Pembukaan Dauroh Putri Penghafal Al-Qur'an

Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara...

Program Daurah Putri 60 Hari 30 Juz

POJOK SURGA Alhamdulillah... Yuk salurkan infak shodaqoh anda untuk menyukseskan program Dauroh Putri Menghafal Al-Qur'an 60 Hari tgl 1 Agustus - 30 September 2016.... Dauroh ini bertujuan mencetak Guru Pembimbing Al-Qur'an yang mana nanti akan disebar ke seluruh penjuru nusantara... Kegiatan selama 2 bulan ini diadakan di kampus hidayatullah karang bahagia, perum bumi madani indah, desa sukaraya, kec. karang bahagia, kab. Bekasi.

"TRAINING CEPAT Menghafal Al-Qur'an 40 Hari Hafal 30 Juz"

Untuk Ikhwan dan Akhwat Angkatan ke XI 20 Oktober – 30 November 2016.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
PT. Waskita Beton Precise - Bekasi Rp. 10.000.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

23 Maret 2017

Dukung & Sukseskan Program Finishing Pembangunan Asrama Santri Pesantren Tahfidz Yatim Dhuafa Ashabul Kahfi



Dukung & Sukseskan Program Finishing Pembangunan Asrama Santri Pesantren Tahfidz Yatim Dhuafa Ashabul Kahfi

           Yuk....  Mari kita Sukseskan Program Finishing Pembangunan Asrama Santri Pesantren Tahfidz Ashabul Kahfi ini dengan ikut ambil andil dlm penyelesaiannya.

           Alhamdulillah...  Dengan bantuan bapak & ibu proses pembangunan asrama santri yg dimulai tanggal 1 desember 2016 terus berjalan dan kami ucapkan jazakumullah khoiron jaza' semoga Allah membalasnya dengan balasan yang berlipat ganda, aamiin...

          Sekarang pembangunan asrama santri seluas 6x12 mtr ini sudah memasuki tahap akhir (finishing) sekitar 80% tentunya dukungan serta doa bapak & ibu sangat dibutuhkan dalam proses tahap akhir ini... Semoga bapak ibu dapat ambil andil dalam program ini...

Untuk mensukseskan program ini bantuan bapak&ibu sangat dibutuhkan...

Berikut Rincian Anggaran Finishing Pembangunan Asrama santri Pesantren tahfidz Ashabul Kahfi ini:

- Pintu 8 x Rp. 600.000,- = Rp. 4.800.000,-

- Dapur 3 x 6 mtr            = Rp. 2.000.000,-

- Teras 3 x 12 mtr            = Rp. 3.000.000,-

- Kamar mandi 2 unit     = Rp. 4.000.000,-

Total = Rp. 13.800.000,-

Infaq bisa ditransfer ke Bank Muamalat Cab. Tambun
No. Rekening: 4960000701
A.n. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi.

🏍Untuk jemput donasi dan 📞konfirmasi Infaq hubungi: Nanda (0813 8305 0338 / 0896 0880 5540)

Semoga apa yang diberikan bpk/ibu/sdr menjadi shadaqah jariyah dan pemberat amal kebaikan,
Aaamiin ya Robbal 'alamiin.

InsyaAllah kami akan menyalurkannya sesuai dengan amanah Anda.

Jazaakumullahu khoiron jaza'.

22 Maret 2017

Al-Qur’an Petunjuk Universal Sepanjang Waktu

Al-Qur’an pada hakikatnya merupakan miniatur dari kemahaluasan ilmu Allah yang tak tertandingi.
DI ANTARA fungsi al-Qur’an adalah sebagai petunjuk (huda), penerang jalan hidup (bayyinat), pembeda antara yang benar dan yang salah (furqan), penyembuh penyakit hati (syifah), nasihat atau petuah (mau’izah), dan sumber informasi (bayan). Sebagai sumber informasi al-Qur’an mengajarkan banyak hal kepada manusia: dari persoalan keyakinan, moral, prinsip-prinsip ibadah dan muamalah, sampai kepada asa-asa ilmu pengetahuan.
Mengenai ilmu pengetahuan, al-Qur’an memberikan wawasan dan motivasi kepada manusia untuk memperhatikan dan meneliti alam sebagai manifestasi kekuasaan Allah. Dari hasil pengkajian dan penelitian fenomena alam kemudian melahirkan ilmu pengetahuan. Berdasarkan pemahaman ini, al-Qur’an berperan sebagai motivator dan inspirator bagi para pembaca, berupa pengkajian dan pengamalannya.
Al-Qur’an menyatukan sikap dan pandangan manusia kepada satu tujuan, yaitu Tauhid. Setiap kali manusia menemukan sesuatu yang baru, dan hasil suatu kajian, ia semakin merasakan kelemahan dan kekurangan di hadapan Sang Pencipta. Dengan demikian semakin memperteguh keyakinannya kepada kekuasaan ilmu Allah.
Dalam kaitan ini, al-Qur’an pada hakikatnya merupakan miniatur dari kemahaluasan ilmu Allah yang tak tertandingi. Maka, ketika manusia mencoba memahami dirinya sendiri, kemudian berpindah kepada pemahaman selain dirinya, termasuk jagat raya, ia benar-benar menyadari keterbatasan kemampuannya. Begitulah perbandingan antara ilmu Allah dan kemampuan manusia untuk memahaminya.
Allah sungguh mengandung ilmu yang sangat luas dan dalam; bagaikan lautan yang menyimpan mutiara yang paling berharga dalam air yang paling dalam.
Al-Qur’an tidak hanya sebagai petunjuk bagi suatu umat tertentu dan untuk periode waktu tertentu, melainkan menjadi petunjuk universal dan sepanjang waktu. Al-Qur’an eksis bagi setiap zaman dan tempat. Petunjuknya sangat luas, seperti luasnya umat manusia dan meliputi segala aspek kehidupannya.
Bukan saja ilmu-ilmu keislaman yang digali secara langsung dari al-Qur’an, seperti ilmu tafsir, fiqih, dan tauhid, akan tetapi al-Qur’an juga merupakan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, karena banyak sekali isyarat-isyarat al-Qur’an yang membicarakan persoalan-persoalan sains dan teknologi dan bidang keilmuan lainnya.
Bercermin pada wahyu pertama sekali yang turun kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam, Allah mencanangkan dan mendorong manusia agar mencari dan menggali ilmu pengetahuan, yaitu dengan kata-kata “iqra” (QS Al-‘Alaq: 1-5). Dalam ayat-ayat permulaan itu ada kata “qalam” yang berarti pena, yang biasa menjadi lambang ilmu pengetahuan. Dengan demikian muncul berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi melalui semangat dan spirit Al-Qur’an.
Makin banyak digali ayat-ayat al-Qur’an itu, makin banyak pula didapati isyarat tersebut. Hal itu karena al-Qur’an tidak akan habis-habisnya walaupun ditulis dengan tinta lautan yang luas, bahkan ditambah dengan tujuh lautan lagi. (QS.Luqman: 27).
Tuntunan dan anjuran untuk mempelajari al-Qur’an dan menggali kandungannya, serta menyebarkan ajaran-ajarannya dalam praktek kehidupan masyarakat, merupakan tuntutan yang tak akan pernah habisnya. Menghadapi tantangan dunia modern yang bersifat sekuler dan materialistik, umat Islam memperoleh bimbingan dan ajaran al-Qur’an yang mampu memenuhi kekosongan nilai moral manusia dan spiritualitas, di samping membuktikan ajaran-ajaran al-Qur’an yang bersifat rasional dan mendorong umat manusia untuk mewujudkan kemajuan dan kemakmuran serta kesejahteraan.
Terlalu banyak ungkapan al-Qur’an yang secara langsung maupun tersirat menganjurkan pengembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu kealaman, sosial dan humaniora. Meski bukan ilmu an-sich sebagai tujuan, tetapi dari semua isyarat tentang ilmu pengetahuan, yang diungkap oleh al-Qur’an yang tidak dikenal pada masa turunnya, seperti dikatakan oleh Dr. Aurice Bucaille dalam bukunya Al-Qur’am, Bible, dan Sans Modern, telah terbukti tak satu pun yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern.
Adanya isyarat al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan dan kebenaran sesuatu dengan ilmu pengetahuan, hanyalah salah satu bukti kemujizatannya. Ajarannya al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan tidak hanya sebatas ilmu pengetahuan yang bersifat fisik dan empirik sebagai fenomena, tetapi lebih dari itu, yakni fenomena yang tak terjangkau oleh rasio manusia (QS. 17: 18, 30:7, 69:38-39).
Dalam hal ini, fungsi dan penerapan ilmu pengetahuan juga tidak hanya untuk kepentingan ilmu dan kehidupan manusia semata, tetapi lebih tinggi lagi untuk mengenal tanda-tanda, hakikat wujud dan kebesaran Allah serta mengaitkannya dengan tujuan akhir, yaitu pengabdian kepada-Nya (QS. 2: 164, 5: 20-21, 41 :53).
Nilai-nilai al-Qur’an secara garis besar adalah nilai kebenaran (metafisis dan saintis) dan nilai normal. Kedua nilai al-Qur’an ini akan memandu manusia dalam membina kehidupan dan penghidupannya.*/Sudirman (Dipetik dari buku Aktualisasi Nilai-nilai Qur’an Dalam Sistem Pendidikan Islam, penulis Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, M.A)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

21 Maret 2017

Tiga Tujuan Utama Pendidikan Islam

Mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Pendidikan dan pengajaran bukanlah semata hanya memenuhi otak anak didik, tetapi juga mendidik akhlak dan jiwa mereka.

HAL utama yang harus dilakukan dalam pendidikan adalah merumuskan tujuan pendidikan. Karena tanpa tujuan dan niat, proses yang ditempuh akan berujung pada kegagalan.
Keberhasilan program pendidikan ditentukan oleh rumusan tujuan pendidikan. Tujuan akan mengarahkan tindakan dan perumusan tujuan pendidikan yang benar merupakan inti dari seluruh pemikiran pedagogis dan perenungan filosofis.
Tujuan pendidikan dalam perspektif teori pendidikan Islam diarahkan untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang sempurna, yang paham hakikat eksistensinya di dunia ini serta tidak melupakan dunia akhirat.
Tujuan akhir pendidikan Islam tidak lepas dari tujuan hidup seorang Muslim. Tujuan pendidikan di samping menekankan keimanan kepada Allah, juga menciptakan seorang Muslim yang benar. Menurut Prof Naquib al Attas, tujuan pendidikan adalah mengembalikan manusia kepada fitrah kemanusiaannya bukan pengembangan intelektual atas dasar manusia sebagai warga negara, yang kemudian identitas kemanusiaannya diukur sesuai dengan perannya dalam kehidupan bernegara. Menurutnya, konsep pendidikan Islam pada dasarnya berusaha mewujudkan manusia yang baik, manusia yang sempurna sesuai dengan fungsi utama diciptakannya. Manusia itu membawa dua misi sekaligus, yaitu sebagai hamba Allah (abdullah) dan sebagai khalifah di bumi (khalifah fi al-ardh).
Menjadi Manusia yang Bertaqwa
Dalam sebuah hadits dikatakan:
عن أبي هريرة رضي الله عنه سئل رسول الله صلى الله و سلم من أكرم الناس؟ قال أتقاهم الله…
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ditanya tentang siapa orang yang paling mulia. Beliau menjawab, “Orang yang paling bertakwa kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال
اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن
Rasulullah bersabda “Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan kamu melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)
Sesugguhnya Allah tidak memandang fisik dan rupa seseorang. Setiap manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Allah. Akan tetapi yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang paling bertakwa. Orang yang bertakwa adalah mereka yang mentaati semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Untuk itu, apabila ada seseorang yang mulia dengan hartanya di kehidupan dunia, belum tentu ia mulia di hadapan Allah.
Dalam proses pendidikan, tujuan akhir merupakan tujuan yang tertinggi yang akan dicapai pendidikan Islam, tujuan akhir merupakan kristalisasi nilai-nilai idealitas Islam yang diwujudkan dalam pribadi anak didik. Maka tujuan akhir itu harus meliputi semua aspek pola kepribadian yang ideal.
Dalam konsep pendidikan itu berlangsung sepanjang kehidupan manusia, dengan demikian tujuan akhir pendidikan Islam pada dasarnya sejajar dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sabagai makhluk ciptaan Allah dan sebagi kholifah di bumi. Sebagaimana diungkapkan Hasan Langgulung bahwa “segala usaha untuk menjadikan manusia menjadi ‘abid inilah tujuan tertinggi pendidikan dalam Islam.”
Proses menuju terwujudnya manusia yang beriman dan bertaqwa merupakan tujuan pokok yang paling penting dalam ajaran Islam itu sendiri. Untuk itu dibutuhkan usaha yang mantap dan sempurna dalam upaya pengembangannya. Pengembangan iman dan taqwa dapat dilakukan melalui pendidikan dengan menawarkan dan mengembangkan kembali konsep tauhid  sebagai landasan filsafat pendidikannya.
Proses pendidikan dan aktivitas kependidikan harus mengacu kepada pembentukan sikap dan perilaku yang bertakwa. Demikian dengan kurikulum yang harus dirancang untuk meningkatkan ketakwaan peserta didik. Jika suatu pendidikan mampu melahirkan insan yang bertakwa maka pendidikan itu pun berhasil.
Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pentingnya penyelenggaraan pendidikan keimanan dan ketakwaan sebenarnya bukan hanya merupakan pelaksanaan perintah UU No. 20 Tahun 2003 melainkan juga perintah UUD45 merupakan perintah Pancasila. Pendidikan keimanan dan ketakwaan seharusnya menjadi core pendidikan nasional, baik pada dokumen tertulis maupun pelaksanaannya.
Untuk itu dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah tujuan hidup manusia agar menjadi hamba yang mengenal Allah, senantiasa beribadah kepada-Nya, sehingga menjadi manusia yang paling bertaqwa.
Menjadi Manusia yang Berakhlak Mulia
عن جابر بن عبد الله قال, قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الله بعثني بتمام مكارم الأخلاق و
كمال محاسن الأفعال
Jabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Allah mengutusku dengan tugas membina kesempurnaan akhlak dan kebaikan perbuatan.”
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من كان يؤمن باالله و اليوم الأخر فلا يؤذ جاره, من كان يؤمن بالله و اليوم الأخر فليكرم جاره, من كان يؤمن بالله و اليوم الأخر فليقل خيرا أو ليسمت
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Adian Husaini mengatakan bahwa hakekat dari tujuan pendidikan yaitu mencetak manusia yang baik, sebagaimana dirumuskan oleh Prof. Naquib Al-Attas “The purpose of seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justicein man as man an individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man.”
Orang baik  tentunya adalah manusia yang beradab. Seseorang tidak cukup hanya memiliki intelektual yang tinggi, namun ia harus menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dan memiliki akhlak mulia terhadap sesama manusia. Pendidikan menurut Islam haruslah bertujuan membangun karakter dan adab dalam diri setiap muslim.
Kualitas iman seseorang dapat diukur dengan akhlak mulia.
Semakin bagus kualitas iman seseorang akan semakin baik pula akhlaknya. Akhlak seorang yang buruk merupakan pertanda iman yang rusak.
Al-Abrasyi merumuskan tujuan pendidikan yaitu, pertama tujuan yang berorientasi ukhrawi dengan membentuk seorang hamba agar melakukan kewajiban kepada Allah. Kedua, tujuan yang berorientasi duniawi, membentuk manusia yang mampu menghadapi segala bentuk kebutuhan dan tantangan hidupnya, agar hidupnya lebih bermanfaat bagi orang lain.
Salah satu indikatornya yaitu memuliakan tetangga dan menghormati tamu. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Untuk itu, sebagai seorang muslim yang baik harus memiliki empati dan rasa tanggung jawab terhadap kesulitan orang lain di sekitarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim harus bertekad bahwa apa yang ia lakukan akan bermanfaat bagi orang lain. Untuk menjadi orang yang bermanfaat cukup dengan memberikan teladan yang baik bagi orang di sekeliling kita. Dengan teladan yang kita berikan, maka hal itu akan menjadi dakwah dalam menegakkan amar ma’ruf terhadap sesama muslim.
Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Pendidikan dan pengajaran bukanlah hanya memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi juga mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa peduli, membiasakan mereka dengan kesopanan dan kejujuran. Maka tujuan pokok dan utama dari pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.
Pada dataran pendidikan dimensi takwa yang berhubungan antara  sesama manusia ini harus selalu ditumbuhkembangkan pada peserta didik agar menjadi manusia muslim yang bertumbuh secara sosial dan menjadi hamba yang shaleh yang menanamkan keutamaan sosial di dalam dirinya dan melatihnya dalam pergaulan kemasyarakatan.
Rasulullah telah memperlihatkan akhlak yang mulia sepanjang hidupnya. Al-Abrasyi mengemukakan bahwa beliau adalah orang yang paling baik tingkah lakunya, pemuda yang paling bersih, manusia yang paling zuhud dalam hidupnya, hakim yang paling adil dalam memutuskan perkara, pahlawan yang paling berani membela kebenaran.
Apabila misi utama Rasulullah telah menyempurnaka kemuliaan akhlak, maka proses pendidikan seharusnya menuju terbentuknya pribadi dan umat yang berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan penegasan Allah bahwa beliau adalah teladan utama bagi umat manusia (Al-Ahzab: 21). Untuk mencapai hal itu, akhlak mulia harus ditegaskan dalam formulasi tujuan pendidikan. */Arsyis Musyahadah, pegiat komunitas PENA Depok

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

20 Maret 2017

Islam Pangkal Selamat

Dengan karunia hidayah, seorang manusia bisa berubah melejit menjadi mulia dan bermartabat di hadapan Allah dan makhluk lainnya.
MAKNA agama Islam lebih dari sekadar fi’il (kata kerja) “aslama” yang berarti pasrah atau berserah diri, demikian kata Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Adalah keliru jika ada yang menyatakan, percaya kepada Tuhan Yang Satu sudah dianggap sebagai bentuk agama yang benar (true religion) dan menjamin keselamatan manusia.
Disebutkan, Iblis atau setan sekalipun juga mengakui keesaan Allah, cuma tetap saja ia Kafir dan  bukan Muslim.
Dalam Islam, seruan tauhid menjadi inti dari ajaran agama. Tauhid bukan sekedar persoalan membaca dua kalimat syahadat saja. Atau asal manusia itu percaya kepada Tuhan dan mengakui-Nya sebagai Pencipta. Sebab tauhid yang benar dalam Islam adalah iman yang produktif.
Ia kokoh dalam jiwa, tegas dalam ucapan, santun dalam adab dan akhlak, serta menggerakkan untuk senantiasa beramal shaleh. Tak heran, hari ini perang pemikiran kian meluas menerpa umat Islam. Tak sedikit di antara mereka yang percaya bahwa semua agama itu sama di hadapan Tuhan.
Dengan dalih paham humanisme dan pluralisme, kebaikan itu lalu diukur menurut standar logika manusia. Sedang agama, bagi mereka tak lebih dari ritual yang bersifat simbolis.
Sebab semua agama itu sama-sama mengajarkan kepada kebaikan dan berbuat baik kepada sesama.
Al-Attas menegaskan, Islam adalah satu-satunya agama wahyu (revealed religion) yang diturunkan oleh Allah sejak masa Nabi Adam Alaihi as-salam (As).
Ia bukan dimaknai sekadar bahasa, yang berarti agama pasrah, tapi juga harus dipahami dengan makna istilah, yaitu memenuhi lima rangkaian rukun Islam dan enam perkara dalam rukun Iman secara mutlak, bukan dengan pemahaman parsial (juziyyah) apalagi dengan mengartikan Islam sesuka hati. Sebab Islam satu-satunya, agama keselamatan dunia dan akhirat.
Di sisi lain, karunia terbesar yang dimiliki seorang hamba adalah hidayah (petunjuk) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt).
Dengan petunjuk tersebut seseorang bisa menggapai kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.
Sebab apa yang Allah limpahkan tersebut adalah sebaik-baik agama  dan petunjuk. Ia adalah satu-satunya agama yang benar, sempurna, dan suci yaitu agama Islam.
Selain hidayah, ada begitu banyak karunia lainnya yang Allah berikan kepada manusia.
Mulai dari akal fikiran, kesehatan, jasad yang sempurna, hingga seisi jagat alam semesta ini.
Seluruh alam dan lingkungan diciptakan oleh Allah untuk memberi manfaat kepada manusia.
فَالِقُ الإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَناً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَاناً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“ Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” [QS: Al-An’am: 96-97]
Tapi semua itu bisa kehilangan makna jika tidak dibarengi dengan keimanan kepada Allah.
Ibarat sebuah bangunan, meski terlihat megah dan memukau, tapi konstruksi bangunan amal atau ibadah itu menjadi rapuh sebab tidak dilandasi dengan pondasi yang kokoh.
Sebaliknya, dengan karunia hidayah, seorang manusia bisa berubah melejit menjadi mulia dan bermartabat di hadapan Allah dan makhluk lainnya.
Derajatnya ditinggikan dan hari-harinya diliputi kebahagiaan sebab yang ia jalankan adalah agama yang mengajarkan kesempurnaan serta kebaikan dunia dan akhirat.
Termasuk alam sekitar, ia menjadi bermanfaat dan terkelola dengan baik di tangan orang beriman. Tak heran karena seruan agama Islam berpusar kepada tauhid, amal shalih, akhlak, dan adab mulia.
Alhasil, jika ingin menjadikan Islam sebagai jalan keselamatan, maka yakinilah ia hanya bisa diraih dengan bekal hidayah dan amal shaleh.
ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوا وَّنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيّاً
 “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” [QS: Maryam:71]
Sebab Islam adalah agama wahyu (butuh petunjuk dari Allah) sekaligus harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia bukan sekadar kumpulan teori tanpa praktik atau lembaran mantra yang cukup dirapal dan dihafal begitu saja.*
Rep: Masykur Abu Jaulah
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

18 Maret 2017

Dicari Pemuda Pemburu Syurga

Zaid bin Tsabit yang ditugaskan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassallam untuk mempelajari bahasa Ibrani, dan kemudian bahasa Suryani di umur 13 tahun, dan ia menjadi pakar dalam bahasa dan penulisan.
Oleh : Wido Supraha

ALLAH  Ta’ala menggunakan kata fatan untuk memuliakan posisi pemuda dan menjadikan Nabi Ibrahim a.s. satu dari sosok teladan utama para pemuda Islam (Q.S. 21:60). Jamak dari istilah tersebut, fityatun, digunakan untuk memuliakan para pemuda ash-hābul kahfi, sekumpulan pemuda dari kalangan terhormat yang tersadarkan akan Islamic Worldview dan memilih untuk mengajak kalangannya untuk tidak menyekutukan Allah Subhanahu Wata’ala. Namun saat raja memilih menolak dan kemudian menghukum mereka, para pemuda nan penuh semangat ini lebihmemilih untuk menjaga agama mereka dengan mengasingkan diri (‘uzlah), maka Allah Ta’alamenambahkan kepada mereka petunjuk, melimpahkan rahmat-Nya, dan memfasilitasi perjuangan mereka (Q.S. 18:13-16). Ternyata para pemuda memiliki fitrah untuk lebih mudah menerima kebenaran dan lebih lurus jalannya daripada generasi tua yang terjerumus dan tenggelam dalam kebatilan. Inilah jawaban mengapa kebanyakan orang-orang yang memenuhi seruan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah para pemuda. (Ibnu Katsir, Lubāb at-Tafsīr min Ibn Katsīr, Kairo: Mu’assasah Dār al-Hilāl, 1994).
Istilah untuk pemuda sebagaimana sering digunakan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam banyak sabdanya adalah syābb. “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla sangat kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah (mampu mengarahkan hawa nafsunya untuk mengutamakan perubahan ke arah kebaikan, dan memeliharanya dari keburukan” (HR. Ahmad No. 16731).
Begitu mulianya pemuda, hingga ia masuk dalam tujuh golongan yang mendapatkan naungan di hari Akhir ketika ia mengoptimalkan masa mudanya dengan banyak beribadah kepada-Nya, wa syābbun nasya-a fī ‘ibādati rabbihi (HR. Bukhari No. 620). Keberhasilan seorang pemuda melewati masa mudanya yang penuh dorongan dan ajakan syahwat akan memposisikannya pada derajat yang mulia pada tahapan kehidupan di masa berikutnya, karena awal penyimpangan seringkali terjadi di masa muda.
Masa muda masa mulia jika pemuda memiliki cinta untuk bekerja penuh karya sarat makna. Di masa muda, kekuatan berada pada posisi puncak. Ibn Katsir ketika menafsirkan Q.S 30:54 bahwa masa muda adalah kekuatan setelah kelemahan, sementara masa tua adalah kelemahan setelah kekuatan (Lubāb at-Tafsīr, 1994). Inilah mengapa Nabi Muhammad Saw mengingatkan akan satu pertanyaan besar di hari Kiamat, “‘an syabābihi fīma ablāhu, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan“ (HR. Tirmidzi No. 2340).
Islam mendorong para pemuda untuk mulai memikul tanggung jawab syari’at atas dirinya dan kehidupannya di saat mencapai akil baligh, sehingga disebut mukallaf. Pada saat itu, ia menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap segala perbuatan, perkataan, impian hidup, obsesi dan cita-citanya. (Raghib as-Sirjani, Risalah ilā syabāb al-ummah, Kairo: Muassasah Iqra’, 1995). Tentunya ini berbeda dengan standar PBB yang mendefinisikan anak sebagai individu yang berusia di bawah 18 tahun (www.ilo.org). Dalam bab ini, Islam mendorong pemuda untuk lebih cepat berkontribusi membawa perubahan alam ke arah kebaikan, dibandingkan Barat.
Jika para generasi awal Islam diurutkan berdasarkan usia, maka akan didapati persentase kaum muda yang begitu cepat menyambut kebenaran Islam lebih besar dari kaum tua. Dapat disebutkan, sepuluh nama besar (top ten) daripada figur-figur mulia tersebut diantaranya: Anas bin Malik (<10 tahun), ‘Ali bin Abi Thalib (10 tahun), Usamah bin Zaid (<12 tahun), Zaid bin Tsabit (13 tahun), Mu’awwidz bin Afra’ (13 tahun), Mu’adz bin Amr bin Jamuh (14 tahun), Zubair bin Awwam (15 tahun), Thalhah bin Ubaidillah (16 tahun), Arqam bin Abil Arqam (16 tahun), Sa’ad bin Abi Waqqash (18 tahun), dan Ja’far bin Abi Thalib (as-Sirjani, 1995).
Kalau sepuluh nama besar di atas dibahas lebih detail akan ditemukan bagaimana masa muda mereka dihabiskan untuk menuntut ilmu, menyebarkan ilmu, menegakkan Islam dengan jiwa dan harta yang mereka miliki. Sekedar contoh, bagaimana Arqam bin Abu Arqam al-Makhzumi r.a. begitu dikenang sebagai pahlawan ketika ia menggunakan masa mudanya untuk menyambut dengan hangat kedatangan dakwah Islam di dalam rumahnya – padahal resiko dan bahayanya sangatlah besar – selama tiga belas tahun di kota Mekkah, sementara ia berasal dari Bani Makhzum yang selalu bersaing dengan Bani Hasyim.
Tidak terlupakan juga bagaimana sosok Zaid bin Tsabit yang ditugaskan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam untuk mempelajari bahasa Ibrani, dan kemudian bahasa Suryani di umur 13 tahun, dan ia menjadi pakar dalam bahasa dan penulisan serta dipercaya menjadi juru bicara politik di usia yang begitu muda dalam pandangan kekinian. ‘Aidh Abdullah al-Qarni mewasiatkan para pemuda untuk mencari ilmu pengetahuan dengan tekun, dan merasa rugi jika tertinggal pelajaran, ilmu, baik dari beragam majelis atau seminar, buku-buku, dan kaset-kaset Islam (Masyarakat Idaman, 2006).
Peradaban Islam telah melahirkan sejarah bagaimana para pemuda terlahir untuk sibuk dengan ilmu dan amal di atas keimanan, dan tentunya ini sangat jauh dengan realitas pemuda yang ter-Barat-kan hari ini, dimana masa muda mereka begitu menguras energi, harta, dan pikiran karena sibuk terlibat beragam kisah percintaan muda-mudi, NAZA (Narkotika, Alkohol, dan Zat Adiktif seperti rokok dan zat lain yang menimbulkan ketergantungan), kemusyrikan dan beragam aktifitas yang hanya melahirkan kerusakan moral, ketiadaan prestasi, gangguan jiwa dan fisik, bahkan tidak sedikit yang kemudian mempersembahkan nyawa di atas kebatilan. Hilangnya visi dan misi besar Islam dari semangat para pemuda membuat mereka takluk dan mengekor kepada apapun yang datang dari peradaban Barat tanpa memiliki kemampuan untuk melakukan filterisasi apalagi adaptasi dan asimilasi.
Internalisasi identitas dan keimanan yang benar adalah mutlak untuk melahirkan para pemuda pemburu Syurga laksana jiwa penuh pesona. Syed Muhammad Naquib al-Attas menulis dalam Prolegomena to the Metaphysics of Islam, “The problem of human identity and destiny is, to my mind, the root cause of all other problems that beset modern society. Many challenges have arisen in the midst of man’s confusion throughout the ages, but none perhaps more serious and destructive to man than today’s challenge posed by Western civilization (ISTAC, 2001)
Di dalam Risalah untuk Kaum Muslimin, al-Attas mengidentifikasi adanya generation gap dan identity crisis, sebagaimana diderita oleh masyarakat Barat, dikarenakan ketidakmampuan untuk mewariskan falsafah kehidupan dari generasi ke generasi. Sementara masyarakat Islam tidak pernah menderita penyakit yang sama, antara pemuda, dewasa dan orang tua karena referensi makna diri dan nilai kehidupan yang sama di antara mereka, dan ini terkait dengan Islam yang sempurna, dan tidak memerlukan kesempurnaan lagi (ISTAC, 2001). Pemuda adalah generasi penerus dan pewaris keimanan dan semangat dalam ilmu dan amal dari generasi sebelumnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala QS:  52:21.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka.” [QS: Ath-Thuur [52]: 21] *
Penulis dosen Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor. FB wido.supraha
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !