Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi hadir dalam rangka membagun pilar agama dan bangsa.

Eratkan Silaturrahim Jalin Kebersamaan

Selain Hablumminallaah, kita juga harus senantiasa membangun tradisi Hablumminannaas.

Salurkan Infaq dan Shodaqoh anda kepada Penghafal Qur'an

Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi Mencetak Generasi Berkarakter Qur'ani.

Mari Ikuti Dauroh Tahfidz Al-Qur'an 14 Hari Hafal 10 Juz

Masjid Baitul Makmur, Perum Telaga Sakinah, Cikarang Barat - Bekasi, tanggal 4 - 17 Mei 2015.

Suntikan semangat pagi hari

Mari dukung program dakwah Yayasan Hidayatullah Islamic Center Bekasi.

DONATUR MEI - JUNI 2015
ZULKIFLI - Cikarang Rp. 20.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | AMIRUDDIN - Bekasi Rp.150.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

4 Juli 2015

"Desa Qur'ani Ramadhan" Mendidik Anak Menjadi Anak Yang Sholeh


     Beberapa waktu lalu Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi mengadakan program Desa Qur'ani Ramadhan yang diadakan di salah satu pesantren binaan dari yayasan yaitu Pesantren An-Najahul Islam yang bertempat di kampung Pondoksoga, Desa Pantai Hurip, Kec. Sukawangi, Babelan, yang diikuti oleh anak-anak putra maupun putri setempat. Program yang berjalan selama 3 hari itu merupakan program untuk mendidik anak agar menjadi anak yang sholeh/sholehah yang akan menjadi kebanggaan orang tua bangsa & negara.
     Desa Qur'ani Ramadhan dibuka pada tanggal 27 juni 2015 dengan menghandirkan da'i binaan Dakwah Center Hidyatullah Bekasi yaitu Ustad Ahmad Furqon Al-Hafidz, dilanjutkan program tahfidz menghafal surat-surat di juz 30. Pada hari ke-2 para peserta diajarkan untuk thoharoh (wudhu & tayamum) dan sholat yang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW serta di praktekan secara langsung. Dan pada hari terakhir oleh panitia diadakan berbagai macam perlombaan indoor maupun lapangan seperti lomba berceramah, tahfidz qur'an dan game-game ceria di lapangan seperti balap balon dan permainan intruksi. Setelah semua program selesai, pada sore harinya diadakan acara penutupan dengan pembagian hadiah pada para juara dan apresiasi kepada seluruh peserta yang mengikuti kegiatan sampai selesai dan pada akhirnya diadakan buka bersama seluruh peserta dan panitia.
    Semoga dengan diadakannya program ini dapat mengisi kegiatan ramadhan dengan hal-hal yang bermanfaat. Bagi para dermawan yang ingin berkontribusi dalam program-program kami silah kan kirimkan bantuan anda di no rek 4960000701 Bank Muamalat Cab. Tambun Bekasi a.n Yayasan HICB atau  No. Rek 7052026851 Bank BSM Cab. Pondok Kelapa, a.n Hidayatullah
Konfirmasi Transfer/contact person : 081386068612  (Ust.Hidayat)
                                                             087731113889 ( Ust. Furqon)

22 Juni 2015

Puasa Training Center Terbesar Bagi Akhlak (3)

berbuka puasa
AL-KAMAL ibnul Hammam berkata, puasa adalah rukun Islam ketiga, setelah syahadat dan shalat, yang disyariatkan Allah SWT untuk menghasilkan beberapa manfaat, antara lain:
Pertama, puasa dapat menenangkan dorongan nafsu jahat, menurunkan gejolaknya dalam hal-hal tidak berguna yang berhubungan dengan seluruh organ tubuh, seperti mata, lidah, telinga, dan kemaluan. Dengan puasa, gerak semua organ tubuh akan melemah. Karena itu, ada pepatah begini, “Jika nafsu lapar, semua organ akan kenyang. Tapi jika nafsu kenyang, semua organ akan lapar.”
Kedua, puasa menumbuhkan rasa kasih sayang kepada orang-orang miskin. Dengan merasakan penderitaan akibat lapar selama beberapa waktu, seseorang akan teringat kepada orang lain yang sering menderita kelaparan. Akhirnya, timbul rasa kasih di hatinya lalu dia pun memberi bantuan, sehingga dia memperoleh pahala dari Allah Ta’ala.
Ketiga, ikut merasakan penderitaan yang terkadang dialami kaum fakir miskin. Hal ini akan meningkatkan martabat seseorang di sisi Allah Ta’ala.
Pengarang kitab al-Iidhaah menulis, “Ketahuilah, puasa adalah salah satu rukun agama yang paling besar, dan merupakan salah satu aturan syariat yang paling kokoh. Dengan puasalah dorongan nafsu jahat ditaklukkan. Puasa merupakan gabungan dari amalan hati dan penghindaran diri dari makan, minum, dan hubungan badan sejak pagi hingga sore hari. Puasa adalah amal yang sangat utama, tapi paling berat bagi nafsu. Allah telah memuji puasa dalam sebuah ayat,
Sungguh, laki-laki dan perempuan Muslim, …laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa….” (al-Ahzaab: 35)*
Dipetik dari tulisan Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam bukunya Fiqih Islam.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

21 Juni 2015

Puasa Training Center Terbesar Bagi Akhlak (2)

Umat Islam berbuka puasa
PUASA mengajarkan keteraturan dan kedisiplinan, sebab dia mengharuskan orang yang berpuasa untuk makan dan minum pada waktu yang sudah ditentukan. Puasa juga menciptakan rasa persatuan di antara kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia. Mereka semua berpuasa dan berbuka pada waktu yang sama, sebab Tuhan mereka sama dan ibadah mereka pun sama.
Puasa menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan, menciptakan rasa solidaritas dan ikatan saling menolong yang menghubungkan kaum Muslimin satu sama lain. Pengalaman akan rasa lapar dan kekurangan, misalnya, mendorong orang yang berpuasa untuk memberi bantuan kepada orang lain, berkontribusi dalam mengentaskan kemiskinan, kelaparan, dan penyakit. Dengan demikian, ikatan sosial di dalam masyarakat bertambah kokoh, dan setiap individu memberi sumbangsih dalam mengatasi kasus-kasus penyakit di dalam masyarakat.
Kenyataannya, puasa juga memperbarui kehidupan individu dengan memperbarui sel-sel tubuhnya, membuang sel-sel yang sudah aus, mengistirahatkan lambung dan alat pencernaan, memberi diet bagi tubuh, memusnahkan limbah yang mengendap dan makanan-makanan yang tidak tercerna di dalam tubuh, serta mengusir kebusukan dan kelembaban yang ditinggalkan oleh makanan dan minuman. Nabi saw pernah bersabda,
Berpuasalah, niscaya kalian sehat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sinni dan Abu Nu’aim dari Abu Hurairah)
Tabib Arab, al-Harits bin Kaldah, berkata, “Lambung adalah sarang penyakit, dan diet adalah obat yang paling ampuh.”
Puasa merupakan bentuk jihad melawan nafsu untuk membersihkannya dari kotoran-kotoran dan dosa-dosa duniawi, serta menurunkan gelora syahwat dengan cara mengatur makan dan minum. Nabi SAW pernah bersabda,
Wahai para pemuda, siapa pun di antara kalian yang memiliki kemampuan, hendaknya menikah. Sebab, pernikahan itu akan membuatnya lebih menjaga pandangan dan memelihara kemaluan. Dan siapa pun yang belum mampu menikah, hendaknya berpuasa. Sebab, puasa dapat mengurangi gejolak syahwatnya.” (Diriwayatkan oleh jamaah dari Ibnu Mas’ud)* [Tulisan selanjutnya]
Dipetik dari tulisan Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam bukunya Fiqih Islam.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

20 Juni 2015

Puasa Training Center Terbesar Bagi Akhlak (1)

Saat umat Muslim melaksanakan buka puasa
FAEDAH puasa amat banyak, baik dari aspek rohani maupun jasmani. Puasa juga bisa merupakan training center terbesar bagi akhlak.
Puasa merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Seorang mukmin mendapatkan pahala terbuka yang tiada batasnya, sebab puasa adalah untuk Allah SWT, dan karunia Allah amat luas. Dengan puasa seseorang mendapat keridhaan Allah, berhak masuk surga melalui pintu yang khusus disediakan bagi orang-orang yang berpuasa, yang disebut dengan pintu ar-Rayyan.
Imam Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Di surga ada sebuah pintu yang disebut ar-Rayyan. Pada Hari Kiamat hanya orang-orang yang berpuasa yang masuk surga melalui pintu ini. Selain mereka tidak ada yang masuk lewat sana. Setelah mereka masuk, pintu ini ditutup sehingga tidak ada lagi orang yang masuk lewat sana.”
Orang yang berpuasa menjauhkan dirinya dari azab Allah Ta’ala, yang akan menimpa akibat maksiat-maksiat yang kadang ia lakukan. Puasa merupakan kafarat (penghapus) dosa dari tahun ke tahun. Dengan melakukan ketaatan kepada Allah, seorang mukmin dapat beristiqamah di atas kebenaran yang disyariatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sebab puasa merealisasikan takwa yang esensinya adalah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan Tuhan.
Allah Ta’ala berfirman,
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 183)
Sebagai bentuk training center terbesar bagi akhlak, di sana seorang mukmin melatih diri dengan berbagai budi pekerti. Sebab, puasa melawan hawa nafsu dan dorongan-dorongan setan yang terkadang menggodanya. Dengan puasa, seseorang berlatih sabar dalam menahan diri dari sesuatu yang terlarang dan berlatih mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Terkadang dia melihat makanan yang lezat dimasak di hadapannya, aroma masakan membuat air liurnya mengucur, dan air jernih yang segar terlihat amat menarik di matanya, tapi dia menahan diri, menunggu waktu untuk boleh menyantapnya.
Puasa mengajarkan sifat amanah dan menumbuhkan perasaan diawasi oleh Allah Ta’ala dalam keadaan sepi maupun ramai. Sebab, kecuali Allah tidak ada yang mengawasi, apakah orang yang berpuasa itu benar-benar menahan diri dari makan-minum atau tidak.
Puasa menguatkan kehendak, mengasah tekad, dan memupuk kesabaran. Puasa juga membantu penjernihan pikiran serta penciptaan ide-ide cemerlang, apabila orang yang berpuasa telah melampaui fase kelesuan dan melupakan gejala-gejala kelemasan yang terkadang dialaminya. Luqman pernah berkata kepada putranya, “Anakku, apabila lambung terisi penuh, pikiran menjadi tumpul, hikmah menjadi bisu, dan organ-organ tubuh menjadi malas untuk beribadah.”* [Tulisan selanjutnya]
Dipetik dari tulisan Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam bukunya Fiqih Islam.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

19 Juni 2015

Puasa Sebelum Nabi Muhammad Diutus Allah (3)

ilustrasi
DALAM Islam puasa memiliki arti begitu penting, bahkan tingkat penghargaan itu dapat dilihat melalui sabda Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam,
Kitab Ibrahim diturunkan pada malam pertama di bulan Ramadhan, diturunkan Taurat pada hari keenam bulan Ramadhan, Injil diturunkan pada hari ketiga belas di bulan Ramadhan, dan Al-Qur’an diturunkan pada tanggal dua puluh empat di bulan Ramadhan.”
Artinya seluruh kitab suci samawi diturunkan pada bulan Ramadhan. Bahkan, Islam sangat memuliakan dan mengutamakan bulan itu dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Sebagian cendekiawan dan ulama muslim berpendapat bahwa Ramadhan merupakan salah satu dari nama Allah. Mereka beralasan bahwa setiap bulan Ramadhan disebutkan di dalam ayat, belum pernah disebutkan secara terpisah, tanpa diberikan tambahan, seperti yang disebutkan pada bulan-bulan Hijriah lainnya seperti Sya’ban, Shafar, atau Muharram.
Diriwayatkan oleh penulis kamus Lisanul Arab dari Mujahid r.a. bahwa menjamakkan kata ramadhan sangat dibenci, karena bentuk jamaknya, seperti jamak muannast salim, jadi disebut dengan ramadhanat.
Inilah gambaran yang tentang bulan Ramadhan, sebelum dan pada masa Islam.*
Dari tulisan Samih Kariyyam dalam buku Indahnya Ramadhan Rasulullah.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

18 Juni 2015

Puasa Sebelum Nabi Muhammad Diutus Allah (2)

ilustrasi
DALAM pandangan Islam, Ramadhan diambil dari kata Ramadha yang berarti `panas terik di musim panas yang menyebabkan panasnya kerongkongan karena kehausan’. Arti tersebut memberikan kejelasan tentang musim yang terjadi pada bulan itu. Bangsa Arab kuno terbiasa memisahkan antara tahun qamariyah dan tahun syamsiah dengan mengambil patokan pada bulan yang telah terlewatkan.
Inilah arti puasa menurut aspek bahasa dan sastra Arab yang berhubungan erat maknanya dengan aspek hukum Islam. Puasa secara syar’i berarti ‘menahan diri dari hal yang membatalkan’, yaitu makan, minum, dan lainnya, yang dibarengi dengan niat sejak terbitnya fajar, hingga matahari terbenam. Kesempurnaan dan kelengkapan ibadah puasa itu adalah dengan menghindari segala larangan dan tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang haram.
Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang keji dan perbuatannya, maka Allah tidak memiliki keperluan untuk meninggalkan makan dan minumnya.”
Sebelum bangsa Arab kuno mengenal puasa, ada bangsa sebelumnya yang telah mengenal puasa. Hal itu telah dilakukan oleh masyarakat Mesir kuno yang diikuti oleh bangsa Yunani dan Romawi. Tradisi puasa pun telah dikenal oleh agama lain selain agama samawi, seperti ajaran minyawi, Hindu, dan Budha.
Puasa juga diakui oleh Yahudi dan Kristen. Dalam kitab perjanjian lama dijelaskan banyak peristiwa puasa yang dilakukan oleh para nabi, seperti Nabi Yehezkiel, Daniel, dan Daud.
Dalam kitab Taurat bagian kedua, berbunyi, “Aku memanggil, di sana untuk berpuasa di sungai Ahwa, agar kami dapat merendah di hadapan Tuhan kami, untuk meminta jalan yang lurus kepadanya untuk kita, anak-anak, dan setiap harta kita.”
Dalam Al-Kitab dikatakan, `Adakanlah puasa yang kudus.. ..” (Perjanjian Lama, Yoel:1:14)
Pada bagian kedua dikatakan, “Tetapi sekarang juga,’Demikianlah firman Tuhan, ‘Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis, dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Adakanlah puasa yang kudus maklumkanlah perkumpulan raya, kumpulkan bangsa ini, kuduskanlah jemaah…: ” (Perjanjian Lama: Yoel: 2: 12-16)
Dalam Al-Kitab surat keluaran dikatakan, “Ditetapkan bahwa Musa berada pada Tuhannya selama empat puluh hari empat puluh malam, tanpa memakan roti dan tidak meminum seteguk air.”
Di dalam Al-Kitab surat raja-raja dikatakan, “Bahwa Nabi Elia berjalan dengan tergopoh, tanpa makan selama empat puluh hari empat puluh malam ke sebuah gunung, yang disebut Horeb.”
Di dalam Al-Kitab surat Zakaria dikatakan, “Beginilah firman Tuhan semesta alam kepadaku, ‘Waktu puasa dalam bulan keempat, dalam bulan yang kelima, dalam bulan yang ketujuh, dan dalam bulan yang kesepuluh akan menjadi kegirangan dan suka cita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai!” (Perjanjian lama: Surat Zakharia: 8:19)
Dalam surat Matius dikatakan, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu, dan cucilah mukamu. Supaya jangan dilihat oleh orang, bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.'” (Perjanjian baru: Mathius: 6:16-18)
Dalam bagian ketujuh belas surat Matius dikatakan, “Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, ‘Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?’ Ia berkata kepada mereka, ‘Karena kamu kurang percaya. Sebab aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya sekiranya kamu mernpunyai iman sebesar biji sawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung itu akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. Jenis itu tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.”‘
Dalam Injil Matius dikatakan bahwa Nabi Isa berpuasa selama empat puluh hari di daratan. Dan para hawariyyun (murid-murid Isa) berpuasa dari daging, ikan, telur, dan susu.
Dalam surat Paulus kedua kepada jemaat di Kornitus, dia berkata, “Sebaliknya, dalam segala hal kamu menunjukkan bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan, dan kesukaran. Dalam menanggung dera, dalam penjara, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa….” (Perjanjian Baru, surat Paulus kepada jemaat di Kornitus: 6:4-5)
Inilah gambaran berbagai bentuk puasa yang telah diwajibkan kepada umat terdahulu. Di antara mereka ada yang hanya berpuasa dari makanan tertentu, ada yang berpuasa dari makan dan minum selama beberapa jam, ada yang berpuasa dari terbitnya bintang hingga terbit kembali di hari berikutnya, ada juga yang berpuasa dari berbicara selain bertasbih dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.*
Dari tulisan Samih Kariyyam dalam buku Indahnya Ramadhan Rasulullah.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

17 Juni 2015

Puasa Sebelum Nabi Muhammad Diutus Allah (1)

ilustrasi
BANYAK buku klasik dan modern yang membahas secara terpadu bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan penuh kemuliaan pada masa Jahiliah dan sangat dikenal oleh berbagai bangsa dan agama terdahulu sebelum Islam datang. Islamlah satu-satunya agama yang mewajibkan puasa sebulan penuh pada bulan itu. Hal itu diperkuat melalui firman AllahSubhanahu wa Ta’ala,
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 183)
Bangsa Arab terdahulu pada masa Jahiliah memiliki tradisi berpuasa beberapa hari yang dimulai pada pertengahan bulan Sya’ban untuk menyambut musim panas dan sarana mendekatkan diri kepada tuhan mereka. Mereka pun menjadikan musim panas sebagai musim subur dan waktu untuk bercocok tanam. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang berpindah-pindah untuk mengekspresikan bahasa dan kesusasteraan pada saat itu.
Jika kita membaca karya Syekh Baquri tentang kesusasteraan Arab kuno, yang berjudul Ma’as Shaimin, ada catatan yang menjelaskan bahwa bangsa Arab pada masa Jahiliah sebelum Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam diutus, telah mengenal ash-shiyam atau puasa, yang berarti berpindah-pindahnya orang dalam bersyair dan berpantun yang disampaikan oleh kaum muda dari para sesepuhnya. Arti lain dari puasa pada masa itu adalah menahan gerak, baik yang dilakukan oleh hewan, benda mati, maupun manusia. Itulah maksud yang disebutkan dalam budaya bahasa Arab kuno, seperti ungkapan syair berikut ini,
Kuda yang berpuasa dan ada yang tidak berpuasa yang menebarkan debu, dan kuda dengan tali kekang yang ditarik di mulutnya
Penyair tersebut membagi tiga macam kuda. Pertama, kuda yang berpuasa di kandangnya dan tidak bergerak. Kedua, kuda yang menebarkan debu sebelum dimulai pertempuran, danketiga kuda yang ditarik tali kekangnya untuk masuk ke dalam medan pertempuran.
Ada banyak syair pada masa Jahiliah yang menggambarkan shiyamurrih `puasa angin’. Maksud dari puasa angin adalah tunduk dan tidak bergerak, seperti orang yang mengatakan dalam bait syair shamatis syamsu `matahari berpuasa’. Artinya bahwa matahari itu ada, namun tidak bergeser dari tempatnya karena dalam posisi tegak lurus. Alat katrol digambarkan dengan berpuasa ketika berhenti dan tidak berputar mengeluarkan ember dari dalam sumur. Sebagaimana dikatakan dalam syair,
Seburuk-buruk ember adalah yang terus dipakal; tanpa diganti
Seburuk-buruk alat katrol, jika tidak berfungsi
Artinya adalah bahwa ember kecil yang terus dipakai pemiliknya dan tidak ada pengganti, diumpamakan dengan ember yang buruk dan katrol yang tidak dapat berputar adalah katrol yang buruk, menurut bangsa Arab pada masa Jahiliah.
Orang Arab juga menggunakan kata shiyam untuk tempat berdirinya kuda tanpa melakukan gerakan apa pun. Kata itu juga dipakai pada tempat yang ada di langit, tempat timbulnya bintang kecil bagi orang yang memandangnya, seakan-akan bintang itu tergantung, tidak berubah ataupun hilang, karena dari sudut pandangnya ia tetap di posisinya dan tidak bergerak. Itulah perkataan seorang yang cerdas dalam menggambarkan panjangnya malam. la menggambarkan di dalam syairnya bahwa sekumpulan bintang yang dikenal dengan bintang kecil tetap pada posisinya, tidak bergerak, seakan-akan terikat dengan batu besar dan talinya terbuat dari serabut yang kuat.
Kata as-shiyam disebutkan di dalam Al-Qur’an. Dari segi bahasa, dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, melalui mulut Maryam a.s.,
“… aku telah bernazar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (Maryam: 26)
Puasa dalam ayat itu berarti diam dan menahan diri untuk tidak berbicara. Arti kata tersebut telah dikenal sebelum Islam datang.
Bangsa Arab kuno menyambut Ramadhan dengan unta yang masih produktif sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan ini, sehingga nama yang diambil untuk Ramadhan dalam bahasa Arab berasal dari kata ar-Ramdhu, yaitu hujan yang datang setelah musim kering, sehingga tanah terasa panas terbakar. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa kata itu berarti panas yang terik, ketika seseorang mengatakan ramadhat qadamahu, artinya kakinya terbakar karena panas yang terik. Dinamakan begitu agar merasakan haus dan lapar karena panas itu.
Dalam arti lain dikatakan bahwa dinamakan Ramadhan karena ia membakar dosa dan meleburnya dengan amal saleh. Dikatakan seperti itu karena hati manusia mengambil hikmah dan berpikir tentang kehidupan akhirat. Hal itu juga berarti menyelamatkan diri dari batu gurun dan pasirnya yang panas karena terkena terik matahari.
Ramadhan, menurut penyair Musthafa Abdurrahman berarti bahwa bangsa Arab memendam peralatan perang mereka dan menyembunyikannya di balik batu sebagai persiapan untuk berperang pada bulan Syawwal, sebelum tiba bulan yang diharamkan untuk berperang.*
Dari tulisan Samih Kariyyam dalam buku Indahnya Ramadhan Rasulullah.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Raih Keberkahan Ramadhan bersama Yatim Dhuafa Penghafal Qur'an




Raih Keberkahan Ramadhan bersama Yatim Dhuafa Penghafal Qur'an
Ayo berinfak dan bershodaqah jariyah...