Program Orang Tua Asuh Santri

Yuk.. ikut bagikan kabar gembira sebagai ungkapan kepedulian Yuk ulurkan tangan kita untuk mempersiapkan generasi penjaga Al-Qur'an karena “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” insyaallah setiap bantuan anda terhitung sebagai amal jariyah....

Program SEDEKAH SEIKHLAS SENYUM

Yuk bantu para santri yatim dan dhuafa yang sedang menghafal Al-Qur'an!!!... dengan bantuan yang anda berikan akan sangat bermanfaat untuk para santri program ini bertujuan melatih kita untuk konsisten dan istiqoamah saat berinfaq.

Majalah Suara Hidayatullah

Apresiasikan perjuangan para Da'i Allah Dengan berlangganan majalah, Menebarkan berkah-Bukan fitnah Untuk Berlangganan HUB : 0813-8606-8612 ,Dan 0895-345-423-758.

Berbagi Untuk Santri Yatim Duafa Penghafal Al - Qur'an

silakan salurkan Infak Shadaqah terbaiknya dengan cara transfer ke Rekening : 1. Bank Muamalat Cab. Tambun No. Rekening : 4960000701 An. Yayasan Hidayatullah Islamic Center Cikarang Bekasi 2. Bank BRI Cab. Karang Satria No. Rekening : 788801003356536 An. Hidayatullah 3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Kali Malang No. Rekening : 7052026851 An. Hidayatullah Untuk konfirmasi transfer, silakan hubungi Ust. Fahmi : 085281804909 / 08982232306.

Mutiara Dakwah Hari Jum'at

Berbagi untuk santri yatim dhuafa penghafal Al -Qur'an .

DONATUR APRIL - MEI 2016
ZULKIFLI - Cikarang Rp. 20.000 | HAMBA ALLAH - Bekasi Rp.100.000 | EDI - Cibitung Rp. 3.000.000 | Ibu Wiwin - Bekasi Utara Rp.5.000.000 | HERU IRAWAN - Cikarang Rp.300.000 | NUGROHO - Bekasi Rp.40.000 | ZAINURI - Tambun Rp. 300.000 | HAMDAN - Kalimalang Rp.50.000 | OSCAR HUTAHURUK - Cikumpa Rp.130.000 | REYNALDI - Bogor Rp.50.000 | JOSEPHAT JASSIN - Jakarta Rp.300.000 | VICKY VALLEY - Bekasi Rp.40.000. Bagi dermawan sekalian yang ingin turut beramal jariyah mendukung program Hidayatullah Islamic Center Bekasi dapat melakukan donasi ke rekening di tautan DONASI ANDA atau KLIK DI SINI!

25 Juni 2016

Hikmah di balik Puasa Ramadhan

Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa kalam ulama. Semoga bermanfaat.
1. Menggapai Derajat Takwa
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.
Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang sebenarnya hati sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.
Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.
Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa.[1] Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.
2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia
Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi[2], Allah Ta’ala berfirman,
يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى
Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”.[3]
Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:
Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan ketika  berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.
Kedua, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir pada Allah.
Ketiga, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya  pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.
Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.”[4] Jadi puasa dapat menenangkan setan yang seringkali memberikan was-was. Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum kesampaian.[5]
3. Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik
Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”[6]
Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta, perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”[7]
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.”[8] Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.[9] Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita[10] atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.[11]
Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”[12]
Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”
Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).”[13]
4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka
Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.
Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya meningkat di sisi Allah.[14]
Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.[15]
Hikmah Puasa yang Keliru
Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes[16]), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja[17] dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka di dunia. Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.”[18]
Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”[19]
Adapun hadits yang mengatakan,
صُوْمُوْا تَصِحُّوْا
Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) menurut ulama pakar hadits.[20]
Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan Ramadhan.

Para Pelajar Ini Luncurkan Buku Pengalaman Menjadi “Relawan Ramadhan”

Mereka ada yang menjadi dai di sejumlah kawasan terpencil. Juga menjadi relawan pengingat dan pembantu masyarakat soal zakat.

Hidayatullah.com– Kebanyakan sekolah mengisi bulan puasa dengan berbagai kegiatan khusus bagi anak didiknya, seperti pesantren Ramadhan atau pesantren kilat.
Begitu pula para pelajar di Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah (MARAMA) Putra Balikpapan. Kegiatan itu mereka tuangkan dalam karya buku berjudul Napak Tilas Mujahid Ramadan.
MARAMA Putra terletak di Jl Mulawarman, Kelurahan Teritip, dekat perbatasan timur Kota Balikpapan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Buku ini berisi kumpulan cerita yang penuh suka duka, pengalaman lucu, dan kisah spiritual. Ditulis secara kolektif oleh 26 murid Kelas XII MARAMA Putra angkatan ke-24.
“Mujahid Ramadhan” adalah kegiatan ekstrakurikuler para pelajar itu. Mereka ada yang menjadi dai di sejumlah kawasan terpencil. Juga menjadi relawan pengingat dan pembantu masyarakat soal zakat, infaq, sedekah (ZIS).
Buku ini diluncurkan beberapa waktu lalu di Masjid Ar-Riyadh. Pencetus sekaligus pembina penggarapan buku itu, Abdul Ghofar Hadi, mengatakan, kegiatan ekstrakurikuler itu sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya.
Pengalaman mengikuti kegiatan itu terbilang langka. Di situ banyak kisah unik dan menarik. Terutama dalam menghadapi berbagai karakter dan watak manusia. Mereka pun belajar berinteraksi sosial dengan masyarakat.
“Banyak kisah yang tertuang, banyak kisah yang didapat, banyak pengalaman yang berharga. Tapi kalau semua itu tidak tertuliskan, maka akan hilang ditelan waktu,” ujar Ghofar, ketua lembaga pendidikan di Hidayatullah Balikpapan yang membawahi MARAMA.
Pendokumentasian kegiatan itu dalam tulisan agar menjadi kekayaan bagi pelajar. Selama ini pengalaman itu cuma didengar oleh para warga setempat dengan keterbatasan ruang dan waktu.
“Melalui buku ini diharapkan pengalaman ‘mujahid Ramadhan’ ini bisa dibaca khayalak ramai sepanjang masa,” lanjut Ghofar yang juga pembina komunitas Penulis Muda Nusantara (PENA).
Karya ini diharapkan menjadi pemicu lahirnya karya-karya tulis lainnya.
“Sayang sekali kalau berbagai macam pengalaman santri tidak tertuliskan. Ini baru awal, belum lagi pengalaman ketika melaksanakan amanah pengabdian. Sangat bisa, setiap anak menuliskan satu tulisan.
Semua ini menjadi penyemangat bagi generasi selanjutnya. Semoga ke depannya bisa lebih produktif lagi. Dan ditargetkan pada Silatnas tahun 2018, dari santri bisa menuliskan 100 buku. Insya Allah bisa,” kata Ghofar.
Penugasan pada Ramadhan 1437
Pada Ramadhan 1437/2016 ini, lembaga itu kembali menugaskan sebanyak 164 orang tenaga. Mereka terdiri dari 60 mahasiswa, 98 pelajar MARAMA, 4 pelajar MTs, dan 2 santri tahfizh.
Suasana penugasan. [Foto: Febryan]
Suasana penugasan. [Foto: Febryan]
Mereka disebar ke beberapa daerah di Kalimantan Timur. Bahkan sampai ke kota/kabupaten di Kalimantan Selatan, seperti Tabalong, Kota Baru, dan Banjar Baru. Penugasan secara resmi berlangsung di Masjid Ar-Riyadh, Jumat (03/06/2016) lalu.
“Alhamdulillah, saya mendapatkan amanah di Kota Baru, daerah yang baru bagi kami. Tapi Insya Allah semoga saya bisa menjalankan amanah ini dengan baik,” ujar Wildan Khatami, salah seorang pelajar.
Salah seorang ustadz senior di lembaga tersebut, Hasyim HS, menyampaikan apresiasinya atas lahirnya buku karya para pelajar itu.
“Tulisan itulah yang kemudian menjadi pemacu lahirnya buku yang bisa dinikmati generasi mendatang,” kata alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor ini.
Ia berharap, budaya budaya tulis-menulis terus dikembangkan oleh para pelajar dan guru. “Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita semua,” pungkasnya.
Buku cetakan pertama terbitan Mujahid Press (Bandung. 2016) setebal 260 halaman ini bisa didapatkan dengan menghubungi salah seorang penulisnya, Ahmad Naufal (082251374149).*Kiriman Febryan Wardana, pegiat komunitas PENA Balikpapan

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

24 Juni 2016

Berpuasa Membangun Sistem Kekebalan Tubuh

Berpuasa dapat membangkitan sel induk untuk memproduksi sel darah putih baru guna melawan infeksi.
Ilustrasi.
SELURUH sistem kekebalan tubuh seseorang dapat diremajakan dengan berpuasa, sedikitnya tiga hari karena dapat memicu tubuh untuk mulai memproduksi sel-sel darah putih baru, studi menunjukkan.
Puasa dapat meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh, bahkan pada orang tua. Para ilmuwan menyebutkan, penemuan ini merupakan terobosan “luar biasa”.
Meskipun diet berpuasa dikritik oleh ahli gizi karena dianggap tidak sehat, penelitian baru ini menunjukkan kondisi, berpuasa dapat membangkitan sel induk untuk memproduksi sel darah putih baru guna melawan infeksi.
Dilaporkan The Telegraph, para ilmuwan di University of Southern California mengatakan, penemuan ini bisa sangat bermanfaat bagi orang yang menderita gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti pada pasien kanker kemoterapi.
Hal ini juga bisa membantu orang tua yang sistem kekebalan tubuh sudah kurang efektif dengan bertambahnya usia mereka, sehingga sulit bagi mereka untuk melawan penyakit, bahkan pada penyakit yang umum.
Para peneliti mengatakan, puasa “menghidupkan saklar regeneratif”, yang mendorong sel-sel induk menciptakan kondisi baru sel darah putih, khususnya regenerasi sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan.
“Ini memberikan sinyal ‘OK’ agar sel-sel induk terus maju dan mulai berkembang biak, dan membangun kembali seluruh sistem,” kata Prof Valter Longo, Profesor of Gerontology dan Biological Sciences di University of California.
“Dan kabar baiknya bahwa tubuh menyingkirkan bagian-bagian dari sistem yang mungkin rusak atau tua, bagian-bagian yang tidak efisien, selama puasa.”
“Sekarang, jika Anda mulai mengalami sistem yang rusak berat akibat kemoterapi atau penuaan, siklus berpuasa dapat menghasilkan, secara harfiah sistem kekebalan tubuh yang baru.”
Berpuasa yang lebih banyak memaksa tubuh menggunakan simpanan glukosa dan lemak, serta menyebarkan sebagian besar sel-sel darah putih.
Selama siklus berpuasa, penipisan sel darah putih menyebabkan perubahan yang memicu sel induk melakukan regenerasi atas sel-sel sistem kekebalan baru.
Dalam uji coba, sejumlah orang diminta untuk secara teratur berpuasa antara dua sampai empat hari selama periode enam bulan.
Para ilmuwan menemukan, puasa yang lebih banyak juga bisa mengurangi enzim PKA, yang terkait dengan penuaan dan hormon yang meningkatkan risiko kanker dan pertumbuhan tumor.
“Kita tidak bisa memprediksi bahwa puasa terus menerus akan memiliki efek yang luar biasa dalam mendorong regenerasi sel induk pada sistem hematopoietik,” tambah Prof Longo.
“Ketika Anda lapar, sistem mencoba untuk menghemat energi, dan salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menghemat energi adalah dengan mendaur ulang banyak sel kekebalan yang tidak diperlukan, terutama yang mungkin telah rusak,” kata Longo.
“Apa yang kita lihat, baik sistem manusia atau hewan, jumlah sel darah putih turun dengan puasa yang terus-menerus. Kemudian ketika kita kembali makan, sel-sel darah kembali lagi. Jadi kita mulai berpikir, bagaimana kok bisa begitu?”
Puasa selama 72 jam melindungi pasien penderita kanker dari dampak racun kemoterapi.
“Sementara kemoterapi menyelamatkan nyawa, tetapi hal itu juga menyebabkan kerusakan secara signifikan terhadap sistem kekebalan tubuh.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa puasa dapat mengurangi beberapa efek berbahaya dari kemoterapi,” kata co-author Tanya Dorff, asisten profesor kedokteran klinis di USC Norris Comprehensive Cancer Center and Hospital.
“Diperlukan lebih banyak lagi studi klinis, dan setiap pelaksanaan diet tersebut sebaiknya hanya dilakukan di bawah bimbingan dokter.”
“Kami sedang menyelidiki kemungkinan bahwa efek ini dapat diterapkan pada berbagai sistem dan organ, bukan hanya sistem kekebalan tubuh,” tambah Prof Longo.
Namun, beberapa ahli Inggris skeptis terhadap penelitian tersebut. Dr Graham Rook, profesor emeritus imunologi di University College London, mengatakan bahwa penelitian tersebut terdengar “mustahil”.
Namun bagi umat Islam cukup yakin dengan kebenaran dari Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bahwa berpuasa itu menyehatkan.*
Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

23 Juni 2016

Di Cari 100 Donatur Untuk Program Pembibitan & pemberdayaan Da'i Mandiri



Di Cari 100 Donatur Untuk Program Pembibitan & pemberdayaan Da'i Mandiri

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), MAKA ALLAH MELIPAT GANDAKAN PEMBAYARAN KEPADANYA DENGAN LIPAT GANDA YANG BANYAK. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." Surah Al Baqarah> Ayat 245

sebuah program Da'i Nusantara di dukung oleh lembaga dakwah nasional Hidayatullah memberikan sebuah kesampatan untuk anda mendukung program ini dengan menjadi donatur tetap.

karna ilmu yang bermanfaat merupakan amalan jariyah tak akan pernah putus




Di Cari 100 Donatur Untuk Santri Yatim Dhuafa Penghafal Al-Qur'an


Di Cari 100 Donatur Untuk Santri Yatim Dhuafa Penghafal Al-Qur'an


"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." Surah Al Baqarah> Ayat 274


 sebuah program PONDOK PESANTREN GEMA AL-QUR'AN Pembinaan Anak-anak Yatim Dhuafa menjadi seorang Mafidz Muda yang memiliki karakter Qur'ani serta wawasan yang luas. dengan sistem pembelajaran KBQ (Kurikulum Berbasis Qur'an) menciptakan pembeajran efektif tanpa beban.

yuk.. ikut berkontribusi dalam mencetak generasi Tahfidz Muda sebagai bekal amalan di akhirat karna harta yang anda berikan akan menjadi darah daging mereka sehingga setiap ayat dan prilaku mereka merupakan amalan jariyah untuk anda.