah menghatamkan Al Qur`an sebanyak 18 ribu kali.”
Setelah wafat, Al Haitsam bin Kharijah sahabat Abu Bakr Ayyash mengisahkan bahwa ia bertemu sahabatnya itu dalam mimpinya. Di kakinya ada semangkuk kurma manis.
Al Haitsam bin Kharijah pun mengatakan, ”Wahai Abu Bakr, kenapa engkau tidak mengundangku untuk ikut makan?” Abu Bakr pun menjawab,”Wahai Kharijah, ini adalah makanan ahli surga, ahli dunia tidak memakannya”.
Kemudian Al Haitsam bertanya, bagaimana sahabatnya itu hingga mencapai derajat yang demikian itu. Abu Bakr pun menjawab, ”Engkau bertanya kepadaku tentang hal ini? Telah berlalu selama 68 tahun aku menghatamkan Al Qur`an tiap malamnya.” (Dalam Hilyah Al Auliya, 8/303)
Rep: Sholah Salim
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari : Hidayatullah.com

Tujuh Perumpamaan Orang Mukmin

Perumpamaan seorang Mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik

DALAM hadits, Rasulillah Muhammad banyak menyampaikan/memberikan perumpamaan. Semua Perumpamaan itu dimaksudkan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
1. Bagaikan Pohon :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيحُ تُفِيئُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلَاء
“Perumpamaan seorang mukmin seperti tanaman, angin menerpanya ke kiri dan ke kanan. Seorang mukmin senantiasa mengalami cobaan. Sedangka perumpamaan orang munafik seperti pohon yang kuat tidak pernah digoyangkan angina sampai ia ditebang.” (al-Hadits)
2. Bagaikan Bangunan
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684]
3. Bagaikan Tubuh
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]
4. Bagaikan Cermin
الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” [sanadnya Hasan]
5. Bagaikan Lebah
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ
“Perumpamaan seorang Mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.” (HR. Al-Baihaqi]
6. Bagaikan Pohon Kurma
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ النَّخْلَةِ , مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ.
Artinya: ” Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon kurma, apapun yang engkau ambil darinya pasti bermampaat bagimu.” (HR: Thobrani)
7. Bagaikan Emas
مَثَلَ الْمُؤْمِنِ مَثَلَ سَبِيْلَةِ الذَّهَبِ إِنَّ نَفَخَتْ عَلَيْهَا اَحَمَرَتْ وَإِنَّ وَزَنَتْ لَمْ تَنْقُصْ.
Artinya: “Perumpamaan seorang mukimin seperti lempengan emas, kalau engkau meniupkan (api) diatasnya ia menjadi merah, kalau engkau menimbangnya, tidaklah berkurang.” (HR. Baihaqi)
Pelajaran Moral:
1. Ujian dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Suka dan duka akan mengitari kehidupan. Namun ia tetap tegar, sabar dan tawakkal. Tidak ada ujian tanpa jalan keluar. Tidak ada kesusahan tanpa penawar kebahagiaan. Ke kanan atau ke kiri, berada di atas atau bawah, seorang mukmin akan tegar menghadapi ujian hidup.
2. Kerjasama adalah kunci merajut kebersamaan. Tidak egois dan merasa diri paling penting dan berjasa. Gotong royong dan tenggang rasa merupakan sikap mukmin yang harus dibangun dalam diri.
3. Suka-duka dilalui bersama. Ringan sama dijinjing, ringan sama dipikul. Sikap saling memiliki merupakan lambang persaudaraan sejati.
4. Cermin adalah tempat untuk mengetahui apa yang sudah baik dan apa yang masih belum sempurna. Kebaikan yang ada semoga menjadi teladan bagi orang lain. Sedangkan kekurangan atau keburukan menjadi sentilan bagi diri sendiri untuk memperbaiki dan bagi diri orang lain, untuk tidak menyontohnya.
5. Seorang mukmin mampu menempatkan diri pada posisinya. Orang zalim akan meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Orang mukmin hanya melakukan yang baik-baik, makan yang baik-baik, berkata yang baik-baik. Apapun keadaannya, ia akan berusaha melakukan yang baik-baik.
6. Orang mukmin adalah orang yang punya konstribusi besar kepada sesama. Apapun akan ia lakukan asal itu untuk kebaikan bagi orang lain dan tidak melanggar perintah Allah Subhanahu Wata’ala. Keberadaan seorang mukmin bermanfaat bagi orang banyak.
7. Menjadi mukmin seumpama menjadi emas, kokoh, tidak luluh dan menyerah dengan keadaan. Ia kukuh berpijak di atas kebenaran, tidak melebur dan mengikuti arus begitu saja. Namun ia punya prinsip.
Masih banyak sekali perumpaman yang disampaikan Rasulullah Muhammad dalam hadits nya, juga termasuk dalam al-Qur’an. Berbagai perumpamaan ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang berakal.*
 Rep: Admin Hidcom
Oleh: Ali Akbar Bin Agil
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari : Hidayatullah.com

26 Januari 2015

Segelas Air Pagi Hari Membuat Berpikir lebih Tajam Sepanjang Hari

Konsumsi air di pagi hari meningkatkan produksi sel-sel darah dan otot baru


ILUSTRASI

Hidayatullah.com–
Apa yang biasa kita lakukan saat pertama usai bangun tidur? Sebagian orang memilih ke kamar mandi atau kegiatan lain. Namun sejumlah pakar kesehatan menyarankan sebaiknya meminum segelas air putih.
Kenapa kita harus minum air putih ketika bangun tidur? Berikut delaman manfaan minum air pagi hari usai bagun tidur yang disarikan darimenprovement dan healthrecoverytips sebagaimana dikutip DW.DE.
Mengatasi Dehidrasi
Ketika terbangun dari tidur berjam-jam, tubuh mengalami dehidrasi. Dengan memberi asupan air kembali ke tubuh maka, badan akan lebih segar, lebih banyak energi alami sepanjang pagi, sehingga kita menjadi lebih sehat dan bahagia.
Mengurangi sembelit
Penyebab utama sembelit adalah dehidrasi. Minum air ketika bangun tidur tidak hanya akan mngatasi dehidrasi tetapi akan membantu meringankan sembelit, mendorong orang buang air besar dan merangsang gerakan usus di pagi hari. Ini adalah cara yang bagus untuk memulai hari.
Mengeluarkan Racun
Minum air setelah bangun tidur akan mendorong keluar racun yang tidak diinginkan dari tubuh. Saat orang tidur, terjadi perbaikan tubuh. Hasilnya adalah racun menunggu untuk terperas keluar. Tubuh yang bersih dari racun, membuat kulit menjadi bersih dan cemerlang.
Menyerap Nutrisi
Minum air saat perut kosong akan membersihkan usus, sehingga memudahkan tubuh dalam menyerap berbagai nutrisi.
Menyeimbangkan sistem getah bening
Minum air di pagi hari juga menyeimbangkan sistem getah bening tubuh manusia. Ini penting untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan meningkatkan sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi.
Baik untuk metabolisme tubuh
Minum air juga membantu menurunkan berat badan. Tapi air minum setelah bangun tidur adalah cara yang paling optimal untuk melakukannya. Minum air di pagi hari telah terbukti untuk meningkatkan potensi pembakaran kalori sepanjang hari. Air yang diminum juga bisa mengekang nafsu makan, yang memungkinkan orang untuk membuat pilihan cerdas bagi sarapannya.
Bahan Bakar bagi Otak
Faktanya, 75 dari orang terdiri dari air. Jika sudah minum cukup air, maka otak berfungsi pada tingkat yang optimal. Segelas air di pagi hari akan membuat berpikir lebih tajam dan jelas sepanjang hari.
Produksi sel baru
Darah terdiri dari 83 persen air, sedangkan jaringan otot terdiri dari sekitar 75% air. Konsumsi air di pagi hari meningkatkan produksi sel-sel darah dan otot baru.*
Editor: Cholis Akbar
Rep: Panji Islam
Dikutip dari : Hidayatullah.com

Jadilah Pemuda Laksana Zubair

Zubair telah menjual dirinya dihadapan Allah dengan cara berjihad. Ia telah mendermakan diri, harta dan semua yang dimilikinya demi Islam


ILUSTRASI

“Sejelek-jelek manusia ialah mereka yang pemalas. Tetapi bila engkau ungguli, mereka menyebut kebesaran nenek moyangnya. Dan sebaik-baik manusia, mereka yang memilki sejarah gemilang.” [Mohammad Syauqi Bey]

DIGANTUNG pada sebuah tiang, dan dari bawah tiang gantungan tersebut diberi asap yang mengepul. Pengapnya kepulan asap yang berulang kali didapatnya, menyebabkan dirinya sering lemas. Itulah salah satu penyiksaan yang dia alami Zubair ketika awal mula memeluk agama tauhid ini.
Zubair memeluk Islam diusia yang masih sangat belia. Di usia itu, ia pun sudah merasakan pahit getirnya konsekuensi keislaman yang diyakininya . Berbagai penyiksaan telah ia rasakan sebagaimana penyiksaan yang dialami orang dewasa lainnya yang memeluk Islam.
Di usia yang belia itu pula, Abu Thahir – demikian sang ibu biasa memanggilnya-, bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dan para Assabiqunal Awwalun (Para Pejuang Islam di Masa Awal) lainnya merasakan siksaan dan penderitaan selama tiga tahun, ketika kaum kafir Quraisy melakukan pemboikotan.
Patut dicatat, dalam buku sirah nabawiyah karangan Syeikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfury, menggambarkan penderitaan kaum muslimin ketika itu. Kala itu, kaum Muslimin terpaksa memakan dedaunan dan kulit binatang. Di tengah penderitaan itu pulalah, tidak jarang terdengar suara rintihan dari para wanita dan anak-anak yang menahan kelaparan.
Begitupun ketika ia sudah berumur 13 tahun, ia pun merasakan kondisi yang sangat mengkhawatirkan di saat berangkat secara sembunyi-sembunyi melakukan hijrah menuju Ethiopia bersama 12 orang pria dan 5 orang wanita.
Hijrah dilalui dengan sangat berisiko, apabila ketahuan dari kafir Quraisy, maka resiko kematianlah yang didapatnya.
Kisah yang dipaparkan Imam Munawwir dalam bukunya “30 Pendekar dan Pemikir Islam” itu menggambarkan betapa berat perjuangan Zubair Bin Awwam memegang teguh keimanan dimasa kecilnya.
Perjuangan Zubair dalam berislam ibarat karang yang tak takut akan gelombang yang menerjang. Siksaan yang berat baginya, bukanlah membuat imannya goyah dan melempem, tetapi justru semakin kokoh menghunjam.
Patut kita renungkan, bagaimana mungkin seorang anak yang masih belasan tahun mampu bertahan di tengah beratnya gempuran ujian siksaan yang harus ia jalani dan rasakan? Apakah Zubair kecil tidak merasa takut pada saat benda tajam dan berbagai jenis alat lainnya siap menyakiti tubuhnya?
Patut pula kita renungkan, mengapa kita para pemuda Islam sekarang ini tidak memiliki keimanan sekuat Zubair?
Mengapa kita tidak memiliki keberanian dan semangat keislaman seperti Zubair kecil? Zubair telah percaya akan janji-janji Allah dengan Surganya. Lalu, tidakkah kita tergiur pula dengan janji-janji Allah dengan berbagai kenikmatan surga, sebagaimana firmannya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. (QS: Yunus: 9).”
Zubair telah menjual dirinya dihadapan Allah dengan cara berjihad. Ia telah mendermakan diri, harta dan semua yang dimilikinya demi Islam, ia telah mengganti kehidupan dunianya dengan kehidupan akhirat kelak. Sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS: As Shaf:15-16).
Wahai pemuda Islam, berjuanglah demi agama Allah ini sebagaimana perjuangan Zaid. Berkorbanlah, apa saja yang bisa kita korbankan untuk agama ini. Dengan ilmu, pikiran dan tenaga kita.
Semoga dengan perjuangan dan pengorbanan di antara kita, membukakan jalan bagi generasi selanjutnya menegakkan Islam.
Sebagaiamana ucapan Al Gharani, Tokoh Islam Abad ke 16, “Tiada sukar bagi Allah untuk membuka bagi hambaNya yang ikhlas di masa depan, yang tiada dibukanya dimasa lampau. Ia menurunkan nikmat-nikmat rohaniah kepada ahli-ahli hikmat pada tiap-tiap pertukaran masa, nikmat-nikmat mana, mencurahkan cahaya kepada mata dan jiwa mereka.” Wallahu A’lam bisshowab.*/Syamsul Alam Jaga
Rep: Admin Hidcom 
Editor: Cholis Akbar
dikutip dari : Hidayatullah.com

25 Januari 2015

Kasus Charlie Hebdo, Ajang Perang Media

Dalih kebebasan berekspresi digunakan Barat hanya kepentingan mereka. Sementara menghina dan menistakan Islam dibela dengan alasan kebebasan berekspresi
Oleh: Kholila Ulin Ni’ma
BERAGAM reaksi masyarakat menanggapi peristiwa yang menimpa majalah satir Prancis Charlie Hebdo. Ada yang menggunakan kepala dingin dan ada yang sebaliknya. Ada yang beraksi melalui demo, tapi tak menutup kemungkinan ada pula yang akan mengambil aksi keras seperti yang terjadi pada tanggal 7 Januari 2015 kemarin. Kantor majalah satir Prancis Charlie Hebdo yang menerbitkan karikatur penistaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam diserang oleh dua orang yang tidak terima nabinya dilecehkan. Akibatnya, sebanyak 12 orang tewas dalam serangan itu. [Baca: Prancis Kehilangan “Kartunis Terbaiknya” dalam Serangan Charlie Hebdo]
Tak pelak, peristiwa ini dimanfaatkan oleh barat untuk melakukan serangan balik –melalui media-, pada Hari Ahad (11/01/2015) lebih dari satu juta orang turun ke jalanan Paris. Mereka menyatakan solidaritas terhadap Charlie Hebdo sekaligus menentang serangan yang menewaskan 12 orang itu. Sebanyak empat puluh orang tokoh dan pemimpin negara ikut ambil bagian dalam aksi itu. Solidaritas untuk Charley Hebdo mengkampanyekan opini melawan terorisme.
Tentu, tragedi itu harus dipandang secara menyeluruh, termasuk dari sisi aksi dan reaksi. Tragedi itu bukan berdiri sendiri. Charlie Hebdo (Charlie Weekly) dikenal sebagai majalah satir porno yang sangat kontroversi , yang selalu menyindir para pemimpin politik dan agama. Sudah beberapa kali majalah ini memuat pelecehan terhadap Nabi Muhammad. Suatu yang wajar apabila ada umat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang tidak terima atas kelakuan Charlie Hebdo.
Namun aksi provokatif berupa penistaan Islam dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dilakukan berulang-ulang itu justru dibela oleh Pemerintah Prancis dan dibenarkan oleh Mahkamah Agung Prancis. Aksi-aksi itu jelas bisa memicu kemarahan pada diri seorang Muslim.
Hanya mengutuk pelaku serangan itu dan sebaliknya tidak mengutuk Charlie Hebdo jelas tidak adil. Sayang, itulah yang tampak lebih menonjol saat ini. Begitu pintarnya media Barat mengarahkan opini publik seakan-akan satu-satunya yang patut dikecam dan dilawan adalah orang-orang muslim yang melakukan pembelaan terhadap nabi mereka.
Standar Ganda Barat
Tampak jelas standar ganda Barat. Mereka demikian peduli dan simpati terhadap korban serangan di kantor majalah satir yang menebar provokasi itu. Sebaliknya, mereka diam terhadap ribuan korban pembantaian oleh zionis Israel dan malah membela zionis Israel itu. Barat juga diam terhadap pembunuhan jutaan orang di Irak, pembantaian ratusan ribu kaum Muslim oleh rezim Asad di Suriah serta pembunuhan umat Islam di Rohingya, Pakistan, Afrika, Xinjiang dan tempat lainnya. Bahkan Barat menjadi pelakunya.
Ini bukan berarti meremehkan serangan yang terjadi Rabu (7/1) lalu itu. Serangan itu jelas tidak bisa menyelesaikan masalah.
Serangan itu juga jelas berdampak negatif bagi orang-orang Eropa non-Muslim, bisa menjauhkan mereka dari usaha mengenal Islam. Serangan itu juga mendatangkan dampak negatif dan kesulitan tersendiri bagi generasi Muslim di Eropa.
Islamophobia pasca serangan itu terlihat meningkat di Eropa. Di Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya, serangan dan pelecehan terhadap masjid dan fasilitas Islam lainnya dikabarkan meningkat. Beberapa masjid yang berada di Prancis menjadi sasaran penyerangan sejumlah kelompok. Mereka menghadapi gelombang kekerasan, termasuk pembakaran, penembakan dan penodaan kesucian masjid, setidaknya di 13 kota di seluruh negeri.
Inilah perang media! Saat ini perang tak hanya dilakukan dengan bom, mesiu, tank, ataupun senjata lainnya. Namun perang juga dilakukan lewat pena dan kata-kata yang muncul di berbagai media. Seperti halnya kasus WTC, 11 September 2001 lalu, kini media baratseperti Majalah Charlie Hebdo kembali melakukannya.
Majalah Charlie Hebdo sendiri telah beberapa kali memuat gambar kartun yang melecehkan terkait Nabi Muhammad, baru-baru ini mengulangi hal yang sama. Tentunya, hal ini menimbulkan berbagai reaksi dari para umat Muslim di seluruh dunia.
Sikap Munafik Barat
Barat menganggap serangan ke kantor Charlie Hebdo itu sebagai serangan terhadap nilai-nilai dan sistem yang diyakini Barat.
Presiden Prancis Francois Hollande menegaskan dalam orasinya di depan kantor majalah tersebut bahwa serangan itu “menyentuh prinsip-prinsip dari Republik Perancis, yaitu kebebasan dan kebebasan berekspresi.” Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan, “Kami tidak akan mentoleransi para teroris itu menghancurkan atau menyerang nilai-nilai demokrasi kami dan kebebasan berbicara.”
Bahkan Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mengatakan (Kompas, 12/01/2015), “Demonstrasi ini harus menunjukkan kekuatan dan kehormatan orang Prancis yang akan menyerukan kecintaan mereka terhadap kebebasan dan toleransi.”
Klaim kebebasan berekspresi Barat nampaknya hanya klaim kosong. Di mana klaim kebebasan itu ketika mereka mempersulit bahkan melarang Muslimah mengenakan jilbab di ruang publik, hak mereka mendapat pendidikan dirampas, kecuali mereka menanggalkan jilbab. Bahkan memakai cadar dianggap bersalah secara hukum dan dijatuhi sanksi dengan membayar denda.
Dalih kebebasan berekspresi mereka gunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Sementara menghina dan menistakan Islam dan Nabi Muhammad dibela dengan alasan kebebasan berekspresi. Sebaliknya, menyoal kejahatan dan pembantaian oleh Yahudi atas ribuan warga Palestina kerap dituding anti semit.
Dalam kasus Charlie Hebdo, ketika mayoritas negeri Islam memprotes dan menuntut Charlie Hebdo menanggalkan karikatur penistaan Nabi, mereka tidak menggubrisnya. Berbeda pada 2008 lalu ketika salah seorang kartunis Charlie Hebdo, membuat karikatur anak laki-laki Nicholas Sarkozy yang menikahi ahli waris Yahudi karena uang. Karikatur itu tampaknya merendahkan Sarkozy. Maurice Sinet pun dipecat dari majalah Charlie Hebdo.
Jelas, kebebasan berekspresi hanya dimanfaatkan sesuai dengan kepentingan Barat. Kebebasan berekspresi merupakan tipuan dan alat penjajahan Barat. Kaum Muslim dipaksa untuk menerima penistaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad serta menerima Islam versi Barat. Jika tidak, mereka akan disebut fundamentalis, radikal bahkan teroris.
Sayang, bukannya melakukan itu, para penguasa negeri Islam itu justru berbaris rapi bergandengan tangan dengan para pemimpin musuh Islam. Mereka juga terjangkiti standar ganda dan kemunafikan Barat. Jika mereka mengecam serangan itu sebagai terorisme, mengapa mereka tidak mengecam dan bersikap sama saat ribuan umat Islam di Gaza dibunuh oleh Yahudi, saat ratusan ribu Muslim dibantai rezim Asad di Suriah yang didukung Barat, saat jutaan orang di Irak tewas akibat invasi AS dan sekutu, saat ribuan Muslim Rohingya dibunuh dan diusir, saat Muslim di Afrika dibantai dan dicincang, saat penghinaan dan penindasan ditimpakan terhadap kaum Muslim?!
Semua itu menjadi bukti bahwa keberadaan para penguasa negeri Islam itu bukanlah demi kepentingan Islam dan kaum Muslim. Keberadaan mereka seperti boneka atau budak yang tunduk patuh pada arahan tuan mereka, yakni Barat.
Kita Butuh Pemimpin Islam Hakiki
Telah tampak bahwa keberadaan pemimpin di negeri-negeri Islam sekarang ini bukan menjadi kebaikan bagi Islam dan kaum Muslim, tetapi justru menjadi bagian dari keburukan. Keberadaan para pemimpin negeri Islam saat ini tidak demi Islam dan demi melindungi izzul Islam wal mu’minin. Pasalnya, mereka bukan memimpin atas dasar Islam dan tidak menjadikan Islam sebagai sistem kepemimpinan mereka.
Keberadaan kepempinan Islam (khilafah) mampu menjaga serta melindungi kemuliaan Islam, kehormatan Nabi serta martabat dan kekayaan kaum Muslim.
« إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ »
“Seorang imam itu sesungguhnya laksana perisai; orang-orang berperang di belakang dia dan menjadikan dia sebagai pelindung.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Allahu a’lam bish-shawaab.*
Pendidik di Sekolah Alam Mutiara Umat Tulungagung
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari : Hidayatullah.com

Mengenal Raja Saudi Yang Baru Salman Abdulaziz Al Saud

ABC
Berjanji lanjutkan kebijakan mendiang Raja Abdullah, kondisi kesehatan Salman yang tidak prima menjadi kekhawatiran bagi kerajaan


Salman bin Abdulaziz Al Saud
Pasca mangkatnya Raja Abdullah pada 23 Januari 2015, kekuasaan Saudi dipegang oleh Salman bin Abdulaziz Al Saud. Salman, adalah Raja Arab Saudi ketujuh sekaligus menjabat sebagai ‘Penjaga Dua Kota Suci’.
Salman bin Abdul Aziz menikah sebanyak tiga kali. Istri pertama, Sulthanah binti Turki al-Sudairi meninggal 2011di usia 71 tahun.  Dari pernikahan ini, Salman dikaruniai 5 orang putra dan satu orang putri: Pangeran Fahd, Pangeran Ahmed, Pangeran Sultan, Pangeran Abdul Aziz, Pangeran Faisal, dan Putri Hussa.
Anaknya dari pernikahan keduanya dengan Sarah binti Faisal al-Subai’ai adalah Pangeran Saud. Anak-anaknya dari pernikahan ketiganya dengan Fahdah binti Falah bin Sultan al-Hithalayn adalah Pangeran Muhammad, Pangeran Turki, Pangeran Khalid, Pangeran Nayif, Pangeran Bandar, dan Pangeran Rakan.
Pangeran Fahd dan Ahmad telah meninggal karena serangan jantung. Sedang anak keduanya, Sultan bin Salman menjadi orang Arab dan anggota kerajaan pertama yang terbang ke luar angkasa, Discovery pada bulan Juni 1985.
Sultan bin Salman merupakan Ketua Saudi Commission for Tourism and Antiques (SCTA). Abdul Aziz bin Salman menjadi wakil menteri perminyakan sejak tahun 1995. Faisal bin Salman adalah gubernur provinsi Madinah. Muhammad, adalah penasehat pribadinya di kementerian pertahanan dan di Crown Prince Court. Turki bin Salman menjadi ketua Penelitian dan Marketing Group Arab Saudi sejak Februari 2013, menggantikan kakaknya Faisal bin Salman.
Pendidikan dan Karir Politik
Sebagaimana anak-anak Raja Abdul Aziz alu Saud yang lain, Salman bin Abdul Aziz yang pernah menjalani operasi tulang belakang di Amerika dan terserang stroke ini semenjak kecil mendapat pendidikan di ‘sekolah khusus para pangeran’.
Di sana ia mempelajari ilmu agama dan sains modern. Sekolah ini dibangun oleh Raja Abdul Aziz untuk memfasilitasi pendidikan anak-anaknya sebagai kader penerus kepemimpinan kerajaan. Tradisi sekolah seperti ini telah dipraktikkan oleh para khalifah Umayyah, Abasiyah, hingga kekhalifahan Utsmani.
Salman pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Umara ketiga direkturnya kala itu dipegang Syeikh Usamah Khayyath, Imam dan Khatib Masjidil Haram Makkah Al Mukarramah. Bahkan dikabarkan berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia 10 tahun. Sebagai wujud syukur kala itu,  ia pernah mengadakan jamuan besar pada hari Ahad, 12/08/1364 Hijriyah.
Salman bin Abdul Aziz diangkat menjadi gubernur Provinsi Riyadh pada tanggal 4 Februari 1963. Masa jabatannya berlangsung selama empat puluh delapan tahun (48 tahun) sejak tahun 1963 -2011.
Sebagai gubernur, ia memberikan kontribusi untuk pengembangan Riyadh dari kota menengah ke kota besar metropolitan. Ia meningkatkan pariwisata, proyek-proyek penting, dan investasi asing di dalam negaranya. Dalam waktu 48 tahun, Pangeran Salman berhasil mengubah kota padang pasir, Riyadh, yang terisolasi menjadi kota yang dipadati gedung-gedung pencakar langit, universitas, dan jaringan makanan cepat saji.
Selama menjadi gubernur, ia dianggap berhasil mengamankan investasi asing bagi ibu kota Arab Saudi itu. Ia juga membuka hubungan geopolitik dan ekonomi dengan Barat. Ia  mendirikan Universitas King Saud di Riyadh, yang kini dianggap menjadi salah satu yang terbaik di Arab Saudi.
Pada 5 November 2011, Salman diangkat menjadi menteri pertahanan menggantikan saudara kandungnya yang menjadi putra mahkota, Pangeran Sultan bin Abdul Aziz. Pada hari yang sama, Pangeran Salman juga terpilih sebagai anggota Dewan Keamanan Nasional (NSC).
Pengangkatannya sebagai menteri pertahanan karena dianggap banyak mengedepankan perdamaian dan diplomasi. Selain itu, ia aktif berurusan dengan masalah internal keluarga kerajaan dan menengahi perselisihan di antara mereka. Kepandaiannya dalam diplomasi juga membuat ia disegani di kalangan suku-suku Arab Saudi. Koran Asharq al-Awsat dikutipAssociated Press, mengatakan, Salman memiliki hubungan yang sangat luas dengan suku-suku di Arab Saudi dan pengaruhnya semakin memperluas jaringan bisnis keluarga kerajaan.
Setelah jalan diplomasi dianggap buntu, Pangeran Salman juga tidak segan menggunakan kekuatan militer. Contohnya ketika Arab Saudi ikut terlibat secara militer dalam melakukan serangan udara terhadap ISIS pada tahun 2014 kemarin.
Putra Mahkota
Pada 18 Juni 2012, Pangeran Salman diangkat sebagai Putra Mahkota Arab Saudi tak lama setelah wafatnya saudaranya, Putra Mahkota Nayif bin Abdul Aziz. Dan sekaligus didaulat sebagai wakil perdana menteri. Pencalonannya sebagai putra mahkota dan wakil perdana menteri dianggap sebagai sinyal bahwa reformasi Raja Abdullah akan terus berkembang. Orang-orang pun menilai bahwa Pangeran Salman mengambil pendekatan yang lebih diplomatik terhadap tokoh oposisi, berbeda dengan bangsawan Arab Saudi lainnya. Mereka juga berpendapat bahwa Pangeran Salman sama seperti Raja Abdullah, sebagian besar fokus pembangunan pada peningkatan ekonomi bukan pada perubahan politik.
Pada tanggal 27 Agustus 2012, dewan kerajaan mengumumkan Pangeran Salman bertanggung jawab atas urusan negara karena Raja Abdullah mulai sakit-sakitan. Untuk mendekatkan hubungannya dengan rakyat, Pangeran Salman meluncurkan akun twitter @KingSalman pada tanggal 23 Februari 2013.
Setelah Raja Abdullah bin Abdul Aziz wafat pada dini hari tanggal 23 Januari 2015, dewan kerajaan menunjuk Pangeran Salman sebagai raja baru Arab Saudi menggantikan saudara tirinya tersebut.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Salman –yang mengendalikan salah satu media terbesar di dunia Arab—ini mengatakan akan melanjutkan semua kebijakan para pendahulunya yang tepat.
“Kami akan melanjutkan berbagai kebijakan yang dianut Arab Saudi sejak negara ini didirikan,” kata Raja Salman dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah.
Pidato ini disampaikan beberapa jam setelah anggota keluarga kerajaan berusia 78 tahun ini diangkat menjadi raja Saudi yang baru. Di sisi lain, kesehatan Salman yang tidak prima masih menjadi kekhawatiran bagi kerajaan.*

Rep: Panji Islam 
Editor: Cholis Akbar
Dikutip dari Hidayatullah.com